SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 311 Wujud Baru Penjaga Gaib



Blaar! Blaar! Blaar!


Ledakan berturut-berturut melesat dari balik dinding tanah dan menghajar ke arah Suro dan Geho sama. Mereka berdua memilih menghindari hujan serangan itu.


Setelah lesatan sinar yang menghantam dan membuat lubang besar di dinding tanah, maka berlesatan makhluk kegelapan yang bergerak berebutan hendak menyerang mereka berdua.


Cras!


Cras!


Cras!


Suro segera mengerahkan tehnik pedang terbangnya. Tetapi dia hanya menggunakan Pedang Kristal Dewa, sebab musuh yang dia hadapi memiliki kulit sekeras karang.


Wujudnya makhluk yang dihadapi itu mirip seekor belalang sembah, namun kepalanya sekilas seperti seorang manusia lengkap dengan rambutnya. Walaupun rambutnya lebih mirip ijuk daripada rambut manusia.


Setiap makhluk yang berhasil dia habisi dengan membelah tubuhnya menjadi dua langsung dikirim ke dimensi didalam pusaka sarang lebah iblis.


"Geho sama tangani sebelah kiri, aku akan menghabisi disebelah kanan! Gunakan pedang cahaya api putih!"


"Sialan anak bau kencur mengatur apa yang harus aku lakukan!"


"Terserah, aku hanya menyarankan, tetapi kau sendiri yang akan menanggung akibatnya. Selain itu mereka tidak akan mati hanya karena pukulanmu yang tidak seberapa kuat!" Suro tertawa kecil mendengar ocehan Geho sama yang tidak juga berhenti.


Mereka berdua terus menghabisi para makhluk yang muncul dari lubang besar di dinding. Maskipun arahan yang diberikan Suro kepada Geho sama dibalas ocehan panjang , tetapi makhluk itu akhirnya mengikuti ucapan pemuda yang bertempur dibelakangnya.


Karena ucapan yang dikatakan Suro ada benarnya. Sebab dia yang sedari tadi mengandalkan pukulan tangan kosongnya untuk melawan musuh, bukanlah sesuatu yang tepat.


Meskipun kekuatan hantaman pukulan itu mampu meremukan sambit belalang, tetapi itu tidak cukup kuat untuk melumpuhkan musuhnya.


Mereka berdua bergerak semakin cepat mencoba mengurangi jumlah musuh yang terus berdatangan. Namun serangan balasan yang dilakukan mereka berdua tidak mampu membendung datangnya makhluk kegelapan yang bertambah semakin banyak.


Selain makhluk berbentuk belalang sembah yang berukuran dua kali tinggi manusia, ada berbagai makhluk yang datang menyerang. Salah satunya adalah kelabang dengan panjang lebih dari tiga tombak.


Melihat musuh yang tidak bisa dihabisi satu persatu, dia segera menggunakan taktik serangan lain.


"Lodra serap kekuatan para makhluk ini, gunakan sebagai kekuatanmu!"


Bersama dengan teriakan Suro Pedang Kristal Dewa yang bergerak melesat menembus tubuh musuh meledakkan kekuatan api hitam. Api hitam itu meluncur cepat menerjang ke arah para makhluk yang semakin banyak.


Sesaat kemudian api yang bergulung-gulung itu membentuk Naga Taksaka.


"Sialan jurus ini!"


Suro yang hendak tersenyum lebar harus tersenyum kecut. Sebab sesosok manusia muncul lalu mengerahkan sebuah jurus yang mampu menyerap Naga Taksaka amblas tanpa sisa.


"Jurus api yang sangat mengerikan, untung saja aku sudah menguasai Ajian Cungkup Jagat." Lelaki yang baru saja mengerahkan jurus itu tersenyum ke arah Suro dengan Jumawa.


Lelaki itu bernama Arkados, tetua Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan yang telah dihancurkan oleh Eyang sindurogo dan juga Geho sama.


"Ternyata kalian memang benar ada hubungannya dengan monster dari Javadwipa itu! Sesuai dengan yang dikatakan Batara Antaga." Melihat Geho sama bertempur bersama Suro, tetua Arkados segera mengenalinya.


Melihat kedatangan manusia itu Geho sama segera memberitahukan siapa lelaki itu kepada Suro, melalui kesadarannya.


"Jadi begitu, sepertinya aku yang akan menyelesaikan apa yang eyang guru lakukan."


Dibelakang tetua Arkados pasukan yang berasal dari Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan segera berdatangan bergabung dengan makhluk kegelapan.


"Gawat lawan yang kita hadapi diluar perkiraan," Geho sama setelah menghabisi salah satu musuhnya segera menghilang dan muncul didekat Suro.


Geho sama berdiri saling membelakangi dengan Suro, dia melakukan hal itu agar mampu membantu Suro menahan serangan dari dua arah yang berlawanan.


Jumlah yang mengepung mereka lebih dari tiga ratus pasukan termasuk para makhluk kegelapan yang memiliki bentuk bermacam-macam. Suro dalam pertempuran sebelumnya telah membuat ruangan dimana mereka berada menjadi sangat luas.


Karena itulah mengapa seluruh musuh yang bermunculan dan mengepung mereka berdua muat diruangan besar itu. Begitu luas dan tingginya tempat itu setara tingginya dengan dua pohon kelapa.


Suro melakukan hal itu untuk menghindari serangan makhluk kegelapn dari arah yang tidak disangka. Sebab para makhluk kegelapan yang dia hadapi sekarang mampu mengerahkan tehnik perubahan alam dengan cukup mengerikan.


Blaar! Blaaar!


Serangan cambuk api dari pasukan yang dibawah pimpinan tetua Arkados bergerak beriringan dengan para makhluk kegelapan yang lain.


Suro segera mengerahkan jurus pertama dari tapak Dewa Matahari, begitu juga Geho sama. Sebab makhluk itu telah menguasai ilmu itu dalam pertempuran sebelumnya, yaitu saat mereka harus menghancurkan formasi sihir yang melindungi Perguruan Sembilan Selaksa Racun.


Blaar! Blaar!


Beberapa makhluk kegelapan yang berupa belalang dan kelabang mencoba mengacaukan serangan mereka berdua, justru bernasib sial. Sebab jurus sepuluh jari dewa mengguncang bumi yang dikerahkan Suro maupun Geho sama telah membelah tubuh mereka.


Setiap tubuh yang terbelah itu sebagian besar langsung dikirim oleh Suro masuk kedalam pusaka sarang lebah iblis, sebelum mereka memulihkan tubuhnya dengan cepat.


Para musuh yang melihat itu sebenarnya cukup ketakutan melihat kemampuan Suro yang begitu mengerikan. Namun mereka terus merangsek maju membuat lingkup pertempuran semakin mengecil.


"Apa kau sudah kelelahan tulang tua? Hahaha...!"


"Bocah sialan, serius lah sekali saja ini pertempuran mampu merengut nyawamu!"


'Itu nyawamu yang akan mati, tetapi tidak bagi tuan Suro, aku akan melindunginya. Jangan khawatir dengan serangan yang mereka kerahkan tuan Suro. Kekuatan Sang Hyang Surya yang tuan himpun masih cukup menahan serangan mereka' suara Hyang Kavacha membalas teriakan Geho sama.


Manusia setengah siluman itu tersenyum kecut, karena itu artinya hanya dia yang kemungkinan akan mati dalam pertempuran kali ini.


"Bocah sialan!"


Geho sama meruntuk memaki sambil terus menghabisi musuh yang mencoba mendekati dirinya.


Melihat pertahanan mereka berdua yang tidak mampu ditembus, akhirnya tetua Arkados mengubah jurus serangan. Apalagi sudah puluhan korban yang berjatuhan, baik dari makhluk kegelapan maupun pasukan yang berasal dari Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan.


"Segoro geni!"


Buuuum!


"Tirtananta!"


Wuuuus!


Byuuuur!


Akibat formasi serangan Segoro geni, mereka berdua segera tenggelam dalam lautan api. Namun Suro segera memanggil penjaga gaibnya yang menguasai perubahan air.


Namun kali ini penjaga gaib yang dipanggil Suro tidak menyerupai tubuh maupun wajah Suro, kali ini Tirtanata muncul dalam wujud seekor naga penguasa unsur air.


Naga itu segera menciptakan gelombang air seperti lautan yang langsung menahan serangan formasi jurus Segoro geni.


Naga perwujudan dari Tirtanata itu adalah sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya. Setelah kekuatan Suro meningkat pesat seiring dengan kekuatan jiwa miliknya. Karena itulah para penjaga gaib milik Suro juga berubah.


Seperti juga Dewa Kegelapan yang memiliki Lokapala atau para Ashura yang menjadi penjaganya, maka wujud sebenarnya dari empat penjaga gaib Suro sesungguhnya berupa makhluk yang tidak jauh seperti para Ashura milik Dewa Kegelapan.


Jika Tirtanata wujudnya Naga Biru, maka Warudijaya penguasa bumi berbentuk kura-kura. Purbangkara penguasa api berwujud seperti burung feniks atau burung api. Sedangkan Sinotobroto penguasa angin berupa harimau putih.


Mereka berempat telah muncul di hadapan para musuh yang terlempar oleh kuatnya terjangan ombak yang menghantam dengan begitu kuat.


"Sejak kapan bocah sinting ini memperkuat kekuatan jiwannya sampai sekuat ini?" Geho sama yang melihat keempat makhluk gaib itu cukup terkejut. Karena itu pertanda kekuatan jiwa milik tuannya kembali terjadi perubahan pesat.


"Tidak percuma Sarkara Deva yang aku serap ternyata sangat berguna sekali. Kekuatan penjaga gaibku telah berubah menjadi sesuatu yang mengagumkan seperti ini," Suro tertawa ke arah Geho sama yang terkesima dengan penampakan yang muncul didepan matanya.


Bukan saja Geho sama, tetapi para tetua Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan ikut terperanjat. Sebab selain karena jurus milik mereka yang dapat dipatahkan, mereka segera menyadari makhluk apa yang baru saja muncul.


Begitu juga tetua Arakdos yang memimpin pasukan itu, dia tidak menyangka sama sekali dengan kekuatan bocah yang berada dibelakang Geho sama. Dia menyadari jika kekuatan bocah tanggung itu lebih menakutkan dibandingkan dengan raksasa yang memiliki sayap hitam.


Pada awalnya dia menghawatirkan dengan kekuatan Geho sama, sebab karena serangan makhluk itu bersama Eyang Sindurogo membuat perguruan miliknya harus ditinggalkan.


"Kurang ajar, bukankah sebelumnya kita hanya diberi tahu jika lawan kita hanyalah murid Sindurogo monster dari Javadwipa?


Kalau melihat kekuatan jiwanya saja sudah berubah menjadi para Ashura, ini bukan lagi monster, ini sudah biangnya monster! Bagaimana mungkin ada manusia yang memiliki kekuatan jiwa sekuat itu?


Apakah tadi junjungan Batara Antaga tidak salah menyebut pemuda itu adalah murid Sindurogo?" ucap Arkados ke arah tetua yang ikut terpental disampingnya.


"Benar tetua Arkados, selain Dewa Kegelapan baru kali ini aku melihat seseorang mampu meningkatkan kekuatan jiwanya, sehingga berubah menjadi setingkat para Ashura?" sahut salah satu tetua.


"Benar ini tidak masuk akal, bahkan sekalipun aku tidak pernah melihat Batara Antaga maupun Batara Karang mampu melakukan seperti apa yang dilakukan pemuda itu," sahut tetua Arkados


"Menurut ucapannya dia belum mampu menembus kekuatan dewa, karena segel dewa yang ditanam dalam tubuh mereka menghalanginya untuk melakukan kekuatan tersebut," imbuh tetua Arkados sambil membuat kode agar mereka kembali melakukan serangan berikutnya.


"Mungkin saja karena alasan itu, tetapi pemuda ini justru masih berada ditingkat surga bukan tingkat dewa," sahut tetua lain yang segera menyiapkan serangan ke arah Suro.