
Yon Suzaku matanya mendelik menahan marah mencoba memutahkan apa yang sudah tertelan. Namun Dewa Obat kembali menotok, sehingga makhluk itu tidak mampu mengeluarkan apa yang sudah masuk ke dalam perutnya.
"Tunggu saja sebentar lagi, obatnya akan segera bereaksi. Setelah itu kalian bisa bertanya kepadanya apapun itu dia akan menjawab dengan jujur. Meskipun dia berusaha sekuat apapun mulutnya akan bergerak diluar kendalinya." Dewa Obat menatap ke arah Yon Suzaku didepannya sambil bersedekap.
Setelah itu dia menoleh kebelakang ke arah Geho Sama dan juga Suro.
"Semua itu karena ini!" Dewa Obat menunjukkan sebuah pill kepada Suro dan Geho Sama.
Pill itu sejenis dengan yang telah melesat masuk ke dalam mulut Yon Suzaku.
"Ini adalah pill tidak ada dusta diantara kita." Dewa Obat menunjukkan pill kebanggaannya sambil tersenyum penuh makna.
Geho sama dan Suro tidak mampu menahan tawa. Kedua makhluk tak bermoral itu menyemburkan mulutnya menahan tawa yang tidak tertahan.
Mereka menganggap nama pill yang barusan disebut Dewa Obat seperti sebuah judul lagu terasa begitu nyleneh dan aneh. Mereka berdua berusaha mencoba menutup mulutnya serapat mungkin.
Tetapi apa daya, mulut tidak bermoral itu akhirnya berontak lalu terdengarlah suara terkikik dan terkakak dengan begitu keras tanpa ada lagi yang menghalanginya..
"Hmmmm kalian boleh mentertawakan namanya, tetapi kalian pasti akan terkagum dengan khasiatnya." Dewa Obat kembali menatap ke arah Yon Suzaku.
"Sekarang kalian tanyakan kepada makhluk ini sesuatu yang ingin kalian ketahui."
Sambil tetap menahan tawanya Suro lalu berjalan mendekat ke arah Yon Suzaku.
"Katakan kepadaku dimana pusaka iblis yang bernama kunci langit?"
"Sepanjang pengetahuanku pusaka itu disimpan di tempat rahasia, yaitu makam kaisar pertama Qing Shi Huang." Buru-buru Yon Shuzaku menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Matanya melotot menunjukan rasa keterkejutan yang tidak dia sangka sama sekali. Tentu saja dia terkejut, sebab mulutnya bergerak tanpa dia sadari. Wajahnya memperlihatkan kebingungan yang sulit dijelaskan.
Suro kagum melihat Yon Suzaku begitu mudahnya menjawab pertanyaan yang dia berikan. Tindakannya itu tidak seperti yang dia lakukan sebelumnya. Dewa Obat mulai tertawa terkekeh melihat Suro begitu terkejut.
Suro cukup penasaran, dia lalu kembali bertanya," dimana Karuru kepala suku kalian?"
"Bersama dengan para tumbal dan juga para Suzaku yang mengawalnya, Yang Mulia Karuru kemungkinan besar telah berada di makam kaisar Qing." Kali ini reaksi Yon Suzaku berubah menjadi panik.
Sebab mulutnya seperti bukan miliknya sendiri menolak untuk diam. Kedua tangannya yang berusaha membekap mulutnya tidak mampu menghentikan mulut itu bercerita apapun yang ditanyakan kepadanya.
Wajahnya sudah begitu kalut. Tindakan terakhir yang hendak dia lakukan adalah bunuh diri. Dia adalah sejenis siluman, sehingga kuatnya racun pelumpuh tulang dan totokan beberapa titik Meridian oleh Dewa Obat, tidak juga membuat tenaga dalamnya musnah sama sekali.
Sehingga dengan tenaga dalam yang masih tersisa, Yon Suzaku hendak memotong lehernya sendiri. Tetapi Dewa Obat menangkap gelagat yang akan dilakukan Yon Suzaku.
"Siapa yang mengijinkanmu untuk mati? Muridku belum selesai bertanya kepadamu." Dewa Obat lalu kembali menotok beberapa titik ditubuh Yon Suzaku, sehingga hanya mulutnya saja yang kini bisa bergerak.
Suro dan Geho sama tersenyum puas dengan khasiat pill milik Dewa Obat. Mereka mencecar pertanyaan tentang segala hal yang ingin mereka ketahui.
Raut wajah Yon Shuzaku sudah tidak mampu menggambarkan betapa kalut dirinya. Dia masih tidak mempercayai mulutnya berbicara sendiri tentang segala hal yang ditanyakan kepadanya.
Dari jawaban Yon Suzaku ditemukan keselarasan dengan ucapan tetua Xie Tie, jika mereka memang menjalin hubungan dengan Perguruan Lembah Beracun cukup lama. Sudah hampir enam purnama mereka ada di perguruan itu.
Mereka pasukan Elang Langit menjanjikan kepada ketua Lam Thian dan yang lainnya akan membantu menghancurkan Perguruan Kuil Suci. Tetapi semua bantuan itu tentu saja tidak diberikan dengan begitu saja secara percuma.
Mereka berjanji membantu, jika perguruan itu mampu memberikan tumbal untuk pusaka iblis Kunci Langit. Sebab tumbal itu diperlukan untuk menetralisir hawa sesat yang melingkupinya.
Mereka menggunakan perguruan mereka sebagai salah satu markas sementara mereka di wilayah He Bei.
"Dimana makam Kaisar Qing Shi Huang berada?"
"Mengenai itu aku tidak mengetahuinya, hanya beberapa Suzaku yang bersamanya saja yang mengetahui letaknya. Begitu juga para tumbal yang kami kumpulkan mereka lah yang mengambilnya." Suro menggaruk-menggaruk kepalanya mendapat jawaban yang berbeda dari sebelumnya.
Tatapannya berpindah ke arah Dewa Obat, lelaki tua itu segera memahami pertanyaan yang tersirat diwajah Suro.
"Hmmmm...makam kaisar Qing, aku rasa tempat itu aku mengetahuinya dari beberapa catatan yang aku pernah baca."
Tempat itu berada di pegunungan Lishan disebelah timur Xian. Daerah itu masih menjadi bagian dari wilayah Shaanxi."
Pandangan mata Suro dan Geho sama bertemu seakan mereka tidak percaya, sebab tempat yang mereka cari selama ini ternyata tidak jauh dari kota Shaanxi.
Setelah mendapatkan jawaban yang menjadi pertanyaan mereka, pandangan mereka lalu kembali berpindah pada Yon Suzaku.
"Geho Sama, apa keputusanmu terkait makhluk ini?" Suro menyerahkan keputusan Yon Suzaku kepadanya.
Geho sama menatap Yon Suzaku yang tertunduk lemas menunggu keputusan atas nasibnya.
"Dia tidak mungkin dibawa bersama kita..." Geho sama menggaruk-garuk kepalanya mencari jalan keluat yang tepat.
Dia sejak awal memang tidak berniat membunuhnya. Tetapi tidak mungkin bagi mereka juga untuk meninggalkannya.
"Mungkin lebih baik aku tempatkan didalam Tuskara Deva saja," Suro mencoba memberikan usul.
"Ah, benar juga usul itu. Sementara waktu dia akan tetap berada dalam Tuskara Deva. Entah dia berguna atau tidak kedepannya? Tetapi jika dia bersikeras seperti ini lebih baik dia tetap berada didalam Tuskara Deva saja."
Setelah mendapatkan persetujuan Geho Sama, Suro lalu memasukan Yon Suzaku yang sudah pasrah tidak berdaya.
Setelah satu urusan selesai, pandangan mata Suro berpindah ke arah pasukan Perguruan Lembah Beracun yang menunggu keputusan lanjut darinya.
"Sebelum kita melanjutkan perjalanan mengejar musuh menuju pegunungan Lishan dimana makam kaisar Qing berada. Kita sebaiknya menyelesaikan urusan yang ada disini."
Pandangan Suro berpindah ke arah Dewa Obat," tuan pertapa, sebenarnya aku tidak mengetahui tentang urusan perguruan ini yang sebenarnya."
Dewa Obat menganggukkan kepala mendengar ucapan Suro.
"Bisakah tuan pertapa menjelaskan apa yang sebenarnya tentang perguruan ini," pinta Suro yang langsung dijawab oleh Dewa Obat. Dia mulai bercerita tentang yang dia ketahui selama ini kepada Geho Sama dan Suro.
"Aku tau itu sebuah dosa besar yang susah untuk diampuni. Tetapi kita sudah menghabisi yang paling bertanggung jawab atas segala kejahatan yang terjadi." ucap Suro menanggapi cerita Dewa Obat.
Lelaki tua itu cukup kagum dengan cara pandang pemuda yang berada dihadapannya. Dia tidak menyangka pemuda itu memiliki kedewasaan dan kebijaksanaan setinggi itu.
"Benar anak muda, membunuh tikus tidak perlu membakar seluruh lumbungnya."
"Jadi begitu, lalu apa yang tuan pertapa lakukan untuk membuat perguruan ini tidak lagi melakukan kejahatan seperti yang telah lalu?" Setelah mendengar penjelasan Dewa Obat, dia akhirnya meminta masukan untuk mencari solusi terbaik agar perguruan Lembah Beracun tidak melakukan kejahatan seperti yang diceritakan Dewa Obat.
Sebelum menjawab pertanyaan Suro, pandangan Dewa Obat berpindah ke arah Geho Sama," apa kau punya usul Geho Sama?"