
Sesosok makhluk yang berada dibalik awan itu terkejut saat Suro mendatangi dirinya. Dia tidak menyangka, jika keberadaannya mampu dilacak oleh Suro.
Melihat hal itu dia segera menyerang dengan kekuatannya yang besar. Sebab makhluk itu telah mencapai kekuatan ditingkat surga.
Serangan yang dilakukan itu berupa semburan api yang sangat besar. Sehingga api itu mampu melingkupi area luas disekitar Suro berdiri.
Walaupun api yang disemburkan itu jenis api merah, tetapi serangan itu begitu dahsyatnya. Melihat serangan yang melesat ke arahnya, Suro kemudian memilih menghindar.
Beruntung dengan jurus Langkah Maya tubuhnya dapat diselamatkan, sehingga tidak gosong terbakar oleh semburan api itu. Dia kemudian lenyap dari pandangan sesaat sebelum api itu mengenainya.
"Siapa sebenarnya kau pendekar?" Lelaki bertumbuh besar dan tinggi itu cukup terkejut melihat Suro berhasil menghindari serangannya dan justru mendadak muncul dibelakang tubuhnya.
Dia segera menyadari, jika gerakan Suro barusan bukan salah satu tehnik meringankan tubuh dengan kecepatan tinggi. Tetapi salah satu tehnik ruang dan waktu.
Sebelum Suro membalas serangannya, makhluk itu lebih dahulu menyerang kembali. Dia juga hendak memastikan jurus ruang dan waktu yang barusan dikerahkan Suro.
"Sabit Angin!"
Dengan menggunakan pedang besar dia mengerahkan jurusnya. Tetapi serangan yang dia kerahkan itu adalah serangan jarak jauh yang menggunakan energi tebasan pedang.
Serangan yang dia kerahkan begitu rapat dan sangat cepat. Makhluk itu hendak mencincang tubuh Suro dengan menutup semua jalan, sehingga pemuda itu tidak akan mampu menghindar.
Tetapi langkah yang dilakukan Suro tidak diperkirakan oleh musuh. Sebab energi tebasan pedang yang melesat dengan kekuatan besar ke arahnya justru tidak dihindari oleh Suro.
Pemuda itu segera mengerahkan jurus Hati Pedang untuk menangkis energi tebasan yang menghujaninya. Dengan menggunakan Pedang Kristal Dewa semua serangan lawan berhasil ditangkis semua. Kecepatan dan kekuatan yang ditunjukkan, membuat lawannya semakin penasaran.
"Tidak mungkin, bagaimana pemuda ini mampu menangkis semua jurus Sabit Anginku?" Makhluk itu terkejut melihat kemampuan Suro yang tidak dia sangka sama sekali.
Kekuatan surga yang melambari energi tebasan miliknya, bahkan tidak di pandang oleh musuhnya. Sebab jurus dahsyat itu dihadang oleh Suro. Dan dihadapi langsung, bahkan semua terjangan energi pedang itu berhasil dipatahkan semua.
'Siapa sebenarnya pendekar ini? Sebelum melakukan penyerangan para mata-mata yang aku sebar telah memastikan kota ini hanya dijaga seorang yang masih ditingkat shakti.
Bagaimana mungkin sekarang justru beberapa pendekar tingkat surga telah melindungi kota Shanxi?' batin makhluk tinggi besar itu sambil kembali menyerang Suro.
Tetapi beberapa kali serangan yang dikerahkan tidak juga dapat melukai lawannya. Suro berhasil mementahkan semua serangan itu dengan jurus Langkah Maya.
"Siapa kau sebenarnya, sehingga berani mencampuri urusan kami di kota Shanxi ini?"
"Siapa aku sebenarnya tidak penting!" Suro mencibirkan mulutnya ke arah lawan.
"Siapa yang telah mengutusmu untuk menghalangi langkah kami di daerah ini? Apakah kau salah satu utusan kekaisaran Yang?"
Sosok itu kembali menghujani dengan senjata rahasia berbentuk bintang. Tetapi hujan serangan itu juga dengan mudah ditangkis oleh Suro.
"Jurus ruang waktu yang tadi kau kerahkan beberapa kali itu sangat mengejutkanku. Sebab jurus itu mirip dengan jurus andalan kami.
Meskipun begitu jangan berbangga, karena kalian semua tetap akan aku habisi semua! Tidak ada ampunan bagi siapapun yang berani mengganggu urusan kami!"
Makhluk itu mendengus penuh amarah. Sebab kemampuan Suro dengan tehnik Langkah Maya yang dikerahkan sebelumnya dan juga tingkat ilmu pedang yang diperlihatkan berhasil menggagalkan seluruh serangannya.
"Jawab pertanyaanku, siapa namamu sebenarnya?"
"Kalau aku tidak mau menjawab, memang kau bisa memaksaku?" Suro tergelak melihat musuhnya mendengus kesal.
Makhluk itu kembali mengerahkan tehnik perubahan api merah yang lebih kuat. Serangan itu kembali menyapu ke arah Suro. Sekali lagi Suro menghindari serangan itu dengan berpindah tempat.
"Sudah aku duga, ternyata kau yang disebut-debut sebagai panglima perang dari suku Elang Langit. Tetapi sayang kematianmu sepertinya sudah dekat.
Agar matimu tidak penasaran, akan aku sebutkan namaku yang sebenarnya. Panggil namaku Suro Bledek, sudah cukup itu saja." Suro terkekeh melihat lawannya yang kembali mendengus kesal.
"Mengapa kau tidak ketakutan saat melihat wujudku? Biasanya orang akan ketakutan saat melihat wujudku seperti ini."
"Mengapa aku harus ketakutan. Aku memiliki teman yang bernama Geho sama. Dia memiliki tubuh sedikit mirip denganmu tetapi justru lebih mengerikan dibanding denganmu.
Sebab dia terlahir kembali dengan mengambil tubuh milik para naga dan juga milik para siluman lain." Suro masih mewaspadai musuh yang akan menyerang dengan tiba-tiba.
Tetapi ucapan Suro barusan telah mengejutkan sosok tersebut, dia memandang Suro dengan melotot.
"Jangan berbicara lancang berani menyebut nama Geho sama yang mulia. Dia adalah salah satu leluhur agung bangsa siluman elang!" Kurama Tengu tidak menyukai ucapan Suro yang menyebut nama Geho sama tanpa rasa hormat. Bahkan menyebut leluhurnya itu sebagai salah satu teman yang hanya seorang manusia.
"Bodo amat, aku tidak ada urusannya dengan suku burung emprit kalian!" Suro segera menyerang dengan jurus pedang terbang miliknya.
Sepuluh bilah pedang terbang yang melesat mencoba menggurung Kurama Tengu. Tetapi setiap kali pedang itu mengenai tubuh lawan, maka tubuh makhluk itu berubah menjadi asap.
"Lancang sekali mulutmu berani menyebut salah satu leluhur kami sebagai temanmu. Apakah makhluk rendahan sepertimu pantas disandingkan dengan namanya. Dialah salah satu leluhur kami yang telah mencapai Nirwana dengan kekuatannya yang setara dengan dewa."
"Sepertinya ada yang salah mendengar ucapanmu, atau justru isi kepalamu yang salah?" Suro memincingkan matanya mendengar ucapan Kurama Tengu.
Jurus pedang terbang yang dia kerahkan tidak ada satupun yang berhasil melukai musuhnya. Sebab setiap kali pedang itu mengenai tubuh Kurama Tengu, maka tubuh itu berubah menjadi asap dan menyatu ke dalam awan yang memenuhi tempat tersebut.
Melihat hal itu Suro cukup terkejut, sebab dia sudah mengerahkan setiap lesatan pedang itu menghujam tubuh musuh sebelum Kurama Tengu membentuk mudra.
Bahkan musuhnya tidak sempat menghindar dengan jurus lipat bumi. Tetapi tetap saja serangan itu hanya mengenai tubuh palsu.
"Sihir apalagi sebenarnya ini?" Suro tidak mengira musuh memiliki jurus yang begitu unik.
Melihat jurus yang aneh itu, maka Suro berniat menggunakan jurus yang lebih dahsyat. Serangan yang hendak dia kerahkan adalah jurus petir milik Dewa Rencong, tetapi dia gabungkan dengan jurus pedang dan juga tehnik perubahan api tahap hitam miliknya.
Tebasan pedang yang dia kerahkan bertabur dengan kilat petir dan api hitam. Ledakan kilat petir yang menyambar dengan kecepatan tinggi tidak juga mengenai tubuh lawannya.
Karena itu untuk mendeteksi tubuh lawannya yang sebenarnya, dia segera mengerahkan tehnik empat Sage. Dia melakukan itu juga demi menyerap kekuatan alam yang melimpah disekitar pertarungan mereka.
Sebab awan hitam yang mengelilingi area pertempuran itu tersimpan kekuatan petir yang sangat besar. Hasilnya serangan yang dikerahkan Suro menggelegar lebih dahsyat.
Setelah mengerahkan jurus empat Sage Suro segera menyadari jika tubuh lawan bukan hanya satu, tetapi dia menemukan tubuh lainnya yang menyebar.
'Ilmu sihir apa ini? Mengapa tubuh makhluk ini tersebar dibeberapa tempat?
Melihat chakra yang melingkupi tubuhnya ini juga bukan tubuh palsu, tetapi itu juga bukan tehnik kekuatan jiwa seperti penjaga gaib milikku,' Suro kebingungan setelah menemukan tubuh lawan lebih dari satu. Beberapa tubuh itu bersembunyi dibalik awan hitam.
"Kita lihat mana tubuhmu yang asli!"
"Basu Bajra!"
Tebasan pedang yang dikerahkan Suro itu meledak, karena dilambari kekuatan perubahan petir. Tetapi petir yang dia kerahkan itu dikumpulkan dari kekuatan miliknya dan juga kekuatan alam yang telah dia serap dari awan hitam yang mengelilingi tubuhnya.
Sebuah wujud naga melesat menghantam beberapa tubuh musuh yang keberadaannya sempat di tangkap oleh Suro melalui tehnik empat Sage.