
Eyang Sinar Gading terkejut melihat Dukun Sesat dari Daha menyambung kembali tangannya yang telah terpotong menjadi dua, dengan cara yang begitu mudahnya.
'Iblis ini ternyata menguasai ilmu rawa rontek. Berarti benar kabar tentang dirinya yang telah mewarisi semua ilmu dari tiga tetua sesat Perguruan Awan Merah yang telah musnah itu.' Eyang Sinar Gading teringat tentang kabar yang sudah lama beredar tentang asal kemampuan si Dukun Sesat itu. Tetapi baru pertama kali ini dia membuktikan kebenaran tentang kabar tersebut.
'Dukun ini ternyata sejenis makhluk yang tidak mudah untuk dihabisi.' Eyang Sinar Gading telah bersiap jika sewaktu-waktu jarum beracun kembali menghujani dirinya.
"Setan laknat...! Tubuhmu akan aku musnahkan menjadi tumbal ilmuku!" Dukun sesat itu kembali menyerang ke arah Eyang Sinar Gading setelah berhasil menyatukan tangannya kembali.
"Aku tidak menyangka ternyata engkau telah mewarisi semua ilmu dari tiga tetua sesat!"
"Cuiiih...siapa yang sudi mewarisi ilmu tongkat tidak berguna milik Jerangkong dari Jurang Neraka. Aku hanya mewarisi ilmu Eyang Singa Merah dan nenek Dukun Sesat dari Daha." Perempuan yang terlihat masih mungil itu meludah ke arah Eyang Sinar Gading.
Beruntung pendekar itu segera menyadari bahaya dari ludah yang dilontarkan dengan tenaga dalam itu. Sebab tanpa tenaga dalam yang melontarkan ludah itu hingga menembus dinding, racun yang terkandung didalam ludah itu sudah sangat berbahaya. Bahkan sanggub melumerkan tubuh manusia yang terkena dalam waktu yang singkat.
"Apa peduliku siapa saja dari ketiga tetua itu yang menjadi gurumu. Aku hanya penasaran, apakah ilmu rawa rontek milikmu itu masih sanggub atau tidak menyambung tubuhmu saat aku berhasil mencincangnya menjadi potongan kecil-kecil?"
Perempuan yang terlihat seperti gadis belia dengan kedua bibirnya yang berwarna biru itu hanya mendengus dengan penuh amarah. Dukun sesat itu kemudian kembali menyerang dengan jurus Cakar miliknya. Dengan serangannya itu dia berusaha membuat jarak diantara mereka menjadi lebih dekat. Tetapi jagoan dari Lemah Abang itu tidak membiarkan Dukun Sesat itu mendekati dirinya.
Karena dia tidak ingin bernasib sama dengan orang-orang yang telah merenggang nyawa, setelah tanpa sadar menghirup kabut racun disekitar tubuh Dukun Sesat itu.
Alasan itulah yang juga membuat ketar-ketir semua pihak seiring semakin menebalnya kabut beracun yang dikerahkan dukun itu. Sebab sudah puluhan orang yang merengang nyawa akibatnya menghirup kabut itu tanpa sadar.
Orang itu akan langsung tercekat tenggorokannya. Kemudian mutah darah kental yang menghitam sebelum ambruk dengan mulut penuh busa berwarna hijau. Kemudian mayatnya membusuk dengan cepat dan hancur tanpa membutuhkan waktu yang lama.
Pertarungan mereka sudah berlangsung puluhan jurus dan sudah mendekati seratus jurus. Tetapi kemampuan tetua Eyang Sinar Gading memang luar biasa tangguh dan penuh kecerdikan agar tidak terkena racun dari lawannya.
Bahkan beberapa kali dia justru kembali menorehkan luka ditubuh lawannya dengan pedang jalasutra miliknya. Tetapi ilmu sesat dukun itu memang luar biasa, sebab luka-luka yang dia peroleh dapat pulih seperti sedia kala dengan cepat.
**
Dilain pihak saat Medusa sibuk bertarung melawan tetua Datuk Rajo Mustiko Alam para tetua dari Perguruan Ular Hitam mengerahkan seluruh pasukan yang ada untuk terus merangsek menembus pertahanan pasukan Perguruan Pedang Surga.
Tetua La Patiganna tidak membiarkan hal itu terjadi.
"Semua pasukan Perguruan Pedang Surga tahan pasukan musuh! Jangan biarkan mereka menembus pertahanan kita!" Teriakan tetua La Patiganna yang dilambari tenaga dalam terdengar jelas diantara keriuhan pertarungan. Dia mencoba mengatur kembali pasukan sisi selatan yang dia pimpin, agar tidak tertembus pasukan musuh yang terus mencoba merangsek.
Mendengar perintah dari tetua La Patiganna pasukan dari Perguruan Pedang Surga kembali merapatkan barisan pasukannya untuk menahan serangan yang datang.
"Sisi kanan dan kiri biarkan kakang Kaliki dan pasukanku yang menanganinya kakang Patiganna!" Teriakan Dewi Anggini terdengar jelas menanggapi perintah tetua La Patiganna.
Satu sabetan pedang tetua La Patiganna justru mengakhiri riwayat tetua itu.
"Tidaaak...Mbakyu Ular Hijau! Setan alas tidak akan kubiarkan kau hidup lebih lama!" Tetua Ular Putih berteriak histeris melihat tetua Ular hijau kepalanya telah terpenggal oleh Pedang tetua La Patiganna. Dia langsung menyerbu dengan penuh kemarahan yang memuncak.
Pasukan sisi barat dan sisi timur yang dipimpin Dewi Anggini dan Eyang Kaliki segera bergerak cepat menahan pasukan musuh yang hampir menjebol pertahanan pasukan sisi selatan yang dipimpin tetua La Patiganna.
Pemimpin Perguruan Tengkorak Merah yang berjuluk iblis tongkat memimpin seluruh anggota perguruan miliknya yang ikut dalam penyerbuan. Mereka menyerang dari sebelah kiri dimana Dewi Anggini telah menyambut kedatangan mereka.
Dibelakang Dewi Anggini beberapa tetua dan murid utama diantaranya Mahesa, Azura, Widura, Narashinga, Narashoma dan bersama murid Perguruan Pedang Surga lainnya segera melakukan perlawanan.
"Tidak usah menahan lajuku bidadari tangan seribu! Sangat disayangkan jika aku harus melukai tubuhmu yang aduhai itu! Lebih baik siapkan peraduan untuk kita berdua saja. Hahahaa...!" Iblis tongkat menunjuk ke arah Dewi Anggini dengan ujung pusakanya yang menyerupai sebuah kepala tengkorak. Tongkat itu adalah salah satu pusaka iblis yang menjadi senjata andalannya.
"Mulut lancang! Akan aku robek mulutmu!" Terjangan jurus tangan seribu milik Dewi Anggini langsung menghajar Iblis tongkat.
Lawan dari Dewi Anggini ini sebenarnya memiliki hubungan dengan Dukun sesat dari Daha. Karena dia sesungguhnya merupakan murid Jerangkong dari Jurang neraka. Salah satu dari tiga tetua sesat Perguruan Awan Merah.
Ilmu tongkat miliknya itu juga berdasarkan Kitab Tongkat Neraka. Digabung dengan pusaka iblis maka membuat kekuatan jurus tongkatnya sangat mengerikan. Dengan bermodalkan kitab ilmu tongkat dan pusaka iblis membuat dia menjadi tokoh terkuat aliran hitam didaerah Watan yang masuk Kadipaten Medang. Daerah dimana Perguruan cabang milik Dewi Anggini juga berdiri.
"Tidak perlu malu-malu Dewi Anggini. Hahahaha...!"
Serangan dari Dewi Anggini langsung disambut iblis tongkat. Putaran ayunan tongkatnya bergerak cepat menahan terjangan dahsyatnya jurus tangan seribu. Setiap ayunan tongkatnya dilambari aura kekuatan kegelapan yang salah satunya berasal dari ribuan arwah gentayangan tumbal untuk pusaka iblis tersebut.
Bldaaaar!
Hantaman tongkat itu berkali-kali menerjang Dewi Anggini yang justru menghancurkan sekitar area pertarungan. Kehancuran yang ditimbulkan juga semakin meluas seiring dengan bertambahnya pertukaran jurus diantara mereka berdua.
**
Di antara barisan pasukan yang dipimpin Dewi Anggini para murid Perguruan Pedang Surga juga bertarung dengan sengit melawan pasukan milik Iblis tongkat dan pasukan dari aliran hitam lainnya.
"Widura ini bukan waktunya bermain-main lagi. Habisi mereka dengan cepat! Gelombangan pasukan musuh yang datang semakin banyak dibelakang mereka. Kita harus secepatnya menghabisi mereka kalau tidak barisan pertahanan kita akan tertembus. Jangan biarkan ada peluang musuh untuk bisa menembus pertahanan kita!" Tujuh pedang terbang Mahesa bergerak cepat menghabisi musuh yang ada didepannya.
"Aku tidak sedang bermain-main kisanak! Mereka rata-rata sudah ditingkat satu, bukan pekerjaan yang mudah menghabisi mereka dengan jumlah sebanyak ini! Azura...! Bantu aku menghabisi mereka!" Dua bilah pedang Widura berkilat tertimpa sinar matahari yang telah terik. Setiap ayunan bilah pedangnya itu ikut membawa serta nyawa lawannya yang datang seperti tidak ada habisnya.
"Tenang kisanak aku juga sudah membantumu sedari tadi. Memang jumlah pasukan lawan lebih banyak dari kita. Tetapi jangan khawatir, pendekar tingkat shakti dipihak kita jauh lebih banyak dibandingkan yang dimiliki pihak musuh!" Azura yang berubah dalam bentuk empat bayangan bergerak cepat menghabisi musuh disekitar Widura.
"Kalian tidak usah khawatir kami berdua akan menghabisi sisanya. Tidak akan kita biarkan mereka menghancurkan pertahanan pasukan kita!" Dibelakang Widura, Mahesa dan Azura jarum-jarum kristal es milik Nara bersaudara telah menghujani musuh yang terus berdatangan.