SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 165 Perguruan Tengkorak Merah part 7



Dua tetua Tengkorak Merah yang selamat bergerak cepat menyerang Suro dengan pukulan jarak jauh.


"Ajian Segoro Geni!" Dua tetua Tengkorak Merah berteriak berbarengan dengan lesatan bola api warna merah menerjang Suro.


Suro yang melihat dua serangan barusan, hanya mampu menahan satu bola api. Satu lesatan bola api lainnya tidak sempat dia tangkis ataupun dia hindari. Sehingga serangan itu menghajar tubuhnya lalu membakar habis bajunya. Tubuhnya terjengkang dua tombak ke belakang.


"Berhasil, modiar(mati) kau bocah, jebol dadamu terkena seranganku! Hahaha...!" Satu tetua tertawa puas melihat serangan miliknya mengenai tubuh Suro.


Tetapi wajah tetua barusan terkejut, sebab tidak butuh waktu lama Suro telah bangkit berdiri bersiap menyambut kedatangan musuh. Bajunya yang terbakar telah tergantikan oleh sebuah zirah berwarna keemasan.


"Tidak mungkin, makhluk apa sebenarnya bocah ini?" Melihat serangannya gagal menghabisi lawannya, tetua itu bersama yang lain segera bergerak mengepung Suro.


"Kali ini kau bakal mati bocah!" Wulusan menyeringai penuh kemarahan, sebab tiga saudaranya telah dihabisi semua oleh Suro.


Setelah terkena hantaman serangan jarak jauh dari tetua Tengkorak Merah, kini Suro sudah tidak mampu lagi menghindari kepungan musuh. Tetapi saat musuh sedang mengepung dirinya dalam jarak yang cukup dekat, Suro justru tersenyum cukup lebar. Sebab tanpa sepengetahuan mereka dia sedang mengerahkan jurus perubahan air-racun untuk membentuk kabut beracun.


"Awas tetua dia menguasai Tapak Selaksa Dewa Racun!" Mendadak terdengar teriakan keras. Entah suara berasal dari arah mana? Kemungkinan saja berasal dari salah satu anggota Perguruan Tengkorak Merah yang masih menyaksikan dari jarak yang cukup jauh. Apalagi suara barusan menyebut kata tetua, pasti itu salah satu dari mereka.


Dua tetua Tengkorak Merah mendengar peringatan barusan segera melompat mundur, tetapi sayang salah satu dari mereka berdua terlambat menangkis dan menghindari serangan yang keburu telah melesat. Sebab lesatan jarum beracun yang teramat kecil telah menerjang ke arah mereka.


"Setan! Bagaimana mungkin kau yang hanya seorang mampu menghabisi kami dengan mudahnya?" Tetua Tengkorak Merah yang masih sempat menangkis dan menghindari serangan Suro mengumpat habis-habisan melihat satu rekannya yang tersisa kini telah terkapar tak bergerak lagi.


Kini Suro dikepung dari tiga arah yang berlainan. Wulusan, Baga yang sebelumnya terlambat memahami maksud teriakan anggota Tengkorak Merah justru selamat tidak terkena serangan Suro.


Tetapi mereka berdua terkejut dengan melihat tetua yang ambruk. Mereka segera menyadari serangan jarum yang teramat kecil dari perubahan air-es barusan sangatlah beracun. Hal itu bisa diketahui dengan tubuh yang terkapar langsung menghitam akibat racun yang sangat mematikan.


"Sebenarnya berapa banyak ilmu yang kau kuasai bocah?" Wulusan menatap Suro dengan tajam.


Suro hanya tersenyum tidak mengatakan apapun, karena dia mulai mengumpulkan tenaga dalam, termasuk diantaranya dengan menggunakan tehnik empat sage. Karena untuk menghadapi satu orang Jenggala saja dia cukup kewalahan meladeni jurus pedangnya yang sangat cepat dan kuat. Kini dua Pedang sesat ditambah satu tetua Tengkorak Merah telah mengepung dirinya.


'Kanjeng Lodra kerahkan api hitammu sebaik mungkin, kali ini lawan yang kita hadapi lebih berat dari pada sebelumnya.' Sorot mata Suro menatap ke arah lawan tanpa menyiratkan rasa takut sedikitpun.


"Ajian Segoro geni!"


Tetua Tengkorak Merah sudah tidak sabar segera mengerahkan pukulan jarak jauh miliknya. Tetapi serangan itu dapat dihindari Suro dengan mudah.


Serangan itu hanyalah permulaan saja, sebab dua Pedang Sesat langsung menggebrak dengan serangan yang lebih ganas. Mereka berdua segera mengambil alih pertarungan. Jurus pedang yang sangat cepat dengan di sertai aura kekuatan kegelapan langsung menghajar Suro.


Jurus pedang iblis Kalipurusha yang dikerahkan Wulusan dan Baga menyerang dari dua arah yang berbeda, ditambah satu tetua Tengkorak Merah membuat Suro segera mengerahkan salah satu jurus bertahan dari kitab dewa pedang, yaitu Jurus Pusaran Pedang Dewa.


Ancaman api hitam yang mampu membakar tubuh Jenggala dengan begitu cepat, tentu bukan hal yang tidak bisa dianggap remeh.


Bukan hanya satu ancaman itu saja yang harus dihindari, karena jurus bertahan yang dikerahkan Suro dikombinasikan dengan berbagai ilmu lainnya. Salah satunya adalah kabut beracun yang ikut membuat mereka harus menjaga jarak dan juga membuat mereka harus menahan nafas ketika mendekati Suro.


Karena jurus beracun Suro yang ikut melesatkan berpuluh-puluh hingga ribuan jarum es, kekuatan racunnya terbukti ampuh menghabisi tetua Tengkorak Merah dengan cepat.


Pertahanan Suro semakin kuat dengan jurus Tapak Dewa Matahari yang melesatkan sinar penghancur yang sangat kuat dan terbukti ampuh membantai setiap orang yang menyerangnya.


Lawan yang menerima akibat dari kuatnya jurus Tapak Dewa Matahari adalah tetua Tengkorak Merah. Sebelum dadanya jebol terhantam sinar dari jari telunjuk Suro, tongkat besinya telah hancur terlebih dahulu.


Kini Lawan yang di hadapi tinggal Wulusan dan Baga. Dua nama itu memiliki arti yang sama dengan alas atau hutan. Karena tujuh pedang sesat dibesarkan dan didik oleh Pedang iblis dihutan.


Mereka selama puluhan tahun menjadi kelompok penyamun dan juga pencuri. Kemudian mereka memutuskan mencuri sebuah kitab kuno yang sangat terlarang. Entah siapa yang memberi tahu mereka tentang keberadaan sebuah kitab pedang yang sangat sesat, tetapi juga terbukti jurus pedang yang sangat mengerikan.


Kitab itu disimpan didalam sebuah perpustakan di kota Nalanda. Perpustakaan itu dibangun oleh seorang raja dari dinasti Gupta yang bernama Raja Chandragupta II. Kerajaan itu menguasai wilayah lembah sungai Indus dan Gangga.


Setelah berhasil mencuri kitab pedang iblis kalipurusha, mereka memilih menghabiskan puluhan tahun untuk mempelajari kitab itu. Mereka memilih bersembunyi didalam hutan terdalam agar tidak diketemukan oleh pasukan kerajaan gupta yang besar.


Kemudian setelah berhasil mempelajari dan memecahkan rahasia dalam kitab itu, dia berganti nama menjadi Pedang iblis. Kemudian mengajarkan kepada ke tujuh pengikutnya. Dikemudian hari ketujuh pengikutnya dikenal sebagai Tujuh Pedang Sesat.


Mereka tidak menyangka saat di negeri Bharata sana, nama mereka diagung-agungkan dan ditakuti didalam dunia persilatan. Tetapi saat mereka sampai di tanah Javadwipa nasib mereka harus berakhir tragis. Tiga dari ketujuh pedang sesat akhirnya mati oleh seorang pemuda ingusan.


Setelah musuhnya hanya tersisa dua orang Suro sedikit lega. Meski dua lawannya ketika dihadapi para tetua Pedang Surga sekalipun membuat mereka sedikit kewalahan.


Entah keberuntungan atau memang mereka sedang sial saja, sebab Suro menghabisi tiga pedang sesat itu terasa begitu mudah. Meski semua itu karena adanya Lodra yang membantunya.


Seperti sekarang ini, meskipun dua ahli pedang itu sangat yakin telah melukai tubuh Suro. Bahkan membuat tubuh pemuda belia itu tersurut beberapa langkah, tetapi entah kenapa tidak ada bekas luka apapun.


Meskipun mereka melihat jika zirah yang menutupi tubuh Suro itu memang melindungi kulit musuhnya, namun mereka yakin kekuatan yang melambari serangannya akan mampu memotong besi dengan sangat mudahnya.


Berkali-kali bilah pedang mereka berhasil mengenai tubuh Suro, tetap pemuda itu kembali meladeni serangan mereka seolah tidak terjadi apapun.


Mereka belum sempat mengetahui penyebabnya sebuah serangan balasan akhirnya mengakhiri Baga dengan jurus pedang terkuat yaitu Tebasan sejuta pedang.


"Setan alas! Bagaimana mungkin kami berdua tidak mampu mengalahkanmu bocah!" Wulusan berteriak keras sambil menahan kemarahan yang membuat suaranya bergetar hebat. Setelah melihat rekannya terpotong-potong dalam jumlah yang tidak terhitung.


Serangan jurus pedang itu menggunakan jurus Tapak Dewa Matahari. Baga tidak menyangka jurus sinar yang sempat dia hindari itu hanyalah jurus bayangan, sebab wujud sebenarnya dari jurus itu, justru terletak pada energi pedang yang menyertainya.