
"Kalian mundur semua, biarkan para Braholo ini yang menghadapi mereka!"
Teriakan terdengar dari sesosok yang berdiri di atas singgasana. Sesosok itu memiliki sayap di punggungnya. Sesosok itu memberi perintah kepada pasukan Goguryeo dan Khan Langit yang memiliki kulit hitam legam.
Dua pasukan itu sengaja ditempatkan di dalam goa itu untuk diperkuat kekuatannya. Bagi yang berusaha kabur keluar dari dalam goa, maka para penjaga ditempatkan di depan goa untuk memangsa mereka.
Para penjaga yang ditempatkan secara sengaja itu antara lain adalah Kirin Neraka dan juga para Shurala yang berwujud kadal yang mendiami kawah. Mereka lah yang tidak membiarkan para manusia itu dapat melarikan diri.
Karena memang penyatuan benih iblis kepada tubuh manusia tidak semudah yang dibayangkan dan sangat menyakitkan. Beberapa akhirnya memang mati sebelum menyelesaikan prosesnya.
Tetapi setelah bersatu, maka mereka akan merasakan kekuatan dahsyat dari benih iblis yang tertanam di dalam tubuh mereka, tepatnya menyatu dalam jantung mereka.
"Perkiraanku memang tidak salah, dia pasti ada disini!" Geho Sama menatap sosok tinggi besar dengan dua sayap di belakang tubuhnya yang berada di kejauhan.
"Siapa dia Geho Sama?" Suro bertanya Geho Sama dengan tatapan penasaran.
"Kau ingin tau siapa sosok yang berada di kejauhan itu? Dialah yang selama ini kita cari, dia adalah yang bernama Karuru!" Geho Sama berbicara sambil menatap sosok dikejauhan.
"Jadi itu yang bernama Karuru," Suro mengangguk-anggukkan kepala sambil mencoba mempertajam pandangan matanya mengamati Karuru yang berada di kejauhan.
Pasukan Goguryeo dan pasukan Khan Langit yang mereka kejar itu sebenarnya sudah melewati penyatuan dengan benih iblis. Namun mereka membutuhkan waktu lebih lama di dalam goa.
Kekuatan mereka yang belum mampu stabil membutuhkan waktu lebih lama sebelum dikirim kembali kepada pasukan mereka. Keadaan itulah yang menjadi alasan mereka masih ada di dalam goa itu.
Tetapi ternyata waktu yang dibutuhkan sudah raib bersama kedatangan Suro dan lainnya. Sebab Suro tidak membiarkan mereka hidup lebih lama.
Bahkan gempuran berturut-turut yang dikerahkan Suro dan seluruh pendekar yang bersamanya, memaksa pasukan berkulit hitam itu harus mendatangi Karuru untuk meminta bantuan.
Kejadian itu tentu membuat Suro tersenyum semakin lebar. Sebab tanpa diminta mereka justru mengantarkan mereka kepada sosok Karuru. Suro juga menemukan sesuatu yang dia cari saat memperhatikan Karuru dikejauhan.
"Bukankah itu adalah pusaka iblis Kunci Langit yang sejak lama kita buru?" Senyum Suro bertambah semakin lebar.
Tempat dimana mereka berdiri berada pada sebuah ruangan sangat besar. Bahkan diantara ruangan besar di dalam goa yang mereka lewati, justru ruangan itulah yang paling besar dari seluruh rangkaian goa besar didalam pegunungan Longmen.
Langkah Suro dan para pendekar yang hendak mengejar pasukan yang diperkuat benih iblis terhenti karena para Braholo menghadang mereka. Sebelumnya para Braholo itu terus mengerubungi Karuru yang duduk diatas sebuah tundakan batu yang menjadi singgasana baginya.
Tempat itu sedemikian besar, hingga mampu menampung orang dalam jumlah puluhan ribu. Sepertinya tempat itu adalah pusat dari seluruh goa di pegunungan Longmen.
Di tempat itu juga lah pusat aura sesat yang sejak awal mereka rasakan. Karena sumber dari aura sesat itu memang berasal dari sebuah benda yang berada ditangan Karuru makhluk diatas singgasana.
Braholo yang berjumlah ribuan terbang melayang seakan awan yang terus berarak memutari Karuru. Saat berada diatas Karuru wujud Braholo masih berupa bayang-bayang atau justru seperti asap hitam.
Setelah pasukan Goguryeo dan pasukan Khan Langit mendatangi ruangan itu dan diperintahkan mundur, maka secara berturut-turut para Braholo langsung melesat turun menghadang jalan para pendekar.
Melihat hal itu Suro dan lainnya memilih tidak melanjutkan pengejaran. Tetapi membaca situasi terlebih dahulu. Suro, Dewa Rencong dan Dewi Anggini merasakan keanehan dengan wujud Braholo didepan mereka.
Braholo yang mereka hadapi saat ini tidaklah sama dengan para Braholo yang ada di Hutan Gondo Mayit. Mereka masih mengingat dengan jelas wujud dari Braholo waktu itu.
Braholo yang ada didepan mereka tentu tidak sama, karena memang wujudnya tergantung dengan apa yang diinginkan tuannya menjadi wujud seperti apa. Makhluk itu matanya merah menyala seperti ada api berkobar didalam rongga matanya. Taring panjang mencuat dari mulut mereka seperti hewan buas.
Mereka semua mulai menggerung seakan harimau yang sudah seminggu tidak mendapatkan jatah makanan. Para Braholo itu terlihat begitu buas.
Jarak Braholo yang menghadang jalan berada tidak terlalu jauh sekitar enam tombak atau lebih dari dua puluh meter. Tetapi jarak itu bukan jarak yang aman dari terkaman makhluk mengerikan itu.
"Sepertinya kita harus menghabisi seluruh pasukan miliknya terlebih dahulu baru kemudian menyerang dirinya." Tetua Dewi Anggini mencoba memberikan masukan.
Suro memegang dagu sambil menatap ke arah Karuru. Dia kemudian membalas usulan tetua Dewi Anggini.
"Sebaiknya kita serang saja secara bersamaan. Aku tidak ingin kehilangan benda yang berada ditangannya itu! Aku ingin merebutnya!" Pandangan Suro masih tertuju pada sosok Karuru yang berada di kejauhan.
Jarak antara dirinya dan Karuru yang berada cukup jauh sekitar tiga puluh tombak atau sekitar lebih dari seratus meter didepan. Meskipun jarak itu cukup jauh, tetapi mata awas Suro mampu mengenali apa yang sedang dipegang musuhnya. Benda yang berada di kejauhan itu mengingatkan dirinya pada guratan ukiran yang ada di makam Kaisar Qing.
"Kita harus merebut pusaka iblis Kunci Langit dari tangannya."
"Baiklah, serahkan yang lain pada kami bocah," Dewa Rencong menyahut ucapan Suro.
Dewa Rencong cukup percaya diri, setelah pada pertarungan sebelumnya dia berhasil memukul mundur. Bahkan dapat membantai mereka, padahal musuh yang dia hadapi adalah pasukan yang telah diperkuat dengan benih iblis.
Semua itu berkat jurus Tapak Dewa Matahari yang telah mereka kuasai, sehingga pasukan yang kebal dengan berbagai senjata itu dapat mereka habisi dengan jurus pertama, yaitu Sepuluh Jari Dewa Mengguncang Bumi.
Goa besar yang ada dikedalaman bumi itu diterangi oleh obor yang tidak terlalu banyak. Sehingga kondisi di dalam goa itu begitu temaram.
Suro begitu penasaran dengan pusaka Kunci Langit yang sedang dipegang Karuru. Karena pusaka itu menebarkan hawa yang sangat sesat. Dia tidak ingin yang lain terpengaruh oleh jahatnya hawa yang berasal dari pusaka itu.
Karena itulah mengapa dia berniat menghadapi Karuru seorang diri. Dengan merasakan aura sesat yang begitu pekat, dia yakin hanya dirinya yang mampu menanggung kekuatan jahat dari pusaka itu.
"Serahkan Kunci Langit itu kepada kami Karuru! Jika tidak segera kau berikan, maka akan aku buntungi kedua sayapmu seperti para pengikutmu!" Suro berteriak keras sambil menangkupkan kedua telapak tangannya seperti membentuk corong.
"Kurang ajar! Berani sekali kau menyebut namaku dengan tidak hormat dan bahkan berani mengancamku!" Karuru segera bangkit dari tempat duduknya.
"Braholo habisi mereka semua!"
Setelah perinta Karuru terdengar maka binatang yang tingginya lebih dari satu setengah tombak atau sekitar dua meter itu berlompatan menerkam hendak ******* tubuh mereka semua.