SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 363 Harta Karun Kaisar Gong



Semakin dalam mereka menelusuri lorong itu, maka mayat-mayat yang mereka temukan semakin bertambah banyak. Tidak kurang dari tiga puluh mayat terlihat sepanjang lorong yang mereka lewati.


Dari kondisi mayat yang mereka temukan menandakan kematian mereka kurang dari dua hari. Dengan temuan itu mereka sepertinya masih memiliki harapan untuk menyelamatkan tetua Dewi Anggini.


Selain banyaknya mayat itu, mereka juga menemukan begitu banyaknya tumpukan emas dalam berbagai bentuk. Begitu juga berbagai batu mulia seperti safir, zamrud dan intan tersebar dibeberapa tempat disepanjang jalan dan ruangan yang mereka lewati.


Adanya barang barang berharga sebegitu banyaknya dibiarkan oleh para pasukan Mawar Merah tentu membuat Dewa Rencong semakin menaruh curiga, dia merasa ada rahasia besar yang disembunyikan ditempat itu.


Mereka pasukan Mawar Merah sesungguhnya hanyalah pasukan pembunuh bayaran yang membunuh karena bayaran yang diberikan padanya. Karena itulah saat melihat sebegitu banyaknya tumpukan barang berharga seperti itu tetap dibiarkan, tentu pantas dicurigai.


Karena memang harta benda itu sebenarnya hanyalah pengalihan saja, agar orang-orang yang memasuki tempat tersebut tidak melanjutkan langkahnya. Sebab selain berupa tumpukan emas dan batu mulia, terdapat juga berderet-deret senjata yang dapat dimiliki.


Tingkat kwalitas setiap senjata itu cukup baik, bisa dikatakan itu adalah jenis senjata pusaka yang pantas untuk dimiliki. Namun itu juga tidak membuat orang-orang yang memasuki tempat tersebut menghentikan langkahnya.


"Dalam sekali lorong ini, apa sebenarnya yang hendak disembunyikan dari tempat seperti ini eyang, tentu saja selain harta karun itu?"


"Sebenarnya ini ada kaitannya dengan seorang penguasa di negeri ini ratusan tahun lalu.


Dialah kaisar pertama penguasa seluruh daratan di Negeri Atap Langit ini. Dia berhasil menyatukan seluruh kerajaan yang sebelumnya menguasai negeri ini.


Menurut sebagian cerita yang telah tersebar, jika kaisar itu memiliki sebuah pusaka yang membuatnya berhasil menyatukan seluruh negeri ini. Dan tempat ini menyimpan petunjuk tentang keberadaan pusaka tersebut."


"Lalu apa hubungannya pusaka itu dengan Batara Karang? Aku merasa ada rahasia besar yang dimiliki pusaka itu, sehingga seorang Batara Karang tertarik untuk mendapatkannya."


"Mengenai hal itu aku kurang mengetahuinya Salya. Mungkin saat kita bertemu dan berhasil menyelamatkan adinda Dewi Anggini kita dapat menanyakan langsung padanya. Dia yang lebih mengetahui mengenai masalah itu."


Pembicaraan mereka mendadak terhenti sebab mereka mendengar suara manusia yang sedang berbicara. Suara itu terdengar jelas kemungkinan berada tidak jauh dari mereka berdua.


**


"Cepat buka peti ini!" suara sesosok lelaki menghardik keras wanita yang sedang duduk bersila didepannya.


"Sudah aku katakan untuk membuka peti ini aku harus menggunakan belati milik ramandaku. Sekarang belati itu tidak aku bawa. Sebab telah aku berikan kepada muridku, jadi aku tidak dapat membukanya." tanpa membuka matanya, wanita itu menjawab pertanyaan lelaki didepannya.


"Kurang ajar, apa kau ingin menguji kesabaranmu? Aku sudah cukup bersabar, jadi jangan sampai kesabaranku habis. Atau kau justru ingin tubuhmu ini dinikmati anak buahku?" ujar lelaki barusan dengan lebih keras nada bicaranya.


"Bagaimana aku menjelaskan kepadamu Batara Karang? Aku sudah mengatakan apa yang aku ketahui." Suara wanita yang mencoba menjelaskan kepada sosok lelaki yang ada didepannya adalah tetua Dewi Anggini.


"Pedang Langit gunakan pedangmu untuk memotong peti ini."


"Baik tuan Batara Karang."


Seorang lelaki segera mencabut pedangnya yang berkilat terkena cahaya obor yang menerangi ruangan besar tempat mereka berkumpul. Tempat yang begitu luas dipenuhi dengan berbagai barang berharga yang tersebar diberbagai sudut.


Jumlah orang-orang yang berada ditempat tersebut lebih dari dua ratus orang. Salah satunya yang disebut Pedang Langit oleh Batara Karang.


Lelaki itu kemudian menebaskan bilah pedang miliknya ke arah peti yang kira-kira berukuran satu depa kali setengah depa.


Trang! Trang! Trang!


"Sial, pedang ini ternyata tidak mampu membelahnya. Agaknya logam yang digunakan untuk membuat peti ini memiliki kandungan logam tertentu. Sehingga pedang milikku yang biasanya mampu memotong pedang lawan dengan mudah, kini tidak mampu memotongnya."


Pandangan Batara Karang kembali berpindah ke arah Dewi Anggini yang masih duduk bersila didepannya. Mata wanita itu masih dalam kondisi terpejam.


"Aku harus mengetahui apakah isi didalam peti ini dapat memberikan petunjuk keberadaan Kunci Langit yang dulu disimpan oleh Kaisar Qin Shi Huang Di.


Iblis racun suruh anak buahmu untuk memaksa dirinya memberi tahu cara membuka peti ini. Jika dia tidak juga mau memberi tahu caranya, kalian sudah tau apa yang harus kalian lakukan untuk membuatnya berbicara."


Lelaki yang dipanggil iblis racun tersenyum cukup lebar setelah mendapatkan perintah dari Batara Karang.


"Aku akan membalas apa yang telah kalian lakukan berkali lipat." Dewi Anggini menatap orang-orang yang berada disekitar dirinya dengan kemarahan yang memuncak.


Namun kondisi tubuhnya yang lunglai membuat dia hanya bisa duduk bersamadhi mencoba mengumpulkan tenaga dalam miliknya. Tetapi racun yang masuk dalam tubuhnya membuat dirinya tidak dapat mengumpulkan tenaga dalam sedikitpun.


Tatapan mata Dewi Anggini yang menyiratkan kemarahannya, justru membuat iblis racun tertawa semakin lebar.


"Aku tidak mengira sama sekali, jika akhirnya aku bisa merasakan tubuh indah milik putri kaisar Gong yang dulu sangat terkenal kecantikannya." Lelaki yang bernama iblis racun itu menjilat bibir atasnya.


Ludahnya sudah mulai bercucuran mengiringi setiap langkahnya. Lelaki itu terus mengintimidasi Dewi Anggini, agar wanita itu mau memberitahukan cara membuka peti yang berada didepan Batara Karang.


"Aku sudah memberi tahu apa yang aku tau. Tidak ada lagi yang aku simpan. Mengapa susah sekali membuat kalian percaya."


"Gampang jika kau ingin membuat diriku percaya, cukup layani aku sampai puas. Jika kau bisa membuatku puas, maka aku akan mempercayaimu! Hahaha...!" Iblis racun tertawa dengan keras diikuti anak buahnya yang berjalan mengikuti dibelakangnya.


"Jangan berani kau menyentuhku, akan aku cincang tubuhmu jika berani menyentuhku!" Dewi Anggini terlihat mulai panik melihat apa yang akan dilakukan iblis racun bersama anak buah yang berjumlah tidak kurang dari dua ratusan orang.


Zraaaat!


"Tapak Cermin iblis!"


Duuuaaarrr!


Sesaat sebelum iblis racun menyentuh tangannya ke tubuh tetua Dewi Anggini, mendadak sebuah sinar melesat menerjang ke arah lelaki itu.


Iblis racun buru-buru mengerahkan jurus andalannya. Lesatan sinar yang begitu dahsyat, secara mengagumkan menghilang.


"Rasakan jurusmu sendiri!"


Zraaaat!


"Bawa perempuan itu kebelakang! Sepertinya kekasihnya telah datang! Kita akan merasakan perempuan ini sambil disaksikan kekasihnya, setelah itu kita habisi mereka semua! Hahaha...!"


Iblis racun justru tertawa mengetahui eyang Sindurogo telah muncul.


"Jangan remehkan dia iblis racun, tehnik ruang waktu milik Gagak setan telah dia kuasai. Dia mampu menyerang dengan langkahnya yang tidak akan dapat kau raba!" Batara Karang mencoba memperingatkan iblis racun untuk tidak meremehkan lawannya.


Lelaki itu membentuk semacam penjara energi yang mengelilingi tubuh Dewi Anggini. Tehnik yang dipergunakan Batara Karang itu mirip dengan jurus Kunjara Bajrapati milik Dewa Kegelapan.


Eyang Sindurogo diikuti Dewa Rencong kembali menyerang iblis racun dan anak buah yang menyertainya. Jurus pertama dari Tapak Dewa Matahari digunakan eyang Sindurogo untuk membabat musuh yang menyerang dirinya.


Dewa Rencong yang bergerak beriringan melesatkan jurus petir miliknya. Petir itu menghajar ke arah Iblis racun. Lelaki itu sudah berusaha menghindar, namun jurus petir itu tidaklah mudah untuk dapat dihindari. Sebab mampu mengejar gerakan lawan yang mencoba menghindar.


"Tapak cermin iblis!"


Petir itu langsung menghilang setelah sebentuk energi yang berputar didepan iblis racun muncul. Petir yang menghilang itu kembali muncul dari dalam telapak tangannya. Dia lalu menggunakan petir itu untuk menyerang balik ke arah Dewa Rencong.


Tetapi pendekar dari Bukit Lamreh itu telah bersiap dengan serangan balik yang hendak dihantamkan padanya. Begitu petir itu menerjang ke arahnya, maka kedua telapak tangannya membuka untuk menyambut serangan petir itu.


Petir yang seharusnya meledak menghantam tubuh Dewa Rencong, justru seakan berhasil tangkap olehnya. Dia lalu membuat gerakan memutar. Seluruh kilat petir itu berputar mengikuti tubuhnya.


Lalu dalam waktu yang kurang dari satu hembusan nafas petir yang berhasil ditangkap diperkuat dengan tehnik perubahan petir miliknya, sehingga kekuatannya berubah berkali lipat.


Setelah itu, saat tubuhnya yang berputar berbalik telah menghadap ke arah lawannya, maka saat itulah petir dengan kekuatan lebih dahsyat dari pada sebelumnya dia hantamkan ke arah iblis racun.


"Basu Bajra!"


Bldaaaar!


"Kurang ajar!"


Serangan yang dilakukan Dewa Rencong sangat cepat, semua tidak menyangka dengan kemampuan yang dilakukan pendekar itu. Iblis racun tidak sempat mengerahkan jurus yang baru saja dia kerahkan.


Petir yang membentuk tubuh seekor naga itu menghantam dengan begitu mengerikan. Hal terakhir yang bisa dilakukan Iblis racun adalah menghindar secepat mungkin dari hantaman petir itu.


Iblis racun beruntung dapat menghindar, namun tidak bagi anggota pasukan khusus kelompok Mawar Merah. Lima orang yang sebelumnya berada dibelakang iblis racun terpental dengan tubuh hancur dan terbakar.


Bldaar! Bldaar!


Serangan pembuka yang dilakukan Dewa Rencong membuat mereka semua hendak menyerang balik. Namun eyang Sindurogo tidak membiarkan mereka bernafas lega.


Dia segera menghantamkan sinar dari jari telunjuknya berkali-kali. Iblis racun yang menjadi sasaran serangan harus berjumpalitan beberapa kali untuk menghindari sebelum dia kembali menggunakan jurus yang mampu mengembalikan serangan eyang Sindurogo.


Tetapi lelaki itu tidak memahami peringatan yang dilakukan Batara Karang sebelumnya. Begitu dia menyerang balik, menggunakan jurus eyang Sindurogo yang berhasil dia serap, maka lawan telah membaca gerakannya.


Eyang Sindurogo telah memperkirakan serangan itu. Dia kini telah berada dibelakang iblis racun. Pendekar Tapak Dewa Matahari itu langsung menghatamkan pukulan terkuatnya untuk menghancurkan tubuh iblis racun.


"Awas kakang tubuhnya beracun!"


"Terlambat! Hahaha...!


Duuum!


Saat Dewi Anggini memperingatkan tindakan Eyang Sindurogo. Pendekar itu sudah terlanjur menghantamkan pukulan yang dilambari kekuatan tingkat surga lapis keenam ke tubuh lawan.


Tidak disangka iblis racun telah menunggu saat seperti itu, yaitu lawannya menyerang dari jarak dekat. Pukulan mereka beradu dengan sangat keras, bahkan mampu mengimbangi kekuatan eyang Sindurogo.


"Bagaimana mungkin kekuatanmu mengimbangiku?" Eyang Sindurogo terkejut dengan kejadian barusan.


Dia segera menyadari jika kekuatan lawan sudah sampai pada tingkat yang mampu mengimbangi kekuatan miliknya. Eyang Sindurogo pantas untuk terkejut, sebab seingat dia kekuatan lelaki yang berhasil menghadang kekuatannya itu terpaut jauh dengan dirinya.


"Bagaimana mungkin kekuatanmu sudah berada ditingkat surga pertengahan?" Eyang Sindurogo tidak dapat mempercayai dengan apa yang dia lihat.


"Apa yang telah kau lakukan? Sejak kapan kau meracuniku?!"


"Apakah kau lupa? Lawanmu ini bernama Iblis racun Sindurogo! Hahahahaha...!"


Dia kembali menghilang dari pandangan iblis racun. Lalu muncul di belakang Dewa Rencong untuk berlindung.


Dia terpaksa melakukan itu, karena mendadak tubuhnya lemas tidak berdaya, sebelum terlambat dia langsung menghilang. Setelah sampai dibelakang Dewa Rencong, pendekar itu sudah kehilangan tenaga dalam miliknya secara keseluruhan. Bahkan untuk berdiri saja dia sudah tidak sanggup.


'Gawat, racun apa ini sebenarnya? Bagaimana mungkin racun ini begitu kuat, bahkan aku kini seperti orang lumpuh.' Eyang Sindurogo tidak mampu memahami apa yang baru saja terjadi padanya.


Bldaar! Bldaar!


Dewa Rencong yang sedang bertarung menghadapi lawan, sempat melihat kejadian yang menimpa Eyang Sindurogo. Tetapi sebelum dia sempat mengetahui apa yang terjadi, serentak lawannya melempar bola-bola yang meledak sebelum menyentuh tubuhnya.


"Tahan nafasku Salya itu asap beracun!" Eyang Sindurogo segera memperingatkan Dewa Rencong. Lelaki itu segera melakukan seperti yang diteriakan padanya.


"Kalian semua mengira, jika racun itu hanya bekerja saat berhasil memasuki sistem pernafasan kalian. Kalian salah besar, racun itu tetap dapat masuk ke dalam tubuh, sekalipun kalian berhenti bernafas.


Sebab racun itu aku buat secara khusus. Sehingga mampu meresap masuk ke dalam tubuh, selama racun itu telah menyentuh permukaan kulit kalian!"


Lelaki yang bernama iblis racun itu tertawa puas melihat dua lawan yang merepotkan itu berhasil dia lumpukan.