
Sekejab setelah menghilang mereka kemudian muncul di Perguruan Pedang Surga. Beruntung saat mereka sampai tidak ada kehancuran di perguruan itu, artinya tidak ada atau belum ada makhluk kegelapan yang menyerang.
Dewa Rencong segera mengajak Suro menemui Dewa Pedang untuk memberi tahu tentang kabar bebasnya raga Dewa Kegelapan. Di belakangnya Gagak setan berjalan mengikutinya. Dia yang memiliki tubuh mirip seorang raksasa tentu saja menjadi pusat perhatian.
Apalagi seekor ular bersisik emas melingkari tubuhnya. Ular itu adalah ular yang sebelumnya melingkar ditubuh Suro. Geho sama yang berbagi kesadaran dengan Suro, membuat ular itu merasa tidak ada perbedaan dengan tubuh Suro.
Para gadis belia murid perguruan juga tak kalah heboh, hal itu disebabkan dengan kedatangan sesosok pemuda belia yang berjalan beriringan dengan Dewa Rencong. Para dara itu seperti terbius dengan wajahnya yang begitu rupawan.
Kulitnya yang putih bersih dan pancaran aura yang tak biasa seakan penuh kewibawaan membuat mereka tidak malu-malu untuk menyapanya. Meskipun mereka merasa tidak asing, tetapi pikiran mereka sudah tertutupi oleh pesona yang memancar dari wajahnya. Mereka para dara ikut mengikuti langkah Dewa Rencong yang hendak menemui Dewa Pedang.
Apalagi pemuda itu begitu murah senyum dan cukup ramah, sebab setiap sapaan mereka dibalas pemuda itu ditambah dengan sebuah senyuman manis. Walaupun saat itu dia juga kelihatan tergesa mengikuti Dewa Rencong, tetapi dia masih menyempatkan membalas sapaan mereka.
Dari kejauhan terlihat Eyang Udan Asrep hendak menyongsong kedatangan Dewa Rencong. Dia sedikit kebingungan dengan dua sosok yang tidak dia kenal yang mengikuti pendekar dari Swarnabhumi itu.
Sebab sebelumnya Dewa Pedang yang pulang dari perguruan Pedang Bayangan menyebut, jika Suro bersama Dewa Rencong pergi mengejar Eyang Sindurogo ke tempat yang jauh, yaitu di belahan dunia lain. Menurut perkataan Dewa Pedang juga, mereka tidak akan kembali dalam waktu dekat. Karena itulah dia cukup terkejut mengetahui Dewa Rencong telah kembali, bahkan belum ada satu purnama.
Hal yang paling membuatnya penasaran adalah dua sosok yang tidak dia kenal justru menemani kepulangannya Dewa Rencong. Seharusnya yang menemani adalah Suro. Dia tentu saja sangat khawatir dengan nasib Suro yang tidak kelihatan pulang bersama Dewa Rencong.
Murid-murid perguruan semakin banyak mengerubungi mereka. Hal itu membuat jalan mereka bertiga sedikit tersendat.
"Siapa dia Dewa Rencong?" Eyang Udan asrep tidak mampu menyembunyikan rasa penasarannya dan mulai bertanya kepada Dewa Rencong.
"Perkenalkan dia adalah Gagak setan"
Geho sama menganggukkan kepala tanpa membuka suara. Eyang Udan Asrep sebenarnya masih penasaran dan ingin mengetahui tentang Geho sama. Tetapi dia sedikit ngeri dengan tampangnya yang mengerikan. Dia kemudian mengalihkan pembicaraan mengenai hal lain.
"Lalu dimana nakmas Suro? Bukankah dia pergi bersama Dewa Rencong setelah pertempuran di Perguruan Pedang Bayangan?"
Kali ini Dewa Rencong memincingkan mata sambil menoleh kepada Suro. Pemuda yang berada disebelahnya justru menaikan kedua bahunya keatas, hendak memberi tanda jika dia juga tidak memahami dengan pertanyaan itu.
"Apakah kakang Udan Asrep tidak melihat bocah gendeng ini?" Dewa Rencong memelotot ke arah Suro. Dia hendak memastikan jika matanya tidak sedang dipermainkan oleh sihir ilusi.
Suro hanya tertawa mendengar ucapan Dewa Rencong. Para dara murid perguruan yang mendengar juga tak kalah kaget, mereka semua segera menyadari jika sosok pemuda belia didepan mereka adalah Suro.
Mahadewi yang berada diantara mereka juga tak kalah kagetnya dia sampai mengusap-usap matanya beberapa kali sambil menggelengkan kepala pertanda tidak mempercayai apa yang dilihat matanya sendiri. Beruntung Suro sedari tadi tidak melihat kehadirannya, tentu dia akan sangat malu.
"Aku harus menemui Dewa Pedang. Ada hal penting mengenai Dewa Kegelapan. Sebab raga miliknya telah berhasil bebas dari dalam penjara di dasar bumi. Itu terjadi sekitar hampir satu purnama yang lalu. Apakah kalian merasakan sesuatu saat raga Dewa Kegelapan itu bebas?"
"Sebab jurang neraka yang selama ini kita pernah dengar selalu mengeluarkan kekuatan kegelapan, ternyata memang sengaja dibuat oleh pengikut Dewa kegelapan sejak ribuan tahun yang lalu. Dan melalui jurang neraka itulah para pengikutnya membebaskan junjungannya. Seharusnya saat terbebasnya raga Dewa Kegelapan di tanah Yawadwipa ini mengalami sebuah fenomena yang tak biasa. Apakah kalian merasakannya?"
"Selain itu apakah kalian juga sudah mendengar tentang pasukan kegelapan yang menyerang hampir seluruh Yawadwipa ini?"
Dewa Rencong juga bercerita tentang serangan yang menghancurkan kota kerajaan Mataram yang diserang makhluk kegelapan. Dari ucapan punggawa kerajaan jika serangan itu telah melebar ke segala penjuru. Bahkan mereka juga menyebutkan Kerajaan Champa telah jatuh dalam kekuasaan mereka.
Eyang Udan asrep terlihat cukup sabar menghadapi Dewa Rencong. Dia membiarkan pendekar dari bukit Lamreh itu selesai dengan rentetan pertanyaannya.
Eyang Udan Asrep sebenarnya cukup terkejut, mengetahui raga Dewa Kegelapan berhasil berhasil dibebaskan. Eyang Udan Asrep kemudian mulai menjawab rentetan pertanyaan Dewa Rencong. Dia membenarkan tentang penyerangan makhluk kegelapan yang menyerang ke berbagai penjuru tanah Javadwipa. Tetapi beruntungnya perguruan mereka tidak ikut menjadi sasaran.
Dia menjelaskan jika serangan itu dimulai sekitar hampir satu purnama yang lalu. Menurut Eyang Udan asrep kejadian itu di awali sebuah gempa bumi yang kuat. Dan menguncang selama hampir sehari semalam. Walaupun berguncang tidak secara terus menerus. Tetapi guncangan itu terus berulang dengan jeda waktu yang berbeda-beda.
Setelah kejadian itu, beribu-ribu makhluk kegelapan menyerang ke berbagai tempat di Javadwipa.
Dewa Rencong kemudian kembali bertanya mengenai Dewa Pedang. Setelah Eyang Udan Asrep memberi tahu ketua perguruan sedang berada dikediamannya, maka mereka bertiga dan juga bersama Eyang Udan Asrep bergegas melanjutkan perjalanan menemui Dewa Pedang. Mereka berempat segera lenyap dari hadapan mereka semua. Karena Suro telah mengerahkan jurus Langkah Maya.
Kediaman Dewa Pedang yang berada diujung bagian perguruan, sebenarnya tidak terlalu jauh. Jika mereka melesat terbang dalam hitungan setengah sepenanakan nasi tentu mereka sudah sampai. Tetapi Suro memilih mempercepat waktu. Walaupun tehnik Langkah Maya sebenarnya memerlukan tenaga dalam yang besar, tetapi apa yang ingin mereka bahas cukup penting dan secepat mungkin di lakukan.
Pada awalnya Dewa Pedang juga terkejut melihat perubahan yang dialami Suro. Dan dia juga terkejut, setelah mengetahui manusia setengah burung yang seperti raksasa adalah wujud Geho sama.
Setelah mendengarkan seluruh cerita dari Dewa Rencong dan Suro selama dalam perjalanan yang mereka lalui, dia lebih terkejut lagi.
Suro hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa kecil melihat Dewa Pedang masih belum juga mempercayai jika dia adalah Suro.
Naga Raja sisik emas yang melingkar di tubuh Geho sama mencuri perhatian Dewa Pedang.
"Bagaimana Gagak setan memiliki Naga Raja sisik emas?"
"Sebenarnya naga itu milikku, namun aku membiarkan Gagak setan yang membawanya. Apalagi ular itu cepat sekali tumbuhnya, membuat tubuhku menjadi terlihat kecil."
"Apakah memang benar naga itu memiliki kekuatan mengagumkan yang mampu menarik kekuatan alam?"
Suro mengangguk membenarkan ucapan Dewa Pedang. Dia lalu bercerita tentang bagaimana dia menemukannya.
Setelah Suro selesai bercerita Geho sama membuat pengakuan. Apa yang dia ceritakan itu membuat mereka semua seakan tidak mempercayainya. Mereka semua terkejut dengan fakta yang diceritakan itu.
Sebab dia bercerita jika ilmu empat Sage sebenarnya ilmu yang dia dapat dari Naga Sisik Emas.
Dia kemudian mengembangkan ilmu tersebut yang memungkinkan dirinya dapat menyerap energi kehidupan makhluk lain. Dengan ilmu itu dia kemudian menggunakan untuk menyerap kekuatan siluman lain sebagai jalan pintas untuk menjadi yang terkuat.
Geho sama yang sekarang telah tercerahkan, setelah menjalani latihan bersama Sang Hyang Ismaya membuat dirinya merasa sangat bersalah. Sebab sudah tidak tak terhitung jumlah siluman yang sudah dia habisi untuk diserap kekuatannya.
"Itu adalah jalan takdir yang harus kamu lalui Gagak setan. Seperti yang diucapkan Sang Hyang Ismaya, jika sesungguhnya kita hanya menjalani apa yang sudah digariskan, tidak lebih maupun kurang." Suro menyela ucapan Geho sama sebelum dia melanjutkan ucapannya.
"Selain itu berkat ilmu yang kamu kembangkan dari tehnik yang dimiliki Naga Sisik emas, membuat kita memiliki peluang lebih banyak untuk dapat mengalahkan Dewa Kegelapan."
"Selain masalah itu Suro juga ingin mejelaskan mengapa Suro memutuskan kembali terlebih dahulu ke perguruan ini. Salah satu alasannya adalah ingin paman guru mencapai kekuatan jiwa seperti yang telah dicapai paman Maung dan juga Geho sama."
"Walaupun pencapaian kekuatan jiwa ilmu sedulur papat berada jauh tingkatannya dibandingkan pencerahan sempurna melalui jalan arhat, tetapi dengan ilmu itu memiliki peluang untuk mampu menghabisi para makhluk kegelapan. Karena itu Suro mohon paman Salya mau membantu paman guru mencapai kekuatan seperti yang telah paman capai."
Dewa Rencong menatap Suro dengan penuh tanda tanya.
"Maksudmu aku tinggal disini dan kamu berkeliaran sendirian tanpa aku temani?" Dewa Rencong kali ini mulai memelototi Suro.
"Benar paman, tetapi aku tidak sendirian karena Geho sama akan ikut bersamaku. Selain itu jika tidak ada yang mampu menghabisi para makhluk kegelapan yang menyerang tanah Yawadwipa ini tentu akan menjadi bencana besar."
"Dengan kemampuan paman guru yang telah mencapai tenaga dalam tingkat langit tentu sudah memenuhi syarat untuk mencapai kekuatan puncak ilmu sedulur papat."
"Dengan kondisi itu dapat menjaga tlatah Javadwipa ini dari kehancuran dengan adanya paman berdua yang menjaganya."
"Suro akan melanjutkan perjalanan mencari eyang guru bersama Geho sama."
"Jangan bercanda bocah aku tidak membiarkan dirimu mengejar gurumu tanpa aku didekatmu!" Dewa Rencong menatap Suro dengan tajam. Dia sebenarnya ingin mengatakan jika dia mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Dia tidak dapat tenang jika dia pergi hanya ditemani Gagak setan, dia memaksa harus ikut pergi bersama Suro.
"Jangan khawatir paman, kali ini Suro dapat menjaga diri. Keselamatan seluruh perguruan ini dan seluruh penduduk tanah Yawadwipa ini lebih penting. Mereka lebih membutuhkan pertolongan paman."
Mereka tidak menyangka dengan keputusan yang diambil Suro. Tetapi setelah ditimbang apa yang dikatakan Suro sesuatu hal yang masuk di akal. Apalagi Suro telah mencapai pencerahan sempurna, sehingga tidak khawatir dapat dipengaruhi oleh kekuatan kegelapan. Kekuatan langit yang telah dicapai Suro juga menjadi pertimbangan mereka, sehingga dengan terpaksa Dewa Rencong akhirnya memaksanya menganggukkan kepala menyetujui keputusan Suro
"Kalian jangan khawatir mengenai keselamatan tuan Suro. Aku akan menjaganya melebihi aku menjaga keselamatan pada diriku. Sebab aku tidak akan membiarkannya tuan Suro mengalami celaka. Jika hal itu terjadi maka tidak ada alasan bagi diriku untuk melanjutkan hidupku." Geho sama yang berada disamping Suro ikut meyakinkan mereka semua.
Akhirnya Dewa Rencong menerima keputusan Suro dia akan melatih Dewa Pedang agar mampu mencapai puncak tingkat kekuatan jiwa seperti yang pernah diajarkan Sang Hyang Ismaya kepadanya.
Suro kemudian pamit kepada mereka, kemudian dia pergi menemui Kolo weling terlebih dahulu. Tubuhnya langsung lenyap dari hadapan mereka, setelah jurus Langkah Maya dia kerahkan.
**
**Terimakasih banyak kepada semua pihak yang telah mendukung novel ini tetap ditunggu dukungannya apapun bentuknya. Silahkan berikan masukan jika dirasa ada yang kurang dari novel ini.
suwun**