SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
542. Musnahnya Dewa Kegelapan



"Tidak mungkin!" ujar Dewa Kegelapan yang baru saja memasuki tubuh Suro, sebab dia melihat sosok yang sangat dikenal berada di dalam tubuh Suro.


"Kau pikir aku tidak membuat persiapan terlebih dahulu sebelum menghadapimu," seringai Suro Bledek.


Dewa Kegelapan kini di kepung empat arah berbeda, dimana selain Suro ada tiga sosok lain yang segera diketahui oleh Dewa Kegelapan, mereka adalah Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Narada. Meskipun begitu ketiganya hanyalah berupa kesadaran saja.


"Bagaimana kau mampu menampung kesadaran ketiga dewa?" ucap Dewa Kegelapan yang segera menyadari, jika tidak ada kesempatan untuk mundur, oleh karen itu dia segera berteriak keras hendak mengerahkan kekuatan jiwa terkuat miliknya.


Suara itu sebenarnya adalah semacam ilmu gendam yang dapat mempengaruhi dan mengendalikan kesadaran musuhnya. Itu juga bagian dari ilmu Sukma Pemangsa Semesta yang dikerahkan sebelumnya, hanya saja ini adalah kekuatan penuhnya.


"Cepat kerahkan Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu Suro!" teriak Sang Hyang Ismaya.


Kuatnya serangan jiwa itu hampir saja membuat Suro kehilangan kesadarannya, beruntung kesadaran tiga dewa menolongnya.


Mereka bertiga segera membentuk segel dewa untuk melindungi jiwa Suro. Sedangkan Suro sendiri segera membentuk mudra yang sama dan segera mengawali jurus terkuatnya Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.


Rapalan mantra itu kali ini diucapkan bersama kesadaran ketiga dewa. Tidak seperti pertarungan fisik adu kekuatan jiwa yang terjadi membuat tubuh Suro seakan-akan hampir saja meledak menjadi debu, beruntung ketiga kesadaran dewa telah memperhitungkan dengan matang, selain karena bantuan mereka bertiga kekuatan Tirta Amerta atau air keabadian yang diminum oleh Suro telah membuat tubuhnya tidak hancur semudah itu.


Suara rapalan mantra dari Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu mewujud dalam bentuk aksara yang bercahaya. Setiap aksara itu keluar dari mulut Suro dan menempel di tubuh Dewa Kegelapan.


Semakin lama aksara yang menempel semakin banyak, sehingga berhasil membuat Dewa Kegelapan menjadi panik. Semakin lama aksara itu mulai menutupi sekujur tubuh Dewa Kegelapan.


"Sial, bagaimana mungkin aku dapat dihancurkan setelah sekian lama aku menunggu saat ini?!" teriak kemarahan dari Dewa Kegelapan yang kembali meledakkan kekuatan jiwanya yang tersisa.


Dia berharap ledakan kekuatan jiwa miliknya mampu melepaskan setip aksara yang menempel di tubuhnya, namun tidak ada satupun aksara bercahaya itu rontok, seakan telah dilem menempel dengan erat pada setiap inchi kulitnya.


Tubuh Dewa Kegelapan kini penuh bercahaya seperti cahaya purnama menerangi kegelapan, tubuh Dewa Kegelapan secara mengejutkan mengecil dengan cepat seakan balon yang dikempiskan. Keadaan itu berlangsung sekian lama sampai waktu yang panjang.


Rapalan mantra Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu terus menggema, bersama itu juga aksara bercahaya itu terus menghujani tubuh Dewa Kegelapan. Sampai akhirnya tubuh Dewa Kegelapan sepenuhnya terbungkus dan mengecil menjadi sebuah bola cahaya yang tidak lebih dari sekelereng.


Setelah itu benda itu melayang dan bersatu dengan cakra manipura yang berada di bawah sedikit pusar Suro. Seketika terjadi ledakan kekuatan pada tubuh Suro yang langsung diredam oleh ketiga kesadaran dewa yang bersemayam dalam tubuh Suro.


"Aaaaaarrrggghhh!" teriak Suro yang berteriak kesakitan, sebab pada saat itupun Dewa Kegelapan masih hendak menguasai tubuh dan kesadaran Suro.


Beruntung ketiga kesadaran dewa telah membantu mengendalikan sisa kekuatan jiwa milik Dewa Kegelapan, jika tidak tentu Suro tidak akan mampu mengatasi sendiri kekuatan musuh bebuyutannya itu.


"Saat ini Dewa Kegelapan sepenuhnya telah musnah, hanya saja untuk menjaga agar tidak terjadi lagi kemungkinan buruk yang tidak terduga, engkau harus tinggal di khayangan Alang-alang Kumitir bersamaku, aku akan mengawasi secara terus-menerus keadaanmu," ucap Sang Hyang Wenang.


"Bukankah Dewa Kegelapan telah musnah jiwanya Sang Hyang Wenang?"


Suro hanya menganggukkan kepalanya setuju dengan pendapat Sang Hyang Wenang. Karena itu demi kebaikan alam semesta agar tidak jatuh dalam ancaman jahat Dewa Kegelapan yang ingin menguasai dan menghancurkan seluruh alam semesta.


Dalam satu kedipan mata kemudian Suro telah berpindah di suatu tempat yang teramat indah. Tempat itu disebut sebagai Khayangan Alang-alang Kumitir. Suatu tempat di alam dewa yang justru berada jauh diatas tempat para dewa yang biasa.


"Kamu terus bersamadhi disini sampai waktu yang tidak aku tentukan," ucap Sang Hyang Wenang menujuk ke arah sebuah air terjun yang mencurahkan air Tirta Amerta.


Tempat dimana Suro kini berada dipenuhi keindahan yang tidak dapat diutarakan dengan kata-kata. Selain itu perbedaan yang nyata adalah begitu pekatnya energi alam di tempat itu, sehingga hanya dengan satu kali hembusan nafasnya saja seolah telah mengisi seluruh energinya yang sebelumnya terkuras.


Bau harum semerbak juga semakin membuat batin Suro berubah menjadi tenang dan damai. Selain itu ada rasa bahagia yang tidak terperikan, sehingga membuat Suro menjadi betah meskipun dia terus bersamadhi tanpa ada jeda.


Tubuhnya kini tidak memerlukan makan dan minum, cukup dengan menyerap kekuatan alam yang begitu pekat telah membuat Suro merasa berkecukupan. Wajahnya terus menampakan kegembiraan yang tidak terbayangkan. Dia tidak lagi menghitung waktu telah seberapa lama dia melakukan hal tersebut.


Namun selama waktu itu wajahnya tidak satu kerutpun muncul, seolah dia tidak menua sedikitpun seperti saat di awal dia melakukan pertapaan. Tanpa diketahui oleh Suro, sesungguhnya dia telah melakukan pertapaan lebih dari tujuh puluh tahun.


"Suro, ini waktumu untuk bangun," ucap Sang Hyang Wenang menatap ke arah Suro yang masih terpejam.


Setelah bertahun-tahun dihujani air terjun tubuhnya justru menjadi begitu tampan. Kulitnya seolah berlian yang memancarkan cahaya berkilauan.


Matanya berubah menjadi begitu bening, sehingga setiap makhluk yang melihatnya akan tertarik dan terpesona. Semua itu adalah berkat khasiat dari Air keabadian yang melimpah di alam Khayangan Alang-alang Kumitir.


Padahal di dunia dewa lainnya, air itu menjadi suatu barang yang sangat langka dan paling dicari. Keadaan tubuh Suro kini tidak jauh berbeda seperti para dewa yang tidak akan mengalami masa tua. Fia menjadi begitu gagah dan tidak terlihat sedikitpun perubahan usia di wajahnya.


"Mengapa cepat sekali Sang Hyang Wenang, bukankah aku baru saja memejamkan mata?" tanya Suro keheranan dia tidak mengerti mengapa Sang Hyang Wenang memerintahkan dirinya untuk menghentikan samadhinya.


Mendengar perkataan dari Suro Sang Hyang Wenang tersenyum, "sudah aku duga engkau akan mengatakan hal ini, tetapi waktu yang telah kau lalui lebih dari waktu tujuh puluh tahun lamanya," ucap Sang Hyang Wenang sambil tersenyum ramah.


Mata Suro terbelalak mendengar perkataan Sang Hyang Wenang, dia berubah menjadi panik, sebab dia telah berjanji kepada Mahadewi untuk kembali secepatnya, dia tidak mengira, jika dirinya telah berdiam sebegitu lama tanpa dia sadari.


"Astaga, sebaiknya aku harus kembali ke alam dunia manusia Sang Hyang Wenang, sebab ada bahaya yang lebih menakutkan dibandingkan bertarung dengan Dewa Kegelapan."


Sang Hyang Wenang langsung tertawa mendengar perkataan Suro, karena dia tahu apa yang dimaksud Suro. Dia sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali tidak memahami bagaimana Suro begitu takutnya pada sosok yang dimaksud.


"Pergilah, sesungguhnya dia telah menunggumu siang malam tanpa henti," ucap Sang Hyang Wenang sambil tersenyum.


buat yang menyukai novel saya bisa berkunjung diaplikasi sebelah fiz*o dengan judul ROH NAGA API 2 yang penuh aksi seru gratis sampai selesai ditunggu semuanya untuk mampir