
"Gawat, rantai itu berhasil menjerat tuan Suro!"
Geho sama langsung mendekat ke arah Suro mencoba melindunginya. Sebab Batara Antaga berusaha menarik keras rantai pemasung jiwa miliknya. Tetapi Suro dapat melawan kuatnya tarikan itu, meski sambil menahan rasa sakit yang mendera.
Setelah berhasil diserang oleh Batara Antaga, maka empat penjaga gaib milik Suro serentak bergerak mendekat ke arahnya. Mereka semua tidak membiarkan siapapun menyerang Suro yang masih sibuk melawan rasa sakit tak tertahankan.
"Aaaargggh...nyawaku serasa hampir keluar dari tubuhku, Geho sama."
"Pantas saja eyang guru berteriak keras sampai mendelik kedua matanya. Ternyata seperti ini rasa sakit yang benar-benar menyakitkan."
"Tenang saja tuan, demi menyelamatkanmu aku akan mempertaruhkan nyawaku. Tetapi serangan yang akan aku kerahkan ini hanya dapat aku lakukan sekali saja. Karena itu sebelum aku menggunakan senjata itu, sebaiknya tuan Suro melumpuhkan Batara Antaga terlebih dahulu dengan menggunakan petir hitam"
"Aku akan mendatangkan senjata Brahmastra, dengan cara menggabungkan kesembilan kekuatan tubuh ilusiku"
Setelah mendengarkan penuturan dari Gagak setan, Suro hanya menganggukan kepala. Dia kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya pada rantai yang mencoba mencabut nyawanya.
"Bajra Kala!"
Bldar! Bldar! Bldar!
Selesai merapalkan jurus petir hitam, maka rentetan kilat petir yang begitu besar berhasil menghantam Batara Antaga melalui rantai yang menembus ke tubuhnya.
Batara Antaga tidak menyangka Suro dapat menyerang dirinya menggunakan senjata rantai miliknya.
"Aaaaargghhh!"
Karena aliran listrik yang berupa kilat petir yang diselubungi api hitam menghantam Batara Antaga, maka lelaki itu langsung mengejang keras tak terkendali.
Bersama kilat petir yang menggelegar begitu keras, kobaran api hitam juga berhasil menyelubungi sekujur tubuhnya.
"Sontoloyo, dasar anak sialan! Senjata rantai milikku justru digunakan untuk menyerangku!" Terlihat rambut miliknya terbakar habis dan dari mulut dan lubang kupingnya mengepulkan asap.
Dia akhirnya berhasil lepas dari kobaran api hitam itu dengan tehnik perubahan air dan es yang hebat. Dia menciptakan tubuh tiruan menggunakan perubahan es, agar dapat selamat dari kobaran api hitam.
Meskipun dia berhasil menyelamatkan diri dari kobaran api hitam dan hantaman petir, namun sekujur tubuhnya telah terlanjur gosong.
"Serang anak setan itu! Jangan biarkan dia lolos! Aku telah berhasil mengikatnya. Dia tidak akan mampu menggunakan jurus ruang waktunya untuk menghindari serangan kalian! Gunakan ilmu Cungkup Jagat! Aku ingin tubuhnya musnah!"
"Kurang ajar, bagaimana mungkin dia masih mampu menyerangku? Padahal dia telah aku lukai dengan rantai pemasung jiwa." Batara Antaga menggerung penuh kemarahan sambil menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.
Para Shurala dan juga pasukan yang berada dibawah pimpinan tetua Arkados serentak bergerak menyerang ke arah Suro.
"Jangan bermimpi mampu menyentuh tuanku Suro dengan tangan kotor kalian!"
"Nawa Gardapati bersatulah!"
Bersama dengan teriakan Gagak setan, maka kesembilan tubuh ilusinya berubah menjadi semacam cahaya dan berkumpul ditelapak tangan kanannya. Cahaya itu lalu menyatu dengan seluruh chakra miliknya yang dia kumpulkan. Kemudian cahaya itu membentuk dengan cepat sebuah senjata yang mirip mata panah.
"Rasakan Brahmastraku!"
Duuuuum!
Ledakan cahaya menyilaukan mata setara dengan kemunculan jurus kelima dalam ilmu Tapak Dewa Matahari, lalu diikuti ledakan api yang mengerikan langsung menghancurkan seluruh tempat tersebut. Suro buru-buru mengerahkan jurus perubahan tanah untuk melindungi mereka.
Semua kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat, Batara Antaga sekalipun tidak menyangka. Serangan itu ditujukan kepada dirinya dan menghantam dengan telak.
Setelah gemuruh ledakan dan runtuhan bumi yang mengubur tempat itu selesai, Suro sudah tidak lagi merasakan adanya keberadaan pasukan Shurala dan pasukan yang dipimpin tetua Arkados.
Keempat penjaga gaib miliknya masih berjaga dengan penuh waspada, apalagi saat itu Gagak setan telah kehabisan kekuatannya. Ternyata serangan yang dia kerahkan dengan begitu mengerikan telah menguras seluruh kekuatannya.
Suro segera memberikan Sarkara Deva untuk memulihkan kekuatan Gagak setan.
"Jangan khawatir habiskan saja, aku telah meminta Dewi Sadpada untuk mengirim lebih banyak."
Geho sama hanya tersenyum kecut mendapatkan kendi kecil yang bisa dikatakan telah kosong isinya, kecuali hanya beberapa tetes saja. Namun khasiat cairan itu sangat bermanfaat untuk memulihkan tubuhnya sementara waktu.
Geho sama melanjutkan memulihkan tubuhnya dengan menelan beberapa butir pill tujuh bidadari berwarna biru kedalam mukutnya. Pengerahan jurus pamungkas miliknya benar-benar menguras kekuatannya.
Rasa sakit di sekitar dada, dimana sebuah rantai hitam amblas ke dalam, telah menyadarkan Suro, jika Batara Antaga tidak musnah terkena serangan Geho sama.
"Geho sama, ternyata rantai ini masih ada, artinya Batara Antaga masih hidup"
"Mustahil, makhluk terkutuk itu memang seorang dewa yang memiliki kekuatan jiwa yang mengerikan sehingga tidak mudah dimusnahkan. Padahal senjata itu mampu menghancurkan gunung tanpa ada sisa?" Gagak setan cukup terkejut, setelah mengetahui Batara Antaga tidak juga mati oleh serangan yang begitu kuat.
"Meskipun begitu aku yakin dia sepertinya telah terluka sangat parah, Geho sama"
Suro sambil menahan sakit segera bergerak mencari Batara Antaga yang tersambung dengan dirinya melalui rantai pemasung jiwa.
Warudijaya mengerti keinginan Suro, dia lalu menggerakkan tongkatnya yang berwarna putih.
Wuus!
Tanah yang berada didepan mereka bergerak menyingkir, setelah itu terlihat sesosok yang tergolek. Sekujur tubuhnya terbakar dengan sangat parah. Sebagian anggota tubuhnya juga menghilang.
"Hahahaha...bocah sialan, meskipun kau berhasil melukai tubuhku dengan sedemikian parah ini, tetapi jangan bermimpi kau akan sanggup membebaskan jiwamu dari rantai milikku! Hahahaha...!"
"Kalau aku tidak mampu lepas darimu, maka aku juga tidak akan melepaskanmu!"
Tidak terduga Suro justru melesat mendekat ke arah Batara Antaga , sambil membentuk Abhaya mudra. Telapak tangannya yang membuka itu akhirnya melenyapkan makhluk tersebut dari pandangan mata. Dia mengirim ke dimensi lain didalam pusaka Sarang Lebah iblis atau Tuskara Deva.
**
Zlap!
"Hoaaaa...! Setan alas ini dimana?"
Buuuaaak!
Tubuh Batara Antaga tiba-tiba muncul diatas udara dan tanpa dapat dicegah dia terjun bebas seperti jatuh dari langit.
"Kurang ajar, mengapa aku tidak mampu menghimpun tenaga dalamku dan mencegahku jatuh dengan kondisi seperti ini? Lukaku semakin parah, kurang ajar bocah sialan, aku pasti akan menguliti tubuhmu!"
Tempat dimana dia jatuh berada ditengah hutan yang penuh sulur aneh dan pepohonan yang jauh lebih aneh.
"Dimana ini?"
Batara Antaga terlihat kebingungan melihat sekitar, dia bergidik ketakutan melihat tulang belulang disekitar dasar hutan tersebut yang menumpuk cukup tinggi. Tubuhnya yang belum pulih setelah terkena serangan Brahmastra milik Geho sama, membuat dia semakin tidak berdaya.
Sebab kedua kakinya telah buntung dan satu tangannya tidak lebih baik dari itu, akhirnya dia terdiam ditempat dan berusaha memulihkan tubuhnya. Namun sejak muncul dan jatuh dari langit dia merasakan sebuah keganjilan.
Sebab tubuhnya yang hancur itu tidak bisa pulih dengan cepat seperti biasanya. Bahkan dia merasa kekuatannya seperti terhisap keluar menguap entah kemana.
Belum sempat menyadari apa yang terjadi sulur-sulur telah menyergap dirinya dan mulai menggulung tanpa sempat mengelak. Dia sebenarnya kebingungan bukan karena sulur itu, namun tubuhnya yang berubah menjadi semakin lemah dan lambat.
'Sialan! Jika bukan karena perintah Kanjeng Junjungan aku tidak akan bersedia masuk menjadi umpan seperti ini'
'Aku harus menyelesaikan tugasku sebelum alam ini menghisap habis kekuatanku'
Semakin kuat dia memberontak sulur itu semakin mempererat ikatannya.
'Aku harus menyelesaikan tugasku, sialan tubuhku semakin bertambah lemas?"
Dia terlambat menghindar, sebab kekuatannya terus di serap oleh sulur-sulur yang menjerat tubuhnya. Karena itulah luka bakar dan hancur di beberapa bagian tubuhnya semakin susah dia dapat pulihkan. Kondisi itu semakin memperlemah dirinya.
"Kurang ajar bocah sialan, bagaimana mungkin dia mampu memperlakukanku seperti ini? Padahal rantai pemasung jiwa milikku telah mengenainya"
Setelah dia memperhatikan alam sekitar, di hutan itu penuh dengan tanaman pemakan daging, salah satu jenisnya mirip dengan tanaman kantong semar. Namun memiliki ukuran raksasa. Selain itu ada tanaman yang memiliki mulut penuh bergerigi tajam seperti ribuan duri selayaknya gigi hiu membentang cukup lebar sepanjang tiga tombak.
Terlihat para Shurala dan juga para pasukan yang dipimpin tetua Arkados telah menjadi mangsa tetumbuhan itu.
'Gawat, mengapa aku tidak diceritakan adanya tumbuhan seperti ini sebelumnya? Jika tidak mampu selamat dari hutan ini aku akan gagal melaksanakan perintah Kanjeng Junjungan. Hal pertama aku harus memulihkan kekuatanku kemudian menyembuhkan lukaku.'
**
"Apakah tidak masalah Batara Antaga tuan kirim ke dalam Tuskara Deva? Bukankah disana ada relik kuno yang juga tersimpan?"
"Jangan khawatir Gagak setan, aku telah mengurung dirinya dan melemahkan tubuhnya. Apalagi para lebah siluman itu menjaga relik kuno."
"Lalu bagaimana dengan rantai pemasung jiwa yang mengenai tubuh tuan?"
"Saat ini aku memiliki cara untuk mengatasinya, karena aku telah mengirim Batara Antaga masuk kedalam jiwaku. Jadi tidak ada masalah, jika aku ingin mengerahkan Langkah Maya. Tetapi jujur aku belum memiliki cara untuk melepaskannya."
"Selama dia tidak mati dan berpindah ke tubuhnya yang lain dengan menggunakan ilmu Nyalin Cangkang, aku rasa rantai itu akan tetap mengikat jiwaku. Tetapi tidak mengapa, justru karena dia tidak mati itulah, akhirnya kita bisa memenjarakan dirinya."
"Sekarang waktunya kita memulihkan diri sebelum menemukan tempat dimana kekuatan Dewa kegelapan disegel"
Sesaat kemudian Ratu Lebah iblis muncul didepan Suro dengan membawa sarkara Deva ditangannya.
"Mohon maafkan kami tuan, sebagian energi yang berasal dari tubuh yang tuan kirim diserap dimensi untuk mengembangkan alam lebih luas. Dimensi dimana kami tinggal tidak lagi gersang seperti sebelumnya. Kondisi itu membuat rakyat kami semakin betah."
"Karena kejadian itu, kami hanya mampu memberikan tuan Suro sarkara Deva sebanyak ini."
"Tidak mengapa Dewi Sadpada, maafkan kami telah menyusahkan dirimu dan seluruh rakyatmu"
"Tidak tuan, justru apa yang telah tuan lakukan sangat membantu dan menolong semua rakyat kami."
Setelah memberikan sarkara Deva, ratu lebah itu lalu menghilang.
"Gunakan ini sebaik-baiknya Geho sama. Aku membutuhkan kekuatanmu, apalagi pertempuran yang akan kita lewati masih panjang"
"Kau harus membuka gerbang pertama, kalau bisa sampai gerbang kedua. Aku juga harus mengembalikan kekuatanku terlebih dahulu sebelum bertemu Dewa kegelapan."