
Setelah berhasil membuat penawar racun, Suro lalu segera bergegas pergi bersama Luh Niscita. Dia hendak mencoba penawar racun buatannya ampuh atau tidak mengobati mereka yang sudah terkena racun pelumpuh tulang.
Demi menghemat waktu Suro kemudian mengerahkan jurus langkah Maya untuk pergi menuju ketempat yang di maksud. Mereka berdua kemudian muncul di tempat bekas pasukan La Temmalureng dikurung.
Mereka semua terlihat mengenaskan kondisinya setelah terkena racun pelumpuh tulang, beruntung sebelumnya Suro telah membebaskan tiga orang diantara mereka dengan menggunakan penawar racun milik mereka sendiri. Sejauh ini tiga orang itulah yang mengurus mereka.
Apa yang terjadi pada mereka sebenarnya senjata makan tuan. Sebab racun itu sebenarnya digunakan untuk meracuni Suro.
Mereka tidak bermimpi sekalipun, justru mereka sendiri yang akhirnya merasakan dahsyatnya racun tersebut. Suro yang sudah terlanjur terkena racun lalu menggunakan mereka sebagai uji coba atas keaslian penawar racun yang mereka miliki.
Walaupun saat itu dia dapat bangkit berdiri seperti sudah pulih, sebenarnya racun itu masih ada dan belum disembuhkan dengan tuntas. Karena itulah, begitu penawar yang dimiliki memang manjur, dia segera menelannya.
"Bagaimana, apakah kalian masih ingin melakukan keonaran di negeri ini?"
"Ampun tuan pendekar kami menyesal..."
"Kami berjanji tidak akan mengulangi lagi.."
"Ampuni kami tuan pendekar tolong berikanlah kami penawar racunnya..."
"Ampuni kami tuan pendekar...Lihatlah kondisi kami yang sekarang begitu mengenaskan seperti ini. Bahkan sekedar bangun saja tulang kami tidak sanggup menyangga badan kami."
Menyadari kedatangan Suro mereka berebut meminta tolong untuk segera diberikan penawar racunnya.
"Ampun tuan pendekar, sekali lagi ampuni kami. Cukup sekali saja kami terhasut. Apalagi kami mengikuti La Temmalureng, karena kami dipengaruhi oleh sesuatu yang dilakukan oleh sosok lelaki bernama Batara Karang."
"Dia membacakan mantra yang tidak kami pahami bahasanya, setelah dia melakukan itu pikiran kami kosong. Apa saja yang diperintahkan La Temmalureng kami ikuti."
"Mereka membuat kami seperti kerbau dicococok hidungnya, sehingga kami berubah menjadi penurut tanpa dapat kami lawan."
"Baik kalian aku ampuni kali ini, tetapi sekali lagi kalian bertingkah, maka jangan salahkan tanganku ini..."
"Baik tuan pendekar, kami berjanji tidak akan membuat keonaran lagi."
"Bagikan ini kepada kalian." Suro kemudian melemparkan dua botol kecil kepada mereka semua.
Setelah menelan pill didalam botol yang diberikan Suro, mereka segera merasakan khasiat obat tersebut. Secara perlahan aliran energi dalam tubuh mereka kembali terasa.
Mereka kemudian mulai bersemadhi untuk menyerap khasiat penawar racun itu. Mereka juga segera menghimpun tenaga dalam yang secara perlahan telah kembali. Chakra yang telah mengalir membantu mereka memulihkan tubuhnya yang terasa lemas seakan tidak memiliki tenaga.
'Sepertinya penawar racun yang aku buat berhasil.' Suro mengangguk-anggukkan kepala melihat reaksi mereka yang segera pulih setelah menelan pill buatannya.
"Terima kasih tuan pendekar, kami akhirnya telah pulih."
"Terima kasih tuan pendekar...terima kasih tuan pendekar."
"Sudah..sudah..sudah kalian semua bangun. Kalau tidak segera bangun aku racuni lagi kalian semua."
Mereka berebut mengucapkan terima kasih sambil menundukkan kepala ke tanah. Tetapi begitu mendengar ancaman Suro mereka segera bergegas bangkit. Luh Niscita cekikikan melihat reaksi mereka yang begitu ketakutan mendengar ucapan Suro.
"Aku punya tugas kepada kalian untuk kalian lakukan. Apakah kalian mau melakukan apa yang aku minta?"
"Tentu saja tuan pendekar kami akan menuruti perintah tuan pendekar."
"Aku hanya meminta kalian membantu membangun pemukiman baru yang berada diatas permukaan tanah."
"Aku akan mengantar kalian menuju ke sana. Paman sakti nanti yang akan mengawasi kalian semua."
**
Setelah sampai di tempat yang dituju Suro menyuruh mereka ikut bergabung bersama yang lain mempersiapkan pemukiman yang baru ditempati sebagian itu.
Mereka tidak menyangka jika hukuman yang diberikan Suro, tidak lebih daripada membantu mereka sendiri mempersiapkan tempat tinggal baru bagi mereka.
Seperti penduduk yang lain mereka juga terbelalak melihat pemandangan langit yang selama hidupnya tidak pernah mereka lihat. Berkali-kali mereka justru mengucapkan terima kasih kepada Suro.
Karena selain diampuni nyawanya, justru mereka diberikan kesempatan untuk memulai hidup yang baru.
"Urusanku dengan kalian sudah selesai, segala urusan aku serahkan kepada paman sakti." Suro kemudian meninggalkan mereka yang masih terkagum-kagum dengan pemandangan alam yang tak pernah mereka saksikan sebelumnya.
Setelah beberapa kali bertanya kepada penduduk yang sibuk membangun pemukiman, akhirnya Suro menemukan La Tongeq sakti.
"Nakmas sudah sampai, berarti penawar racun itu telah berhasil dibuat?"
"Benar paman, mereka juga sudah aku bawa ketempat ini, agar bisa membantu paman membangun tempat ini."
"Apa maksudmu bocah?"
"Geho sama kamu akan tetap tinggal disini sementara waktu, jika terjadi apa-apa kamu bisa meminta bantuanku. Aku harus segera kembali, sepertinya firasatku mengatakan ada hal gawat yang sedang terjadi."
Karena kali ini Suro pergi dengan membawa Luh Niscita, maka dia tidak bisa langsung pergi. Dara itu harus pamitan kepada ibundanya dan beberapa hal lain.
"Sudah kita pergi sekarang paman sakti."
"Titip putri kesayangku nakmas, jadikan dia istrimu. Menjadi yang kedua atau ketiga tidak masalah yang penting dia bahagia!" La Tongeq sakti berteriak keras sebelum Suro memasuki gerbang gaib yang dia buat.
Geho sama tertawa cukup puas melihat raut muka Suro yang berubah pucat pasi.
"Makan itu bocah sinting, rasakan amukan Batari Durga yang sudah menunggumu!"
La Tongeq sakti maupun Luh Niscita tidak memahami apa maksud ucapan Geho sama yang terus tertawa sampai Suro menghilang dari pandangan mata.
**
Suro bersama Luh Niscita langsung muncul di Perguruan Pedang Surga.
"Ini dimana kakang?"
Luh Niscita terkagum-kagum melihat orang yang berlalu-lalang menggunakan pakaian yang mirip seperti yang digunakan Suro. Meskipun pedang yang mereka sandang tidak sebanyak seperti yang selalu Suro bawa.
"Ini Perguruan Pedang Surga."
"Perguruan? Apa itu perguruan kakang?"
Suro lalu menjawab pertanyaan Luh Niscita. Satu pertanyaan dijawab, maka pertanyaan berikutnya menyusul.
"Tetua muda Suro ternyata telah datang?" Made Pasek yang kebetulan melihat Suro dikejauhan segera berlari mendekat.
Tetapi bukan hanya Made Pasek, puluhan murid perguruan yang berjenis kelamin pria segera mendekat. Mereka berpura-pura menyapa Suro.
Tujuan mereka tentu saja adalah Luh Niscita yang wajahnya seperti mutiara begitu putih dan mata birunya itu membuat mereka terbius semua.
"Siapa dara cantik yang bersama tetua muda?"
"Pintar sekali tetua muda mencari dara-dara cantik?"
Suro mulai kasak kusuk menggaruk-garuk kepalanya.
"Eheem..ehem..jaga sikap kalian sebagai murid Perguruan Pedang Surga yang memiliki akhlak mulia seorang pendekar sejati."
Dari pada sibuk menjawab pertanyaan yang silih berganti yang sebenarnya semua mengarah kepada keberadaan Luh Niscita, Suro akhirnya memilih menggunakan nama besarnya sebagai tetua muda perguruan tersebut.
Mendengar ucapan Suro barusan, mulut mereka semua langsung terdiam, tetapi mata mereka tidak. Mata itu tetap melotot dengan sedikit mungkin untuk tidak berkedip agar kesempatan melihat dara yang senyumnya seakan bulan purnama itu tidak berkurang.
Luh Niscita terus tersenyum ramah ke arah mereka, setelah mengetahui mereka semua kenal dengan Suro. Dia mencoba menanamkan kepada mereka, jika dia adalah wanita yang memiliki sopan santun dan ramah.
Senyumnya yang menebar itu mulai membuat para pemuda didepannya mimisan karena tidak mampu menahan pesona yang diberikan Luh Niscita.
"Mahadewi pasti akan menyambut gembira, jika tetua muda datang bersama dara yang cantiknya seperti bidadari ini, tetua..." Made Pasek tidak dapat menahan senyumnya membayangkan Mahadewi melihat kedatangan Suro bersama Luh Niscita.
Dia lalu membisikan ke arah kuping Suro ‘biar aku saja yang menemaninya tetua muda'
Cetak!
"Aduuuh..! Sakit tetua, adududuh...!" Made Pasek mengurut-urut jidatnya yang benjol karena dijitak oleh Suro.
"Murid tak berakhlak...!"
"Tetapi ini kan demi menyelamatkan amukan sang Batari Durga!"
Suro mendengar ucapan Made Pasek tak urung sudah mampu membayangkan seperti apa jadinya jika Mahadewi melihat dirinya membawa Luh Niscita. Tetapi dia sudah tidak sempat memikirkan hal seperti itu.
"Sudah itu urusan nanti saja. Ada hal penting yang hendak aku bicarakan dengan ketua perguruan. Dimana ketua perguruan paman guru, Dewa Pedang berada, Made Pasek?"
Suro bergegas meninggalkan kerumunan orang yang semakin terkagum-kagum melihat paras Luh Niscita. Bahkan demi menghindari, Suro akhirnya memilih mengerahkan Langkah Maya untuk menghilang dari hadapan mereka semua.
"Yaaaah ngilang...ini gara-gara Made Pasek mengancam tetua muda...hilang sudah wajah bidadari yang baru saja aku temui sekali seumur hidupku ini," Rithisak Somnang yang tak mampu mempercayai ada wanita secantik itu.
Meskipun dia adalah anak dari seorang bangsawan di daerah kerajaan Chenla, tetapi dia tidak bisa membandingkan kecantikan wanita itu dengan wanita manapun.