
"Relik kuno yang kamu maksud itu seperti apa?" Dewa Pedang menatap ke arah Azura.
"Relik itu tersimpan di ruangan bawah tanah ketua, jadi aku tidak bisa memperlihatkan seperti apa bentuknya. Namun untuk memberi gambaran garis besarnya saya mungkin bisa menceritakannya. Bentuknya mirip sebuah archa. Disetiap archanya tersegel satu dari dua belas Ashura pelindung Dewa kegelapan. Mereka memiliki mantra sihir dan kekuatan unik yang mampu membuka segel untuk membebaskan tuannya."
"Menurut cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi yang tertulis dalam daun lontar. Para dewa sebelum menyegel penguasa kegelapan, mereka lebih dahulu menyegel dua belas Ashura pelindungnya terlebih dahulu. Dan dimasukan kedalam archa yang terbuat dari batu giok dewa."
Azura menjelaskan semuanya kepada Dewa Pedang. Sepanjang yang dia ketahui dengan sebaik mungkin.
"Jadi seperti itu rahasia yang sebenarnya! Semua terasa masuk akal jika dihubungkan dengan cerita yang aku dapat dari Gagak setan alias Geho sama."Dewa Pedang menatap ke arah Azura. Namun pandangan Azura justru kejurusan lain. Dia seperti terperangah menatap ke langit.
"Ketua, apa yang terjadi? Mengapa mendadak langit berubah menjadi begitu terang?"
Dewa Pedang juga ikut kaget, dia segera mendongakkan kepala menatap langit yang berubah kembali terang. Seakan sang surya membatalkan niatnya tenggelam diufuk barat.
"Apa yang terjadi diatas sana?" Dewa Pedang terkejut dengan penampakkan sebuah cahaya yang sangat terang, sehingga suasana yang mendekati senja berubah menjadi terang benderang kembali. Seakan suasana seperti waktu siang.
"Aku akan memeriksa apa yang telah terjadi diatas langit itu? Kalian tetap pada posisi berjaga, jangan biarkan para makhluk kegelapan itu mendapatkan relik kuno."
"Sendiko dawuh!" Azura dan beberapa tetua yang berjaga diatas atap menjura ke arah Dewa Pedang.
Dia kemudian melesat terbang dengan cepat, tujuannya adalah langsung menuju ke langit, dimana cahaya yang begitu terang berasal.
Diluar bangunan yang dilindungi segel gaib, pertempuran dengan makhluk kegelapan masih berlanjut. Naga Taksaka masih mampu menahan para makhluk kegelapan yang terus berdatangan. Tebasan pedang milik para tetua silih berganti menghancurkan tubuh para naga yang terus berdatangan. Terlihat beberapa kali para naga itu menyemburkan api merah sebelum kepalanya hancur terkena jurus sejuta tebasan pedang. Sekejap kemudian tubuh makhluk itu ditelan naga Taksaka dalam kobaran api hitam.
**
"Kurang ajar bocah ini menguasai jurus keempat dari ilmu milik Batara Surya, aku terlalu menyepelekanmu, sialan!"
Lesatan tubuh Suro telah tertutupi oleh cahaya yang sangat menyilaukan mata, sehingga Hyang Antaga sendiri kesulitan menatap ke atas, dia hanya mampu memandang sekilas sambil kembali mengarahkan jurus Cungkup jagat miliknya dengan kekuatan yang dia miliki.
Sesosok muncul disamping Hyang Antaga yang tidak terasa asing, sebab dia adalah eyang Sindurogo hitam.
"Sudah aku katakan jangan menyepelekan kekuatan bocah itu, aku merasa ada kekuatan besar melindunginya. Selain itu dia adalah murid Sindurogo yang menguasai jurus Batara Surya! Meskipun jurusmu sanggup melenyapkan api hitam Wisanggeni, sekarang lihatlah! Apa kau kira hanya dengan cungkup jagatmu mampu melenyapkan jurus itu sepenuhnya, hah?!"
Sosok disamping Hyang Antaga itu kemudian menangkupkan kedua tangannya didepan dadanya.
"Lihatlah akhirnya aku terpaksa harus menggunakan pedang kegelapan untuk menghalangi kehancuran wilmana ini!" Dari dalam tangkupan kedua tangannya muncul seberkas pedang.
"Pedang ini aku ambil dari pecahan jiwaku kekuatan semesta hitam."
Jurus Cungkup Jagat telah melesat dari tadi hendak menghadang jurus yang telah dikerahkan Suro.
Ajian Cungkup Jagat milik Hyang Antaga melesat cepat membentuk putaran tornado yang sangat besar seakan hendak menelan langit. Eyang Sindurogo hitam yang telah memegang sebilah pedang segera bergerak cepat memulai pengerahan jurus miliknya untuk membantu menahan jurus Dewa Matahari Menampakkan Wujudnya.
"Jurus Pedang Suryagrahana!"
Sebuah kekuatan besar melesat bersama dengan tebasan pedang kegelapan milik Eyang Sindurogo hitam.
Duuuuuuuuummmmmmm!!!
Sebagian hantaman jurus dari Suro amblas ditelan ajian Cungkup Jagat, namun sisanya terus melesat hendak menghajar wilmana. Kemudian sisa dari kekuatan yang dikerahkan Suro ditahan oleh jurus Suryagrahana. Dentuman keras barusan berasal dari benturan dengan jurus Suryagrahana. Hempasan dari benturan dua kekuatan besar menyebar ke segala arah.
Karena benturan keras dua kekuatan dahsyat barusan berada didekat wilmana, maka wahana terbang itu langsung terhempas dengan kuat. Wilmana itu seakan didorong oleh kekuatan besar, sehingga meluncur ke bawah dengan cepat. Sebelumnya memang wilmana itu sudah limbung. Hal itu diakibatkan oleh laghima atau energi murni yang menjadi penggerak wilmana untuk dapat terbang, justru telah diserap oleh Suro dan juga Dewa Rencong di salah satu sisinya.
Hentakan keras dua kekuatan yang beradu menimbulkan suara yang sangat keras, bahkan terdengar dalam radius yang sangat jauh. Kemungkinan seluruh daerah disekitar Sundapura mendengarnya.
"Kurang ajar bagaimana dia mampu melakukannya?" Sesosok lain muncul dan bergabung bersama Hyang Antaga dan Eyang Sindurogo hitam. Mereka bertiga berdiri disisi pagoda yang menghadap ke atas.
"Hahaha...! Ternyata bukan diriku saja yang terkecoh oleh tampangnya yang masih bocah itu. Bahkan Hyang Antaga harus dibantu oleh jurus pedang kegelapan milik junjungan!"
"Tutup mulutmu Batara Karang!”
“Mohon ampun junjungan sebaiknya kita segera pergi dari sini. Lain waktu kita bisa kembali lagi! Minimal kita sudah mengetahui, jika relik kuno itu memang benar ada ditempat ini."
"Kalian para Vetala serang bocah itu!" Hyang Antaga memerintahkan barisan manusia kelelawar yang telah bermunculan dari berbagai sisi wilmana itu. Mereka seperti pasukan lebah yang baru saja diganggu sarangnya. Serentak setelah mendapatkan perintah langsung melesat ke arah Suro dan Dewa Rencong.
**
Kemudian kepanikan langsung melanda seluruh daratan disekitar Sundapura. Karena sesuatu hal yang sangat aneh ada jung atau kapal raksasa jatuh dari langit. Kepanikan yang paling parah tentu saja didekat bukit dimana Perguruan Pedang Bayangan berdiri. Sebab wilaman itu kemungkinan besar akan menimpa tempat itu.
Sebenarnya kepanikan sudah dimulai sejak cahaya terang yang merubah suasana senja seakan kembali menjadi siang. Lalu disusul dengan suara dentuman terdengar begitu keras. Mereka semua bertanya-tanya dan mulai menatap ke arah langit dimana suara keras itu berasal.
Kepanikan itu terjadi sangat wajar, sebab besarnya jung itu dua kali besarnya bukit tempat mereka tinggal.
Dewa Pedang yang pertama kali terkejut setelah mendengar dentuman keras. Kekuatan dentuman itu terasa menghentak, belum lepas dari rasa keterkejutannya dia kembali dikejutkan dengan penampakan benda yang meluncur cepat jatuh dari balik awan.
"Apa ini? Darimana datangnya benda sebesar ini?" Dia segera menyingkir sejauh mungkin agar tidak terbentur benda yang meluncur cepat.
"Aku ingat, bukankah ini adalah wilmana yang aku lihat didalam kaca benggala?"
Saa Dewa Pedang sedang bergerak cepat menghindar dari datangnya wilmana, sebuah penampakan lain terlihat olehnya. Sebuah gerbang gaib mendadak muncul. Kemunculannya itu persis didepan wilmana yang terus meluncur kebawah, seakan hendak menyambut.
Gerbang gaib itu membelah ruang waktu dalam sekala yang luar biasa besar. Sehingga wilmana yang begitu besarnya dapat masuk ke dalam dengan mudahnya. Kemudian terdengar suara teriakan yang kemungkinan memberi perintah ke seluruh makhluk kegelapan.
"Munduuur semuaaa!"
Seluruh wilmana itu kemudian menghilang tenggelam ditelan gerbang gaib. Secara bersamaan semua makhluk kegelapan yang berjumlah ribuan keluar dari balik awan dimana wilaman sebelumnya muncul. Mereka semua kemudian melesat cepat menyusul masuk ke dalam gerbang gaib tersebut.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi? Mengapa semua mundur, bukankah pertempuran belum selesai?" Dewa Pedang masih belum bergerak dari tempatnya berdiri melayang diudara.
Dia tidak meneruskan niatnya melesat menembus awan, pandangan matanya justru ke arah puncak bukit dimana sebelumnya para makhluk kegelapan menyerbu Perguruan Pedang Bayangan. Pertempuran para tetua dengan makhluk kegelapan juga sudah berhenti. Kobaran api hitam Naga taksaka terlihat seolah sedang berjaga mengiringi gerakan para makhluk kegelapan yang terlihat mulai mundur masuk ke dalam gerbang gaib.
Para makhluk kegelapan itu langsung mematuhi perintah dari seseorang yang berada di wilmana. Mereka semua sudah tidak lagi berniat meneruskan pertarungan. Tidak ada satupun yang ketinggalan, semua secara bertahap lenyap ditelan gerbang gaib. Setelah semua makhluk kegelapan itu lenyap gerbang gaib itupun juga lenyap.
Dewa Pedang setelah melihat pertempuran diatas puncak bukit selesai, kemudian secara refleks mendongakkan kepala dengan begitu waspada. Sebab dia merasakan kekuatan mendekat ke arahnya dengan cepat. Sosok yang muncul itu keluar dari balik awan.
"Kalian ternyata, aku kira siapa? Tetapi siapa mereka? Lha, nakmas bukankah ada dibawah? Apa ini, mengapa kalian berubah menjadi begitu banyak?" Dewa Pedang terlihat kebingungan saat menyaksikan Suro bersama Dewa Rencong datang ke arahnya.
Dia terlihat kebingungan dan bertambah bingung dengan sosok yang muncul di belakang mereka berdua. Kebingungan pertama disebabkan, dia sebelumnya masih menyaksikan Suro sedang sibuk mengendalikan Naga Taksaka diatas puncak bukit Perguruan Pedang Bayangan. Dan kini ada Suro yang lain datang dari atas awan bersama Dewa Rencong. Perbedaannya jika yang baru saja datang menghampiri, terbang menggunakan bilah pedangnya, sedang yang diatas bukit melayang seperti dirinya, yaitu tanpa menggunakan apapun seperti pendekar tingkat langit.
Kebingungan kedua yang membuatnya terlihat begitu waspada adalah, karena serombongan orang yang juga mirip dengan kedua orang itu menyusul dari balik awan.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Dewa Pedang menatap ke arah Suro dan Dewa Rencong yang justru tersenyum melihat dirinya kebingungan.
Dewa Rencong kemudian mencerita yang baru saja terjadi seperlunya. Dia juga menceritakan tentang penampakan yang mirip mereka, yaitu sedulur papat. Dia hanya mengatakan itu adalah bagian dari kekuatan jiwa yang jarang dia perlihatkan.
Setelah itu mereka kemudian melesat kebawah ke arah puncak bukit Perguruan Pedang Bayangan. Sedulur papat milik Suro dan Dewa Rencong kemudian menghilang sesaat setelah mereka berdua mengijinkannya pergi.
**
Semua pertempuran yang berlangsung sejak pagi buta, akhirnya berhenti setelah menjelang malam. Mereka tetua yang merupakan pasukan bantuan tidak langsung kembali ke perguruan pusat. Para tetua dari pusat itu diputuskan akan tetap berada di Perguruan Pedang Bayangan. Karena mereka harus memastikan relik kuno yang disimpan akan tetap terjaga dengan aman.
Dewa Pedang dibantu Azura kemudian menjelaskan semua rahasia yang sudah disimpan oleh Perguruan Pedang Bayangan dari generasi ke generasi. Mereka berdua menjelaskan kepada seluruh tetua yang hadir dalam pertemuan yang diadakan secara darurat.
Setelah pertemuan para tetua itu selesai, Suro kemudian menghadap kepada Dewa Pedang berbicara tentang niatnya yang sudah bulat dan tak mampu lagi diganggu gugat. Niat yang sudah lama dia tunda sejak lama.
"Paman guru, mungkin Suro tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku harus mengejar eyang guru. Aku tidak ingin ada korban lagi. Sumber dari malapetaka ini berasal dari makhluk yang ada di dalam dirinya. Saat di dunia kegelapan aku berhasil mengembalikan manusia kelelawar seutuhnya menjadi manusia kembali dan juga mengembalikan ingatan mereka semua. Entah jika dengan eyang guru akan berhasil atau tidak, tetapi hal itu patut di coba."
"Tanpa paman atau tidak aku akan tetap mencarinya." Pandangan mata Suro ke arah Dewa Rencong dan ke arah Dewa Pedang.
"Aku akan menemanimu bocah. Tidak akan ku biarkan kamu bersenang-senang sendiri." Dewa Rencong tersenyum cukup sumringah agaknya dia lebih bersemangat dibandingakan dengan Suro sendiri.
"Aku mungkin tidak ikut menemanimu nakmas. Tetapi aku akan diwakilkan oleh kakang Salya yang akan menemani nakmas. Paman hanya berpesan agar nakmas mampu memastikan, jika kedua belas relik kuno dapat nakmas selamatkan. Minimal nakmas dapat menjamin tempat dimana relik kuno disimpan dalam kondisi yang aman dan tidak mungkin dapat direbut."
"Aku tidak mungkin menemani nakmas karena tempat disimpannya relik kuno tersebar ditempat yang jauh dan akan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Tidak mungkin paman meninggalkan perguruan Pedang Surga dalam waktu selama itu. Doa paman akan selalu menyertai nakamas dan kakang Salya."
Suro menjura ke arah Dewa Pedang dan kepada para tetua yang lain sebelum pamit kepada mereka semua. Sebab setelah itu, dia kemudian lenyap meninggalkan ruangan itu hilang ditelan gerbang gaib yang dia ciptakan. Dewa Rencong yang menemani Suro terlihat begitu semangat, sebelum menghilang ditelan gerbang gaib senyum yang cukup lebar menghiasi wajahnya. Entah apa penyebab pendekar dari Swarnabhumi itu terlihat begitu bersemangat. Tetapi kemungkinan adalah niatnya menjelajahi berbagai tempat di belahan bumi yang sangat jauh akhirnya kesampaian.
Tujuan mereka adalah tempat lain dimana relik kuno tersimpan. Sebentuk archa yang sejenis dengan apa yang disimpan di Perguruan Pedang Bayangan. Selain itu mereka hendak mengejar hilangnya wilmana tempat Eyang Sindurogo dan seluruh pasukan kegelapan yang telah menghilang ditelan gerbang gaib. Jalan yang akan mereka tempuh sangatlah jauh. Pertempuran yang akan mereka lalui juga tidak akan ada habisnya.