
Eyang sindurogo segera menerjang kearah makhluk seperti naga raksasa yang berukuran jauh lebih kecil. Walaupun ukurannya jauh lebih kecil tetapi dia membiarkan makhluk itu tetap hidup kren itu adalah bagian tubuh naga raksasa yang mencoba hidup kembali.
Hanya dalam satu kedipan mata waktu yang tersisa sebelum moster itu akan lenyap sepenuhnya masuk ke dalam gerbang dimensi. Beruntung sesaat sebelum naga itu menghilang, tangan Eyang Sindurogo sempat meraih ujung ekor yang masih terlihat.
Kemudian dengan sekuat tenaga dia berusaha membetot naga itu keluar dari gerbang alam lain.
Tetapi entah sebuah kekuatan apa yang mampu menahan kekuatan Eyang Sindurogo, seakan ekor itu tak bergerak tertahan dengan kuat. Padahal dia sudah sekuat tenaga menarik dengan sangat kencang.
Meskipun tubuh naga itu memiliki tubuh lima kali lipat ukuran gajah dewasa, tetapi tetap saja makhluk itu bukanlah lawan yang dapat mengimbangi kekuatan Eyang Sindurogo.
Saat Eyang Sindurogo masih mencoba sekuat tenaga membetot naga itu keluar dari gerbang alam lain, tak dinyana sebuah tangan raksasa berwarna hitam kelam sangat pekat tiba-tiba muncul. Dengan kecepatan yang mengagumkan segera meraih tubuh Eyang Sindurogo dalam sekali libas. Tubuh Eyang Sindurogo kemudian di gengamnya dengan erat di seret masuk ke dalam gerbang dimensi.
"Awas Eyang Guru!"
Teriakan Suro yang sedang berlari mengejar gurunya masih terdengar saat tubuh gurunya ditarik dengan cepat masuk ke dalam gerbang dimensi. Terlihat Eyang Sindurogo berontak dan menerjang dengan kekuatan sinar tapak dewa. Dia berusaha memotong jari-jari tangan itu. Tetapi tangan yang hitam kelam tak mampu dipotong justru seakan sinar itu menebas udara kosong.
"Jadilah lebih kuat Suro!"
Kalimat terakhir Eyang Sindurogo yang terdengar sebelum semua lenyap tak berbekas.
Semua berlangsung sangat cepat tak lebih dari tiga kedipan mata. Bahkan Eyang Sindurogo yang sedang berkonsentrasi sekuat tenaga berusaha membetot ekor naga keluar dari alam lain tak menyadari kedatangannya. Lalu semua sudah sangat terlambat untuk menghindar, sebelum tangan raksasa itu kemudian melibas tubuh Eyang Sindurogo masuk ke dalam gengamannya.
Suro yang berusaha mengejar dan meraih sudah keburu tubuh gurunya hilang ditelan gerbang alam lain. Segera dia merapal mantra sihir dari kitab Formasi gerbang dimensi. Dari balik pergelangan tangannya keluar roda - roda cahaya berbentuk pentagram yang rumit yang kemudian melesat membelah udara kosong didepannya.
"Terbukalah gerbang alam kegelapan."
"Tunggu suro! Aku akan ikut masuk kedalam menemanimu."
Dewa Pedang menahan Suro yang akan masuk sendirian ke dalam alam kegelapan.
Dewa Pedang sebenarnya lebih dulu sampai didepan gerbang dimensi bahkan sempat mencoba memotong tangan raksasa sesaat setelah menggenggam Eyang Sindurogo. Tetapi kekuatan yang dilepaskan ternyata tak berpengaruh sama sekali seakan hanya menebas udara kosong.
Setelah mereka berdua masuk segera serangan beruntun menyambut mereka. Hantaman tangan sehitam malam yang ukurannya sebesar gajah, berduyun-duyun menerjang ke arah mereka berdua. Beruntung Dewa Pedang memiliki perisai energi pelindung yang cukup kuat menahan gempuran tanpa henti.
"Aku rasa ini adalah formasi sihir pelindung alam ini."
Dewa Pedang menahan semua hantaman yang datang bertubi-tubi.
Gempuran tangan-tangan besar yang menghajar mereka tak bisa dihancurkan. Beberapa kali Dewa Pedang mencoba menghajar formasi serangan itu tetapi tidak berefek sama sekali bahkan seperti menebas udara kosong.
Jarak waktu masuknya mereka ke alam kegelapan dengan Eyang Sindurogo tak lebih dari satu sesruputan teh. Seharusnya dengan jarak waktu sedekat itu mereka masih bisa mengejar ketertinggalan mereka. Minimal masih bisa melihat keberadaannya. Tetapi jangankan melihat merasakan aura chakranya saja mereka sudah tak sanggub.
"Kemana larinya makhluk itu? Bagaimana secepat ini mereka membawa gurumu? Aku sudah tak mampu mendeteksi keberadaan gurumu Suro."
"Aku sudah mencoba sebisa yang saya mampu tuan pendekar. Tetapi terus terang saya belum bisa sepenuhnya memahami ilmu sihir ini. Saya hanya memahami garis besarnya saja belum mempelajari lebih detail sistem kerja dari gerbang dimensi ini."
"Tempat kita masuk adalah tempat dimana sebelumnya Eyang Guru masuk."
"Seharusnya secara akal kita berada dilokasi yang sama dengan Eyang Guru masuk."
"Tetapi kemungkinan kita berada ditempat yang sangat jauh dari Eyang Guru. Selain itu formasi sihir pelindung alam ini sangat menyulitkan dan susah dihancurkan."
"Ya aku juga merasa seperti itu Kemungkinan kita berada ditempat yang jauh dari lokasi yang seharusnya makhluk itu berada. Atau mungkin formasi sihir alam ini yang telah melemparkan kita sejauh mungkin dari lokasi gurumu."
"Suro daya hisap alam ini sangat kuat jika kita tidak segera keluar kita akan mati."
Kondisi alam tempat mereka berada tak selazimnya dunia semua penuh kabut hitam yang menyesakkan. Langit diatas mereka juga gelap seperti langit malam. Dan tangan yang menghantam ke arah mereka hanya dalam bentuk sepenggal tangan yang datang silih berganti tak ada habis-habisnya.
"Tebasan Sejuta Pedang!"
Suro melancarkan serangan dengan pedang yang terbuat dari larikan sinar setipis rambut yang panjangnya lebih dari tiga puluh tombak keluar dari sepuluh jari tangannya. Dia menarik sepuluh sinar itu seakan sedang mencakar kearah tangan-tangan yang menyerang mereka.
Dewa Pedang bahkan dibuat takjub dengan kemampuan yang dikerahkan Suro Bledek. Tetapi tetap saja semua serangan itu tak mampu menghentikan serangan tangan-tangan rhaksasa yang menghajar ke arah mereka.
"Suro aku sudah tak mampu menahan serangan ini lebih lama lagi."
Dewa Pedang sekuat tenaga membentuk perisai chakra. Tetapi sepertinya chakra yang dihisap alam kegelapan dari tubuhnya terlalu kuat membuat dia kewalahan menahan serangan.
"TUNGGU EYANG GURU SURO PASTI AKAN MENYELAMATKANMU!"
"SURO PASTI AKAN LEBIH KUAT EYANG GURU!" Teriakan Suro dia sengaja lancarkan sekuat-kuatnya berharap gurunya mendengarnya. Suara yang seharusnya keras menggelegar justru seperti berbicara diruangan kedap suara. Jangankan membuat gema justru seakan suaranya terhisap semua.
"Pukulan Matahari Pagi"
"Blaaar!"
Kali ini serangan Suro yang menerjang seolah telah menyeruak gelapnya alam sekitar. Menerjang kearah kumpulan tangan yang tak berhenti menghantam mereka.
Dalam sepersekian seruputan teh cahaya yang melabrak terlihat menghentikan serangan tangan itu. Dewa Pedang tak memperhatikan itu karena dia sibuk membuat perisai yang sebentar lagi hancur.
Pukulan Matahari Pagi adalah varian jurus keempat Tapak Dewa Matahari yang Suro ciptakan untuk menutupi kemampuan dia yang tak memungkinkannya mengunakan jurus itu. Tentu saja kekuatannya tak sehebat jurus aslinya.
Dengan bercucuran air mata Suro mencoba memanggil dan mendeteksi keberadaan orang yang paling dia sayangi sepenuh hati.
"SURO TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKANMU EYANG GURU!"
Suara Suro yang dilambari tenaga dalam sekuat tenaga dia teriakan tetap sama seakan suaranya seperti ikut terhisap bahkan tak menyebabkan gema apalagi gelegar sama sekali hilang diserap.
Dengan berat hati Suro akhirnya mengikuti saran Dewa Pedang mereka kembali keluar dari alam kegelapan.
Entah kenapa Eyang Sindurogo tak mampu Suro deteksi. Kegelapan yang pekat telah menutupi jarak pandang mereka. Bahkan suara yang mereka keluarkan seakan langsung dihisap tak menyisahkan sedikitpun suara itu menggema.
Dia termangu menatap udara kosong didepannya.
"Eyang guruuuuuu!"
Teriakan penuh kemarahan meledak. kakinya lemas tangannya memukul-mukul tanah dibawahnya mencoba melampiaskan kemarahannya. Kepalanya menunduk menyentuh tanah airmatanya berderai seakan merasa tak berguna.
Semua tidak akan menyangka kejadiannya terlalu cepat bahkan sebagian mereka tidak melihat apa yang terjadi.
Adipati Lowo Ireng dan Adipati Rakai Kalung warok hanya terpaku melihat kejadian itu mereka ingin berbicara tetapi sepertinya mereka juga tidak tahu harus berbuat apa. Ruang dimensi atau gerbang dimensi alam lain mereka baru mendengarnya. Istilah kata-kata asing itu baru mereka dengar.
Sebelumnya bahkan mereka tidak pernah mendengar ada kekuatan yang mampu membuat gerbang yang bisa mengirimkan seseorang masuk alam lain. Bahkan baru kali ini mereka melihat formasi gerbang dimensi dengan mata kepala sendiri.
Eyang Raga Dewa yang berada dibelakang Suro juga tak mampu memahami formasi gerbang alam lain. Kata yang sangat asing yang pernah dia dengar selama hidupnya. Dia yang bertahun-tahun mengarungi dunia persilatan tak pernah mendengar ada alam lain selain alam ini. Menurut sepengetahuan dia, selain alam dunia hanya ada satu alam berikutnya setelah mati yaitu alam kubur.
Eyang Raga Dewa hanya diam tak ada kata-kata yang mampu dia katakan sesuatu yang dia coba katakan juga sepertinya tidak memberikan solusi apa-apa. Dia kehabisan kata-kata tak ada kalimat tersusun keluar dari mulutnya.
"Jangan khawatir Suro gurumu adalah orang terkuat diantara kita semua. Bahkan di seluruh penjuru Benua Timur ini tak ada yang mampu mengalahkan Eyang Sindurogo."
"Jika dia tak mampu mengalahkan makhluk dialam kegelapan maka diantara kita juga tak ada yang sanggup."
"Kecuali dirimu Suro. Seandainya gurumu tak mampu melawan makhluk di alam kegelapan satu-satunya harapan gurumu hanya dirimu Suro."
"Bahkan perisai terkuat yang aku miliki tak lebih dari lima seruputan teh telah hancur dihisap kekutan formasi sihir dialam kegelapan."
"Aku sendiri tidak memiliki informasi tentang formasi sihir bahkan baru kali ini aku memasuki gerbang dimensi alam lain."
"Mungkin aku tidak terlalu signifikan membantumu dalam pertempuran di alam kegelapan tetapi aku bisa menjadi kunci keberhasilan untuk membuatmu menjadi sangat kuat."
Padangan Suro kosong masih menatap ke arah tempat dimana gurunya telah lenyap. Matanya masih sembab airmatanya masih mengalir.
"Aku bisa memastikan bahwa kemampuanmu dalam penyerapan chakra tehnik kundalinimu dapat meningkat dengan cepat. Di dalam sekteku ada satu tehnik rahasia yang tidak setiap orang mengetahui bahkan diperbolehkan memepelajari tehnik ini karena satu dan lain hal yang setiap orang tidak bisa mengunakannya. Aku rasa tubuhmu cocok dengan tehnik ini."
"Apakah kamu mau ikut denganku ke sekteku Suro?"
Pertanyaan Dewa Pedang memecah lamunan Suro yang menerawang mencoba mencari tau sebab bagaimana gurunya tak dapat dia susul. Seakan tempat dia masuk ke alam kegelapan bukan tempat dimana gurunya seharusnya berada. Sesuatu yang sedang dia analisa berdasarkan dari kitab formasi sihir yang telah dia hafal diluar kepalanya.
"Tentu saja paman pendekar tetapi ijinkan saya menunggu dua purnama untuk memastikan makhluk ini tidak lagi melewati portal dimensi disini."
"Baiklah aku akan ikut menunggumu disini sambil mengajarimu tehnik rahasia yang aku katakan. Engkau telah memberikan pencerahan dalam ilmu pedangku sewajarnya aku membalas pengetahuan yang engkau berikan padaku."
"Paman Pendekar terlalu membesar-besarkan pengetahuan Suro yang sedikit ini. Tetapi Suro akan sangat berterima kasih jika Tuan Pendekar benar-benar mengajarkan tehnik yang mampu meningkatkan perkembangan penyerapan energi chakra dalam tehnik kundaliniku."
Suro menjura kepada Dewa Pedang sebagai bentuk penghormatan selayaknya penghormatan kepada seorang guru.
"Hahahaha jangan terlalu sungkan bocah entah siapa diantara kita yang seharusnya disebut guru atau murid anggab saja kita saling mendapatkan keuntungan dengan berbagi ilmu."
Pandangan Suro kembali menatap kearah dimana gurunya terakhir lenyap. Tangannya mengenggam dengan sangat erat.
"Tunggu eyang guru, Suro pasti akan menyelamatkanmu secepatnya!"