
Saat Dewa Rencong sedang melihat ke arah Suro, dia tidak menyadari bahwa dari arah bawah sebuah ular raksasa yang lain telah bersiap menyerang. Ular itu menerjang ke arah Dewa Rencong mulutnya sudah terbuka lebar siap menelan mentah-mentah. Siluman ular itu melesat cepat dari arah bawah sebelah kanan.
Blaaaar...!
Beruntung disaat Dewa Rencong belum menyadari arah datangnya serangan, Suro telah melepaskan jurusnya. Tubuh ular itu telah terpental sejauh hampir tiga tombak dan langsung mati mengambang.
Suro segera meloncat dan berlari di atas air mendekati Dewa Rencong.
"Hati-hati paman saya mendengar racun yang disemprotkan dari mulut para siluman ular ini sangat beracun. Menurut laporan dari anggota Perguruan Pedang Halilintar racunnya bahkan mampu melumerkan daging manusia."
Suro berdiri diatas air tidak seperti Dewa Rencong yang sudah pada tingkat shakti sehingga dengan mudah berdiri diatas air tanpa takut tenggelam. Dia mengatasi dengan cara cerdik yaitu melalui kitab tirta atau air dengan perubahan es, air yang berada dibawah telapak kakinya dijadikan selembar es. Kemudian dengan ilmu meringankan tubuhnya lapisan es tipis itu dijadikan tumpuan agar tidak tenggelam. Tentu saja menjaga keseimbangan berdiri diatas air yang berombak bukan perkara mudah.
Dia mengalirkan tenaga dalamnya secara terus menerus dibawah telapak kakinya. Matahari yang bersinar ikut membantunya menghimpun kekuatan tenaga dalam dengan cepat.
"Terima kasih nakmas aku tidak menyangka masih ada siluman lain."
"Tidak perlu berterima kasih paman itu sudah kewajibanku." Suro berdiri saling membelakangi dengan Dewa Rencong. Mereka mewaspadai arah datangnya serangan dari dua arah yang berbeda.
Kembali serangan ombak besar menerjang ke arah mereka berdua. Lautan yang begitu tenang mendadak dari bawah permukaan bergejolak dengan begitu kuat menimbulkan ombak yang besar dan menerjang ke arah Suro dan Dewa Rencong. Bersamaan dengan itu berduyun-duyun siluman ular bermunculan dari segala arah.
Kali ini ular yang datang lebih banyak dari sebelumnya. Satu persatu keluar dari bawah permukaan air. Mungkin sudah ada selusin jumlah ular raksasa yang telah bersiap mengeroyok mereka berdua.
"Kemungkinan mereka tidak membiarkan siapapun bisa melewati selat ini menuju Ujung Para. Entah alasan apa para siluman ini mendadak menyerang siapapun yang mencoba menyebrangi selat ini? Padahal kemarin tidak ada kapal yang diserang siluman ular." Dewa Rencong berbicara dengan pelan kepada Suro tanpa menurunkan tingkat kewaspadaannya. Apalagi kali ini siluman ular yang telah muncul dengan begitu banyaknya. Dia tidak ingin jika kelengahannya bisa menyebabkan kesalahan yang fatal, seperti sebelumnya yang hampir saja terjadi. Beruntung Suro bertindak cepat sehingga tidak terjadi akibat yang fatal.
Akhirnya Pertempuran pecah ditengah lautan. Pertarungan itu berlangsung sangat sengit berkali-kali Dewa Rencong mengerahkan kekuatannya yang mengerikan. Energi tebasannya seakan mampu membelah lautan. Tidak peduli sebesar apa, ular itu tetap mampu diterbangkan oleh energi tebasan yang dikerahkan Dewa Rencong.
Suro dengan leluasa mengerahkan tehnik Tapak Dewa Matahari setiap kali ular-ular itu terlempar ke atas. Suro menyelesaikan setiap serangan yang dilakukan Dewa Rencong ke arah ular-ular raksasa itu.
Pertarungan itu berlangsung cukup lama hingga tak terasa semua ular itu telah menjadi bangkai. Suro kini telah yakin tehnik tapak Dewa Matahari benar-benar ampuh untuk menghabisi para siluman.
Sebab dengan kekuatan Dewa Rencong yang energi tebasannya mampu menghancurkan sebuah bukit tetap tidak mampu melukai tubuh ular. Ular itu hanya terlempar tetapi tidak membuat luka meskipun goresan kecil ditubuhnya. Karena memang seluruh tubuhnya dilindungi oleh sisik-sisik yang kekerasnya melebihi sebuah besi baja.
Tetapi begitu sinar dari telunjuk Dewa mencari kebenaran menghantam tubuh ular, tubuhnya langsung meledak dan menghancurkan bagian tubuh yang terkena jurus ke dua dalam tehnik Tapak Dewa Matahari itu.
"Apakah ini sudah berakhir paman pendekar?" Suro bertanya ke arah Dewa Rencong yang masih belum menurunkan tingkat kewaspadaannya, meskipun semua ular telah dihabisi.
"Aku tidak mengetahuinya nakmas, tetapi aku yakin para siluman ular ini tidak dengan begitu mudahnya membiarkan kita menyebrang ke Ujung Para."
Dari arah depan Suro yang berjarak lebih dari tiga tombak, muncul sebuah penampakan dari dalam air. Manusia yang setengah badannya dari perut kebawah berwujud seekor ular besar. Besarnya hampir dua kali lipat pohon kelapa. Lebih besar dari ular raksasa yang menyerang sebelumnya.
"Berarti kalian ini yang telah membunuh siluman kera semalam!" Suro dan Dewa Rencong terkejut mereka tidak menyangka ternyata para siluman ini bisa berbahasa manusia.
"Apa pedulimu dengan nasib siluman monyet yang telah berhasil aku kirim kepada Pencipta-Nya semalam? Atau justru salah satu dari siluman monyet itu adalah kekasihmu? Jika memang benar, sungguh kisah yang mengharu biru. Dari hatiku yang paling dalam aku ikut terharu dengan nasib kekasihmu itu. Semoga amal kebajikannya diterima Sang Hyang Widhi wasa." Suro berbicara sambil menahan tawanya.
Siluman ular itu mendesis keras menampakkan kemarahannya yang memuncak mendengar perkataan Suro yang terasa melecehkannya. Di tambah dengan kematian para anak buahnya yang baru saja dibantai, membuat kemarahannya seakan meledak.
"Waspada nakmas aura kekuatan yang dia pancarkan puluhan kali lipat lebih kuat dari siluman kera yang semalam aku hadapi." Dewa Rencong berbicara pelan ke arah Suro mencoba mengingatkan tentang kekuatan musuh yang kali ini muncul.
Sejak tadi Mahadewi dan Made Pasek hanya bisa melihat pertarungan dari jarak jauh. Mereka ikut menjaga kewaspadaan dari kemungkinan akan terjadinya serangan siluman yang mengarah kepada kapal yang sedang ditumpanginya. Kini nahkoda kapal mendapatkan alasan dibalik kejadian dua kapal yang hancur tenggelam seperti yang telah diceritakan sebelumnya.
Penyebab semua itu ternyata adalah para siluman ular yang tidak membiarkan siapapun menyebrang ke arah Ujung Para. Entah alasan apa mereka tiba-tiba menyerang apapun yang melewati selat tersebut?
Mahadewi dan Made Pasek hanya melihat pertempuran yang terjadi dari atas kapal. Karena mereka memang tidak memiliki kemampuan untuk berjalan diatas air. Selain itu belum tentu kehadiran mereka ditengah pertempuran akan membantu. Justru kemungkinan hanya akan menjadi beban dan menghambat pergerakan Dewa Rencong maupun Suro.
"Tenang paman, sepertinya ini waktu yang tepat aku akan membuktikan perkataan Dewi Anggini bahwa tehnik Empat Sage dengan kekuatan penuh akan mampu menghisap empat anasir utama alam, yaitu tirta, bumi, bayu dan agni. Yang artinya bukan hanya tubuh siluman saja yang bisa terhisap. Tetapi tubuh manusia pun akan ikut terhisap oleh ilmu itu. Oleh karena itu mohon paman jangan mendekat saat tehnik itu aku mulai pergunakan secara maksimal. Biasanya Suro hanya menghisap energi alam bukan energi kehidupan makhluk hidup lainnya."
"Saya juga meminta tolong kepada paman untuk menjaga jiwa saya agar tidak kerasukan dengan aura kekuatan siluman yang nanti aku hisap."
"Baik nakmas paman mengerti."
"Siapa namamu anak manusia? Baru kali ini ada manusia dengan mudahnya membunuh bangsa kami!" Mata siluman ular itu seperti menyala penuh dengan kemarahan.
Suro sengaja tidak menyebut siluman kera yang wujudnya seperti kera raksasa itu. Tetapi justru menyebutnya dengan siluman monyet karena secara harfiah monyet bentuknya lebih kecil dari jenis kera lain. Sehingga dia ingin menganggab siluman kera yang semalam berhasil dihabisi hanyalah lawan yang lemah.
"Pendekar Gemblung? Baru kali ini aku mendengar nama itu? Tetapi aku akan memastikanmu mati secepatnya!"
"Tentu saja dirimu baru mendengarnya, karena baru tadi malam seorang Dewa menitahkan nama itu tersemat dalam diriku sebagai hadiah keberhasilanku menghabisi kekasihmu!" Suro berbicara dengan sangat meyakinkan seakan nama pemberian itu begitu agung.
"Seorang Dewa?" Tubuh ular itu secara tidak sadar bergerak mundur menjauh. Agaknya dia terkejut mendengar ada Dewa turun ke bumi hanya untuk memberikan nama yang begitu konyol.
Tentu saja karena dewa yang dimaksud adalah Pendekar Dewa Rencong yang masih berada dibelakang tubuh Suro berdiri saling membelakangi. Dia menahan tawanya sekuat mungkin mendengar Suro menjawabannya dengan asal.
Dia sampai mengeleng-gelengkan kepala dengan ketenangan Suro yang tidak tergoyahkan sedikitpun, meskipun musuh yang ada didepannya adalah siluman kelas atas, dilihat dari aura yang dilepaskan berkali-kali lipat dari sebelumnya. Tetapi dalam setiap pertarungannya saat seleksi tetua muda, dia melihat Suro bertarung dengan tanpa beban. Bahkan terkesan menganggap pertarungan yang dihadapinya sebagai sebuah hiburan untuk dirinya.
"Kalian semua akan aku persembahkan sebagai tumbal untuk Kanjeng Ratu Laut Selatan, karena telah berani membunuh anak buahnya. Dan ka..!"
Blaaaar!
Jegluuur!
Hampir bersamaan saat siluman itu belum selesai berbicara Suro telah mengerahkan sinar dari telunjuknya, Dewa Rencong juga langsung melepaskan energi tebasannya menghantam ke arah siluman itu. Terjangan energi itu membelah permukaan air laut hampir sejauh dua puluh tombak dan sedalam lebih dari lima tombak. Sebuah kekuatan yang sangat mengagumkan. Pantas dirinya disebut sebagai Dewa Rencong karena kekuatannya mampu menghancurkan sebuah bukit dalam sekali tebas.
Saat dua serangan dahsyat itu menghampiri, siluman ular itu telah berubah menjadi air dan menghilang.
"Tumbal apanya? Malah kabur dia paman! Apa sebaiknya saya kejar paman!"
Suro berniat mengejar kearah dimana siluman tadi menghilang, tetapi segera dicegah oleh Dewa Rencong.
"Jangan nakmas! Dia sudah menghilang kita tidak tau posisi dia sekarang ada dimana?"
Mereka menunggu agak lama, ombak laut sudah tidak lagi berombak seperti sebelumnya. Setelah tidak terlihat lagi gerakan siluman ular, akhirnya Dewa Rencong memutuskan kembali ke kapal dengan tetap waspada.
"Sebaiknya kita kembali saja nakmas ke kapal meneruskan perjalanan kita!"
"Nuwun inggih, paman!" Suro segera mengikuti gerakan Dewa Rencong berlari ke arah kapal.
"Awas kakang dibelakangmu!"
Teriakan Mahadewi membuat Suro segera bergerak memutarkan badannya. Tetapi sudah terlambat dengan cepat tubuh ular itu membelit Suro. Dewa Rencong yang berada agak jauh didepan Suro segera berbalik untuk menyelamatkan Suro.
"Jangan paman! Segera menjauh secepatnya!" Selesai Suro berbicara dia menjejakkan kakinya meloncat ke atas membawa serta tubuh ular raksasa yang masih melilit badannya. Dalam satu tarikan nafas dipastikan tulang-tulang milik Suro pasti hancur. Karena ular itu segera mempercepat gerakannya menggulung tubuh Suro dengan kuat.
Mendadak terjadi pusaran energi disekitar tubuh Suro yang digulung ular raksasa tersebut. Angin, air semua ikut berputar. Bahkan ular yang menggulung itu ikut berputar mengikuti pusaran energi itu. Pusaran itu begitu cepat berubah menjadi kuat dan mulai membentuk tornado air dan mengangkatnya naik semakin tinggi.
Itu adalah awal dari tehnik empat sage yang dikerahkan dengan kekuatan maksimal. Empat anasir utama alam mulai terserap dengan cepat. Kali ini Suro menggunakan tehnik itu bukan hanya untuk menyerap energi alam saja, tetapi dia hendak menyerap seluruh bentuk energi apapun yang ada didekatnya, termasuk ular raksasa yang sedang membelitnya.
Kemudian terjadi sesuatu hal yang sangat mengejutkan. Saat kekuatan tehnik empat sage dikerahkan dengan maksimal, secara jelas terlihat. Bahwa segala hal seakan terhisap menuju ketengah pusaran dimana Suro sebelumnya dililit siluman ular. Bahkan seakan cahayapun ikut terhisap.
Kemudian setelah dia selesai mengerahkan ilmu itu, yang tersisa hanyalah tubuh Suro yang tertawa dengan lebar. Tubuhnya kemudian turun ke bawah seperti melayang.
"Luar biasa paman nampaknya kekuatan siluman barusan memiliki kekuatan yang luar biasa kuat. Untung saja aku memiliki tehnik empat sage jika tidak tulangku sudah remuk."
"Berita tentang kemampuan nakmas mampu menghabisi para siluman, sepertinya sudah menyebar diantara para siluman itu. Mereka para siluman ini kemungkinan telah diperintahkan untuk menghalang-halangi kita menuju Kadipaten Banyu Kuning."
"Benar apa yang paman pendekar katakan. Seperti apa yang telah dikatakan siluman ular tadi. Mereka telah mendengar tentang siluman kera yang berhasil Suro bunuh sewaktu menyerang Kademangan Gelagah Wangi."
"Berarti mereka mulai khawatir dengan kedatangan kita nakmas!"
"Benar sekali paman kita habisi para siluman itu tanpa menyisahkan satupun jika perlu!"
"Dengan kejadian barusan dapat disimpulkan, bahwa mereka para siluman bukan hanya khawatir, tetapi kali ini mereka telah dibuat ketakutan dengan kekuatan yang nakmas miliki.Baiklah sebaiknya kita secepatnya menuju Ujung Para. Aku yakin pertempuran-pertempuran berikutnya yang lebih dahsyat sudah menunggu kita nakmas."