
Ketua Lam Thian melesat sedemikian cepat untuk menghindari serangan Suro. Melihat keadaan itu maka Suro memilih mengerahkan jurus Langkah Maya dan menghadang Ketua Lam Thian tepat dihadapannya.
Kali ini dia tidak memberikan kesempatan bagi lelaki itu untuk dapat menghindar. Suro langsung memberikan serangan susulan lainnya
"Jurus Pedang Sejuta Tebasan!"
Mendapati serangan mendadak tidak ada lagi kesempatan bagi dirinya untuk bisa lepas. Hal terakhir yang dia bisa lakukan adalah menyalurkan kekuatan tenaga dalam yang tersisa kepada bilah pedang miliknya.
Pedang kelas langit yang telah banyak merengut nyawa para pendekar karena kekuatan dan racun yang terkandung, menjadi satu-satunya tempat dia berlindung.
Bldaaaar!
Ketua Perguruan Lembah Beracun itu tidak menyadari, jika pedang milik lawan memiliki kwalitas senjata dewa. Selain itu jurus yang dikerahkan adalah jurus pedang terkuat. Sedikit sekali ada yang mampu selamat darinya.
Kejadian berikutnya setelah kekuatan mereka beradu secara langsung, maka bukan saja tubuh Ketua Lam Thian yang terbelah, tetapi tanah yang menjadi alas tempat dia berdiri ikut hancur terbelah memanjang hingga beberapa tombak kedepan.
Para anggota Perguruan Lembah Beracun bergetar kakinya menyaksikan kekuatan mengerikan yang diperlihatkan Suro. Kali ini Suro bukan hanya berhasil menghabisi ketua mereka, bahkan jasadnya pun ikut dia lenyapkan.
Sesuatu yang sangat mengerikan tentunya, sebab hanya dalam sekali tebas semuanya telah hancur lebur.
"Sekarang giliran kalian!"
Pemuda itu kembali menyarungkan Pedang Kristal Dewa di pinggangnya. Tatapannya berpindah ke arah anggota Perguruan Lembah Beracun yang masih hidup. Tentu saja mereka mengigil ketakutan.
**
"Gawat, pemuda itu menatap ke arah kita! Cepat tetua Xie Tie putuskan apa yang harus kita lakukan!" seru salah seorang tetua perguruan kepada seorang tetua yang lebih senior dibandingkan dirinya.
Para Tetua yang selamat dari jurus Serigala Neraka juga merasakan seperti yang dirasakan para anggota perguruan. Karena tatapan Suro juga menyapu ke arah mereka.
Pada awal pertempuran, mereka mengira kekuatan yang harus ditakuti adalah Dewa Obat. Sebab pendekar itu memiliki kekuatan Astra atau senjata gaib yang membuat namanya ditakuti dalam dunia persilatan.
Tetapi dengan berjalannya pertarungan, ternyata penilaian mereka salah. Seharusnya yang lebih pantas mereka takuti adalah pemuda belia yang beberapa kali disebut Dewa Obat sebagai muridnya.
"Setelah melihat ketua, wakil ketua dan puluhan tetua tewas, tidak mungkin bagi kita untuk meneruskan pertempuran.
Mungkin ini akan berat bagi kita semua untuk menerima kekalahan ini. Tetapi jika kita terus memaksa meneruskan pertempuran ini, maka tidak akan ada lagi sisa pasukan kita.
Karena itu, lebih baik dalam kondisi seperti ini, kita sebaiknya memutuskan menyerah kalah. Tidak ada hal lain yang lebih baik daripada keputusanku ini," ucap tetua Xie Tie kepada para tetua lainnya.
Pandangannya juga menyapu ke seluruh anggota yang berdiri dibelakangnya. Setelah melihat kematian ketua mereka, maka pasukan Lembah Beracun bergerak mundur.
Semangat bertarung pasukan Perguruan Lembah Beracun telah musnah seiring dengan kematian ketua Lam Thian yang tidak kalah dengan begitu tragis, lebih tragis dibandingkan wakil ketua Hong Dong.
Mereka semua memahami keputusan yang di ambil tetua Xie Tie. Mereka menyadari, jika tetap meneruskan pertarungan, maka lawan tetap yang akan menjadi pemenangnya.
Pada awalnya mereka mengira mampu mengulur waktu untuk menguras kekuatan musuh. Tetapi kenyataannya usaha mereka tidak berhasil.
Sebab mereka bertiga memiliki cara tertentu yang tidak mereka ketahui. Sebab mereka tetap mampu melayani serangan pasukan Lembah Beracun secara terus menerus.
Tentu saja baik Suro atau lainnya tetap segar bugar. Sebab dengan menggunakan Sharkara Deva, maka tenaga dalam Suro akan terasa terus meluap-luap meminta penyaluran.
Tidak jauh berbeda dengan Suro, Dewa Obat dan Geho Sama juga mampu memulihkan tenaga dalamnya menggunakan pill tujuh nirwana. Dengan berbekal itulah seharian mereka bertiga terus bertarung melawan Perguruan Lembah Beracun tanpa lelah.
Pasukan Perguruan Lembah Beracun sebenarnya terus menunggu mereka kelelahan kehabisan kekuatan. Tetapi penantian mereka sia-sia.
Setelah bertarung secara terus menerus tidak terlihat tanda-tanda kelelahan pada diri mereka bertiga. Bahkan Suro yang telah melepaskan kekuatan dahsyat beberapa kali pun, tidak terlihat ada rasa lelah diwajahnya.
Justru kini kekuatan mereka lah yang telah terkuras. Ketakutan telah melanda keseluruh pasukan Perguruan Lembah Beracun yang tersisa. Mereka tidak pernah menemukan musuh yang sedemikian kuat.
Setengah pasukan Lembah Beracun telah tewas, bahkan para tetua yang tersisa kurang dari setengah lusin. Artinya hampir semua tetua mati dalam pertempuran itu.
**
Sewaktu ledakan kuat oleh jurus Dewa Matahari Menampakkan Wujudnya Geho sama masih bertarung melawan Yon Suzaku. Mereka berdua akhirnya terpental.
Sebab pertarungan mereka berdua tidak begitu jauh dari ledakan itu. Sehingga kekuatan ledakan itu langsung menghempaskan tubuh mereka berdua terlempar cukup jauh.
Dia seorang ahli bela diri dan juga seorang ahli pengobatan. Dia menotok beberapa titik meridian di tubuh Yon Suzaku. Tetapi hal itu tidak cukup kuat untuk melumpuhkannya.
"Cepat menyerah saja, kau sudah aku lumpuhkan seperti ini!"
Setelah berhasil menotok tubuh Yon Suzaku, tidak serta merta Dewa Obat langsung dapat dengan mudah melumpuhkannya. Padahal totokan itu seharusnya mampu membuat kacau aliran chakra dalam tubuh Yon Suzaku.
Tetapi karena yang ditotok itu adalah jenis siluman, maka hasilnya berbeda. Tetapi meskipun begitu totokan itu tetap berpengaruh pada tubuh Yon Suzaku.
Meskipun tidak berhasil menghentikan seluruh aliran chakra dalam tubuh Yon Suzaku, namun makhluk itu merasakan kesulitan mengumpulkan chakranya.
Hal itu terlihat bagaimana dirinya tidak mampu mengerahkan jurus ruang waktu dengan maksimal. Sebab dia hanya mampu berpindah tempat tidak lebih dari beberapa tombak saja.
Setelah itu dia kehabisan chakra dan harus kembali berusaha dengan susah payah untuk bisa membuat chakranya kembali terkumpul. Itupun sudah membuat nafasnya kembang kempis.
"Apakah memang seperti ini semua tabiat siluman elang?" Dewa Obat melesat menghampiri Yon Suzaku yang berusaha melarikan.
Tetapi karena dia tidak dapat berpindah tempat lebih jauh, sehingga dengan mudah Dewa Obat, maupun Geho Sama mampu menyusulnya.
Geho Sama hanya menyengir dan menggaruk-garuk kepalanya. Dia sebenarnya ingin menjawab, tetapi ragu, sebab siluman Elang itu juga bagian dari kaumnya.
Mereka terus berusaha melumpuhkan Yon Suzaku yang entah bagaimana tidak juga menyerah dan terus menolak untuk mau mengakui kekalahannya. Perilaku mereka berdua seperti sedang mencoba menangkap burung yang baru belajar terbang.
Yon Suzaku terus berupaya mengerahkan jurus ruang waktu miliknya untuk dapat lepas dari kejaran dua orang dibelakangnya.
**
Tingkah Geho Sama dan Dewa Obat yang mencoba melumpuhkan Yon Suzaku sebenarnya menarik perhatian sisa anggota Perguruan Lembah Beracun.
Mereka hanya menatap dari jauh tidak berusaha untuk menolongnya. Sebab mereka sendiri dalam kondisi tidak lebih baik.
Nasib mereka kini menjadi seperti orang-orang pesakitan. Setelah semua tetua Perguruan Lembah Beracun yang tersisa memutuskan untuk menyerah, maka otomatis para anggota perguruan yang masih selamat kini menjadi selayaknya tawanan perang.
Tetapi mereka tidak menyalahkan atas keputusan para tetua. Minimal mereka masih memiliki harapan hidup lebih tinggi. Tentu saja dibandingkan harus melawan ke tiga monster yang menyerang perguruan mereka.
"Kami para tetua Perguruan Lembah Beracun meyatakan kalah dan menyerah kepada tuan pendekar yang perkasa," ucap tetua Xie Tie sambil menundukkan badannya memberi hormat.
Orang-orang dibelakangnya langsung mengikuti tindakan tetua Xie Tie. Senjata-senjata yang mereka gunakan diletakkan ke tanah.
Mereka menghormat dengan penuh ketundukan dan kepasrahan, seakan jika kepala mereka diinjak sekalipun tidak akan melakukan perlawanan. Tetua Xie Tie yang memimpin mereka lalu duduk bersimpuh dihadapan Suro.
Setelah itu seluruh anggota perguruan Lembah Beracun yang berada dibelakangnya mengikuti dirinya duduk bersimpuh.
Dihadapan mereka Suro justru menyengir, sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dia selalu tidak terbiasa diperlakukan dengan sedemikian hormat seakan dirinya seorang raja.
Karena itulah, setelah melihat perlakuan mereka sedemikian rupa kepadanya, maka semua nafsu membunuh yang sempat muncul telah lenyap. Tidak ada lagi keinginan dirinya untuk meneruskan pertarungan.
Dia langsung menghentikan niatnya untuk melakukan serangan setelah melihat seluruh lawannya memilih menyerah dan mengaku kalah. Dia tidak menyangka secepat itu lawan menyerah.
Padahal kekuatan yang berasal dari Sharkara Deva masih meluap-luap meminta penyaluran. Akhirnya dia menghela nafas panjang dan tidak jadi mencabut pedang yang berada di pinggangnya.
Suro sebelumnya mengira, jika seluruh pasukan yang datang kepadanya hendak mengepung dirinya.
"Baiklah, jika seperti itu keputusan kalian. Tetapi ada beberapa hal yang hendak aku tanyakan kepada kalian."
Pandangan Suro menyapu keseluruh pasukan yang duduk bersimpuh didepannya.
Jumlah mereka padahal tidak sedikit lebih dari dua ribu pasukan yang kini duduk sebagai pesakitan. Walaupun kebanyakan dari mereka masih berada pada tingkat tinggi ke bawah.
Beberapa murid utama yang selamat memang telah mencapai tingkat shakti. Selain mereka tidak ada yang lebih tinggi daripada itu, kecuali para tetua yang tersisa.
**
Warning Jangan Lupa berikan Like dan comentar, jika TDK authornya TDK mau crazy up
terutama poin untuk vote biar lebih semangat