
Di saat Jendral Batjargal belum memahami apa yang terjadi, Dewa Obat telah memainkan jurus pedangnya. Dua belas sinar keemasan menjadi tanda dimulainya Jurus Pedang Nandaka.
Bersama Tombak Nagashura, Jendral Batjargal tidak tinggal diam. Dia segera bergerak dengan cepat mencoba menghalau sinar keemasan yang mewakili energi tebasan pedang Nandaka. Serangan yang dilakukan Dewa Obat kali ini bukan hanya membuat Jendral Batjargal keteteran, tetapi juga telah menghancurkan barisan pasukan musuh.
Ribuan pasukan gabungan akhirnya tewas karena tidak mampu atau tidak sempat menghindar dari tebasan energi pedang Nandaka. Jumlahnya mungkin hampir setara dengan serangan yang dikerahkan Suro kepada para pasukan mayat hidup.
Pertarungan Dewa Obat melawan Jendral Batjargal kini terjadi diluar benteng. Tetapi Dewa Obat justru menggiring agar pertarungannya terus bergerak menuju ketengah-tengah pasukan musuh.
Dia melakukan itu agar setiap serangannya tidak terbuang percuma. Meskipun Jendral Batjargal berhasil menyelamatkan diri, tetapi tidak bagi pasukannya. Tubuh pasukan musuh bergelimpangan bertambah semakin banyak seiring pertarungan mereka yang terus berlangsung.
Jendral Batjargal pada awal pertarungan memang dapat menandingi jurus milik Dewa Obat. Tetapi seiring bertambahnya lesatan cahaya keemasan yang mengiringi serangan Dewa Obat, maka petinggi suku utara itu mulai keteteran.
Jurus tombak yang dia mainkan seperti kehilangan digdayanya. Kelebihan tombak yang mampu memanjang dan memendek, serta racun kuat yang melambari sekujur senjata itu seperti tidak mempengaruhi Dewa Obat.
Jendral Batjargal seperti tertipu dengan reaksi Dewa diawal pertarungannya saat dirinya mulai menggunakan Tombak Nagashura. Apalagi setelah Dewa Obat meminum penawar racun dan juga pill penguat kekuatan milik Suro. Sebab kini pendekar itu seperti sudah tidak lagi memperdulikan dengan racun yang melambari jurus tombak Nagashura milik Jendral Batjargal.
Serangan Dew Obat semakin dahsyat seperti orang kesetanan, sehingga membuat Jendral Batjargal semakin kewalahan. Akhirnya Jendral Batjargal terpaksa harus mundur berulang kali, setiap serangan Dewa Obat menerjang ke arahnya.
Seiring langkahnya yang terus mundur, maka telah membawa pertempuran itu semakin ke tengah pasukannya sendiri.
Dengan itu semakin banyaklah pasukan Khan Langit dan pasukan Gogureyo yang akhirnya meregang nyawa terkena imbas pertarungan mereka, tepatnya terkena energi tebasan pedang milik Dewa Obat.
"Kini kau sudah melihat seperti apa kekuatanku yang sesungguhnya!" Dewa Obat tertawa melihat Jendral Batjargal seperti kehabisan nafas karena harus melayani serangannya.
Jendral Batjargal menggerung melihat Dewa Obat masih segar bugar dan justru mentertawakan dirinya yang mulai merasakan kepayahan.
"Aku tidak pantas hidup, jika tidak mampu membunuhmu untuk membalaskan kematian ayahandaku dulu!" Suara gigi Dewa Obat bergemeletuk menahan kemarahannya.
Dewa Obat sempat mengerutkan dahinya mendengar ucapan Jendral Batjargal. Tetapi dia tidak sempat bertanya lebih lanjut maksud ucapan lawannya itu. Sebab kembali Jendral Batjargal menunjukkan peningkatan kekuatan berkali lipat dibandingkan sebelumnya.
"Tahap pamungkas iblis!"
Jendral Batjargal kali ini tidak membuka gerbang kekuatan, tetapi sesuatu yang lain. Dia melakukan tehnik terlarang yang disebut-sebut sebagai tehnik simpanan. Tehnik itu disebut mampu meningkatkan seluruh kekuatan sepuluh kali lipat dari kekuatan puncak yang sudah diperoleh.
Tetapi tehnik itu hanya berlangsung sesaat dan memiliki batasnya. Setelah itu seluruh urat nadinya akan hancur. Bisa dikatakan itu adalah tehnik bunuh diri yang hendak membawa musuh ikut mati bersamanya.
Ledakan kekuatan milik Jendral Batjargal memang dirasakan oleh Dewa Obat, tetapi pendekar itu justru tersenyum, "hanya seperti ini saja kekuatan yang kau miliki."
Dewa Obat telah bersiap, jika sewaktu-waktu Jendral Batjargal hendak menyerangnya.
"Kau tau mengapa pedang ini bernama Pedang Nandaka? Ini adalah pedang yang memiliki sebuah kebijaksanaan. Akan aku perlihatkan kepadamu jurus yang belum pernah aku perlihatkan sebelumnya."
Namun sebelum mengerahkan jurus miliknya Dewa Obat lebih dahulu menelan pill terakhir pemberian Suro. Sepertinya dia juga akan mengeluarkan jurus pamungkas untuk menghabisi Jendral Batjargal.
"Nandaka Mendermakan Kebijaksanaan kepada Dunia!"
Sekerika itu juga semburat cahaya keemasan melingkupi bilah pedang Nandaka. Itu awal jurus yang lebih mengerikan dibandingkan pada serangan sebelumnya.
Jendral Batjargal belum memahami dengan jurus yang dikerahkan Dewa Obat, tetapi sinar semburat keemasan itu telah memancar dengan sangat menyilaukan mata dan menerjang hampir keseluruh penjuru empat arah mata angin, kecuali satu arah yang menuju benteng kota He Bei.
Jendral Batjargal merasakan tekanan kuat dari terjangan cahaya yang menyilaukan mata itu. Dia juga tidak mau kalah, kali ini dia akan mengerahkan jurus segenap dengan seluruh kekuatannya.
Dengan kemarahannya yang telah memuncak, Jendral Batjargal segera melesat ke arah Dewa Obat. Jendral Batjargal menyerbu musuhnya dengan serangan pamungkasnya.
Zraaaaat!
Zraaaaat!
Zraaaaat!
Namun sebelum Jendral Batjargal berhasil menyerang Dewa Obat, justru energi tebasan pedang telah menghujani tubuhnya terlebih dahulu. Memang kali ini Dewa Obat tidak memberikan kesempatan bagi lawannya untuk menyerang balik.
Serangan itu akhirnya berhasil menghabisi Jendral Batjargal. Tangan kanan milik Jendral Batjargal yang sedang memegang tombak Nagashura berhasil dipotong lebih dahulu.
Sebelum tangan kirinya berhasil meraih senjatanya kembali, Dewa Obat telah menebaskan pedangnya dengan kecepatan kilat. Mata hanya menangkap ada kilasan cahaya keemasan melewati bahu kirinya dan tangannya itu telah terjatuh ke tanah.
Serangan Dewa Obat berikutnya akhirnya memastikan kematian Jendral Batjargal, dengan terpisahnya kepala dari badan. Setelah itu seluruh tubuh Jendral Batjargal ambruk ke tanah.
Setelah serangan barusan itu seluruh kekuatan Dewa Obat habis dan ambruk menyusul Jendral Batjargal. Seperti juga Jendral Batjargal, sebenarnya Pendekar itu telah mengerahkan seluruh kekuatannya yang tersisa. Tetapi sebuah senyum tersimpul diwajah Dewa Obat setelah melihat tubuh Jendral Batjargal berhasil dia habisi seperti yang telah dia janjikan.
"Tuan guru baik-baik saja bukan?" ucap Suro yang dalam sekejap muncul disamping Dewa Obat.
Suro tidak membiarkan musuh melukai Dewa Obat yang telah kehabisan tenaga dalam. Pengerahan tehnik Pedang Nandaka yang dikerahkan barusan telah menyedot tenaga dalam sampai tidak tersisa.
Pasukan gabungan yang berada disekitar pertarungan hampir tidak ada yang selamat oleh imbas serangan Dewa Obat, maupun juga serangan balasan yang dilakukan Jendral Batjargal.
Tetapi setelah melihat tubuh Dewa Obat juga ambruk menyusul tubuh lawannya yang telah mendahului, membuat pasukan musuh segera mendekat. Tentunya mereka hendak memanfaatkan kesempatan itu untuk menghabisi Dewa Obat.
"Apakah aku terlihat baik-baik saja?"
Suro tertawa kecil mendapatkan balasan dari Dewa Obat yang tersenyum kecut. Suro segera membangunkan tubuhnya yang ambruk lemas kehabisan tenaga.
Walaupun begitu, pasukan gabungan musuh berhasil diporak-porandakan. Dengan Janus Agni Sahasra Suro juga tidak mau kalah dan membuat kehancuran di seantero medan perang, terutama ke arah barisan pasukan musuh.
Pasukan musuh yang hampir saja menguasai benteng akhirnya berhasil digagalkan. Seluruh pasukan mayat hidup milik Ketua Yin Hua juga telah lenyap dibakar api milik Suro.
Di garis belakang pertempuran berhasil dimenangkan pasukan kekaisaran. Kehadiran Geho Sama membantu Dewa Rencong, akhirnya berhasil menghabisi Khan Langit.
Setelah itu Geho Sama memilih mendampingi Mahadewi seperti yang dipesankan Suro untuk menjaga keselamatan dara itu. Tetapi tidak bagi Lodra, Pedang Kristal Dewa itu terus bergerak melesat membabat musuh menebarkan ancaman dengan tehnik perubahan api tahap hitam miliknya.
Lodra akhirnya ikut menghabisi para jendral pengawal Raja Kerajaan Gogureyo, yaitu topeng besi, perak dan tembaga. Melihat seluruh jendral pengawalnya berhasil dihabisi, membuat Raja Yeong-Yang-Wang raja dari Kerajaan Goguryeo akhirnya menarik seluruh pasukan yang tersisa mundur dari medan pertempuran.
Apalagi dengan kematian Khan Langit, membuat kekuatan pasukan dipihaknya semakin melemah. Selain itu dua jendral miliknya yaitu, Jendral Joseon dan Jendral Sejong akhirnya juga berhasil di habisi oleh Suro.
Walaupun dua jendral dari Kerajaan Goguryeo itu telah berhasil menghabisi lawannya, yaitu jendral Yuwen Shiji dan Kolonel Xian Hua. Kematian dua punggawa pasukan kekaisaran tentu telah membuat kegaduhan. Sebab dengan itu tidak ada lagi yang memimpin pasukan kekaisaran.
Beruntung tidak beberapa lama kemudian Jendral Yuwen Huaji kembali tampil di benteng tengah. Dia melakukan itu setelah prajurit memberitahukan kematian adiknya. Setelah mendengar kondisi pasukannya, akhirnya jendral itu memaksa untuk keluar dari tempatnya beristirahat, walaupun sebenarnya lukanya belum pulih secara sempurna.
Tetapi kondisi keracunannya telah sembuh setelah diobati oleh Dewa Obat. Dia akhirnya tampil untuk kembali memimpin seluruh pasukannya yang tersisa, lengkap dengan pedang dan zirah perang miliknya.