SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 147 Pertempuran di Daha



"Berani sekali kisanak membuat kekacauan di perguruan ini!" Seorang lelaki paruh baya dengan pedang ditangan memimpin puluhan orang yang siap menghabisi Suro.


"Ini hanya salah paham saja paman. Dua penjaga sudah ketakutan sebelum aku jelaskan kedatanganku diperguruan ini! Sahabatku ini hanya berniat melindungiku, setelah melihat dua penjaga mengacam diriku dengan tombak miliknya." Suro mencoba menenangkan tunggangannya itu dengan mengelus-elus kepalanya. Tetapi hal itu tidak membuat Maung menurunkan kewaspadaanya dengan posisi siap menerkam orang-orang yang berdatangan hendak mengepung Suro.


"Urusan apa kisanak datang ke perguruan ini?" Lelaki itu menatap Suro dengan waspada.


Meskipun Suro hanya sendirian, tetapi di sampingnya seekor harimau begitu mengerikan membuat mereka memahami bahaya besar didepan mereka.


Jika mereka menyakiti Suro maka mereka juga harus menghadapi harimau disampingnya itu. Karena alasan itulah yang membuat mereka tidak melakukan hal yang gegabah.


Suro tersenyum ke arah mereka dengan tetap tenang.


"Aku ada urusan dengan ketua perguruan paman! Ada suatu hal yang ingin aku tanyakan!" Suro masih tersenyum ke arah lelaki yang sepertinya di segani oleh para anggota Perguruan Racun Neraka lainnya.


"Katakan saja kepada kami apa yang akan kisanak tanyakan, nanti akan kami sampaikan kepada ketua!" Lelaki itu membalas perkataan Suro dengan ketus.


"Jika ketua perguruan tidak ada, bolehkah saya berbicara dengan wakil ketua, paman?" Suro mencoba bertanya kembali.


"Wakil ketua tidak bisa ditemui! Silahkan katakan saja apa yang akan kisanak tanyakan kepada saya. Nanti akan saya sampaikan, jika wakil ketua atau ketua ada waktu untuk mendengarkannya!" Kali ini nada ucapan lelaki separuh baya itu mulai meninggi.


"Mohon maaf paman, aku tidak bisa mewakilkan kepada paman. Karena apa yang aku tanyakan ini berkaitan dengan nyawa. Bisakah saya bertemu langsung dengan wakil ketua saja, jika memang sang ketua perguruan ini sedang tidak ditempat?" Suro tetap tersenyum meski lelaki itu mengisyaratkan bahwa kedatangannya tidak diterima oleh mereka.


"Sudah aku katakan wakil ketua maupun ketua tidak bisa menemuimu kisanak! Silahkan pergi dari sini. Jangan biarkan tangan kasar ini akan melukaimu!" Lelaki itu mulai mencabut pedangnya. Sambil memerintahkan orang yang berdatangan mengelilingi Suro.


"Maung kali ini aku tidak mau melibatkanmu. Sebaiknya kamu mundur menjauh! Jangan pernah mendekat jika tidak aku perintahkan!" Suro menatap ke arah Maung yang balik menatapnya, seakan dirinya tidak rela jika harus meninggalkan tuannya sendirian.


Maung seakan tidak rela jika Suro menghadapi puluhan orang sendirian, dia tetap berdiri disampingnya. Kemudian Suro mengatakan sesuatu yang bukan bahasa manusia. Entah apa yang dia katakan kepada Maung, sebab setelah itu dia menurut dan berjalan menjauh meninggalkan Suro sendirian.


Orang-orang yang mengepung justru kebingungan dengan apa yang dilakukan Suro. Sebab satu-satunya pelindung yang menghalangi mereka untuk tidak menyerang dirinya justru dia usir.


"Pakaian yang kau gunakan itu tidak akan membuat kami ketakutan. Jangan mencoba menakut-nakuti kami dengan pakaian itu. Itu pasti hasil curian yang kau gunakan untuk mengelabuhi orang-orang. Aku tahu itu pakaian milik para tetua Perguruan Pedang Surga! Tetapi jangan berpikir kau mampu mengelabuhi kami dengan trik murahan itu!"


"Oh, jadi paman mengenal pakaian yang aku kenakan ini?" Suro mengkibas-kibaskan bajunya yang sebagian bulu Maung masih menempel.


"Apakah pakaian ini terlihat kebesaran atau kekecilan, sehingga paman mengira pakaian ini hasil curian?"


"Omong kosong! Mana ada tetua pedang semuda dirimu! Jangan membual terlalu tinggi anak muda! Kau harus membayar kelancanganmu dengan nyawamu! Begundal ini tidak menyadari jika dirinya telah mengusik sebuah sarang harimau! Bunuh dia!"


"Kebetulan harimaunya ingin meminta kembali sarang yang kalian pinjam!" Suro terkekeh melihat beberapa puluh orang bergerak mulai mengepung dirinya.


Sekitar dua puluh orang bergerak serentak mengelilingi Suro. Mereka memakai baju yang sama, yaitu ciri khas murid Perguruan Racun Neraka. Sama persis seperti yang digunakan oleh Jambul geni.


Mereka segera menyerang Suro dengan ilmu racun. Ilmu yang mereka gunakan berdasarkan kitab air perubahan air racun.


Kabut tebal segera menyergap ke arah Suro. Kabut itu sangatlah beracun. Beruntung Maung sudah menjauh dari tempat itu, sehingga tidak terkena ganasnya racun yang terkandung didalam kabut tersebut.


Banyak penduduk yang ketakutan untuk tidak berurusan dengan perguruan itu karena ilmu racun mereka yang begitu menakutkan. Dengan alasan itu juga perguruan aliran hitam maupun putih juga segan, jika harus berurusan dengan Perguruan Racun Neraka.


Mereka tidak menyadari jika Suro mengetahui tehnik membuat kabut seperti yang mereka lakukan. Tehnik yang dia pelajari saat melawan murid utama dari perguruan cabang yang berasal dari suatu daerah didalam Kerajaan Malaka.


Sebelum mereka menyadari Suro telah memanipulasi kabut yang menyerangnya justru dijadikan senjata bagi dirinya untuk melawan balik, musuh yang mengepungnya.


Ribuan jarum kristal es beracun yang dibentuk dari kabut langsung menghabisi orang-orang yang mengepungnya.


Dengan tetap menahan nafas Suro melontarkan tubuhnya keluar dari kabut yang mengepung dirinya.


"Edan! Bagaimana dia bisa melakukannya!" Lelaki separuh baya itu terkejut cara Suro merubah kabut menjadi jarum dengan begitu cepat. Bahkan pengerahan perubahan es milik mereka kalah cepat.


Bukan hanya lelaki itu, tetapi semua orang yang mengepung Suro dibuat terkejut, karena melihat jurus milik mereka yang dipelajari dengan susah, justru dipecundangi dengan begitu mudahnya.


"Habisi dia!" Lelaki paruh baya itu kembali memerintahkan menyerang Suro.


Seluruh kabut beracun yang tersisa mereka rubah menjadi jarum es. Sekejab kemudian jarum es itu melesat hendak menggurung tubuh Suro dalam jumlah yang tak terhitung.


Melihat serbuan jarum yang begitu banyaknya Suro segera mencabut bilah pedang miliknya. Satu tebasan yang dia kerahkan dilambari api hitam yang begitu kuat, sehingga langsung menghancuran formasi serangan musuh.


Api hitam itu terus menerjang ke arah kumpulan manusia yang berada dibawah gerbang.


Buuum!


Api besar itu menghancurkan gerbang dimana sebelumnya orang-orang berkumpul menghalangi langkah kaki Suro untuk memasuki perguruan itu. Semua orang yang berada ditempat itu segera menyelamatkan diri.


Mereka kembali terkejut, sebab sebelumnya jelas-jelas Suro menggunakan tehnik perubahan air es. Tetapi kali ini justru menggunakan tehnik yang berdasarkan perubahan kitab agni, jenis api hitam yang menurut legenda adalah perubahan api terkuat.


"Maung jangan ikut campur mengikutiku masuk, kecuali aku perintahkan!" Suro kembali mengingatkan Maung sebelum dia melesat terbang menaiki pedang miliknya.


Orang-orang yang berdatangan terkejut melihat Suro terbang dengan menggunakan bilah pedangnya. Karena tehnik seperti yang dia lakukan minimal sudah berada pada tahap pedang surga. Satu tingkat diatas tahap pedang langit dan satu tingkat dibawah tahap pedang dewa.


Tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Dewa Pedang sendiri, tetapi itupun jarang dia lakukan karena memerlukan tenaga dalam yang cukup besar.


"Sekali lagi aku hanya ingin bertemu dengan ketua atau wakil ketua kalian agar tidak perlu menghabisi nyawa kalian!" Suro menatap orang-orang yang ada dibawahnya, dari tempat yang berada di ketinggian.


Sengaja dia berbicara dengan dilambari tenaga dalam yang cukup kuat. Sehingga siapapun yang berada didalam perguruan itu mendengarnya.


**


Crazy up jika masuk 20 besar. maksimal dua hari setelah akhir minggu ini.