
Salah satu tetua yang sebelumnya melaporkan adanya empat penyusup yang hendak mencari perguruan sembilan selaksa racun, kini kembali berlari dengan kecepatan tinggi menuju bangunan utama ditengah perguruan.
Tujuannya adalah menemui wanita cantik yang berjuluk Dewi Kematian, ketua dari Perguruan Sembilan Selaksa Racun. Saat itu sang ketua sedang berbicara dengan lima sosok yang memiliki wujud agak aneh tidak seperti lumrahnya manusia.
Mereka berlima adalah para siluman yang menjadi pelindung perguruan dalam wujud manusianya. Meskipun dalam wujud manusia, namun tetap wujudnya tidak selayaknya manusia. Mereka berlima adalah siluman gurita cincin biru, siluman kelabang, siluman ular, siluman katak dan sosok yang memiliki panggilan sebagai hantu laut.
Lelaki itu lalu menjura ke arah kelima guru besar perguruan itu dan kepada ketua perguruan sebelum mulai berbicara.
"Lapor ketua, kondisi sudah gawat. Tidak dinyana mereka para penyusup berhasil mematahkan seluruh formasi sihir pertahanan perguruan, formasi sihir hantu kutukan akhirnya berhasil dihancurkan oleh mereka!"
"Jangan khawatir empat guru besar telah menghadang mereka, jika formasi sihir hantu kutukan berhasil di hancurkan." Dewi kematian tetap tersenyum mendengar ucapan tetua itu. Tetapi wajahnya segera berubah setelah mendengar penjelasan berikutnya.
"Benar ketua, mereka memang telah dihadang oleh empat guru besar pelindung perguruan ini, namun dari informasi yang saya dapat, mereka justru telah menghabisi guru besar laba-laba iblis!"
"Apa yang kau katakan? Ulangi sekali lagi aku tidak mendengarnya dengan jelas!"
"Mereka saat ini masih menghadapi guru besar yang lain. Namun para penyusup dari informasi yang didapat telah berhasil membunuh guru laba-laba iblis. Bahkan mereka telah membuat guru besar Raja lebah iblis berada dipihak mereka. Entah bagaimana caranya, dia justru menyerah dan tunduk. Kemudian dia memutuskan berpindah haluan memihak mereka. Bahkan dari informasi yang saya dapatkan dia telah menyerahkan mustika jiwanya kepada salah satu dari mereka."
"Mustahil, ini tidak mungkin terjadi! Guru besar Laba-laba iblis, Lebah iblis yang menghadang mereka memiliki kekuatan tingkat surga. Bagaimana caranya mereka mampu mengalahkan kekuatan yang mengerikan itu?"
Tetua itu lalu menceritakan semua jalannya pertarungan bahkan membuat semuanya semakin terkejut.
"Tidak dipercaya mereka dapat melakukan hal itu." Dewi kematian terkejut mendengar cerita tersebut.
"Coba ceritakan makhluk yang menyerupai manusia setengah burung itu, sepertinya aku mengenalinya?" Hantu laut mengernyitkan dahi dan mulai penasaran dengan cerita tetua itu yang menyinggung adanya manusia burung diantara para penyusup.
"Benar aku juga sepertinya mengetahuinya. Manusia burung ini membuat diriku penasaran juga." Sosok yang memiliki kepala mirip seekor katak disamping Dewi kematian ikut menyahut ucapan Hantu laut yang wajahnya tidak terlihat karena dia menggunakan jubah yang tudungnya menutupi seluruh kepalanya.
Tetua itu lalu menceritakan manusia burung yang dimaksud kepada mereka semua.
Hsssshhhhhhhh! Ssssssshhhhhhhhhh!
Siluman ular mulai mendesis keras saat tetua itu bercerita tentang manusia burung. Walaupun siluman ular memiliki tubuh manusia, namun lidahnya bercabang seperti ular, begitu juga matanya juga milik ular. Hidungnya hampir rata hanya berupa lekukan yang memperlihatkan dua lubang persis milik ular. Seluruh sisik juga menghiasi sekujur tubuhnya.
"Tidak salah lagi ini pasti Geho sama, pantas saja dia mampu mematahkan dua formasi sihir yang tidak pernah sekalipun dapat dipatahkan." Hantu laut berdecak kesal setelah mengetahui sosok dibalik hancurnya formasi sihir yang salah satunya dia yang telah menciptakannya.
"Siapa itu Geho sama guru? Sepertinya kalian semua mengenalnya dengan sangat baik?"
"Dia adalah siluman terkuat yang menjadi raja para siluman ribuan tahun yang lalu. Dia juga memiliki panggilan lain, yaitu tuan segala ilmu sihir." Hantu laut mulai bercerita tentang Geho sama kepada Dewi kematian.
"Jadi begitu, ternyata bala bantuan yang dibawa monster dari Yawadwipa itu sesuatu yang menakutkan. Pantas saja mereka dapat menghancurkan semua formasi sihir dengan mudah."
"Sepertinya kita akan menghadapi perang besar. Kita harus menggerakkan seluruh pasukan kita yang telah kita persiapkan." Dewi kematian kali ini tidak bisa menutupi kepanikannya, setelah mengetahui latar belakang salah satu orang yang bersama eyang Sindurogo.
"Seluruh kekuatan kita yang telah disiapkan segera perintahkan untuk bergerak. Kita akan menyerang dengan kekuatan penuh. Nama monster dari tanah Yawadwipa itu memang bukan isapan jempol belaka. Pantas saja kabar tentang Perguruan Awan Merah yang pernah menyebar seakan bualan belaka, ternyata benar adanya."
Seluruh pasukan yang telah dipersiapkan semenjak berita kedatangan eyang Sindurogo, akhirnya bergerak atas perintah sang ketua. Kali ini Dewi kematian hendak memastikan musuh akan mampu dihentikan dan dihabisi.
**
Ekornya berkali-kali mencoba menebus tubuh eyang Sindurogo dengan sengat yang besar. Mereka merasa aneh melihat eyang Sindurogo belum juga berhasil menghabisi siluman itu.
"Orang tua! lamban sekali dirimu, memalukan sekali. Lihatlah, kami semua sudah berhasil mengalahkan lawan kami?" Geho sama berteriak ke arah eyang Sindurogo yang berusaha menghindari serangan capit dan sengatan ekornya.
"Matamu! Siluman gagak sinting!"
Eyang Sindurogo mendengus kesal
"Apa perlu Suro bantu eyang?"
"Tidak perlu ngger, itu mulut siluman gagak akan berkaok-kaok tambah keras, jika kamu membantuku! Jangan khawatir siluman ini bukan masalah bagiku." Eyang Sindurogo menjawab sambil berusaha menghindari serangan siluman Kalajengking.
"Selain itu, apa angger Suro tidak mengingat, jika salah satu bahan untuk membuat pill yang mampu meningkatkan kekuatan para tetuamu terbuat dari tubuh siluman kalajengking yang sudah berumur lebih dari sepuluh ribu tahun? Lihatlah, bahannya sudah ada didepan mata, siluman ini sangatlah berharga! Eyang tidak ingin menghancurkan tubuhnya!" Eyang Sindurogo terus menghindari serangan lawannya yang bergerak dengan begitu gencar.
"Kurang ajar manusia sialan kalian tidak menganggab diriku!" Siluman kalajengking menggerung dengan penuh kemarahan mendengar tubuhnya dianggap sebagai bahan obat.
Siluman itu lalu mengempos tehnik racun kalajengking miliknya menjadi kabut beracun.
"Awas eyang! Hati-hati!" Suro sepontan berteriak melihat gurunya disergap dengan racun milik siluman kalajengking.
Eyang Sindurogo memang sengaja mengulur pertarungannya dan memancing siluman kalajengking itu untuk terus mengempos racunnya lebih banyak. Dia berharap kandungan racun yang dimiliki siluman itu berkurang drastis. Maka dalam titik tertentu akan menjadikan tubuh siluman itu layak dijadikan bahan obat.
Melihat eyang Sindurogo dapat mengatasi kabut beracun yang dia kerahkan, membuat siluman itu kembali meningkatkan kekuatan racunnya.
"Racun delapan Jalur!" Bersama ucapan siluman Kalajengking dia kembali mengempos kabut racun dalam jumlah yang sangat banyak. Sehingga kabut itu semakin pekat.
"Awas eyang serang racun ini sangat berbahaya!" Kembali berteriak penuh kekhawatiran melihat pengerahan racun yang sangat unik itu.
Kabut yang dikerahkan siluman Kalajengking menyerang dari delapan penjuru arah mata angin membentuk pusaran seperti sebuah bor. Pusaran angin itu mengejar eyang Sindurogo dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata.
Eyang Sindurogo lalu mengerahkan tubuh ilusi sebelum mengerahkan jurus Langkah Maya. Tubuhnya yang asli telah menghilang dari pandangan mata.
Sedangan sembilan tubuh ilusi miliknya mulai mengerahkan sembilan perubahan alam. Satu sosok yang menguasai perubahan racun menyerap seluruh racun yang dikerahkan siluman itu dengan jor-joran.
Serangan Racun delapan jalur menggunakan tehnik perubahan angin, air dan tentu saja racun tingkat tinggi. Perubahan angin untuk membentuk delapan pusaran angin yang bergerak mirip tangan-tangan yang mencoba mengejar musuh, sekilas seperti tangan gurita yang hendak membelit tubuh eyang Sindurogo.
Eyang Sindurogo sudah menunggu siluman itu mengempos racun dalam jumlah yang sebegitu banyaknya. Karena saat itu racun yang telah di kerahkan telah mendekati lebih dari setengah dari seleuruh racun mikik siluman kalajengking. Eyang Sindurogo langsung menyerap seluruh racun itu dengan menggunakan ilmu tubuh ilusi miliknya.
Pada saat bersamaan tubuh ilusi yang lain mengacaukan serangan dari siluman kalajengking. Salah satu yang menguasai perubahan angin langsung menghancurkan pusaran angin yang dikerahkan siluman itu.
Tubuh ilusi yang menguasai perubahan tanah mencoba mengekang gerakan siluman itu dengan menenggelamkan tubuhnya masuk ke dalam tanah. Mereka menyerang lawannya setentak bersama tubuh ilusi lainnya, sehingga siluman itu dapat lengah.
Saat siluman itu sibuk menghadapi kembaran dirinya, maka eyang Sindurogo langsung menyerang dari arah belakang. Pertama dia memotong ekor yang memiliki sengatan diujungnya. Kemudian dia menghancurkan dada siluman dan juga kepalanya.
Namun ketika mereka sedang asik menyaksikan pertarungan eyang Sindurogo melawan siluman kalajengking, mendadak Suro merasakan pergerakan makhluk dari berbagai arah.
"Awas binatang berbisa dalam jumlah yang tidak terkira menyerbu ke arah kita!" Suro segera memperingatan semua kedatangan para ular berbisa dan binatang lainnya. Dia merasakan pergerakan para binatang melalui getaran tanah yang dia terima. Suro merasa itu adalah sesuatu yang tidak wajar.