
Lesatan api hitam milik Suro yang menerjang ke arah kedua kadal raksasa itu, justru tidak berusaha dihindari. Dua kadal itu terlihat menerjang masuk kedalam dahsyatnya kobaran api hitam. Entah alasan apa yang membuat mereka tidak berusaha menghindar.
Satu kadal yang menguasai perubahan api terlihat mencoba menyerap kekuatan api hitam. Karena kuatnya jurus yang dikerahkan Suro, sehingga membuat tubuh kadal itu berubah dengan cepat menjadi merah membara.
"Serap semua itu jika memang kau sanggup! Hahaha...!" Suro kali ini cukup percaya diri dengan jurus api hitam yang wujudnya begitu besar.
Meskipun serangan Suro yang begitu dahsyat berhasil menenggelamkan musuhnya dalam kobaran api, namun itu belum mampu membinasahkan kedua kadal neraka yang memiliki ukuran raksasa itu.
Setelah beberapa saat mereka ditelan dalam besarnya kobaran api hitam, mereka masih mampu memberikan perlawanan terbaiknya. Bahkan satu kadal yang menguasai perubahan es berusaha mengurung wujud Sang Hyang Garuda.
Dua kadal itu tidak mampu mengukur betapa menakutkannya api hitam yang hendak mereka padamkan.
Saat dua kadal itu bergumul dalam kobaran api yang tidak juga mampu mereka lenyapkan, kesempatan itu langsung digunakan Suro untuk memulihkan tubuhnya dengan menelan beberapa butir pill Tujuh Bidadari.
Pengerahan jurus barusan adalah kekuatan terakhir yang tersisa, dia tidak akan bertahan lagi jika tidak segera memulihkan tenaganya.
Reaksi kuat dari pill itu membuat tubuhnya kembali segar dengan cepat. Sambil menyerap seluruh khasiat Pill yang dia telan, pandangannya tidak lepas dari tubuh dua kadal neraka. Musuhnya itu kini berusaha lepas dari kobaran api hitam yang telah mengurungnya.
Dalam pengerahan jurus api hitam, kekuatan pengguna akan memicu pengerahan inti api yang tersegel dalam bilah pedang. Semakin besar tenaga dalam yang disalurkan, maka ledakan api hitam yang keluar juga semakin besar.
Karena itulah , setelah kekuatan Suro pulih, maka jurus Sang Hyang Garuda semakin dahsyat. Tenaga dalam yang besar kembali dikerahkan untuk memperkuat pengendalian api hitamnya.
Ledakan kekuatan yang kembali datang tidak sanggup ditahan oleh musuhnya, akhirnya kadal yang menguasai perubahan api tidak mampu menampung kekuatan api hitam.
Tubuh kadal itu sepenuhnya berubah menjadi lava, selang tidak beberapa lama kadal itu musnah. Kekuatan Sang Hyang Garuda yang mencoba diserap olehnya terlalu besar, sehingga tubuhnya tidak lagi sanggup menampung seluruh kekuatan jurus api hitam.
Kadal yang menguasai perubahan es tidak jauh berbeda nasibnya. Setelah tidak berhasil menyegel kekuatan api hitam. Akhirnya tubuhnya juga tidak sanggup mengatasi panasnya api neraka itu.
Seluruh lapisan es yang dikerahkan dengan begitu dahsyat meleleh, tubuh kadal yang sepenuhnya menjadi bongkahan es itu mencair kemudian menguap tanpa bekas.
"Akhirnya mereka dapat aku kalahkan..."
Pertarungan yang dia lakukan barusan sengaja dia lakukan di tempat yang cukup jauh dari negeri bawah tanah. Sebab dia menyadari, jika pertarungan terlalu dekat akan menghancurkan alam sekitar.
Tempat yang menjadi medan pertempuran itu berada di luar wilayah sihir pelindung, yang artinya dia dapat diserbu makhluk kegelapan lainnya kapan saja.
Namun dia harus melakukan itu untuk melindungi negeri bawah tanah. Jika melakukan pertarungan terlalu dekat, tentu akan membuat negeri bawah tanah itu runtuh.
Karena itulah mengapa sejak awal pertarungan, dia tidak menggunakan jurus api hitam dengan kekuatan maksimal. Dia harus mencari tempat yang aman terlebih dahulu, sebelum menggunakan jurus terkuat.
Namun setelah cukup jauh, dia justru menyadari bahaya lain. Sebab dia merasakan keberadaan makhluk kegelapan lainnya yang berada tidak jauh.
Namun dia kebingungan, sebab para makhluk itu tidak bergerak menyerang dirinya. Entah alasan apa mengapa para makhluk kegelapan itu bersikap aneh. Dia merasa para makhluk itu justru terus sibuk dengan kegiatannya sendiri mengerubuni negeri bawah tanah.
Meskipun dia cukup waspada dengan keberadaan para makhluk itu, namun melihat kadal neraka yang sulit dihabisi dengan beberapa jurusnya, maka dia akhirnya memilih mengerahkan seluruh kekuatan terakhirnya untuk menghabisi kadal tersebut.
Sebab jika dia tidak segera menghabisi, maka jika makhluk lain itu menyadari keberadaan dirinya dan bergerak menyerang, tentu akan membuat dirinnya kesulitan.
Suro masih menatap ke arah lenyapnya dua musuh yang baru saja dia hadapi. Jurus api hitam miliknya lalu dia sudahi. Api hitam itu kemudian lenyap masuk ke dalam bilah pedangnya.
"Satu masalah telah selesai, tapi masalah lain sudah menunggu. Aku merasa kekuatan para kadal itu terasa tidak asing. Walaupun mereka bukan jenis yang pernah aku lihat sebelumnya. Apa mungkin mereka sesungguhnya para siluman yang telah menyerap kekuatan kegelapan?"
Suro teringat dengan kondisi Geho sama yang dulunya adalah seratus persen siluman. Kemudian setelah melalui tehnik tertentu yang dikuasainya, jiwa siluman itu mampu memiliki tubuhnya kembali.
Namun terjadi perubahan yang membuatnya tidak lagi sebagai siluman murni. Kondisi itu sangat mirip sekali dengan makhluk yang beberapa kali dia hadapi belum lama ini.
Apalagi penyihir yang sebelumnya mengaku murid Geho sama, ternyata sejenis dengan siluman.
Keberadaan makhluk kegelapan yang kemungkinan berasal dari jenis siluman, adalah sesuatu yang baru bagi Suro. Bahkan perjalananya selama diatas permukaan tanah, Suro tidak sekalipun melihat jenis yang seperti mereka sebelumnya.
Dia menjadi begitu penasaran dengan keberadaan makhluk sekuat mereka disekitar tempat itu.
"Selain keberadaan air Nirvikalpa, sepertinya ada yang membuat para makhluk itu mampu sebegitu kuat. Jawabannya hanya satu...kemungkinan tempat ini kemungkinan berada cukup dekat dengan tempat dimana kekuatan Dewa Kegelapan disegel."
"Kekuatanku belum pulih secara sempurna untuk menyelidiki kecurigaanku. Aku merasa banyak makhluk kegelapan yang kekuatannya tidak bisa dipandang remeh. Entah mengapa tempat ini dipenuhi makhluk kegelapan yang begitu kuat dari pada sebelumnya."
"Aku harus bertanya kepada paman La Tongeq sakti, apakah kemampuan berpikir kadal dan makhluk lainnya memang benar berhubungan dengan air Nirvilkalpa. Kalau memang benar, butuh seberapa banyak? Karena kemungkinan para makhluk kegelapan yang berada di alam ini telah berubah seluruhnya."
"Selama aku belum membinasahkan dewa kegelapan, maka pertempuran dengan makhluk kegelapan jauh dari selesai. Selain itu, kini aku merasakan perbedaan dalam menghadapi makhkuk kegelapan. Sebab mereka mengenal strategi, karena telah memiliki tingkat kecerdasan yang jauh dari sebelumnya."
"Apakah memang benar kecerdasan yang didapat itu, dari meminum air Nirvilkalpa? Tetapi apapun itu, perubahan seluruh makhluk kegelapan di alam ini tidak boleh dianggap enteng. Apalagi kini mereka juga dapat mengerahkan tehnik perubahan alam yang mengerikan."
"Kemampuan strategi perang yang mereka miliki, juga membuat pertempuran dengan makhluk kegelapan akan semakin sulit daripada sebelumnya." Suro masih memikirkan kekuatan para makhluk yang dia hadapi barusan dan juga para makhluk kegelapan yang dia rasakan tidak jauh darinya.
"Sebaiknya aku kembali saja, aku akan menyelidiki lain waktu. "
**
Manusia api itu sedang dikepung tiga musuh yang memiliki postur maupun besarnya seperti manusia normal.
Kekuatan tiga sosok itu sudah pada tingkat surga. Mereka mengepung Purbangkara yang telah diselimuti api biru.
"Naga es!"
Tiga naga berwujud es mencoba membelit Purbangkara.
Suro segera bergerak cepat, jurus api hitam miliknya segera dia kerahkan kembali.
'Lodra kendalikan Naga Taksaka untukku...'
Saat Naga Es yang dikendalikan musuh dapat dialihkan oleh kedatangan Naga Taksaka. Maka Purbangkara akhirnya dapat lolos dari serangan musuh.
Dia bersama Suro bergerak serentak. Serangan yang mereka berdua tuju adalah pengguna jurus es barusan. Satu musuh berhasil dihabisi oleh Purbangkara.
Hantaman pukulannya yang dilambari kekuatan api biru dan petir hitam berhasil menghancurkan segel es yang dibentuk lawannya. Begitu serangannya menembus pertahanan musuh, maka api biru dan ledakan petir hitam menghanguskan tubuh musuh. Tidak beberapa lama kemudian musuhnya musnah terbakar.
Dua lawan yang tersisa dihajar dengan menggunakan dua puluh pedang terbang milik Suro. Serangan bilah pedangnya yang bergerak begitu cepat berhasil memotong seluruh anggot tubuh musuhnya. Setelah itu dia menghentikan perlawanan musuh dengan jurus empat sage.
Dengan pengerahan jurus itu akhirnya semua makhluk kegelapan berhasil di habisi. Jurus penjaga gaib yang dia kerahkan sebelumnya, akhirnya dia sudahi. Empat kembarannya kemudian menghilang dari pandangan.
"Naga Taksaka kembali!"
"Akhirnya sudah berakhir..." pandangan Suro berpindah ke arah para penduduk yang dijaga La Tongeq sakti bersama bawahannya. Kehancuran akibat pertarungan yang sebentar itu membuat puluhan rumah hancur.
Kebakaran yang sempat melanda berhasil dipadamkan oleh Tirtanata, sebelum keempat kembaran Suro yang menguasai perubahan air dan yang lainnya ditarik kembali menghilang dari pandangan mata.
Setelah merasa yakin tidak ada lagi makhkuk kegelapan yang tersisa, Suro lalu berjalan menuju La Tongeq sakti.
"Apakah kalian baik-baik saja paman?" Suro menatap lelaki itu dengan tersenyum.
Setelah melihat pertarungan barusan, pandangan mereka ke arah Suro menjadi seperti sedang melihat monster. Tanpa mereka sadari kaki mereka tersurut kebelakang menjauhi Suro yang berjalan ke arah mereka.
"Apakah paman baik-baik saja?"
"Pa, paman...baik-baik saja tuan pendekar. Berkat bantuan tuan pendekar kami dapat selamat dari serangan para makhluk mengerikan itu. Semua ini adalah kesalahan diriku yang ceroboh. Jika tanpa bantuan tuan pendekar, diriku tentu tidak mampu menghadapi mereka semua."
Suro memincingkan mata mendengar La Tongeq sakti menyebut dirinya dengan tuan.
"Tidak usah memanggilku tuan, paman. Terdengar tidak elok. Justru karena permintaan saya yang ingin melihat relik kuno, negeri ini jadi porak-poranda."
"Selain itu ada beberapa hal yang hendak Suro tanyakan kepada paman."
"Mengenai apa tu..an? Eh maksud saya, eee... pendekar hendak bertanya tentang apa?"
"Panggil saya Suro saja paman. Salah satu yang hendak saya tanyakan berhubungan dengan Geho sama yang membutuhkan waktu beberapa hari untuk membuat formasi sihir pelindung.
Selama waktu menunggu dalam beberapa hari itu, kalau diperbolehkan untuk sementara aku akan menumpang di rumah paman. Apakah paman keberatan?"
"Tentu saja tidak, paman secara terbuka akan senang menjadi tuan rumah nakmas Suro."
"Saya mewakili seluruh penduduk negeri ini, sekali lagi mengucapkan terima kasih tidak terukur banyaknya. Berkat pertolongan nakmas Suro kehancuran negeri ini berhasil dicegah."
"Tidak masalah paman, jutru Suro yang harus mengucapkan terima kasih. Sebab kami diperbolehkan bertamu di negeri yang indah ini. Selain itu kami juga diperbolehkan mencicipi air Nirvilkalpa."
**
Setelah pertempuran itu, semua penduduk yang menjadi korban dikubur secara layak. Rumah-rumah penduduk yang hancur langsung diperbaiki secara bersama-sama.
Suro sendiri sibuk membuat ramuan untuk mengobati yang luka-luka. Hutan yang berada di negeri itu memiliki tanaman obat yang berlimpah.
Dia lalu memutuskan pergi bersama La Tongeq sakti dan beberapa muridnya untuk ikut bersama Suro. Dia memang sengaja mengajak mereka, agar memahami dan mengingat setiap tanaman obat yang akan digunakan sebagai bahan ramuan.
"Saat kedatanganku pertama kali, aku masih mengingat beberapa tanaman obat yang tumbuh dihutan ini cukup melimpah. Sebaiknya ke depannya paman dan yang lain untuk mempelajari setiap tanaman dan cara meramunya." Dia sibuk menunjukkan satu-satu persatu tanaman obat yang dia maksud.
La Tongeq sakti segera menyuruh La Temmalureng untuk mencatat semua perkataan Suro di lembaran kulit.
"Mungkin lain waktu aku akan menularkan ilmu meramu obat ini lebih dalam. Saat ini kita akan mengobati yang terluka terlebih dahulu."
La Temmalureng bawahan dari La Tongeq sakti yang terlihat paling antusias. Dia memang memiliki minat dalam ilmu pengobatan, sebab kakeknya dulu adalah satu-satunya tabib yang ada ditempat itu.
Sebagian ilmunya diturunkan kepada cucu satu-satunya itu. Selama ini dialah yang menjadi rujukan segala keluhan para penduduk jika merasakan sakit.
Setelah mengumpulkan semua bahan yang diperlukan, mereka kemudian kembali kepemukiman untuk mengobati yang terluka.