
"Berarti kalian tidak mengetahui dimana sisa pasukan Medusa lainnya?" Suro bertanya kepada mereka setelah Suro memberikan pill untuk memulihkan tenaga mereka berempat.
"Ampuni kami tuan pendekar, kami sudah tidak mengingat apapun, setelah kejadian di hutan larangan. Kemungkinan mereka bernasib seperti kami" Mereka berempat berusaha keras untuk mengingat, namun mereka tidak mampu mengingatnya. Meski itu hanya satu kilasan saja.
"Mungkin saja benar perkataan paman. Sebab saat kami mengejar seluruh pasukan Medusa sampai hutan larangan, disana kami hanya menemukan mayat Medusa yang sudah terpenggal. Selain itu tidak ada satupun dari kalian yang kembali ke asal masing-masing" Suro menghela nafas usahanya untuk mengorek informasi dari keempat orang didepannya agaknya gagal.
"Kalau boleh tau siapa nama paman sebenarnya?"
"Hamba dikenal sebagai Bekel Astawa bawahan dari senopati di Dahanapura. (Bekel adalah Kepala Pasukan Tentara kecil yang langsung berada di bawah perintah Rakryan Tumenggung dan Senopati)
"Sedangkan kami bertiga adalah prajurit dari Lumajang." Tiga orang di belakang Bekel Astawa ikut menjawab.
Kemampuan Bekel Astawa dalam ilmu beladiri setingkat dengan pendekar kelas atas. Satu tingkat dibawah pendekar tingkat tinggi. Sedangkan para prajurit dari Lumajang itu setingkat pendekar kelas dua.
Cukup lama Suro berusaha mengorek informasi dari mereka berempat mengenai alam kegelapan, namun mereka semua tidak mengingat apapun setelah kejadian di hutan larangan. Suro membaca dari raut mereka berempat memang terlihat berbicara apa adanya. Akhirnya dia berhenti bertanya sebab mereka memang tidak mengingat apapun.
Namun dari ucapan mereka dapat diketahui kemana nasib para pasukan Medusa berada. Semuanya berhubungan dengan eyang gurunya sendiri.
Saat Suro mencoba mengorek informasi tentang alam kegelapan kepada empat prajurit didepannya. Dewa Rencong memilih memeriksa ke seluruh istana, mencoba mencari tahu keberadaan Dewa Pedang dan juga tetua Dewi Anggini.
"Di dalam istana ini paman tidak menemukan adimas Dewa Pedang dan juga tetua Dewi anggini. Dimana sebenarnya mereka berdua?" Dewa Rencong segera memberi tahu Suro mengenai hasil pencariannya. Dia terlihat sibuk mengusap-usap dagunya. Setelah gagal menemukan mereka berdua, dia berpikir keras untuk dapat menemukannya. Kemudian tatapan matanya beralih kepada empat prajurit didepan Suro yang duduk bersila.
"Apa yang kau dapatkan dari mereka bocah?" Dewa Rencong menatap Suro yang kini sudah bangkit berdiri.
"Mereka tidak ingat apapun paman" Suro menjawab pertanyaan Dewa Rencong sambil menghela nafas panjang.
"Tidak ada gunanya kalian semua. Sudah diselamatakan hanya mengingat saja kalian tidak bisa." Dewa Rencong menatap dengan melotot.
"Ampuni kami tuan pendekar, didalam kepala kami tidak ada ingatan apapun, setelah dikuasai kekuatan kegelapan" Mereka menjawab dengan menggigil ketakutan. Sebab mereka mengenal Dewa Rencong seorang pendekar yang memiliki sifat berangasan(pemarah). Walaupun jika mengenal dia lebih dekat akan mengetahui, dia sebenarnya adalah seseorang yang baik hatinya.
Saat mereka sedang mencoba mencari tahu mengenai rahasia alam kegelapan, mendadak sebuah suara terdengar keras membahana. Namun mereka semua tidak mengetahui dimana suara itu berasal.
"Anak manusia! Jika hanya ingin mengetahui rahasia alam ini, akan aku ceritakan!"
Mereka semua terlihat kebingungan saat mendengarnya. Sebab menurut perasaan, suara itu seperti berada pada jarak yang sangat dekat. Tetapi mereka tidak melihat siapapun disana.
"Siapa yang barusan berbicara?" Suro tidak kalah terkejutnya seperti juga yang lainnya. Dewa Rencong mencoba mencari sumber suara berasal, tetapi dia tidak berhasil menemukannya.
"Namun aku tidak habis pikir, bagaimana bisa kau yang hanya anak manusia mampu menyerap kekuatan kegelapan tanpa terpengaruh sama sekali oleh buruknya akibat menghisap kekuatan kegelapan. Ini sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi. Sesuatu yang tidak masuk di akal. Manusia keturunan apa sebenarnya kau bocah, aku jadi penasaran? Hahahaha...!"
"Jika kamu ingin berbicara kepada kami perlihatkan ragamu dihadapanku, jangan hanya terdengar suaranya saja!" Suro kembali berteriak.
"Manusia kurang ajar! Kau kira aku sedang berniat main petak umpet denganmu? Kalau aku dapat menampakkan ragaku buat apa aku tetap berada di alam ini!"
Suro mengaruk-garuk kepala, sepertinya dia tidak memahami maksud perkataan suara yang baru saja terdengar. Dia kemudian berteriak kembali.
"Ilmu apa yang kau maksud aku tidak memahami arah pembicaraanmu? Kami tidak tahu sebenarnya siapa yang ingin kau ajak bicara?" Suro berteriak tanpa tau entah kepada siapa dia sedang berbicara. Dia juga tidak tahu suara itu sedang mengajak bicara dengan siapa.
"Anak manusia sialan, tentu saja dirimu yang aku ajak bicara. Karena aku tadi merasakan ilmu empat sage milikku telah kau gunakan."
Setelah mendapatkan jawaban barusan Suro menjadi yakin yang diajak berbicara memang dirinya. Sebab diantara mereka berenam tidak ada yang mampu mengerahkan ilmu empat sage, kecuali dirinya.
"Aku tidak pernah merasa berguru denganmu, bagaimana kau mengaku-aku sebagai pemilik ilmu itu? Sebenarnya kau ada dimana mengapa tidak bisa menunjukkan wujudmu? Kami tidak mampu mendeteksi keberadaanmu?"
"Tentu saja aku gurumu secara tidak langsung, karena ilmu itu adalah milikku. Kalian tidak akan bisa menemukanku, sebab diriku yang sekarang hanyalah sebentuk jiwa saja. Diriku sudah tersegel dalam kurun waktu yang sangat lama di alam ini. Aku tidak bisa keluar dari segel yang memenjarakanku."
"Tetapi aku bisa menunjukan gambaran wujudku seperti apa!" Seketika didepan mereka sebuah penampakan wujud yang terlihat agak samar berdiri mengambang tidak menyentuh tanah. Makhluk itu seperti seeorang manusia setengah burung. Walaupun terlihat samar, namun bisa menggambarkan bentuknya.
Mulutnya berupa paruh warna hitam. Kepalanya tertutup sebuah jubah. Pakaiannya mirip seorang pertapa. Dibagian belakang tubuhnya antara tulang belikat dua sayap hiam mengembang, seakan burung raksasa. Tinggi tubuhnya kurang dari satu tombak.
"Siapa sebenarnya dirimu?" Suro tersurut selangkah karena begitu kaget dengan penampakan yang mendadak.
"Aku lah Gagak setan, aku juga memiliki sebutan lain yaitu Geho sama si tuan penyihir. Aku rela menjadi budakmu asal kau mau membebaskanku dari segel yang memenjarakanku."
"Untuk apa aku membebaskanmu? Seseorang yang menyegelmu tentu punya alasan yang aku tidak ketahui. Selain itu apa untungnya aku punya budak sepertimu? Sebenarnya apa tujuanmu ingin menjadi budakku?"
"Anak manusia sialan kau terlalu meremehkanku! Baiklah aku katakan padamu alasanku ingin menjadi budakmu. Sebab dengan bakat yang kau miliki aku punya harapan untuk membalas perlakuan Batara Karang kepadaku. Setelah empat ksatria berhasil menyegelku dia memperlakukanku seperti sampah."
"Padahal aku sudah mengorbankan semua untuk memenuhi permintaan mereka. Bahkan tubuhku sendiri akhirnya musnah."
"Keuntungan apa yang aku dapatkan jika aku membebaskanmu?" Suro kembali bertanya kepada bayangan Gagak Setan didepannya.