SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 221 Mandala Kalacakra



"Anak ini bagaimana dia sudah mencapai tingkat langit?" Dewa Rencong berdecak kagum. Dia melihat dari tempat yang sedikit jauh. Segera dia melesat untuk mendekati Suro hingga jarak yang cukup dekat.


"Lodra!" Suro memanggil jiwa pedang yang sedang dipegang Geho sama.


Geho sama segera memahami maksud perkataan Suro. Dia langsung melepaskan genggaman tangannya pada gagang pedang tersebut. Seperti memiliki pikiran sendiri pedang itu segera melesat menuju ke arah Suro.


"Kebetulan sekali kita berada disini. Karena ada satu negeri yang harus kita datangi untuk menemui seseorang yang dapat membantu kita menyelamatkan eyang guru. Dan juga mengambil pusaka yang dia miliki."


Dewa Rencong terkejut mendengar ucapan Suro.


"Bagaimana kau mengenal seseorang yang tinggal ditempat ini? Apa kau tau kita sekarang sedang berada dimana?"


"Seperti ucapan dari Geho sama kita sedang berada di wilayah yang memiliki nama Himalaya paman Maung. Bagaimana aku mengetahui dan mengenal seseorang yang tinggal disini? Sebenarnya Suro belum mengenal. Namun Suro mendapat perintah dari sosok yang telah menemui ku. Baru saja dia pergi paman. Dan dari dia juga lah Suro mengetahuinya."


Dewa Rencong kebingungan mendengar ucapan Suro. Sebab sejak setengah purnama Suro tertidur atau tepatnya justru mati suri. Tentu sesuatu hal yang mustahil jika dia bertemu dengan seseorang.


'Bocah sinting habis mati suri pikirannya tambah tidak jelas. Bagaimana bertemu dengan seseorang? Tubuhnya saja kaku seperti mati dikurung didalam bola energi murni.' Sebenarnya Dewa Rencong cukup terkejut denga perubahan fisik Suro yang begitu mencolok. Itu adalah sesuatu yang sangat tidak wajar.


Dia merasakan aura yang berbeda dari tubuh Suro yang sekarang. Karena itu dia tidak berani berbicara asal dan sedikit berhati-hati menghadapi Suro. Karena itulah dia hanya menggerutu didalam batinnya saja.


Dia mencoba membaca situasi apakah Suro yang sekarang adalah diri yang sama atau telah dikuasai kesadaran lain. Setelah sebelumnya telah menghisap kekuatan kegelapan luar biasa banyaknya. Bahkan jika dia yang melakukan, tentu tubuhnya tidak akan sanggup menanggungnya.


Sejak awal dia sudah cukup kagum dengan kemampuan tubuhnya yang dapat menyerap kekuatan sebanyak itu tanpa membuat tubuhnya cidera, justru tetap tampak baik-baik saja. Meskipun kemudian dia mendadak kehilangan kesadarannya dan mengalami mati suri.


"Lalu dimana tempat yang akan kita tuju, bocah?" Dewa Rencong kembali bertanya untuk memastikan Suro tidak sedang melantur setelah mati suri cukup lama.


Suro segera mengeluarkan Kaca Benggala dari balik bajunya. Dia berbicara cukup lirih seakan hanya dirinya dan pusaka Kaca Benggala yang mendengar apa yang dia ucapkan.


Setelah menatap ke arah pusaka ditangannya sedikit lama Suro kembali mengarahkan pandangannya ke arah Dewa Rencong.


"Kaca Benggala tidak mampu menunjukkan tempat yang akan kita tuju paman. Sepertinya tempat itu disegel oleh sebuah kekuatan besar yang tidak mengijinkan sembarang orang memasukinya."


"Tempat yang akan kita tuju bernama "Tempat Keheningan" atau "Tempat Kedamaian". Di tempat itu berdiri sebuah Kerajaan yang memiliki nama yang sama dengan tempat itu, yaitu Kerajaan Shambala atau juga dikenal dengan nama Shang ri la."


"Aku pernah mendengar mengenai tempat itu. Tetapi sampai aku disegel di alam kegelapan tempat itu tidak pernah aku temui. Jadi akan sangat sulit menemukan tempat yang akan tuan Suro tuju." Sedari tadi Geho sama hanya diam, karena dia buat takjub dengan perubahan fisik yang di alami.


Selain itu dia juga merasa kekuatan bocah belia didepannya meningkat sangat pesat. Ada hal lain mengenai dirinya yang sekarang ada aura yang sangat berbeda dan juga kharisma yang tak biasa memancar dari tubuhnya. Seakan sesuatu yang mampu menundukkan setiap orang yang menatapnya. Secara keseluruhan penampilan Suro jauh berbeda dari sebelum bangkit dari mati surinya.


Sampai Suro bangkit dari mati surinya Geho sama juga tidak mampu memahami mengenai energi murni yang membungkus tubuhnya seperti kepompong itu, dia merasa hal itu juga sama misteriusnya dengan penampakan Suro yang berubah drastis.


Selain itu dia mendengar ucapan Lodra juga berubah kepada Suro. Entah mengapa dia merasa prilaku Lodra tidak seperti sebelumnya. Kali ini dia bersikap kepada Suro dengan penghormatan yang sangat tinggi.


Tetapi dia tidak berani bertanya kepada Lodra. Jika dia sampai berani bertanya, justru dampratan yang diperolehnya. Makian yang mampu bertahan selama tujuh hari tujuh malam tanpa ada jeda. Kondisi seperti itu tentu akan membuat kepala rasanya mau pecah. Karena itulah dia memilih seakan tidak melihat perubahan sikap yang diperlihatkan Lodra di alam pikiran Suro.


"Jangan khawatir mengenai hal itu Gagak setan aku telah tercerahkan dan diberikan gambaran mengenai tempat yang akan kita tuju!"


"Mengapa kita harus menuju tempat itu bocah?"


"Seperti yang telah Suro sampaikan sebelumnya, paman. Ada seseorang yang ingin Suro temui dan meminta sesuatu pusaka yang dia miliki. Pusaka itu dapat membantu Suro membebaskan eyang guru dan juga untuk melawan Dewa Kegelapan. Karena sekarang dia telah berhasil membebaskan raganya yang tertanam di dasar bumi."


"Jangan bercanda bocah dirimu sudah setengah purnama tertidur dalam kondisi mati suri dan dikurung dalam bola energi murni. Bagaimana kamu mengetahui hal itu? Kami bahkan tidak merasakan bumi ini bergejolak saat Dewa Kegelapan dibebaskan. Jika memang raga dewa kegelapan telah berhasil dibebaskan dari dalam dasar bumi, mengapa kondisi bumi yang kita pijak masih baik-baik saja?"


"Mengenai kondisi bumi yang tidak hancur kemungkinan mereka menggunakan jurang neraka untuk dijadikan jalan menuju penjara yang berada di dasar bumi. Hal itulah yang membuat bumi ini tidak bergejolak."


"Apakah ular yang bermain di tubuhmu itu hewan langka yang mampu menarik energi alam?"


"Benar paman ini adalah Naga raja sisik emas. Sebelumnya telur naga ini aku simpan dibalik bajuku. Agaknya setelah dia menghisap kekuatan besar, membuatnya menetas lebih cepat."


"Apakah telur dari ular ini yang membuat kemampuanmu meningkat pesat seperti ini?"


"Bukan paman."


Sebelum Suro menjelaskan kepada Dewa Rencong perihal kekuatan baru yang dia peroleh, Geho sama telah bertanya kepada dirinya lebih dulu.


"Tuan Suro bagaimana tuan mampu menyerap seluruh kekuatan yang begitu besar tanpa cidera. Bahkan hawa kegelapan yang telah tuan serap, jika itu aku yang menerimanya, tentu sudah membuat hilang kesadaranku. Pasti kesadaran ku sudah dalam pengaruh cengkraman kekuatan kegelapan, jika melakukan hal seperti itu."


"Selain itu, jumlah kekuatan yang tuan Suro serap, terlalu besar untuk mampu ditampung dalam tubuh seorang manusia."


Geho sama tidak mampu menutupi rasa penasarannya, setelah sembilan tubuh pecahan dirinya dan keempat pecahan tubuh Suro yang ikut menggelar ilmu empat Sage seluruh kekuatannya tidak disimpan oleh Lodra. Tetapi seluruh kekuatan itu, justru disimpan dan diserap dalam tubuh Suro.


Menurut pengalamannya sebagai inang dari pecahan dewa kegelapan, tentu dia dapat mengukur seberapa kuat tubuh manusia dapat menampung kekuatan sebesar itu. Apalagi dengan kekuatan kegelapan yang sebegitu banyaknya tanpa terkena efek jahatnya, dia menganggap sesuatu hal yang sangat mustahil.


Suro sempat berpikir sejenak mengenai hal itu, dia akhirnya berbicara ke arah dua sosok didepannya itu.


"Menurut sosok yang aku temui di alam bawah sadarku saat aku mati suri, tubuhku dilindungi. Sehingga mampu mencegah situasi seperti sebelumnya, yaitu kejadian yang mampu membuat diriku dikuasai Dewa Kegelapan.


"Apakah sosok itu juga yang membuat kekuatanmu meningkat dengan begitu cepat?" Dewa Rencong menatap ke arah Suro dengan penasaran.


"Mungkin salah satunya paman, karena dalam alam bawah sadarku aku dilatih olehnya untuk melewati jalan kesucian para arhat. Kemungkinan yang lain disebabkan kekuatan yang aku serap seperti perkataan Geho sama barusan, paman."


Suro kemudian menceritakan pengalamannya selama mati suri. Pengalamannya dalam dunia ilusi yang membuatnya mengalami kehidupan yang berbeda-beda, hingga sepuluh kali siklus kehidupan hanya untuk menguji dirinya untuk bisa lolos melewati delapan tingkat menuju jalan arhat.


Dua sosok yang mendengar cerita Suro cukup terkesima dan kehabisan kata-kata. Geho sama akhirnya mengetahui alasan Lodra yang bersikap begitu hormat kepada Suro, sesuatu yang sangat berbeda tentunya dibandingkan sikapnya yang sebelumnya.


Dewa Rencong mencoba mencerna seluruh cerita yang baru saja dia dengar mengenai delapan tingkatan menuju penerangan sempurna. Dia merasa pernah mendengar mengenai hal itu.


"Lalu bagaimana kita akan menuju Kerajaan Shambala tuan Suro? Sebab aku juga penasaran dengan tempat itu. Menurut cerita tempat itu dihuni oleh para penduduk yang memiliki tingkat spiritualnya yang sangat tinggi. Selain itu di negeri itu tersimpan sebuah pusaka yang mampu mengatur arus waktu, sehingga siapapun orang yang memiliki pusaka itu, seakan tidak terpengaruh oleh jalannya waktu." Geho sama cukup penasaran mengenai Kerajaan Shambala yang sejak lama pernah dia dengar.


"Benar pusaka itu yang akan aku ambil pusaka itu bernama Mandala Kalacakra."


"Benar aku mengingat nama pusaka itu." Geho sama tersenyum cerah mendengar perkataan Suro mengenai nama pusaka yang sedang dia bicarakan.


Suro kemudian menatap Dewa Rencong yang masih terlihat terkejut setelah mendengar seluruh cerita selama dirinya mati suri.


"Paman pasti akan senang jika ikut bersama ke negeri Shambala, sebab kekuatan jiwa milik paman akan dapat meningkat. Disana paman akan bertemu seseorang yang akan dapat membantu mewujudkannya."


Mata Dewa Rencong langsung berbinar-binar mendengar perkataan Suro.


"Tunggu apa lagi ayo kita langsung menuju ke tempat itu!"


Dia langsung melesat cepat, namun dia kembali ke arah Suro dan Geho sama yang masih melayang ditempatnya.


"Kemana arah menuju tempat tersebut? Dewa Rencong menatap Suro sambil menggaruk-garuk kepalanya, dia lupa jika dia juga tidak mengetahui arah yang akan dituju.


"Mari paman Suro akan menunjukkan jalannya kepada paman dan juga kepadamu Gagak setan." Pandangan Suro menatap ke arah Geho sama dan juga Dewa Rencong untuk mendekat ke arahnya.