
Duuuuuuuuum!
Tubuh Suro
seketika terurai setelah tersentuh oleh kekuatan dari Dewa Kegelapan yang
memang mampu menghancurkan apapun di dekatnya, tidak terkecuali tubuh Suro yang
terbentuk dari tulang dan daging. Namun sebelum Dewa Kegelapan membentuk sebuah
senyuman di bibirnya, justru secara tidak terduga dia menayaksikan sesuatu yang
membuatnya ingin berteriak sedemikian kesal.
"Setan
alas sialan, anak manusia keparat!" teriak Dewa Kegelapan dengan mata yang
sekaan matahari yang hendak menelan dunia. sebab dia kini kembali dibawa ke
masa saat awal pertarungan baru saja dimulai.
“Bagimana
mungkin kau yang sudah aku binasakan tanpa bekas masih mampu membuat diriku kembali
pada saat awal pertempuran?” tanya Dewa Kegelapan dengan mata penuh penasaran.
Tatapan Dewa
Kegelapan terpusat pada wajah pemuda yang justru tertawa terkikik melihat
kemarahan dan kekesalan yang di tunjukkan lawannya. Dia sendiri sebenarnya
tidak mampu membayangkan dengan kehebatan senjata Kalacakra yang diberikan Sang
Hyang Ismaya pada saat dia berada di Negeri Shangrila.
Beruntung
dia teringat dengan senjata yang selama ini tersimpan dan tidak pernah dia
gunakan sama sekali. Kini dia merasa mengerti mengapa dulu Sang Hyang Ismaya
memberikan senjata ini kepadanya. Sepertinya Sang Hyang Ismaya telah membaca
apa yang akan terjadi pada pertempuran puncak saat melawan Dewa Kegelapan.
“Andai Sang
Hyang Ismaya tidak memberikan senjata Kalacakra, maka semua akan berakhir saat
ini,” gumam Suro dengan ekspresi seperti melecehkan Dewa Kegelapan. Walaupun dalam
hatinya dia sedang pusing memikirkan cara utnuk mengalahkan lawannya.
Suro
mengakui kekuatan puncak dari Dewa Kegelapan sudah bukan lagi sesuatu yang bisa
dia pandang remeh, bahkan dia yang kini telah menguasi kekuatan setara dewa pun
tidak sanggup mengalahkan lawannya.
Berbagi
serangan yang dia lancakan pada pertempuran sebelumnya hancur semua terkena
kekuatan Dewa Kegelapan. Kini Suro menyadari, jika kekuatan yang telah dia
miliki tidak akan mampu mengalahkan kekuatan yang dimiliki lawannya.
“Kalau kau
tidak bisa aku bunuh sekali, maka aku tidak keberatan membunuh jutaan kali!”
teriak kesal Dewa Kegelapan yang selalu di bawa ke waktu sebelumnya dan kembali
melakukan pertempuran yang melelahkan melawan Suro yang kembali hidup.
Suro terus
tertawa mendengarkan sumpah serapah dari Dewa Kegelapan yang juga tidak berdaya
menghadapi kekuatan dari Senjata kalacakara yang mampu memuatar waktu kembali
kebelakang setiap kali berhasil membunuh Suro. Saat itulah dia mendengar sebuah
suara yang segera dia kenali.
“Bocah
sinting, ini kita dalam perkara besar, jangan meremahkan kekuatan Dewa
Kegelapan, sebaiknya kau minta pertolongan kepada Sosrobahu,” ucap Sang Yang
Lodra dalam rang kesadaran Suro.
Mendengar
perkataan Sang Yang Lodra tentu saja Suro terkejut, “apa yang kau maksud Lodra?”
tanya Suro yang menoleh ke arah Sosrobahu jiwa Pedang Pelahap Sukma yang juga
ada di dalam ruang kesadarannya.
“Hamba
menunggu perintah Tuan Suro,” ucap Sosrobahu sambil membungkukkan kepalanya.
“Jelaskan
kepadaku dengan singkat kemampuanmu yang dapat membantuku melawan Dewa
Kegelapan Sosrobahu,” ucap Suro yang saat itu sudah mulai melakukan pertempuran
melawan Dewa Kegelapan.
Kali ini
Suro memilih bertahan dan terlihat dia menghindari secara langsung serangan
lawannya. Dia lebih banyak mengulur waktu. Pertempuran yang terjadi seperti
sebelumnya akan berakhir saat Suro tewas, lalu semuanya kembali pada saat
pertempuran antara Suro dan Dewa Kegelapan baru saja di mulai.
“Jadi
“Aku rasa
rencanamu tidaklah buruk Lodra, aku rasa ini bisa dicoba. Baiklah kita lakukan
seperti yang kau rencanakan,” ucap Suro yang kini kembali berhadapan dengan
Dewa Kegelapan setelah dia kembali pada awal pertempuran.
Di tangannya
Pedang Kristal Dewa dan juga Pedang Pelahap Sukma tergenggam dengan erat.
Sebuah aura yang berbeda diperlihatkan Sang Yang Lodra. Aura kehijuan
menyelelimuti tubuh Suro dan membentuk sebuah perisai yang teramat kuat.
Sedangkan di
tangan kirinya Pedang Pelahap Sukma memperlihatkan sebuah aura yang secara
nyata seperti aura kekuatan Dewa Kegelapan. Rencana dari Suro adalah membawa
pertempuran yang ada ke alam dimana Sosrobahu akan melemparkan semua hal yang
ditelannya, yaitu ke alam kegelapan.
Pada saat
bersamaan Geho Sama dan juga tubuh gaib Suro bermunculan. Mereka semua berada
di belakang Suro dan membentuk sebuah formasi tertentu. Seakan mereka semua
sedang mengerahkan segala kekuatan untuk disalurkan kepada Suro.
“Mulai
sekarang!” teriak Suro yang segera diikuti oleh semua tubuh gaib Suro yang
terdiri dari Sedulur papat yang ada disisi timur disebut Tirtanata, sedulur yang ada di sisi utara disebut Warudijaya, sedulur yang ada di sisi selatan disebut Purbangkara dan sedulur yang ada di sisi barat disebut Sinotobrata.
Rupanya mereka hanyalah menajdi pengalihan, sebab pada saat
bersamaan mereka segera bergerak menyerang Dewa Kegelapan dari berbagai arah
yang telah di rencanakan oleh Suro. Lalu pada saat bersamaan Suro melakukan
rencana keduanya. Dari Pedang Pelahap Sukma meledak sebuah kekuatan yang tidak
terduga.
Semua itu dimulai dengan ujung pedang yang berupa mulut penuh
gigi itu mengangga sedemikian lebar dan terus melebar. Rupanya seluruh kekuatan
yang dimiliki Suro dan digabung dengan kekuatan yang diperoleh dari Geho Sama
digunakan untuk membuat Pedang Pelahap Sukma dapat memperlihatkan kekuatan
sejatinya.
Mulut Pedang Pelahap Sukma ternyata mampu mengangga menjadi
sedemikian lebarnya, sehingga Dewa Kegelapan yang sedang bertempur dengan tubuh
gaib milik Suro dan juga Geho Sama tidak sempat mengelak.
Maka dalam sekejap semuanya kini tersedot dalam ruang
kegelapan yang teramat pekat. Sebenarnya itu adalah dunia kegelapan yang
menjadi rumah bagi Dewa Kegelapan. Tentu saja makhluk itu menyadari dimana dia
kini berada.
“Apa yang
sedang engkau rencanakan sebenarnya anak manusia, apakah kau tidak mengerti,
jika kau membawaku kesini justru akan membuat diriku semakin tidak terkalahkan?”
tanya Dewa Kegelapan tidak emngerti dengan tidnakan yang diambil oleh Suro yang
membawanya ke dalam alam kegelapan yang jelas akan membuatnya semakin kuat dari
sebelumnya.
“Memang
benar, aku pun mengetahui apa yang terjadi dengan keputusan yang aku buat ini,
tetapi tempat ini juga akan membantuku untuk menguasai kekuatan kegelapan yang
begitu banyak di alam ini,” seringai Suro ke arah Dewa Kegelapan tidak
mengerti.
“Apakah kau
lupa, jika aku juga telah menyerap setengah kekuatan darimu yang dulu tersegel?”
imbuhnya yang kini membuat Dewa Kegelapan tidak percaya dengan tindakan yang
diambil oleh Suro.
Pandangan
mata Dewa Kegelapan sedang tertuju sepenuhnya kepada Suro, begitu juga Geho
Sama dan para tubuh gaib Suro yaitu Tirtanata, Sinotobroto,
Purbangkara, Warudijaya yang menempelkan telapak tangannya kearah tubuh Suro.
Mereka berlima sedang berusaha membantu Suro dapat menguasi
kekuatan kegelapan secepat mungkin. Pengendalian kekuatan kegelapan yang mampu
membuat Suro mampu menyamai kekuatan yang dimiliki lawannya.
“Kau pikir
aku akan memberikan kesempatan kepadamu dapat menguasi kekuatan kegelapan?”
seringai Dewa Kegelapan yang langsung memborbardir Suro yang baru saja hendak
menguasi kekuatan kegelapan. “Sekarang matilah kau tanpa sisa!”