SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Nasehat Sang Yang Lodra



Duuuuuuuuum!


Tubuh Suro


seketika terurai setelah tersentuh oleh kekuatan dari Dewa Kegelapan yang


memang mampu menghancurkan apapun di dekatnya, tidak terkecuali tubuh Suro yang


terbentuk dari tulang dan daging. Namun sebelum Dewa Kegelapan membentuk sebuah


senyuman di bibirnya, justru secara tidak terduga dia menayaksikan sesuatu yang


membuatnya ingin berteriak sedemikian kesal.


"Setan


alas sialan, anak manusia keparat!" teriak Dewa Kegelapan dengan mata yang


sekaan matahari yang hendak menelan dunia. sebab dia kini kembali dibawa ke


masa saat awal pertarungan baru saja dimulai.


“Bagimana


mungkin kau yang sudah aku binasakan tanpa bekas masih mampu membuat diriku kembali


pada saat awal pertempuran?” tanya Dewa Kegelapan dengan mata penuh penasaran.


Tatapan Dewa


Kegelapan terpusat pada wajah pemuda yang justru tertawa terkikik melihat


kemarahan dan kekesalan yang di tunjukkan lawannya. Dia sendiri sebenarnya


tidak mampu membayangkan dengan kehebatan senjata Kalacakra yang diberikan Sang


Hyang Ismaya pada saat dia berada di Negeri Shangrila.


Beruntung


dia teringat dengan senjata yang selama ini tersimpan dan tidak pernah dia


gunakan sama sekali. Kini dia merasa mengerti mengapa dulu Sang Hyang Ismaya


memberikan senjata ini kepadanya. Sepertinya Sang Hyang Ismaya telah membaca


apa yang akan terjadi pada pertempuran puncak saat melawan Dewa Kegelapan.


“Andai Sang


Hyang Ismaya tidak memberikan senjata Kalacakra, maka semua akan berakhir saat


ini,” gumam Suro dengan ekspresi seperti melecehkan Dewa Kegelapan. Walaupun dalam


hatinya dia sedang pusing memikirkan cara utnuk mengalahkan lawannya.


Suro


mengakui kekuatan puncak dari Dewa Kegelapan sudah bukan lagi sesuatu yang bisa


dia pandang remeh, bahkan dia yang kini telah menguasi kekuatan setara dewa pun


tidak sanggup mengalahkan lawannya.


Berbagi


serangan yang dia lancakan pada pertempuran sebelumnya hancur semua terkena


kekuatan Dewa Kegelapan. Kini Suro menyadari, jika kekuatan yang telah dia


miliki tidak akan mampu mengalahkan kekuatan yang dimiliki lawannya.


“Kalau kau


tidak bisa aku bunuh sekali, maka aku tidak keberatan membunuh jutaan kali!”


teriak kesal Dewa Kegelapan yang selalu di bawa ke waktu sebelumnya dan kembali


melakukan pertempuran yang melelahkan melawan Suro yang kembali hidup.


Suro terus


tertawa mendengarkan sumpah serapah dari Dewa Kegelapan yang juga tidak berdaya


menghadapi kekuatan dari Senjata kalacakara yang mampu memuatar waktu kembali


kebelakang setiap kali berhasil membunuh Suro. Saat itulah dia mendengar sebuah


suara yang segera dia kenali.


“Bocah


sinting, ini kita dalam perkara besar, jangan meremahkan kekuatan Dewa


Kegelapan, sebaiknya kau minta pertolongan kepada Sosrobahu,” ucap Sang Yang


Lodra dalam rang kesadaran Suro.


Mendengar


perkataan Sang Yang Lodra tentu saja Suro terkejut, “apa yang kau maksud Lodra?”


tanya Suro yang menoleh ke arah Sosrobahu jiwa Pedang Pelahap Sukma yang juga


ada di dalam ruang kesadarannya.


“Hamba


menunggu perintah Tuan Suro,” ucap Sosrobahu sambil membungkukkan kepalanya.


“Jelaskan


kepadaku dengan singkat kemampuanmu yang dapat membantuku melawan Dewa


Kegelapan Sosrobahu,” ucap Suro yang saat itu sudah mulai melakukan pertempuran


melawan Dewa Kegelapan.


Kali ini


Suro memilih bertahan dan terlihat dia menghindari secara langsung serangan


lawannya. Dia lebih banyak mengulur waktu. Pertempuran yang terjadi seperti


sebelumnya akan berakhir saat Suro tewas, lalu semuanya kembali pada saat


pertempuran antara Suro dan Dewa Kegelapan baru saja di mulai.


“Jadi


“Aku rasa


rencanamu tidaklah buruk Lodra, aku rasa ini bisa dicoba. Baiklah kita lakukan


seperti yang kau rencanakan,” ucap Suro yang kini kembali berhadapan dengan


Dewa Kegelapan setelah dia kembali pada awal pertempuran.


Di tangannya


Pedang Kristal Dewa dan juga Pedang Pelahap Sukma tergenggam dengan erat.


Sebuah aura yang berbeda diperlihatkan Sang Yang Lodra. Aura kehijuan


menyelelimuti tubuh Suro dan membentuk sebuah perisai yang teramat kuat.


Sedangkan di


tangan kirinya Pedang Pelahap Sukma memperlihatkan sebuah aura yang secara


nyata seperti aura kekuatan Dewa Kegelapan. Rencana dari Suro adalah membawa


pertempuran yang ada ke alam dimana Sosrobahu akan melemparkan semua hal yang


ditelannya, yaitu ke alam kegelapan.


Pada saat


bersamaan Geho Sama dan juga tubuh gaib Suro bermunculan. Mereka semua berada


di belakang Suro dan membentuk sebuah formasi tertentu. Seakan mereka semua


sedang mengerahkan segala kekuatan untuk disalurkan kepada Suro.


“Mulai


sekarang!” teriak Suro yang segera diikuti oleh semua tubuh gaib Suro yang


terdiri dari Sedulur papat yang ada disisi timur disebut Tirtanata, sedulur yang ada di sisi utara disebut Warudijaya, sedulur yang ada di sisi selatan disebut Purbangkara dan sedulur yang ada di sisi barat disebut Sinotobrata.


Rupanya mereka hanyalah menajdi pengalihan, sebab pada saat


bersamaan mereka segera bergerak menyerang Dewa Kegelapan dari berbagai arah


yang telah di rencanakan oleh Suro. Lalu pada saat bersamaan Suro melakukan


rencana keduanya. Dari Pedang Pelahap Sukma meledak sebuah kekuatan yang tidak


terduga.


Semua itu dimulai dengan ujung pedang yang berupa mulut penuh


gigi itu mengangga sedemikian lebar dan terus melebar. Rupanya seluruh kekuatan


yang dimiliki Suro dan digabung dengan kekuatan yang diperoleh dari Geho Sama


digunakan untuk membuat Pedang Pelahap Sukma dapat memperlihatkan kekuatan


sejatinya.


Mulut Pedang Pelahap Sukma ternyata mampu mengangga menjadi


sedemikian lebarnya, sehingga Dewa Kegelapan yang sedang bertempur dengan tubuh


gaib milik Suro dan juga Geho Sama tidak sempat mengelak.


Maka dalam sekejap semuanya kini tersedot dalam ruang


kegelapan yang teramat pekat. Sebenarnya itu adalah dunia kegelapan yang


menjadi rumah bagi Dewa Kegelapan. Tentu saja makhluk itu menyadari dimana dia


kini berada.


“Apa yang


sedang engkau rencanakan sebenarnya anak manusia, apakah kau tidak mengerti,


jika kau membawaku kesini justru akan membuat diriku semakin tidak terkalahkan?”


tanya Dewa Kegelapan tidak emngerti dengan tidnakan yang diambil oleh Suro yang


membawanya ke dalam alam kegelapan yang jelas akan membuatnya semakin kuat dari


sebelumnya.


“Memang


benar, aku pun mengetahui apa yang terjadi dengan keputusan yang aku buat ini,


tetapi tempat ini juga akan membantuku untuk menguasai kekuatan kegelapan yang


begitu banyak di alam ini,” seringai Suro ke arah Dewa Kegelapan tidak


mengerti.


“Apakah kau


lupa, jika aku juga telah menyerap setengah kekuatan darimu yang dulu tersegel?”


imbuhnya yang kini membuat Dewa Kegelapan tidak percaya dengan tindakan yang


diambil oleh Suro.


Pandangan


mata Dewa Kegelapan sedang tertuju sepenuhnya kepada Suro, begitu juga Geho


Sama dan para tubuh gaib Suro yaitu Tirtanata, Sinotobroto,


Purbangkara, Warudijaya yang menempelkan telapak tangannya kearah tubuh Suro.


Mereka berlima sedang berusaha membantu Suro dapat menguasi


kekuatan kegelapan secepat mungkin. Pengendalian kekuatan kegelapan yang mampu


membuat Suro mampu menyamai kekuatan yang dimiliki lawannya.


“Kau pikir


aku akan memberikan kesempatan kepadamu dapat menguasi kekuatan kegelapan?”


seringai Dewa Kegelapan yang langsung memborbardir Suro yang baru saja hendak


menguasi kekuatan kegelapan. “Sekarang matilah kau tanpa sisa!”