
"Apa ini nakmas?Apa nakmas meminta kami berdandan?" Dewa Pedang memegang benda yang disodorkan Suro. Dia terlihat membolak balikkan benda tersebut. Kemudian dia mulai berkaca sambil membenarkan jenggotnya yang seluruhnya telah memutih.
"Bocah gemblung, kau kira kami kakek-kakek genit. Kenapa kau tunjukan cermin ini kepada kami? Jangan-jangan setelah kami tinggal hampir selama dua purnama dalam latihan tertutup, kau sekarang telah berubah haluan, bocah? Sehingga dirimu berubah menjadi sosok yang kemayu dan suka berdandan? Kalau tidak, bagaiman mungkin sekarang kesukaanmu kemana-mana membawa cermin rias seperti itu?"
Suro mengaruk-garuk kepalanya sambil menampakkan wajah yang tidak karuan bentuknya, antara kesal dan ingin tertawa mendengar perkataan Dewa Rencong yang berbicara asal tanpa saringan.
"Hadeeew...! Bukan seperti itu maksud Suro paman. Suro membawa cermin itu kemana-mana bukan untuk bercermin....eeee, tetapi kadang Suro bercermin juga, tetapi itu bagian dari menjaga wajahku yang ganteng ini tetap terjaga kegantengannya." Suro tersenyum sambil melirik Dewa Rencong yang mulai memelototinya.
"Mohon maaf paman guru, Suro akan meminjam dahulu." Suro kemudian meraih benda yang berada di tangan Dewa Pedang.
"Jika paman ingin tahu sebenarnya benda apakah ini, maka Suro akan memberi tahu kepada paman akan namanya terlebih dahulu. Benda ini memiliki nama pusaka Kaca Benggala." Suro mulai menjelaskan kepada dua pendekar yang kali ini langsung bengong, entah karena terkejut dengan nama itu atau sebab yang lain.
"Kenapa paman? Apakah paman pernah mendengar nama yang aku sebutkan barusan? Apakah paman tau pemilik sebenarnya dari pusaka ini?" Suro menatap ke arah kanan kiri. Dia menemukan dua wajah yang kini memiliki mimik seperti patung dengan mulut ternganga.
"Pusaka itu milik pepulun Naga Tatmala, nakmas." Dewa Pedang yang menjawab pertanyaan Suro dengan sedikit ragu.
Sampai disitu Suro lumayan kaget, setelah mendengar jawaban Dewa Pedang. Suro mengkernyitkan dahi cukup lama karena apa yang dikatakan Dewa Pedang telah menjawab pertanyaanya dengan begitu tepat.
"Bagaimana paman mengetahui jika pusaka ini milik pepulun Naga Tatmala." Suro mulai menatap dengan tatapan menyelidik.
Dulu Suro di beri pesan oleh eyang Sindurogo untuk tidak membicarakan kepada siapapun perihal Sang Hyang Nagasesa. Karena itulah dia sedikit khawatir, jika ada yang mengetahuinya. Meskipun itu adalah Dewa Pedang sendiri.
"Tentu saja nakmas, karena dalam dongeng dikisahkan memang seperti itu. Sebenarnya dalam dongeng diceritakan jika pusaka itu adalah milik para Dewata tepatnya milik Dewi Suparti istri dari Sang Hyang Anantaboga. Kemudian pusaka itu diberikan kepada putranya yang bernama Naga Tatmala."
Suro mengangguk-anggukkan kepala menyadari jika Dewa Pedang hanya mengetahui dari cerita dongeng. Tetapi Suro baru menyadari ternyata ada kisah yang menceritakan tentang kaca benggala dimiliki Naga Tatmala seperti dalam kenyataanya.
"Lalu dari mana, nakmas mendapatkan pusaka itu? Apakah memang sesuai dengan yang dalam cerita?" Dewa Pedang bertanya dengan rasa ingin tahu yang cukup besar.
"Kata paman cermin ini milik pepulun Naga Tatmala, sebaiknya Suro samakan saja jawabannya agar tidak berbeda, hahaha...!" Suro menjawab dengan nada tidak terlihat serius membuat Dewa Pedang yang mendengar ikut tersenyum.
Dia mengira jawaban Suro hanyalah candaan belaka. Padahal itulah kenyataanya yang terjadi sebenarnya. Dia diberikan oleh Naga Tatmala atas perintah Sang Hyang Anantaboga sewaktu di gunung Arjuno.
"Sebentar paman aku akan memperlihatkan kehebatan pusaka ini. Sebaiknya paman mendekat ke arah sini biar jelas apa yang akan diperlihatkan pusaka ini." Suro mengelap kaca itu dengan ujung bajunya, setelah mengerahkan uap air dari dalam mulutnya kepermukaan cermin itu, agar terlihat lebih bersih.
Setelah ritual bersih-bersih selesai, dia kemudian kembali memperlihatkan cermin itu di depan kedua pendekar.
"Kaca Benggala, hamba mohon perlihatkanlah dimana eyang Sindurogo berada?"
Tatapan pandangan mereka bertiga tertuju pada benda mengkilap diatas kedua telapak tangan Suro.
Sekejap kemudian terlihat penampakan yang segera mereka kenali sebagai seseorang yang mereka panggil Pendekar Tapak Dewa Matahari Lelananging jagat.
Namun pakaian yang digunakan bukanlah pakaian seorang resi seperti yang biasa mereka lihat. Penampilannya mirip saat mereka melihatnya didalam peperangan di Banyu Kuning , sesaat sebelum menghilang dikejar api hitam milik Lodra.
"Ini dimana? Mengapa Eyang Sindurogo diperlakukan seperti bak seorang raja , nakmas?" Dewa Pedang menggaruk-garuk kepala sambil menatap Dewa Rencong. Dewa Rencong tak kalah kebingungannya tangannya menggaruk pipinya sambil menatap Suro menunggu jawaban apa yang akan diberikan.
"Entahlah paman aku juga tidak mengetahuinya. Tetapi jika tidak salah mereka sedang berada disebuah wahana terbang yang bernama Wilmana puspaka. Sebuah wahana terbang yang waktu itu pernah Suro ceritakan saat hendak menumpas pasukan siluman yang bersembunyi dibalik awan hitam.
"Lalu dilangit mana wilmana itu sedang terbang bocah? Bisakah kau tunjukan padaku?" Dewa Rencong terlihat begitu takjub dengan penampakan di dalam pusaka yang sedang dipegang Suro.
Mendengar permintaan Dewa Rencong Suro menjawab dengan anggukan kepala.
"Kaca Benggala hamba mohon bimbinglah dan tunjukanlah kepada kami tempat dimana eyang Sindurogo sedang berada!"
Setelah Suro selesai mengucapkan itu, maka sesuatu terjadi pada kaca benggala yang dipegangnya.
Secara berkesinambungan kilasan demi kilasan penampakan yang menunjukkan tempat dimana Eyang Sindurogo. Berawal dimana eyang Sindurogo duduk diatas sebuah singgasana megah yang bertahtakan emas dan segala batu mulia, kemudian penampakan wahana terbang yang terlihat begitu megah dan besar.
Sebab Suro bercerita, jika siluman itu saking banyaknya bahkan mampu menutupi wahana terbang. Jika wahana terbangnya saja sebegitu besarnya, mereka berdua tidak mampu membayangkan seberapa banyak sebenarnya siluman yang ada.
Tetapi jika melihat dari bawah waktu itu siluman berdatangan seperti hujan, maka mereka berdua segera memaklumi jika siluman itu mampu menutupi langit diatas wahana terbang.
Setelah kilasan wahana terbang itu, kemudian ditampilkan daratan dibawah wahana terbang itu berada. Dilanjutkan penampakan-penampakan yang terus-menerus menunjukan arah yang akan mampu mengantarkan mereka ke tempat dimana eyang Sindurogo berada.
Kali ini Dewa pedang dan Dewa Rencong dibuat terkagum-kagum.
"Luar biasa, ternyata pusaka ini kemampuannya sama seperti dalam dongeng, sungguh sangat mengagumkan." Dewa Rencong tidak mampu menutupi kekagumannya, dia terlihat berkali-kali berdecak kagum.
"Aku mengetahui dimana eyang Sindurogo sedang berada, seperti dalam penampakan barusan. Kebetulan aku pernah kesana dalam pengembaraanku. Negeri itu sangatlah jauh dari sini. Bagaimana caranya kita akan menuju kesana?" Dewa Rencong mengusap-usap lehernya sambil berpikir.
"Cara tercepat untuk sampai ke sana tentu saja dengan terbang paman!" Suro menjawab sambil tersenyum. Dia yang telah merasakan sendiri perjalanannya ke gunung Arjuna dengan begitu singkat, tentu bisa mengetahui, jika perjalanan itu telah menyingkat waktunya.
"Tidak, kita tidak mengejar eyang Sindurogo. Kita tetap mengikuti rencana awal, yaitu mencari penyebab hilangnya ingatan eyang Sindurogo. Jika kita mengejar dirinya tanpa mampu mengetahui apa penyebabnya hanya akan menyulitkan tindakan kita selanjutnya." Sebelum pembicaran Dewa Rencong dan Suro menjalar lebih jauh, Dewa Pedang telah memutus niat mereka menuju tempat dimana eyang Sindurogo berada.
"Apalagi kita memiliki pusaka ini. Mencari tau dan mengejar keberadaan eyang Sindurogo bisa dipikirkan nanti saja."
"Jika mengetahui penyebab dari hilangnya ingatan eyang Sindurogo, maka kita punya peluang besar untuk bisa mengembalikan ingatannya kembali." Dewa pedang setelah berbicara barusan, matanya terpejam. Dia seakan sedang mengingat tentang sesuatu hal yang terjadi cukup lama.
"Jalan yang akan kita tempuh ini bukan perkara yang mudah. Tetapi hutang budiku, perguruanku, bahkan Mahaguruku kepada eyang Sindurogo teramat besar. Kini adalah bagiku, perguruanku dan Mahaguruku yang akan diwakilkan olehku mendapatkan kesempatan untuk membalas budi baiknya. Seterjal apapun jalan yang akan aku lalui, akan tetap aku tempuh." Dewa Pedang mengucapkan kata-kata itu dengan pandangan mata yang menerawang jauh. Agaknya dia sedang mengingat segala kebaikan yang telah dilakukan eyang Sindurogo kepada dirinya langsung maupun tidak langsung.
"Benar sekali adimas, ini adalah waktu yang tepat untuk membalas segala kebaikan yang telah ditanam Pendekar Tapak Dewa Matahari Lelananging jagat pada kehidupan kita." Dewa Rencong terlihat begitu bersemangat menanggapi perkatan Dewa Pedang.
Suro hanya menunduk dan menganggukkan kepala. Mulutnya sudah tercekat tidak mampu mengeluarkan kata-kata apapun. Bahkan dia hanya bisa terdiam seribu bahasa. Tetapi di dadanya sedang bergemuruh perasaan yang tidak akan dimuat, meskipun ditulis dalam sebuah kitab besar sekalipun.
Dia sudah cukup terharu mendengar perkataan dua pendekar tersebut yang merasa telah berhutang budi kepada eyang gurunya.
Jika mereka saja bisa mengatakan seperti itu, apalagi dirinya. Tidak ada yang mampu mengukur seberapa banyak hutang budi yang telah ditanamkan pada dirinya. Setiap jengkal dari tubuhnya yang tetap mampu bernafas itu adalah berkat pertolongan dari eyang gurunya.
Tidak ada makhluk hidup yang dia cintai selain gurunya. Tidak ada seorang pun yang mampu menggantikan lelaki yang dia panggil eyang guru itu.
Lelaki itu didalam hatinya selain sebagai guru yang mengajarinya dengan segala hal, baik tentang kehidupan maupun tentang ilmu olah kanuragan. Lelaki itu juga mampu menjadi selayaknya seorang ibu yang mampu merawat, menyuapi dan memberi kasih sayang yang tidak terukur banyaknya.
Lelaki itu bagi Suro juga dianggap sebagai ayah yang selalu siap melindunginya. Bahaya apapun lelaki itu akan berdiri didepan menghadang. Lelaki itu adalah segalanya bagi Suro.
Bahkan kadang kala hubungan mereka seperti teman. Karena selain kepada Maung hanya gurunya itulah dia bermain dan bercanda.
Sebagai seorang guru maka dia adalah guru terlengkap yang dia miliki. Hidupnya yang berjalan selama ratusan tahun tentu telah mengenyam asam garam kehidupan. Dengan rentang hidup yang begitu panjang, tentu banyak hikmah dan kisah yang diceritakan kepada Suro yang tentu tidak didapatkan dari orang lain.
Mutiara kebijaksanaan yang berasal dari seorang Maharesi mumpuni seperti dirinya, tentu bagai mutiara manikam yang tidak ternilai harganya.
Walaupun kadang sebagai anak manusia lainnya memang terkadang terbersit pikiran, saat melihat anak-anak lainnya berjalan bergandengan bersama ibu maupun ayahnya, tentu membuatnya iri. Tetapi perasaan itu akan langsung dia tepis karena eyang gurunya adalah yang terbaik yang pernah dia miliki.
Itulah mengapa didalam hatinya tidak seorangpun yang lebih dia cintai, kecuali eyang gurunya itu. Tidak seoranpun yang dia rindukan selain dirinya. Karena kehilangan eyang Sindurogo bagi dirinya, adalah kehilangan terbesar yang dia alami.
Saat Suro melihat gurunya dalam peperangan di Banyu Kuning, sebagian jiwanya bersedih. Tetapi sebagian lagi bersyukur, karena kondisi gurunya masih selamat. Walaupun kondisinya dalam kesadaran yang bukan miliknya.
Tetapi melihat gurunya tetap hidup, memberikan harapan dan juga kesempatan bagi dirinya untuk dapat menolong gurunya. Masih ada kesempatan bagi dirinya untuk membalas kebaikan yang telah diberikan lelaki itu dalam hidupnya. Walaupun apa yang akan dia usahakan itu, tidak akan membalas kebaikan eyang guru tidak lebih dari pada sekuku hitamnya saja.
Bahkan jika nyawanya ditukar demi keselamatan gurunya maka dia akan siap melakukannya. Suro kemudian menghela nafas cukup panjang beberapa kali. Seakan dia hendak menumpahkan segala beban yang mengganyuti pikirannya.
salam untuk semua ayah dan ibu terhebat seluruh dunia love u full.