
"Meski kemajuan tenaga dalammu melalui tehnik Kundalini sulit untuk naik, tapi jangan khawatir, eyang akan meperkuat tenaga dalammu lewat jalan lain."
Eyang Sindurogo tersenyum dengan lebar kepada Suro yang masih termangu menunggu kelanjutan ucapan gurunya.
"Jangan berkecil hati. Karena tubuhmu memiliki kemampuan khusus, yaitu dapat menyerap kekuatan matahari. Oleh karena itu eyang akan menurunkan kepadamu sebuah ilmu yang akan membantu dirimu menyerap kekuatan matahari."
Suro terlihat begitu gembira mendengar ucapan gurunya yang memberikan harapan angin segar kepadanya.
"Tehnik ini tidak sama dengan ilmu tenaga dalam melalui tehnik kundalini. Karena tidak mengumpulkan chakra melalui tehnik pranamaya atau pernafasan."
"Walaupun begitu sebenarnya tehnik ini juga bukan untuk menyerap kekuatan matahari. Sebab kondisi tubuh milikmu yang dapat menyerap kekuatan matahari, kemungkinan hanya dirimu yang punya atau tepatnya kamu adalah orang kedua yang eyang guru temui dapat melakukan seperti yang kamu lakukan."
"Orang pertama yang eyang guru temui adalah guru dari eyang guru sendiri. Dia juga dapat menyerap kekuatan sinar matahari dan menjadikannya sumber chakra bagi dirinya. Sehingga dia dapat dengan leluasa menghimpun kekuatan melalui tehnik yang akan aku ajarkan kepadamu."
"Karena dia menyerap kekuatan sinar matahari melalui tehnik ini, ilmu yang akan aku ajarkan kepadamu adalah ilmu Tapak Dewa Matahari."
"Dengan tehnik Tapak Dewa Matahari, eyang yakin kamu akan dapat menutupi kekuranganmu."
"Selain itu eyang juga masih memiliki satu tehnik lain yang pasti akan membuatmu sangat kuat. Tetapi tentu saja setelah kondisi tubuhmu cukup kuat untuk dapat menampung chakra yang besar."
Suro semakin meluap-luap kegembiraanya dengan penjelasan gurunya. Meskipun didepan guruny dia hanya terlihat menganguk-angukkan kepalanya mendengar penjelasan gurunya sambil duduk bersimpuh.
"Sebelum aku wedar kaweruh tentang ilmu Tapak Dewa Matahari kepadamu sebaiknya kamu harus bersumpah dahulu kepada eyang guru untuk tidak menggunakan ilmu ini sembarang. Dan akan menggunakan hanya untuk kebajikan memerangi Angkara murka. Dan tidak menggunakan di jalan kesesatan."
Suro kemudian bersumpah seperti yang diinginkan gurunya. Setelah Suro selesai bersumpah Eyang Sindurogo mulai menjabarkan ilmu Tapak Dewa Matahari kepada Suro.
"Ilmu ini menurut guru dari eyang guru, merupakan ilmu yang diperoleh dari para dewa, yaitu dari Sang Hyang Batara Surya. Itulah mengapa di bab awal dari ilmu ini bagi kondisi tubuh seperti dirimu dapat digunakan untuk membantu menyerap kekuatan matahari."
"Namun bagi kondisi eyang tehnik itu tidak dapat digunakan untuk menyerap kekuatan matahari. Karena memang kondisi tubuh eyang tidak seunik tubuhmu."
"Tehnik yang digunakan untuk menyerap sinar matahari menjadi sebentuk chakra sedikit mirip dengan tehnik Teja Surya, atau tehnik kekuatan matahari."
Lalu eyang sindurogo mulai menjelaskan dasar ilmu tapak Dewa Matahari yang dapat digunakan Suro untuk membantu dirinya menyerap kekuatan matahari. Gurunya berharap tenaga dalam Suro melalui tehnik Kundalini yang tidak mengalami kemajuan dapat terbantu oleh kondisi tubuhnya yang khusus itu.
"Ngger sebelum eyang melanjutkan penjabaranku mengenai Ilmu Tapak Dewa Matahari sebaiknya kamu berjanji untuk tidak mengajarkan ilmu ini kepada orang lain, kecuali atas seijinku."
"Nuwun inggih eyang." Suro menjawab perintah gurunya dengan sepenuh hati.
Suro terlihat begitu bersemangat mendengar wedar kaweruh dari gurunya. Sebab dari penjelasan gurunya itu memungkinkan dirinya dapat meningkatkan kekuatan tenaga dalam yang sulit mengalami kemajuan.
"Eyang memintamu melakukan seperti itu, karena ilmu ini sangat berbahaya jika dikuasai orang yang salah. Sebab dapat menyebabkan bencana kepada seluruh tanah Yawadwipa ini."(Yawadwipa atau Javadwipa memiliki arti yang sama yaitu pulau padi)
"Ilmu ini memiliki tujuh jurus. Dari setiap jurusnya membutuhkan pasokan tenaga dalam yang besar. Dari jurus pertama ke jurus berikutnya akan semakin besar kekuatan tenaga dalam yang dibutuhkan. Bahkan eyang gurumu ini selama hidup hanya sekali pernah mengerahkan jurus keempat. Bahkan dari akibat pengerahan jurus itu nyawa eyang hampir saja hilang."
"Suatu saat eyang akan menceritakan kisah eyang itu padamu jika sempat."
Suro hanya mengangguk mendengar ucapan Eyang Sindurogo.
"Eyang akan menjelaskan ketujuh jurus dari Tapak Dewa Matahari. Tetapi sekali lagi eyang tidak mengijinkanmu untuk mempraktekkannya. Selama kekuatanmu tenaga dalammu belum mencapai tingkat tinggi."
"Sendiko dawuh eyang guru."
"Jurus pertama adalah sepuluh jari dewa menguncang bumi ,jurus kedua telunjuk dewa mencari kebenaran,jurus ketiga tapak dewa turun dari langit,jurus keempat dewa matahari menampakan wujudnya,jurus kelima ledakan matahari kembar,jurus ke enam sepuluh matahari meminta jawaban,jurus ketujuh bersatu dengan dewa memusnahkan iblis."
Meskipun Suro tidak dapat mengerahkan jurus itu selama kekuatan tenaga dalamnya minimal telah mencapai tingkat tinggi, tetapi dengan penjelasan itu dapat dia kuasai suatu saat nanti.
Dahsyatnya Ilmu Tapak Dewa Matahari inilah yang telah mengangkat nama Eyang Sindurogo dalam dunia persilatan dinobatkan menjadi pendekar terkuat di Benua Timur.
Setiap jurus membutuhkan pasokan chakra yang luar biasa besar dan menguras tenaga. Setiap naik satu tahap ke tahap berikutnya energi yang dibutuhkan juga lebih besar,seterusnya sampai puncak jurus ilmu tapak dewa matahari ini konon mampu menghancurkan bulan.
"Jurus pertama dan kedua merupakan pedang cahaya yang muncul dari ujung jari. Jurus ketiga menurut Mahaguru merupakan perpaduan kekuatan Batara Indera dan Batara Surya."
"Jurus keempat ini eyang pernah mengerahkannya. Tetapi hampir saja merengut nyawa eyang. Karena besarnya kekuatan yang diperlukan untuk mengerahkan jurus ini.
Sedangkan jurus kelima dan seterusnya akan aku jelaskan seperti apa yang dijelaskan Mahaguru kepadaku."
Panjang lebar eyang Sindurogo menjelaskan setiap jurus dalam ilmu Telapak Dewa Matahari. Dia menjelaskan sedetail mungkin agar Suro dapat memahaminya dengan sangat baik.
"Jangan pernah memberikan rahasia ilmu ini kepada orang lain kecuali telah mendapatkan ijinku. Apakah kau memahami perkataanku, ngger?"
"Sendiko dawuh (iya) eyang guru, Suro memahami dan mematuhi semua yang telah eyang guru katakan." Suro menjura kepada gurunya dengan penuh hormat.
"Sekali lagi jangan pernah mencoba jurus ini selama kekuatanmu belum memenuhi syarat untuk mengerahkannya. Karena itu hanya akan membuat dirimu celaka."
Seseorang yang mampu melakukan ini tentunya telah didukung ilmu meringankan tubuh dan didukung chakra yang sangat mengerikan karena satu hentakan tubuhnya mampu meluncur keras menembus awan. Sebuah kemampuan yang hanya dimiliki para pendekar tingkat langit yang mampu terbang bebas.
Dan saat ia turun dari balik awan sebuah pemandangan dahsyat terjadi. Pemandangan yang berupa bola api raksasa yang menyerupai bentuk kepala naga dan dibelakangnya diikuti rentetan petir yang memenuhi pusaran tornado seakan badan naga yang siap menghunjam bumi. Seperti terjangan meteor yang besar mampu meluluh lantakan daratan sekali hempas.
Jurus ketiga ini lah yang mengangkat nama Eyang sindurogo dinisbatkan menjadi jagoan nomor satu diseluruh antero benua timur.
Jurus keempat dan seterusnya belum ada yang menyaksikan seperti apa kedahsyatannya sehingga masih sangat miseterius tetapi orang masih mengingat tentang bagaimana satu sekte telah dilenyapkan hanya dengan satu serangan. Tak ada yang tersisa kecuali bara dan debu dari reruntuhan