
Setelah beberapa saat dia berjalan santai, akhirnya Suro sampai ditempat kediaman tetua Dewi Anggini. Terlihat Suro agak ragu untuk melangkahkan kakinya.
Matanya nanar melihat dengan cukup waspada. Dia harus mewaspadai kemungkinan Mahadewi menyerangnya secara tiba-tiba. Suatu hal yang sangat mungkin sebilah pedang terbang dari Mahadewi melesat ke arahnya tanpa diduga. Melihat jurus sepuluh pedang terbang yang dikerahkan Mahadewi pada kejadian sebelumnya membuat Suro sedikit menyesal karena telah mengajarinya.
"Kenapa waktu itu aku mengajari adinda Mahadewi dengan ilmu sepuluh pedang terbang? Padahal dengan satu bilah pedang saja aku sudah dibuat kerepotan untuk menyelamatkan diri dari amukannya." Suro menggumam pelan sambil turun dari punggung Maung.
"Oooooo...jadi selama ini menyesal karena telah mengajariku?"
Suro yang hendak turun dari punggung Maung berubah menjadi patung dalam beberapa saat. Dia tidak bergerak sama sekali. Kecuali matanya yang melirik ke arah sumber suara barusan.
"Mati aku!"
'Kapan Batari Durga ini datang, seperti dedemit saja, padahal tadi aku tidak melihatnya. Jangan-jangan siluman emprit itu telah mengajarinya dengan Langkah Maya?'
'Mati aku.'
Dengan diawali doa perlindungan dari segala bala dan bencana besar Suro mulai memutar kepalanya untuk menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari Batari Durga.
"Oalaaah ada bidadari khayangan ternyata. Mengapa mataku tertutup, hidungku tersumbat, sampai tidak melihat ada bidadari yang begitu cantik." Suro tercekat melihat mulutnya berbicara sendiri dengan begitu lancar.
Dia sempat berpikir buruk tentang gejala tersebut.
'Jangan-jangan barusan Pujangga gila telah mengambil alih kesadaran ku?'
Tetapi pikiran tentang Pujangga gila dan segala hal yang ada di dunia menjadi lenyap. Pikiran tentang cara menghentikan kembalinya Dewa kegelapan langsung lenyap.
Pikiran tentang Batara Karang dan Batara Antaga yang memiliki Ajian Nyalin Cangkang yang membuat mereka berdua tidak bisa dihabisi juga ikut lenyap.
Pikiran tentang Tongkat iblis yang entah hilang kemana yang kemungkinan akan mencari tumbal bayi manusia dalam jumlah semakin banyak ratusan atau ribuan ikut juga lenyap seketika.
Pikiran tentang anak yang akan dilahirkan tetua Dewi Anggini jika akhirnya menikah dengan gurunya, harus memangil dirinya sebagai apa juga ikut menghilang.
Bahkan pikirannya tentang putri Dwarawati yang sedang menunggu kedatangannya pun harus lenyap. Termasuk juga pakaian yang dia cuci sejak seminggu lalu di rumahnya belum sempat dijemur dan mulai jamuran, ikut juga lenyap sudah tidak ada dalam pikirannya lagi.
Semua itu terjadi setelah mendengar suara lembut seseorang yang menyatakan salam perdamaian atau sebagai tanda kesepakatan gencatan senjata telah disetujui dengan kalimat yang terdengar begitu merdu di telinga Suro.
"Ah, kakang Suro bisa saja. Mahadewi kan jadi maluuu."
'Sah, akhirnya telah resmi ini adalah pertanda situasi dan kondisi telah aman jauh dari perang dunia.' Suro langsung tersenyum begitu lebar.
"Apakah bidadari ini adalah jelmaan dari adinda Mahadewi? Kemana saja adinda selama ini? Padahal kakang mendengar lagi suara merdu adinda yang seperti bidadari. Bahkan kakang sudah berusaha mencari-cari adinda diberbagai tempat dikolong meja, dibawah dipan, diatas pohon asem, namun kakang tidak juga menemukan adinda. Apakah adinda selama ini bersembunyi dibalik bulan? Karena kakang melihat cahaya yang memancar dari wajah adinda menyerupai cahaya bulan purnama."
Setelah berbicara barusan Suro menepuk-nepuk pipinya atau justru bisa dikatakan sedikit menampar.
'Apa yang barusan aku katakan? Mengapa mulutku berbicara begitu lancar? Siapa tadi yang barusan berbicara? Seolah ada orang lain yang telah mengontrol otot mulut dan lidahku?'
'Bukan diriku dan juga bukan Hyang Kavacha bocah.' Lodra langsung menjawab setelah mendengar pertanyaan dari Suro.
"Pikiranmu saja yang memang sudah tidak waras, dasar bocah sinting! Mulut, mulut sendiri, lidah, lidah sendiri.. bagaimana tidak menyadari siapa yang menggerakkannya? Dasar bocah sinting membuat konsentrasiku menjadi ambyar!' Geho sama yang sedari tadi berusaha berkonsentrasi dalam samadhinya untuk memperoleh ketenangan batin, terusik dengan ucapan Suro yang sangat mengganggunya.
Suro hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya dan menyengir mendengar suara teriakan kekesalan Geho sama menggaung-gaung di kepalanya. Beruntung saat Suro bertanya-tanya tentang sesuatu yang sangat membingungkan itu, kembali suara merdu melupakan perasaan ganjil dan juga makian Geho sama yang mirip paduan suara para kodok.
"Ah kakang bisa saja, Mahadewi ada disini tidak kemana menunggu kakang yang justru selalu menghilang."
Pembicaraan mereka berdua terhenti saat eyang Sindurogo bersama tetua Dewi Anggini muncul.
"Angger Suro ternyata telah datang."
"Nuwun inggih eyang." Suro lalu menjura kepada mereka berdua.
Mahadewi tidak menjawab omelan gurunya, karena urusan akan panjang. Dia memilih menjura kepada Dewi Anggini sambil tersenyum manis. Wajahnya kini tidak lagi cemberut.
'Ternyata wajahnya cukup menyenangkan untuk dilihat jika seperti itu.' Suro lalu berjalan masuk kedalam kediaman tetua Dewi Anggini sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dia sepertinya masih terganggu oleh perasaan aneh yang membuat mulutnya berbicara sendiri tanpa dia sadari.
Tetapi melihat senyum manis dari bibir Mahadewi, membuat Suro melupakan perasaan ganjil itu. Senyuman itu telah menciptakan rasa lega seperti baru saja lepas dari mulut singa.
Mereka berempat kemudian duduk disebuah ruang tamu milik tetua Dewi Anggini.
"Jadi bagaimana ngger perjalananmu? Apakah dirimu telah mendapatkan penawar racun Perguruan Sembilan Selaksa Racun?"
"Menurut paman Tohjaya dia tidak mungkin membuat seluruh penawar racun yang dimiliki Perguruan Sembilan Selaksa Racun."
"Namun dia memberikan beberapa penawar racun kuat yang mungkin saja dapat digunakan saat darurat."
Dia kemudian menjabarkan apa yang telah dijelaskan oleh Ketua Tohjaya kepada Suro sebelumnya.
"Ada hal lain yang eyang guru sebaiknya mengetahuinya."
Suro segera melanjutkan cerita perjalanannya saat harus menghabisi para makhluk yang diciptakan dari bayi manusia. Dia juga mencoba mengejar Tongkat iblis, namun jagoan dari aliran hitam itu menghilang entah kemana.
"Entah apa yang sedang direncanakan oleh Tongkat iblis. Tetapi Suro yakin, jika dia akan mengulang kembali praktik sesat itu, eyang."
"Aku tidak dapat menemukannya, karena dia dapat menghilang dari pandangan. Mungkin itu semacam ilmu halimunan. Sebaiknya keberadaan lelaki itu harus dicari, karena aku yakin tujuannya adalah membentuk pasukan kegelapan yang lebih kuat. Sebab pada pertarungan yang aku lakukan para bayi iblis itu memiliki kekuatan yang tidak dapat dianggap enteng, sebab kekuatan mereka setara dengan pendekar tingkat langit. Bukankah itu sesuatu hal yang sangat menghawatirkan, eyang?"
"Agar rencananya berjalan lancar dia sengaja melakukan seluruh rencananya itu secara diam-diam, agar kegiatannya itu tidak diketahui oleh aliran putih dan juga para prajurit kerajaan. Karena itulah dia memilih daerah pinggir yang jauh dari pusat kota."
Eyang Sindurogo dan juga tetua Dewi Anggini mendengarkan cerita Suro dengan serius.
"Masalah ini sebaiknya kita beri tahukan kepada Adimas Dewa Pedang. Aku rasa dengan aliansi miliknya yang tersebar di seluruh Benua Timur ini akan sangat membantu kita untuk mengumpulkan informasi keberadaan Tongkat iblis lebih cepat." Eyang Sindurogo mencoba memecahkan masalah yang diceritakan muridnya itu.
"Benar eyang, dengan perintah paman guru kepada seluruh perguruan cabang yang menjadi bagian aliansinya, tentu kita dapat menemukan Tongkat iblis dengan lebih cepat."
"Sebaiknya angger memberitahukan hal ini secepatnya kepada adimas Dewa Pedang."
"Jika masalah itu biar adinda yang akan menyampaikannya kepada Ketua perguruan, kakang Sindu."
"Biarkan nakmas Suro beristirahat setelah melewati perjalanan yang cukup jauh."
"Hahaha...sejauh apapun jarak yang ditempuh thole Suro, jika menggunakan sihir Langkah semu, maka akan setara dengan kita melangkahkan satu langkah. Jadi dia tidak akan kelelahan meskipun datang dari tempat yang sangat jauh." Eyang Sinduroho tertawa lembut mengingatkan Dewi Anggini jika muridnya itu memiliki ilmu yang membuat perjalanan sejauh apapun dapat dipersingkat menjadi setara dengan satu langkah saja.
"Muridmu memang sangat mengagumkan seperti juga gurunya."
Suro melihat Eyang Sindurogo tertawa begitu bahagia.
'Ah akhirnya aku bisa melihat eyang dapat tertawa begitu bahagia. Tidak sia-sia perjuanganku selama ini untuk dapat menyelamatkannya. Akhirnya aku dapat membuatnya bahagia dengan mempertemukannya dengan kekasih hatinya.' Suro ikut tersenyum bahagia melihat gurunya sekarang telah menemukan kebahagiannya.
'Sejak aku kehilangan eyang guru dulu, aku terus berjanji untuk membuatnya bahagia. Sekarang akhirnya terwujud. Entah apapun yang terjadi aku tidak ingin melihat wajahnya bersedih.'
"Ada satu lagi eyang yang mengganggu pikiran Suro."
"Ada apa lagi angger Suro?"
"Dalam pertempuran yang aku lakukan di pinggiran kota Dahanapura, Suro juga menyadari jika Tongkat iblis mampu membuat pasukannya yang dia ciptakan memiliki kekuatan yang setara dengan pendekar tingkat langit."
Suro lalu menyampaikan uneg-uneg yang membawa langkah kakinya bertemu dengan gurunya.