
"Mengapa kita tidak fokus menghadapi Dewa Kegelapan terlebih dahulu? Apakah urusan kita dengan masalah yang dihadapi negeri ini?"
"Apalagi kegiatan seperti ini, ini sama saja telah membuang kesempatan kita, agar secepatnya dapat menghabisi makhluk itu!"
"Apalagi setelah mendengar dari ucapan orang-orang yang telah kita selamatkan, mereka menyebut serangan yang di otaki Batara Karang telah menjalar hampir ke seluruh wilayah di tiga benua, itu artinya Dewa Kegelapan sedang mencari tumbal lebih banyak lagi."
"Benar mengenai hal itu Geho sama. Tetapi kita juga harus membantu orang-orang yang berada dinegeri ini terlebih dahulu."
"Kita selesaikan dahulu masalah yang ada disini. Kau tau maksudku, bukan?"
Mendengar penjelasan Suro, dia lalu menganggukkan kepala sambil tetapi menggerutu panjang.
"Sudahlah Geho sama sebaiknya kau ikut saja, ini hanya sebentar. Jika perlu kau tidak perlu turun tangan dan tidak usah sampai keluar keringat untuk mengatasi ini. Apalagi aku akan memberikanmu nanti ayam bakar."
Luh Niscita disamping Suro sebenarnya ingin bertanya kepada Suro tentang masalah apa yang hendak diselesaikan. Namun melihat Geho sama terus merepet, dia akhirnya memilih diam dan berjalan ke depan untuk membuka jalan.
"Selain itu masalah perutku ini sudah tidak bisa ditunda lagi. Lihatlah perutku sudah memangil-mangil. Apalagi kondisi tubuhku yang lebih dari dua purnama ini terus bersemadi badanku kini hampir seperti tulang berbalut kulit saja."
"Memang sejak awal kulit dan tulangmu tidak ada jaraknya. Alasan yang dibuat-buat saja agar bisa makan ayam!"
"Sudah tenang saja, aku rasa Dewa Kegelapan juga perlu waktu untuk mengolah tenaga yang telah dia dapatkan dari para shurala. Kemungkinan untuk sementara waktu dia berhenti mencari tumbal."
"Seperti yang telah kau lihat sendiri para shurala di alam ini sangatlah banyak. Jadi tidak mungkin dia dapat menyerap secara sempurna dalam waktu yang cepat."
Geho sama memelotot mendengar ucapan Suro yang terkesan meremehkan kondisi yang terjadi "kau tau bukan, jika kondisi kekuatannya tidak seperti dirimu? Mungkin jika itu adalah tubuhmu, maka akan membutuhkan waktu untuk menyerap secara sempurna shurala sebanyak itu. Tetapi tidak bagi Dewa Kegelapan, dia akan menyerap seluruh para shurala hingga lenyap, semua tanpa memerlukan waktu lama."
"Apa kau tidak ingat sebelumnya bagaimana dia mampu menyerap kekuatannya sendiri?"
"Jangan terlalu dipikirkan Geho sama, nanti bulumu rontok semua, sudah aku mau mencari ayam."
"Kalau tidak menyukai kegiatan ini biar aku dan adinda Luh Niscita yang pergi melanjutkan perjalanan!"
"Enak saja, lidahku juga ingin merasakan masakan resep mbah Wiro!"
Mereka kemudian mulai memasuki hutan yang sebenarnya tidak terlalu jauh jika terbang. Namun Suro memilih berlari bersama Luh Niscita.
Sepanjang perjalanan itu Geho sama tetap saja mengedumel tanpa henti. Apalagi dia tidak diperbolehkan menggunakan langkah maya miliknya untuk mempersingkat waktu.
"Dasar kutu kupret, kamu sengaja mencari cara agar bisa lebih lama dengan dara cantik ini, bukan? Alasan apa itu, ingin mempelajari tumbuhan obat segala?"
"Membuang-buang waktu saja pergi dengan berjalan kaki!"
Suro pura-pura tidak mendengar gerutuan Geho sama, dia justru sibuk mengajak berbicara dengan Luh Niscita yang tidak mampu menahan rasa gelinya dengan tingkah kedua makhluk di dekatnya itu. Dua tangannya sibuk menutupi mulutnya yang tidak mampu menahan tawanya.
"Adinda hari ini terasa begitu indah, namun sayang suara burung yang berkicau hari ini merusak suasana."
"Tetapi beruntung ada adinda, jadi seburuk apapun kicauan burung yang paruhnya somplak itu tidak membuat susana hari yang indah ini menjadi buruk."
"Masih mending somplak, daripada sinting!" Geho sama menyahut dengan keras sampai kuping Suro terasa berdenging. Tetapi dia tetap pura-pura tidak mendengar.
"Adinda Niscita kemana perginya burung dihutan ini yang biasa dari jauh saja sudah dapat terdengar kicauannya yang merdu? Mengapa hanya ada burung gagak sinting yang berkoak-koak sejak tadi?"
"Mungkin saja mereka sedang.." Luh
Niscita yang hendak menjawab terhenti, sebab suara makhluk tinggi besar langsung menyahut tanpa akhlak.
"Para burung sudah kabur sedari tadi mendengar kicuanku yang merdu. Ternyata mereka sudah memahami kemampuanku yang tersembunyi ini!" Geho sama segera bersiul-siul keras dengan nada yang akhirnya membuat para kera sekalipun kabur ketakutan.
Melihat Suro dan Luh Niscita segera menutup kuping mereka berdua, Geho sama justru tertawa terkekeh. Kemudian dia bersiul dengan lebih bersemangat.
Geho sama terus merepet mengiring langkah mereka yang kadang harus terhenti, karena Suro harus menunjukkan sesuatu kepada Luh Niscita.
"Ini rempah-rempah yang kakang ceritakan sebelumnya. Ini namanya buah pala"
"Jika yang sebelah sana itu namanya cengkeh."
"Sedang yang terlihat seperti semak itu namanya jahe" Suro sibuk menunjukkan satu persatu tumbuhan disepanjang jalan yang mereka lalui.
"Sepanjang jalan kakang akan terus memberi tahu tentang beberapa jenis tanaman yang dapat dijadikan bumbu masakan, sehingga nanti jika Luh Niscita hendak memasak sudah hafal dan dapat membuat masakan yang nikmat."
"Baik kakang, Niscita akan berusaha agar kakang suka dengan masakanku."
Selain bumbu-bumbu masakan, jika menemukan tanaman obat, Suro bergegas menghampiri dan memetiknya. Lalu dia menyimpan tanaman obat itu di keranjang yang tergantung dibelakang punggungnya.
Dia melakukan itu, karena selain jenis tanaman itu sangat langka juga kwalitasnya cukup baik. Beberapa tanaman obat yang dia temukan, bahkan sudah berumur ratusan tahun.
Keranjang dibelakang punggungnya kini mulai terisi dengan berbagai tanaman obat.
"Bocah sinting kamu mau memburu ayam hutan atau mau memakan tanaman obat? Kau pikir aku kambing?"
"Tenang Gagak setan, aku akan memberimu kijang guling kalau kau mau membantuku mencari tanaman obat disini."
"Selain itu beberapa tanaman yang aku kumpulkan ini akan aku gunakan untuk membuat bumbu masakanku nanti."
"Aku tidak membawa keranjang, jadi lakukan sendiri saja. Kalau tidak dara ini bisa kau suruh-suruh membantu. Mengapa aku yang harus melakukan? Aku tidak bisa banyak urusan."
Byuuuuurrrr!
Kcipak! Kcipak!
"Kalian cari saja ayamnya, lebih baik aku menunggu disini."
Suro mengaruk- garuk kepala melihat tingkah Geho sama yang berenang disungai airnya yang begitu jernih dan cukup tenang.
"Sudahlah, daripada aku pusing mendengar omelanmu yang melebihi suara lebah iblis, lebih baik dan lebih bagus kamu memang sebaiknya cukup tunggu disini saja. Nanti aku kembali jika sudah dapat ayam hutannya."
Byuuuurrr!
Geho sama sudah tidak peduli dengan apa yang diucapkan Suro dia kembali menyelam dan mulai berenang ke arah air terjun.
Suro hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sebelum melanjutkan langkah kakinya. Dia bersama Luh Niscita kemudian melesat menghilang dari pandangan
"Nikmatnya mandi, sudah beberapa purnama badanku tidak dibasahi air, ini gara-gara menjaga bocah sinting itu."
"Air ini sesuai dugaanku memang mengandung air Nirvilkalpa, semakin lama aku berendam tubuhku semakin terasa begitu segar."
"Pantas saja penghuni negeri ini dapat awet muda karena air ini memang mampu merangsang kulit tubuh agar kembali kencang. Bahkan aliran darahku sekalipun dapat bersirkulasi menjadi bertambah lancar."
"Bahkan luka-luka karena bekas pertempuran sebelumnya ikut sembuh dengan cepat. Sungguh air yang sangat mengagumkan. Setelah ini sebaiknya aku meminum air Nirvilkalpa yang lebih murni di tempat waktu itu sebanyak mungkin."
Setelah cukup lama mandi dialiran sungai dia kemudian berpindah ke sebuah batu besar yang tepat berada di bawah air terjun. Dia lalu duduk bersila diatas batu tersebut dimana air terjun dapat terus menghujani tubuhnya.
"Aku akan mencoba bersamadhi saja sambil menunggu mereka datang. Apalagi energi alam ditempat ini begitu padat, membuat aku sukar untuk menolaknya."
Geho sama lalu membuat Dhyana mudra untuk memulai meditasinya. Sambil bermeditasi dia mulai mengerahkan tehnik empat sage untuk menyerap energi alam disekitar tempat tersebut.
Meskipun gemuruh suara air terjun yang menghujaninya terdengar cukup keras. Namun hal itu tidak membuat meditasinya terganggu. Dia benar-benar menikmati waktu untuk mengheningkan seluruh pikirannya. Apalagi susana alam yang mendukung, hal itu semakin membuat dia semakin tenggelam dalam meditasinya
**
Tidak jauh dari tempat Geho sama yang sedang bermeditasi sambil dihujani air terjun, dua lusin pasukan memakai pakaian serba hitam terus mengintainya.
"Makhluk itu telah terpisah dengan pemuda dan Luh Niscita, seharusnya mereka berdua telah cukup jauh dari tempat ini."
"Ini saatnya kita kepung makhluk itu! Jangan biarkan dia lolos! Dia adalah kawan dari pemuda yang hendak dijodohkan dengan Luh Niscita. Jika kita bisa menghabisi dia terlebih dahulu, maka pekerjaan kita akan semakin ringan untuk menghabisi pemuda itu."
"Dengan membunuh pemuda itu Batara Karang berjanji akan memberikan energi murni laghima dalam jumlah yang sangat banyak."
"Jika dia memberi kita lebih banyak laghima, tentu akan semakin memperkuat tingkat kekuatan kita. Sekarang saja aku telah menembus tingkat surga. Apa kalian tidak percaya dengan itu?"
"Mengagumkan sekali, padahal dirimu sebelumnya masih setara dengan pendekar kelas satu. Apa ini tidak membahayakan tubuhmu?"
"Lihatlah aku baik-baik saja, bahkan tidak ada hal yang berubah pada tubuhku setelah menyerap laghima yang diberikan Batara Karang." Sosok yang terlihat memimpin pasukan itu seperti memberikan iming-iming kepada para pengikutnya.
Mendengar cerita dari pimpinanya mereka terlihat begitu bersemangat. Sesaat kemudian mereka mulai bergerak. Sosok yang hendak mereka serang justru semakin asik dengan meditasinya.
Tanpa suara mereka mencoba membunuh sasarannya itu secepatnya. Beberapa puluh senjata rahasia melesat menerjang ke arah Geho sama sebagai serangan pembuka.
Slaaash! Slaaash!
Trang! Trang!
Namun sebelum senjata itu mengenai, Geho sama telah menangkis semua serangan itu dengan menggunakan tehnik perubahan es.
Tanpa merubah posisi samadhinya dia menebaskan air terjun yang menghujaninya. Air yang melesat itu berubah menjadi kristal es yang keras. Bahkan dapat menghantam balik semua senjata rahasia berupa belati kecil.
"Serang terus makhluk itu, jangan biarkan dia menjadi penghalang rencana kita untuk menghabisi bocah itu!"
Trang! Trang! Trang!
Kembali terjangan serangan berupa belati itu dengan mudah ditangkis dengan tehnik perubahan es oleh Geho sama. Air sungai yang berada disekitar dirinya dia gunakan sebagai alat untuk menangkis semua serangan jarak jauh.
"Jika tujuan kalian hendak menghabisi pemuda itu aku tidak akan menghalanginya! Pergi saja kalian menyusul. Dia hendak berburu ayam hutan!" Geho sama melotot ke arah orang-orang yang mengepungnya.
Sebenarnya dia cukup terkejut dengan kemampuan musuh yang sempat dia baca praktik tenaga dalamnya. Sebab seingat dia, para jagoan yang ada di negeri bawah tanah yang paling kuat adalah tingkat sakti, yaitu La Tongeq sakti.
Tetapi dihadapannya ada satu orang yang memiliki praktik tenaga dalamnya sudah setara dengan pendekar tingkat surga.
"Jangan ganggu samadhiku. Jika tidak, kalian akan menyesalinya!"
Dengan tehnik perubahan es miliknya, maka seluruh air terjun dan aliran sungai itu langsung berubah menjadi es.
Mereka terlihat tertegun dengan peristiwa yang terjadi begitu cepat. Mereka begitu takjub dengan tehnik perubahan es yang diperlihatkan Geho sama. Pemimpin kelompok itu terlihat ragu mendengar perkataan Geho sama yang berjanji tidak mengganggu jika mereka hendak membunuh Suro.
Namun beberapa saat kemudian lelaki itu memberi tanda untuk meneruskan perjalanan mengejar Suro dan Luh Niscita. Mereka memilih membiarkan Geho sama, walaupun mereka tetap waspada dengannya.
Tetapi melihat mereka telah mulai beranjak meninggalkan dirinya, maka air terjun dan sungai kembali berubah menjadi air yang mengalir. Bahkan matanya kembali terpejam meneruskan samadhinya.
'Kalian ingin menghadapi bocah sinting itu, sama saja mencari kuburan sendiri' satu senyum kecil terlihat diujung bibir Geho sama sebelum kembali tenggelam dalam samadhinya.