SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 341 Menyusul Ke Negeri Atap Langit



"Siapa dia kakang?"


"Dia Luh Niscita?"


"Luh Niscita perkenalkan ini yang pernah aku sebut waktu itu yang bernama Mahadewi."


Suro yang muncul di kediaman Kolo weling membuat Mahadewi bergembira sekali, dia hendak menunjukan penguasaan jurus sepuluh bilah pedang kepada Suro. Namun melihat ada dara yang begitu cantik bersama Suro, dia lalu mengurungkan niatnya.


Wajahnya langsung berubah cemberut dan tidak ada senyum sama sekali.


"Ooooo...iya kakang. Aku ingat bukankah Mahadewi yang kakang sebut mirip seperti Batari Durga itu ya?"


Suro mulai menggaruk-garuk kepalanya mendengar ucapan Luh Niscita.


"Cantik justru, tetapi mengapa kakang menyebut Batari Durga?"


'Deg...mati aku,' Suro mulai tersenyum lebar ke arah Mahadewi yang mulai melotot.


"Bukan, maksud kakang bukan Batari Durga tetapi Dewi Uma pasangan dari Batara guru sebelum berubah menjadi Batari Durga. Adinda Niscita salah mendengarnya," Suro mencoba meralat ucapan Luh Niscita.


"Oooooo...sekarang memanggilnya dengan adinda juga?"


"Iya biar nanti kakang Suro terbiasa dengan sebutan itu, jika berniat hendak meminangku


."


"Ssssssssttt...jangan berbicara yang macam-macam Luh Niscita." Buru-buru Suro membungkam mulut wanita itu untuk tidak melanjutkan ucapannya dengan kode satu jarinya menyilang didepan bibirnya.


"Paman Kolo weling antar Luh Niscita ke kediaman yang berada diatas bukit. Biarkan dia beristirahat."


Kolo weling yang membawa serta Maung menganggukkan kepala.


"Waoooouuwww makhluk lucu sekali siapa namanya..." Melihat Maung yang begitu garang justru tertarik dan mendekat tanpa rasa takut. Dan anehnya harimau sebesar sapi itu terlihat menurut tidak menunjukkan sifatnya yang garang.


Suro melihat itu cukup terkejut. Sebab biasanya Maung akan bersikap buas jika bertemu dengan orang baru.


Dia hanya menggaruk-garuk melihat Maung bisa menerima Luh Niscita, seakan sudah mengenalnya cukup ramah dan terlihat begitu jinak saat dara itu mengelus-elus lehernya.


"Mengagumkan sekali baru pertama kali aku melihat Maung dapat akrab dengan orang baru seperti denganmu," Kolo weling berdecak kagum melihat kemampuan Luh Niscita mampu membuat Maung menjadi terlihat begitu penurut.


"Luh Niscita, siapa dirimu nisanak? Mengapa kamu bisa datang ketempat ini bersama kakang Suro?" Mahadewi bertanya dengan mata yang menyiratkan kemarahannya.


Suro mulai kasak kusuk melihat gelagat Mahadewi yang hendak tri Wikrama berubah menjadi Batari Durga.


Sebelum Luh Niscita menjawab Suro menyerobot dan mulai menjawab pertanyaan Mahadewi, sebelum dara yang kulitnya begitu putih berbicara tanpa dipilih terlebih dahulu susunan kalimatnya.


Penjelasan Suro terasa tidak memuaskan oleh Mahadewi, tetapi Suro sudah memberi kode kepada Luh Niscita untuk tidak menjawab.


Dara itu mengangkat bahunya sambil tersenyum manis kepada Suro. Tingkah Luh Niscita membuat Mahadewi semakin meradang dia melotot ke arah Suro.


Suro sendiri memilih melotot ke arah Maung, sebab hewan itu sepertinya mentertawakan dirinya yang tidak berkutik didepan Mahadewi.


"Ayo nimas Luh Niscita aku antar menuju tempat beristirahat." Kolo weling mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Luh Niscita meninggalkan tempat itu.


"Paman Kolo Weling tolong ajari Luh Niscita dengan ilmu pengobatan, dia punya bakat dalam ilmu tersebut."


Kolo weling menganggukkan kepala mengerti.


"Baik nakmas, jangan khawatir paman akan memandunya."


"Luh Niscita ini akan menjadi rumahmu selama Tinggal di Yawadwipa ini, jadi belajarlah menyesuaikan diri dengan kehidupanmu yang baru."


"Paman gunakan uang untuk Niscita, agar dia berbelanja pakaian yang sesuai dengan kondisi di daerah ini."


"Jangan khawatir mengenai hal itu."


Suro memilih pura-pura tidak mendengar ucapan Mahadewi.


"Selama kakang pergi menyusul eyang guru ke negeri atap langit sebaiknya dirimu belajar segala hal Niscita. Terutama tentang ilmu pengobatan. Paman Kolo weling disini adalah seorang tabib terkenal."


"Sebaiknya kamu belajar dengan baik, agar paman Kolo weling dapat terbantu dengan kehadiranmu."


"Tentu saja kakang, Luh Niscita akan berusaha melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan kakang. Jangan khawatirkan kondisi Luh Niscita disini, selama kakang pergi."


"Kakang juga jaga baik-baik ya, ingat adinda Niscita menunggumu disini." Luh Niscita tersenyum manis ke arah Suro sebelum pergi bersama Kolo weling.


Suro hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil memandang Luh Niscita yang selalu terlihat ceria, sebelum sebuah suara seperti petir.


"Kakang! Jawab sekali lagi siapa dara itu?"


"Dia Luh Niscita seperti yang sudah kakang ceritakan sebelumnya. Asal-usul dan alasannya ikut, juga sudah kakang ceritakan."


"Lalu mengapa dia selalu menyebut berkali-kali akan menjadi pendamping kakang?"


"Mengenai hal itu tanyakan saja sendiri padanya." Suro mengangkat bahu.


"Kakang..."


"Apalagi?"


"Kenapa kakang..."


Suro memilih tidak mendengarkan kicauan suara Mahadewi dan memilih menikmati minuman teh secang milik Kolo weling. Dia membiarkan dara yang ada didepannya terus berbicara panjang lebar.


"Rencana kakang akan pergi menyusul eyang Sindurogo pergi ke Negeri Atap Langit, Mahadewi harus ikut!"


Air yang hendak ditelan oleh Suro disemburkan kembali begitu mendengar kalimat terakhir itu.


"Kakang tidak bisa membawa adinda kesana, karena terus terang kakang juga tidak mengetahui negeri itu. Apalagi kakang juga tidak mengetahui musuh apa yang sedang menunggu.


Jadi sebaiknya adinda tetap menunggu disini saja. Karena perjalanan yang akan kakang lalui sangat berbahaya sekali."


"Tidak, pokoknya Mahadewi harus ikut titik..."


"Ini urusannya dengan guruku sendiri, jadi aku harus ikut membantu menyelamatkannya."


"Tapi.."


"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya Mahadewi harus ikut. Aku harus ikut menyelamatkan guruku. Apalagi selama ini Mahadewi terus berlatih pedang dari kakang. Apakah kakang ingin menjajal seberapa kuat kemampuan Mahadewi sekarang, agar aku bisa disebut pantas menemani kakang?"


"Tidak...tidak..tidak..cukup terima kasih. Kakang tidak melarang adinda untuk ikut."


'Aduuuh kenapa kepalaku pusing, justru lebih pusing dibandingkan saat aku menghadapi Dewa Kegelapan,' Suro membatin sambil mengurut dahinya.


Bahkan jidatnya yang sudah mulai memerah, sebab sejak tadi jidat itu terus ditepuk-tepuk. Kepalanya semakin bertambah pusing, karena perjalanan kali ini akan bertambah merepotkan bersama Mahadewi.


Sebelum memutuskan berangkat melakukan perjalanan menuju Negeri Atap Langit, Suro mencoba bertanya-tanya lebih lanjut kepada Dewa Pedang dan kepada yang lain, mengenai tempat yang sedang dituju gurunya dan juga Dewa Rencong.


Dari informasi yang dia kumpulkan dalam beberapa hari, dia mendapatkan informasi penting terkait keberadaan Batara Karang dinegeri tersebut. Kondisi itu semakin membuat Suro ketar-ketir dengan keselamatan gurunya dan juga yang lain.


Seperti yang telah diketahui sebelumnya jika Batara Karang kemungkinan telah mendapatkan kekuatannya yang sesungguhnya, seperti juga Dewa Kegelapan.


Apalagi diketahui jika Dewa kegelapan setelah tidak berhasil mendapatkan kekuatan miliknya secara penuh, dia kemudian memilih membinasahkan para makhluk kegelapan dan juga hawa kegelapan yang masih tersisa.


Setelah semua siap, dia bersama Mahadewi akhirnya lenyap dari pandangan mata mereka semua.


"Aduuuh..!"


Luh Niscita tidak lupa sebelum Suro menghilang memberikan ciuman jarak jauh kepadanya. Akibatnya satu kepalan tangan dari dara disebelahnya menghantam kepalanya.