
Berjarak sejauh sekitar empat belas lie dari pertarungan Dewa Pedang, sebuah rombongan pasukan dari Kerajaan Kalingga terpaksa berhenti. Hal itu dikarenakan serangan dari bangsa siluman yang datang dalam jumlah besar. Beruntung saat itu Dewa Rencong sedang sakit kepalanya karena Suro selalu memangil dirinya dengan panggilan paman Maung.
Beberapa prajurit telah menjadi mangsa para siluman kera. Sebagian para siluman itu segera kabur menjauh dari jangkauan Dewa Rencong yang sedang mengamuk.
Para punggawa segera bergerak melindungi Mahapatih Lembu anabrang. Mereka tidak akan membiarkan para siluman melukai panglima perangnya.
Suro yang melihat para siluman itu kabur, segera bergerak mengejarnya. Karena siluman itu bergerak menjauh hanya untuk kembali mencari tumbal lain.
"Tidak akan aku biarkan kalian kabur dari amukan paman Maung lalu mencari mangsa lain!" Jurus Tapak Dewa Matahari milik Suro langsung menghajar tubuh para siluman.
Beberapa siluman dapat langsung dihabisi sebelum memakan korban yang lebih banyak. Satu siluman kera berhasil kabur dari terjangan serangan jurus yang Suro kerahkan.
"Awas paman prajurit ada siluman kera yang akan menyerang kalian!" Suro berteriak bersama lesatan tubuh siluman kera yang berubah menjadi asap dan terbang ke arah barisan pasukan Kerajaan Kalingga.
Siluman itu alih-alih kabur justru kini menyerang ditengah-tengah barisan para prajurit. Para prajurit dibuat kalang kabut dengan serangan siluman yang mendadak hadir ditengah-tengah mereka. Segera mereka menyelamatkan dirinya masing-masing dari serangan siluman yang tidak bisa dihentikan hanya dengan tombak-tombak dan pedang mereka.
"Mohon maaf paman!"
Agar bisa secepatnya sampai didepan siluman itu, Suro akhirnya terpaksa melewati para prajurit dengan menginjak tubuh mereka.
Braak!
Satu sapuan tangannya diiringi lesatan sinar yang langsung memutuskan tangan siluman kera yang hendak menelan kepala prajurit yang sudah berada didepan mulutnya.
Serangan Suro berikutnya langsung mengakhiri riwayat siluman itu, setelah dibelah menjadi dua bagian.
"Awas diatas kalian siluman Wewe Gombel!" Suro kembali berteriak setelah melihat kepakan sayap siluman di udara berada sejauh lima tombak dari atas kepala para prajurit.
Dia kemudian langsung menghantamnya dengan jurus Telunjuk Dewa Mencari Kebenaran. Serangan itu juga akhirnya kembali mengakhiri siluman yang hendak menyerang para prajurit dari atas udara.
"Sebaiknya aku kembali kedepan, agaknya paman Maung terlihat kerepotan melawan para siluman yang hendak menghentikan pergerakan pasukan ini."
Para prajurit dibuat begitu terkesima saat melihat apa yang telah dilakukan Suro barusan. Mereka membiarkan tubuhnya dijadikan tumpuan Suro untuk berlari cepat ke arah depan.
Di bagian ujung pasukan, terlihat Dewa Rencong berjibaku melawan seluruh siluman yang datang. Dia melawan siluman itu hanya seorang diri. Pasukan Kalingga tidak mampu berbuat apa-apa, karena jika mereka mendekat hanya akan membebani Dewa Rencong. Selain itu serangan mereka juga tidak mampu melukai para siluman.
"Minggir kalian semua siluman sialan!" Dewa Rencong yang telah terbiasa dengan pengerahan Pedang langit dalam jangka waktu lama, telah menghabisi satu persatu siluman yang mencoba menyerang pasukan Kerajaan Kalingga.
"Mengamuklah paman Maung aku bantu dari sisi luar!" Suro berteriak dari kejauhan sambil berlari mendekat.
"Paman Maung matamu! Bocah gemblung sialan! Pendekar sekuat diriku dipanggil seorang bocah dengan panggilan sesuka jidatnya sendiri!" Dewa Rencong meruntuk sambil menghabisi setiap siluman yang berdatangan dari arah timur.
Suro yang telah sampai didekat Dewa Rencong segera mengerahkan jurus sepuluh Jari Dewa Mengguncang bumi. Serangan itu dipadukan jurus Pusaran Pedang Dewa membuat kumpulan siluman yang sedang mengeroyok Dewa Rencong langsung tamat riwayatnya.
Duuuuuuum!
Sebuah suara dentuman keras terdengar dari kejauhan membuat kaget semua orang dalam jarak yang begitu jauh. Bahkan Suro yang sedang menghabisi para siluman terhenti langkahnya.
"Suara apa itu barusan, paman?" Dia lalu teringat nasib kawan-kawannya satu perguruan. Terlihat dia begitu khawatir dengan nasib orang-orang yang sedang berada di Perguruan Pedang Halilintar.
Suro segera berkonsentrasi untuk memastikan asal suara dentuman barusan melalui getaran yang ada dipermukaan tanah. Kali ini dia merasakan getaran tanah menggunakan kedua telapak tangannya agar mampu menjangkau jarak yang sangat jauh.
"Bocah gemblung musuh ada didepan matamu!" Dewa Rencong yang sedang berhadapan dengan dua siluman tidak sempat untuk menyerang siluman yang ada didepan Suro. Siluman itu telah bersiap menghancurkan tempurung kepalanya.
Bldaaar!
Satu jari dari tangan Suro melesatkan sinar mendahului serangan yang akan dikerahkan siluman kera di depan matanya. Siluman itu terjengkang dua tombak dengan kondisi dada telah jebol.
"Paman gawat! Agaknya sudah terjadi pertempuran hebat disebelah timur. Aku khawatir dengan keselamatan orang-orang perguruan. Aku yakin paman mampu menghabisi tiga siluman itu sendirian. Mohon maaf paman, sebaiknya Suro secepatnya menujj kesana!"
Dewa Rencong yang mendengar teriakan Suro segera menganguk menyetujui dengan apa yang dikhawatirkannya.
"Serahkan saja apa yang ada disini padaku!" Dewa Rencong kemudian kembali sibuk menghabisi siluman yang masih tersisa.
Suro segera melesat menuju asal suara dentuman keras barusan. Tubuhnya langsung menghilang dalam sekejap diantara rimbun pepohonan hutan didepan mereka.
**
Pertarungan Dewa Pedang melawan para siluman masih berlangsung. Dia kali ini keliatan bertambah kerepotan, sebab kali ini dia mengahadapi lima siluman sekaligus.
Pedangnya yang terkenal tajam tak mampu sedikitpun melukai tubuh siluman ular yang beberapa kali hendak menggulungnya.
Luka-luka dari serangan siluman mulai menghiasi di beberapa bagian tubuhnya. Kombinasi serangan siluman yang mengeroyoknya sangat sulit dia hindari. Serangan balasan yang dia lakukan juga tidak terlalu berarti. Bahkan serangan api dari siluman Banaspati membuat beberapa bagian ujung pakaiannya telah hangus terbakar.
Sebuah sabetan ekor ular raksasa melemparkan tubuhnya menghantam tanah dengan keras.
"Mampus kau manusia!" Teriakan siluman Trenggiling yang dengan sengaja melontarkan tubuhnya keatas berubah menjadi semacam bola yang siap menghancurkan tubuh Dewa Pedang. Dipermukaan bola itu penuh dengan pedang-pedang yang berasal dari sisik terluarnya.
Dia hendak menghantamkan tubuhnya yang telah berubah menjadi bola berduri itu ke tubuh Dewa Pedang yang masih tergeletak ditanah. Entah kenapa Dewa Pedang tidak segera bangun, padahal serangan maut sebentar lagi akan menghancurkan tubuhnya.
Blaaar...!
Sebuah lesatan sinar yang begitu mengerikan menghantam tubuh trenggiling besi, membuat tubuh siluman itu langsung meledak.
"Jurus Tapak Dewa Matahari!" Dewa Pedang yang melihat penampakan jurus barusan terkejut dan berseru tanpa sadar.
Pedang iblis yang mendengar perkataan Dewa Pedang segera menyadari bahaya yang lebih besar. Dia yang baru saja telah selesai memulihkan tubuhnya dan bersiap ikut menyerang Dewa Pedang menjadi terhenti.
'Setan alas Pendekar Tapak Dewa Matahari telah datang untuk memberi bantuan. Aku harus pergi secepatnya, mumpung Dewa Pedang sedang lengah.' Pedang iblis segera melesatkan tubuhnya untuk melarikan diri.
"Aku datang paman guru!"
Dia memukul sambil meledakkan energi tapak Dewa Matahari ditubuh siluman api. Hasilnya ledakan itu menghancurkan tubuh makhluk bajang berambut api itu, menjadi tak berbentuk lagi.
Suro masih sempat melihat kelebat sosok Pedang iblis yang sedang melarikan diri.
"Siapa tadi itu paman? Apakah sebaiknya aku mengejarnya?"
"Biarkan saja, dia bukan lawanmu untuk saat ini."
Dewa pedang yang terluka dalam hanya membiarkan Pedang iblis yang telah menghilang dari pandangan. Dia masih terkejut dengan penampakan Jurus Tapak Dewa Matahari yang dikerahkan Suro.
Dewa Pedang masih seakan tidak mempercayai Suro mampu mengerahkan ilmu itu seperti yang dilakukan Eyang Sindurogo.
"Lelaki itu sangat kuat, meskipun tangan kanannya telah aku buntungi. Sementara waktu kita biarkan dahulu. Kita akan mengurusnya di lain waktu saja. Walaupun seharusnya kita tidak boleh membiarkan manusia seperti dirinya hidup lebih lama. "
"Tetapi sekarang ada hal yang lebih penting dibandingkan mengurusi orang seperti dirinya. Kita harus kembali ke Perguruan Pedang Halilintar secepatnya. Mereka sedang bertarung melawan pasukan Medusa."
Suro yang mendengar perkataan Dewa Pedang terlihat menganguk-angukan kepala sambil menatap seluruh area bekas pertempuran. Dia begitu terkesima dengan kehancuran yang telah dibuat.
Suro sudah bisa membayangkan seberapa dahsyat pertempuran yang telah terjadi barusan. Apalagi sampai menimbulkan suara dentuman yang begitu keras, tentu sebuah kekuatan yang sangat besar.
Saat melihat-lihat kehancuran bekas pertempuran tanpa sengaja Suro melihat bilah pedang milik Pedang iblis.
"Bilah pedang itu sepertinya sangat bagus sekali, paman?" Suro menunjuk ke arah bilah pedang milik Pedang iblis yang tidak sempat dia ambil kembali. Agaknya nama Pendekar Tapak Dewa Matahari telah membuat tokoh golongan hitam itu sangat ketakutan.
Dewa Pedang menoleh ke arah bilah pedang yang ditunjuk Suro. Bilah pedang itu kemudian dia pungut.
"Aura jahat dari benda ini terlalu kuat, apakah ini tidak akan membahayakanmu nakmas? Aku takut pedang ini akan merasukimu."
"Sebentar paman boleh aku memegangnya?"
Dewa Pedang memberikan pedang itu kepada Suro. Aura jahat dari bilah pedang yang haus darah langsung terasa saat Suro memegangnya.
"Benar paman bilah pedang ini memiliki aura yang begitu jahat. Tetapi asal pedang ini tidak dipegang orang yang sejenis dengan paman Maung, aku rasa tidak akan menjadi masalah."
"Paman Maung? Siapa yang nakmas maksud dengan paman maung?" Dewa Pedang memincingkan matanya mendengar Suro menyebut paman Maung. Seingat dia nama Maung adalah peliharaan Eyang Sindurogo yang berwujud harimau taring pedang yang besarnya seperti sapi dewasa.
"Hehehe...sebenarnya itu panggilan Suro untuk Pendekar Dewa Rencong." Suro tertawa sambil mengaruk-garuk kepalanya.
Dewa Pedang hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala mendengar perkataan Suro. Dia tidak mengira hubungan Suro sudah sebegitu dekatnya, sehingga berani memangil seorang Pendekar Dewa Rencong dengan panggilan yang terasa asal-asalan itu.
Dia juga tidak menyangka Suro bisa membuat seorang Pendekar Dewa Rencong yang orangnya sulit untuk didekati bisa cepat akrab dengan dirinya.
"Baiklah nakmas, kita sebaiknya segera menuju ke Perguruan Pedang Halilintar, secepat yang bisa kita lakukan."
Dewa Pedang yang hendak melangkahkan kakinya mendadak ambruk. Dia tidak menyadari bahwa kekuatannya telah terkuras habis. Kekuatan para siluman yang telah mengeroyoknya barusan, semakin membuat parah kondisi tubuhnya yang memang sudah terluka dalam.
"Paman guru!" Tangan Suro segera menahan tubuh Dewa Pedang.
"Apakah paman guru baik-baik saja?"
"Hanya luka ringan saja nakmas. Tanpa paman sadari sepertinya tenaga dalam paman sudah terkuras habis. Para siluman itu terlalu merepotkan. Kekuatan mereka tidak seperti para siluman yang biasa aku hadapi."
"Salah satunya raja siluman paman, aku bisa merasakan kekuatannya yang begitu besar."
"Tetapi seharusnya paman guru bisa menghabisi mereka?"
"Pedangku tidak mampu melukai mereka nakmas."
"Kenapa paman guru tidak menggunakan pedang cahaya pada tahap langit? Seperti paman Maung dia meniru sinar chakra dari tehnik Tapak Dewa matahari milik Eyang guru dengan menggunakan pedang cahaya. Dan itu memang benar terbukti paman guru. Tetapi untuk membunuh siluman trenggiling seperti yang tadi, paman Maung biasanya menggunakan pedang cahaya yang pancaran chakranya berwarna biru dan putih."
"Benarkah itu nakmas? Mengapa aku tidak sampai terpikir sejauh itu? Andai saja hal ini aku ketahui sejak awal tentu akan berbeda ceritanya."
Suro menganguk menjawab pertanyaan Dewa Pesang, kemudian dia mengeluarkan obat dari botol kecil yang ada dipinggangnya.
"Ini, minumlah paman obat ini akan cepat memulihkan tenaga dalam paman. Sekaligus menyembuhkan luka dalam jika memang tidak terlalu parah."
Dewa Pedang segera menelan obat yang diberikan Suro. Setelah itu khasiat obat yang baru saja ditelannya segera memberi reaksi cepat.
"Sebaiknya nakmas duluan, bantu mereka menghadapi pasukan Medusa! Aku akan menyerap khasiat dari obat ini dan memulihkan tubuhku terlebih dahulu. Tidak ada gunanya juga, jika aku masih dalam kondisi seperti ini."
"Jangan khawatir obat ini akan mengembalikan seluruh tenaga dalam paman sampai pada kondisi puncak paman."
"Tetapi benar paman tidak ada masalah? Jika aku tinggal sendirian? Takutnya musuh akan menyerang paman selagi bersamadhi!"
"Aku akan baik-baik saja nakmas. Jangan khawatirkan diriku, aku masih bisa melindungi diriku sendiri. Silahkan nakmas segera menolong orang-orang yang ada di Perguruan Pedang Halilintar!"
"Sendiko dawuh paman guru!"
Suro segera melesat meninggalkan Dewa Pedang yang mulai menyerap khasiat obat yang barusan dia telan.
**
Terima kasih yang masih setia membaca novel ini tetap ditunggu dukungannya.
Terima kasih untuk semua yang telah memberikan dukungan berupa saran, poin, like dan koin.
Suwun