
Pertarungan antara Asoka melawan Mahesa semakin dahsyat mereka terus bertukar jurus.
Meskipun Asoka terus diserang dengan dahsyat oleh Mahesa tetapi pendekar pedang itu tidak mau menyerah. Justru berkat kemampuan ilmu pedangnya, jurus pedang lawan dapat dia patahkan. Bahkan keenam pedang Mahesa masih tersebar disekitar arena pertarungan. Hal itu terjadi setelah pedang-pedang itu ditangkis dan terlempar cukup jauh dari Mahesa, sehingga terlepas dari pengendalian pemiliknya.
Setelah berhenti beristirahat mengambil nafas Asoka kembali memulai serangan ke arah Mahesa. Mahesa hanya tersenyum melihat lawannya telah pulih dan mulai menyerang dirinya.
"Hahahaha...! Tak perlu sungkan kisanak! Aku dari tadi memang menunggu nafasmu yang sudah kembang kempis itu pulih!"
Jurus pedang ganda milik Asoka dihadapi oleh Mahesa dengan menggunakan satu bilah pedang yang ada ditangannya.
Mereka kembali melanjutkan pertarungan, meski saat ini Mahesa melayani serangan Asoka dengan satu bilah pedang ditangannya. Sambil bertarung Mahesa terus berusaha mengambil seluruh bilah pedang miliknya yang masih tersebar di sekitar arena setelah terlempar oleh kuatnya tangkisan Asoka.
Kemudian setelah beberapa saat, akhirnya Mahesa berhasil mengendalikan kembali seluruh tujuh bilah pedang miliknya. Ketujuh bilah pedang yang sebelumnya tersebar di sekitar lantai arena, lalu digunakan untuk menyerang Asoka.
"Awas dibelakangmu Asoka!"
Teriakan dari para murid Perguruan pusat terdengar begitu riuh memperingatkan Asoka.
Trang..! Trang...! Trang
Tanpa peringatan dari mereka, Asoka sudah merasakan dan mendengar semacam suitan benda yang terbang ke arahnya. Asoka segera membalikkan badannya sambil menangkis serangan dari arah belakang. Serangan keenam bilah pedang berhasil dia tangkis semua.
"Hahahaha.....! Itu untuk pemanasan kisanak!" Mahesa tersenyum setelah ketujuh pedangnya berhasil dia kendalikan kembali.
Satu bilah pedang masih dalam gengamannya. Secara serentak dia kembali menyerang Asoka. Keenam bilah pedang miliknya ikut menyertai serangannya.
"Jurus Pusaran Pedang Dewa !"
Mendapatkan serangan dari berbagai arah Asoka kemudian mengerahkan jurus bertahan. Jurusnya itu seperti bentuk sebuah pusaran.
Jurus Pusaran Pedang Dewa merupakan salah satu jurus dalam Kitab Dewa Pedang. Jurus itu memiliki pola bertahan tetapi dalam satu waktu juga menyerang dengan dahsyat.
Tetapi setiap jurus memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Seperti juga Pusaran Pedang Dewa memiliki kelemahan juga. Mahesa yang telah mempelajari kitab Dewa Pedang sampai tahap pamungkas tentu juga paham kelemahan dari jurus yang digunakan Asoka.
Ada satu titik buta yang tak terjangkau putaran pedang. Tetapi titik tersebut juga tidak bisa dijangkau musuh meski dikelilingi dari segala penjuru. Kecuali lawannya berada diatas kepalanya dan menusuk pada saat yang tepat.
Kelebihan jurus Mahesa adalah dia bisa membuat pergerakan pedangnya begitu leluasa. Sehingga gerak pedangnya tidak dibatasi oleh gerakan tubuh. Dengan kelebihan itu memungkinkan Mahesa melakukan serangan yang mampu menjebol jurus Asoka.
Jurus Asoka yang begitu dahsyat tidak membuat Mahesa melangkahkan kakinya mundur meski satu langkah. Tangan kanannya yang memegang satu bilah pedangnya bergerak cepat hendak menjebol pertahanan lawannya.
Dalam waktu bersamaan keempat bilah pedangnya yang terbang meluncur dari tempat yang tinggi melesat hendak menghajar kepala Asoka.
Serangan Mahesa barusan berhasil menghancurkan jurus Asoka. Dia segera berkelit menghindari serangan Mahesa.
Mahesa merasa diatas angin terus mengejar Asoka.
"Hahahaha....! Kemampuanmu lumayan kisanak! Sangat menyenangkan memiliki lawan yang seimbang. Di perguruan cabang sangat susah mencari lawan yang sebanding!"
'Sialan! Dia menganggap ini hanya seperti latih tanding.' Asoka hanya bisa meruntuk kesal dalam hati mendengar ucapan Mahesa barusan.
Pertarungan mereka begitu sengit. Beberapa kali Asoka mampu membalas menyerang. Tetapi serangan balasan Mahesa benar-benar membuat Asoka kerepotan. Meskipun begitu semua serangan Mahesa juga dapat dia patahkan kembali.
Kembali lagi Mahesa menyerang Asoka dengan ketujuh bilah pedangnya.
"Pusaran Pedang Dewa!"
Tetapi ada perbedaan dalam penggunaan tehnik kali ini. Sebelumnya Asoka mengunakan jurus ini dijadikan sebagai perisai dari serangan segala arah. Maka oleh Mahesa dia gunakan untuk membentuk pusaran pedang yang mampu mengurung Asoka.
"Ribuan Kepakan Sayap Pedang Menari!"
Asoka segera mengelar jurus bertahan untuk melawan kungkungan pedang Mahesa. Delapan puluh jurus sudah mereka lewati. Kondisi stamina Asoka sudah mulai menurun. Berbeda dengan kondisi Mahesa yang memiliki tenaga badak itu seakan belum berkurang.
Kepungan pedang milik Mahesa begitu rapat dan cepat sehingga terasa seakan mengulung tubuh Asoka. Bahkan para penonton kesulitan melihat jelas bagaimana Asoka melayani pedang yang berputar menyerangnya.
"Aaaakkhh.....!"
Teriakan Asoka terdengar membuat wasit segera mendobrak serangan Mahesa. Membuat semua pedang Mahesa terlempar menjauh. Mahesa juga langsung menghentikan serangannya dan mendekati Asoka.
Di terduduk dengan satu dengkulnya menyentuh lantai. Dua bilah pedangnya masih dalam genggamannya dia jadikan tongkat penyangga badannya. Sebuah luka dibahunya menyobek agak panjang.
"Kau tidak apa-apa kisanak?"
Suara Mahesa dengan sedikit khawatir sambil melangkah mendekati Asoka.
Asoka hanya bisa tersenyum kecut seakan sudah melihat hasil akhir dari pertarungan yang begitu melelahkan.
Pendarahan Asoka segera dihentikan secepatnya dan diberikan pertolongan pertama.
Wasit segera mengumumkan hasil pertarungan yang dimenangkan Mahesa.
**
Setelah pertarungan sesi ketujuh selesai, maka sesi berikutnya telah menunggu. Peserta sesi kedelapan terdengar telah dipanggil.
"Sesi kedelapan pertarungan antara Azura melawan Anum panji!"
Azura berasal disuatu perguruan cabang, yaitu Perguruan Pedang Bayangan yang berada diwilayah Kerajaan Tarumanegara. Dia adalah murid utama yang disegani karena dia digadang-gadang sebagai calon ketua perguruan selanjutnya. Ketua perguruan yang telah tua sebelum meninggal telah menurunkan semua ilmunya kepada murid utamanya ini.
Perguruan itu berdiri di dekat kota kerajaan Tarumanegara yang bernama Sundapura. Suatu daerah yang mengalir sungai besar yang bernama sungai Chandrabhaga. Chandra berarti bulan. Kata Chandra dalam bahasa Jawa kuno sering disebut sasi. Bhaga artinya bagian. Jadi Chandrabhaga berarti bagian dari bulan.
Selain itu Sundapura diapit dua aliran sungai besar lainnya yang bernama sungai Citarum dan sungai Cihaliwung. Sundapura tersebut termasuk kota kerajaan yang berada di daerah pesisir pantai utara.
Tempatnya yang strategis dijadikan kota kerajaan Tarumanegara sejak pertama kali didirikan setelah menguasai kerajaan yang lebih dahulu berdiri yaitu kerajaan Salakanagara. Kerajaan Salakanagara berdiri dikota raja yang bernama Kota Rajatapura atau kota perak yang kemudian hari disebut merak.
Tarumanagara yang didirikan tahun 358 Masehi oleh Maharesi yang berasal dari Salankayana suatu daerah di India. Maharesi itu bernama Rajadirajaguru Jayasinghawarman. Raja Jayasinghawarman memimpin pelarian keluarga kerajaan yang berhasil meloloskan diri dari musuh.
Dari Salakayana mereka kemudian mengungsi ke Nusantara karena kerajaannya diserang oleh Kerajaan Magada yang dipimpin oleh Raja Samudragupta.
Setelah mendarat di Nusantara yang sebelum terusir mereka memang memiliki hubungan diplomatik dengan kerajaan Salakanegara. Maharesi Jayasinghawarman kemudian mendirikan Kerajaan Tarumanegara di daerah Sundapura. Dengan berjalannya waktu justru Salakanegara menjadi kerajaan dibawah kekuasaan kerajaan Tarumanegara.
Di sekitar kota kerajaan Sundapura itu pula kemudian berdiri suatu Perguruan yang bernama "Perguruan Pedang Bayangan." Nama perguruannya yang masyur itu diberi nama sesuai jurus andalan yang mereka miliki. Kemampuan mereka memanipulasi gerakan serangan mereka membuat seolah jumlah mereka menjadi banyak. Sehingga pergerakan serangan mereka terdistorsi dengan bentuk pecahan tubuh lain yang menyerang dari berbagai sisi.
Sebuah tehnik ilusi kelas tinggi yang didapat dari seorang ahli sihir yang berasal dari india. Tehnik itu kemudian oleh seorang ahli pedang yang menjadi pendiri perguruan, digabung dengan tehnik pedang. Membuat serangan mereka begitu mematikan karena lawannya tidak akan mampu mengantisipasi arah datangnya serangan.
Tehnik ilusi ini juga didukung ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Ilmu meringankan tubuh itu untuk mendukung pergerakan tubuh mereka yang cepat berpindah tempat sehingga mampu membuat seolah mereka benar-benar menjadi banyak.
Perubahan jurusnya begitu banyak dan cepat. Membuat tehnik ini begitu susah diperediksi. Kecepatan dan perubahan pola serangan yang dapat berubah dengan cepat. Ditambah tehnik ilusi dari ilmu sihir, membuat tehnik ini begitu masyur dikenal sebagai "Tehnik Pedang Bayangan."