SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 329 Hancurnya Segel Dewa part2



Tubuh Suro setelah menyerap kekuatan sebegitu banyaknya mengalami pembengkakan disekujur tubuhnya. Urat nadi disekujur tubuhnya mengembang dengan begitu mengerikan. Semua menonjol, karena memang penuh dengan kekuatan yang mampu menghancurkan bumi.


Erangan kesakitan yang keluar dari mulut Suro terus terdengar. Kondisi itu sudah menggambarkan betapa mengerikan rasa sakit yang ditanggung oleh Suro. Sebab tubuh Suro sekarang tak ubahnya seperti seekor ikan buntal, menggembung dengan begitu besarnya.


Kondisi Suro dalam keadaan kritis tidak berdaya. Ibarat hanya untuk mengusir nyamuk yang mengganggunya saja, dia tidak sanggup. Apalagi hendak melawan Dewa Kegelapan yang mulai berjalan ke arah dirinya.


Tanpa diketahui oleh Dewa Kegelapan seluruh urat nadinya yang mengembang dengan sedemikian besar selain telah membuat dirinya dalam kondisi antara hidup dan mati, tetapi justru kondisi seperti itu juga telah membuat seluruh saluran nadi dalam tubuhnya terbuka dengan sangat lebar.


Bahkan tidak ada manusia yang mampu membuka seluruh nadinya dengan sedemikian lebar. Entah itu termasuk berkah atau musibah bagi Suro, sebab tubuhnya kini bisa dikatakan dalam kondisi yang kritis.


Meskipun begitu setelah seluruh saluran nadi dalam tubuhnya terbuka dengan sangat lebar, maka terjadilah perputaran sirkulasi energi disekujur tubuhnya berubah menjadi sangat lancar.


Selain itu Suro yang dalam kondisi kritis itu masih berusaha mempertahankan kesadarannya. Dia teringat satu tehnik yang kemungkinan saja dapat menyelamatkan jiwanya. Dia segera mengerahkan tehnik sembilan putaran langit yang telah lama dia kuasai.


'Beruntung aku masih perjaka, sepertinya nyawaku dapat tertolong.'


Dewa Kegelapan yang berjalan santai menghampiri Suro berubah raut mukanya, dia segera menyadari Suro sedang berusaha menstabilkan kekuatan yang berhasil dia serap.


"Kurang ajar, kau ternyata hendak mengolah kekuatan milikku, jangan bermimpi aku mengijinkanmu melakukan itu!"


Melihat hal itu dia segera bergegas melesat hendak menghabisi Suro secepatnya dengan serangan terdahsyatnya.


Kurang dari satu kedipan mata serangan milik Dewa Kegelapan berhasil menghantam Suro, mendadak dia merasakan sebuah aura kekuatan yang begitu mengerikan melesat menuju ke tempat tersebut.


Bahkan Dewa Kegelapan yang telah berhasil menyerap lebih dari enam puluh persen kekuatan sejatinya sekalipun, menganggap, jika aura kekuatan yang melesat dengan sangat cepat itu, adalah sebuah kekuatan yang sangat mengerikan.


Sepertinya dia mengetahui siapa pemilik aura kekuatan begitu besar yang mendadak mendekat ke arahnya.


Sebelum aura kekuatan itu sampai, secepat kilat Dewa Kegelapan berusaha mendahuluinya dan menyarangkan serangan miliknya ke arah Suro.


Dia tidak tanggung-tanggung untuk menghabisi tubuh Suro, dia menggunakan lima belas persen dari seluruh kekuatan miliknya yang baru saja dia dapatkan kembali, dalam serangan kali ini.


Seharusnya dengan kekuatan barunya itu, serangan tersebut sudah sangat mengerikan. Bahkan dengan percaya diri serangan itu sanggup memusnahkan tubuh lawannya tanpa sisa. Apalagi saat ini Suro dalam keadaan tak berdaya.


Suro sudah pasrah melihat Dewa Kegelapan menghantamkan serangannya yang begitu dahsyat. Matanya yang melotot seakan mau keluar karena tekanan kekuatan dalam tubuhnya hanya menatap pasrah ke arah serangan yang akan menghantam dirinya.


Karena itu, hal yang bisa dia lakukan sekarang adalah berdoa. Dia komat-kamit dalam hati berdoa kepada Sang Hyang Nata Jagat, agar terlindungi dari bahaya besar yang sebentar lagi akan menghantam tubuhnya.


Duuuuuuum...!


Suara menggeleggar dari dalam piramid begitu kuat menghantam. Getaran itu bahkan melanda kesegala arah merambat keluar dari dalam piramid. Beruntung saja saat jurus milik Dewa Kegelapan itu meledak masih berada didalam piramid hitam.


Sehingga dahsyatnya ledakan kekuatan itu masih dapat diredam oleh gunung piramid. Karena memang gunung piramid itu memiliki kemampuan meredam kekuatan Dewa Kegelapan, walaupun pada akhirnya tidak semua kekuatan ledakan itu dapat diredam.


Serangan dahsyat itu lalu menghantam Suro dengan begitu telak. Namun seberkas kekuatan yang sebelumnya disadari kedatangannya oleh Dewa Kegelapan ternyata mampu mendahului kecepatan serangannya dan berhasil melindungi tubuh Suro.


"Kurang ajar, hanya dengan aura kekuatannya saja dia mampu menahan seranganku. Padahal aku telah menyerap kekuatan sejatiku! Ini pasti kekuatan leluhur para dewa!"


"Kurang ajar, dengan aura kekuatannya, dia hendak melindungi bocah ini!"


"Kau sungguh beruntung bocah, hari ini aku tidak memiliki kesempatan menghabisimu, tetapi tidak hari lain! Apa yang menjadi milikku akan tetap menjadi milikku! Aku akan mengambilnya lain waktu!"


'Ternyata dia benar-benar datang untuk melindungi bocah ini, tidak salah lagi pasti bocah ini adalah Pangruwat dewa.'


Melihat serangan miliknya tidak mampu menembus kekuatan pelindung yang melingkupi Suro, membuat Dewa Kegelapan semakin yakin, jika pemilik kekuatan itu adalah sosok yang dia kenal.


Dia kemudian segera bergegas meninggalkan tempat tersebut. Dia melesat menghilang tanpa menoleh lagi. Bahkan meninggalkan Suro yang masih dilindungi kekuatan yang sangat menyilaukan mata itu.


"Kurang ajar, kekuatan dewa ini memang miliknya! Beruntung hanya esensi kekuatannya yang datang. Jika dia datang langsung, maka tamat sudah riwayatku! Aku yang sekarang bukan tandingan leluhur dewa ini!"


"Dari pada mengurusi bocah itu, sebaiknya aku memulai sesuatu yang lebih penting."


"Tetapi sialan memang, pasti kekuatan itu yang menghalangi mata nujumku. Sehingga menghalangi diriku untuk dapat membaca kejadian ini. Aku masih tidak percaya jika bocah ini berhasil mengganggu rencana awalku sampai sejauh ini."


"Tetapi ini hanya gangguan kecil, aku akan tetap melanjutkan rencana awalku setelah berhasil membebaskan kekuatan sejatiku, yaitu menyerang Khayangan Jongringsalaka."


"Tetapi sebelum aku melakukan hal itu, aku harus melakukan beberapa hal untuk mempersiapkan rencana itu. Salah satunya adalah mendapatkan dukungan dari Batara Kala dan Batari Durga. Selain itu aku harus mampu menghidukan kembali jiwa dari makhluk yang pernah memiliki pedang Chandrahasa."


'Selain itu aku harus mendapatkan terlebih dahulu kunci pintu gerbang khayangan. Dengan kunci itu aku mungkin memiliki kesempatan untuk membuat dua bedebah itu mau bergabung denganku ikut serta menghancurkan Kahayangan Jongring salaka.'


'Semoga saja Batara Karang mendapatkan apa yang aku perintahkan untuk mencarinya.'


'Sekarang aku harus mencari tempat untuk menyerap seluruh kekuatanku secara sempurna. Selain itu, kini saatnya aku memanen seluruh makhluk kegelapan yang ada di alam ini.'


'Memang tidak salah apa yang direncanakan Batara Karang, jika para makhluk yang telah menyerap hawa kegelapan milikku pada akhirnya memang akan membantuku memperkuat kekuatanku.'


"Para makhluk kegelapan itu akan membantuku mengganti sedikit dari kekuatanku yang berhasil diambil bocah sialan itu"


"Aku harus terus memperkuat kekuatanku. Ini sebagai bekal bagiku untuk menuju rencanaku yang berikutnya, yaitu menyerang Khayangan Jongring Salaka."


"Jika dalam penyerangan itu berhasil, maka semakin besar kesempatanku dapat membebaskan jiwaku."


"Jika aku sudah dapat membebaskan, aku pasti mampu mengalahkan leluhur dewa itu!"


"Kekuatanku yang berhasil dicuri bocah itu masih dapat aku gantikan dengan menyerap kekuatan makhluk lain. Jika aku berhasil menyerap kekuatan seorang dewa, tentu sudah cukup untuk menggantikannya."


"Tetapi untuk sekarang aku akan menghabisi para makhluk kegelapan yang banyak berkeliaran. Mereka juga dapat membantu menguatkan kekuatan jiwaku."


"Rencanaku untuk menyerang Khayangan Jongring Salaka dan Khayangan Alang-Alang kumitir harus aku susun dari sekarang. Aku harus berhasil merebut kembali jiwaku yang sesungguhnya."