
"Racun Pelumpuh tulang ini ternyata berhasil melumpuhkanmu! Hahahaha...!"
"Hahahaha...!" Suro ikut tertawa melihat La Temmalureng tertawa puas.
Buuuk!
"Apa yang kau ikut tertawakan?" La Temmalureng menendang Suro cukup keras.
"Bunuh bocah ini!"
Serentak orang-orang yang berpakaian hitam segera menyerang Suro dengan menggunakan pedang mereka.
Trang! Trang! Trang!
Sabetan puluhan bilah pedang itu langsung menebas tubuh Suro. Namun mereka terkejut saat pedang itu menebas tubuh Suro, justru suara berdentang pedang seakan menghantam sebuah baja tebal.
"Kalian belum mengetahui kekuatanku secara keseluruhan, berani melawanku!" Suro yang masih terduduk sambil menyangga badannya dengan menggunakan tangannya. Dia hanya tersenyum sinis, saat mereka terkejut melihat tubuhnya tidak mempan ditebas dengan sebuah bilah pedang.
"Sombong sekali kau anak muda! Tubuhmu yang tidak berdiri itu bisa apa jika aku melakukan ini? Ha..?"
La Temmalureng kemudian merengkuh tubuh Luh Niscita dalam pelukannya.
"Sebaiknya paman lepaskan dia! Jika tidak, paman akan menyesalinya! Aku sudah cukup bersabar sampai sejauh ini!"
"Apa urusanku dengan kesabaranmu? Hahaha...!"
"Kalau aku melakukan ini kau juga bisa ap..."
Zraaat!
Braakk!
"Jangan salahkan aku jika bertindak kejam seperti ini, karena kalian yang memintanya sendiri!"
Suro lalu menelan beberapa pil ke dalam mulutnya.
"Kalian mengira sudah mampu meracuniku dengan racun seperti ini? Dewa Racun dari Daha saja dapat aku kalahkan dengan racunku, apalagi cuma racun seperti ini!"
Mereka semua terkejut dengan apa yang dilakukan Suro yang masih mampu menyerang dengan hanya menggerakan satu jari telunjuknya.
Mereka tidak berani menyerang maupun mendekati melihat Suro mampu menghabisi La Temmalureng meski dari jarak jauh. Apalagi setelah mengetahui pedang mereka sekalipun tidak mampu melukai tubuh Suro.
Mereka tidak mengetahui jika zirah Kavachalah yang melindungi tubuh Suro. Zirah Kavacha memang tidak muncul secara kasat mata, tetapi dengan tanpa memperlihatkan wujudnya saja sudah mampu melindungi serangan barusan.
Dengan tenang Suro kemudian bangkit dari duduknya, setelah meminum pill anti racun, pill tujuh bidadari dan juga sharkara Deva.
"Aku akan mengampuni nyawa kalian, jika kalian mau bercerita kepadaku apa yang membuat paman La Temmalureng sampai bertindak sejauh ini!" Suro menatap dengan tajam dan menyapu ke seluruh orang yang sedang mengepungnya.
Mereka terkejut melihat Suro mampu bangkit berdiri meski telah terkena racun pelumpuh tulang. Mereka mengira jika Suro telah memiliki penawarnya.
Apalagi sebelumnya dia melihat Suro menelan beberapa pill ke dalam mulutnya sebelum bangkit berdiri. Sesungguhnya efek racun itu masih bersarang, hanya saja dia berhasil menekannya.
Dia kemudian berjalan ke arah Luh Niscita. Tetapi dia lebih dulu memeriksa tubuh La Temmalureng yang kepalanya hancur terkena sinar dari jari telunjuknya barusan.
"Ah...akhirnya ketemu...apakah ini obat penawar racun pelumpuh tulang yang kalian gunakan?"
Pasukan yang mengepung terlihat ragu-ragu untuk menjawab. Mereka justru saling pandang.
"Jawab!"
"Be..benar tuan pendekar...tolong ampuni kami...kami akan menyerah asal nyawa kami diampuni oleh pendekar."
"Baik aku akan mengampuni kalian syarat pertama adalah kalian berikan racun dan juga penawar yang kalian miliki."
Mereka segera memberikan apa yang telah diminta oleh Suro.
Suro kemudian menyebar racun ke arah mereka. Tindakan Suro yang mendadak itu tidak mereka antisipasi sama sekali. Langkah mereka yang hendak melarikan diri juga telah ditutup oleh Suro.
Setelah semua dapat ditotok dan dilumpuhkan, mereka kemudian dikumpulkan menjadi satu.
"Kenapa tuan pendekar justru menyerang dan meracuni kami? Bukankah tuan pendekar akan mengampuni nyawa kami?"
Mereka yang dalam keadaan tertotok, akhirnya pasrah terkena racun pelumpuh tulang yang disebar ke arah mereka.
Setelah itu Suro melepaskan totokan mereka semua. Salah satu dari mereka diberikan penawar racun yang didapat dari mereka.
Melihat reaksinya Suro kemudian menelan penawar racun itu.
"Jadi sedari tadi dirimu sebenarnya masih terkena racun itu?"
Suro tertawa kecil setelah mereka telat menyadarinya.
"Meski aku masih terkena racun pelumpuh tulang, aku masih mampu menghabisi kalian semua!"
"Penawar racun dan sebagian racun milik kalian akan aku teliti, ini racun yang sangat berbahaya. Beruntung aku memiliki sharkara deva untuk menekan kuatnya efek yang diakibatkan racun pelumpuh tulang ini!"
"Bukankah tuan pendekar sudah mendapatkan penawarnya dan berjanji akan mengampuni nyawa kami?”
"Mengapa masih meracuni kami tuan pendekar?"
"Benar aku mengampuni nyawa kalian, tetapi kalian harus mencoba rasa dari racun ini. Selain itu aku harus memastikan keaslian penawar racun yang kalian miliki."
"Sekarang ceritakan kepadaku alasan apa yang membuat paman La Temnalureng melakukan tindakan seperti ini dan bagaimana caranya dia memiliki kekuatan tingkat surga ini?"
Salah satu orang yang paling dekat dengan Suro lalu mulai membuka suara.
Menurut lelaki itu pemberontakan yang sedang dilakukan La Temmalurang hanyalah puncak dari beberapa peristiwa yang telah terjadi sebelumnya.
Terutama berita tentang perjodohan Luh Niscita dengan Suro. Berita itu membuat hatinya terbakar seakan telah sampai puncaknya. Apalagi kabar itu sudah terlanjur menyebar keseluruh penduduk negeri bawah tanah.
Kabar itu menjadi sesuatu yang menghebohkan kepada semua orang. Kesempatan itu kemudian digunakan La Temmalureng untuk menghasut semua penduduk untuk menggulingkan La Tongeq sakti.
Meskipun para pemuda marah mendengar orang luar yang justru akan mempersunting Luh Niscita, tetapi mereka juga mengetahui jika kekuatan Suro terlalu kuat.
Karena itu mereka mencari cara agar rencana itu berhasil. Salah satu rencana yang mereka coba adalah menyerap kekuatan hawa kegelapan.
Mereka menggunakan sebuah metode yang dimiliki La Tongeq sakti. Gulungan bambu yang menjelaskan tentang tehnik itu telah disalin tanpa sepengetahuan pemiliknya.
La Temmalureng lah yang telah menyalinnya. Dia justru telah mencoba tehnik tersebut jauh sebelum yang lain di suruh mengikutinya.
Awalnya para pemuda itu tidak mempercayai, namun setelah memperlihatkan tingkat kekuatan miliknya yang selama ini dia sembunyikan, maka para pemuda itu langsung percaya.
La Temmalureng memang sejak lama terus berusaha meningkatkan kekuatannya, karena niat awalnya dia hendak mengalahkan La Tongeq sakti.
Hal itu dipicu oleh keinginannya untuk menikahi Luh Niscita ditolak mentah-mentah oleh La Tongeq sakti. Perbedaan kekuatan dengan pemimpin negeri bawah tanah itu, akhirnya dia memilih memendam rasa. Tetapi tidak berarti dia menghentikan keinginan untuk mempersunting Luh Niscita.
Karena memang jarak umurnya terlampau jauh. Dia yang sudah berumur lebih dari tujuh puluh tahun tentu jika dibandingkan Luh Niscita seperti seorang kakek dengan cucunya sendiri.
Walaupun jika secara kasat mata La Temmalureng masih berkisar umur seperti tiga puluhan kebawah. Tetapi La Tongeq sakti tetap tidak bisa menerima hal itu.
Padahal istri ketiga dari La Tongeq sakti jaraknya jauh dibandingkan La Temmalureng dengan Luh Niscita. Karena istri ketiganya masih berumuran sekitar duapuluh tigaan tahun saat dinikahi, sedangkan dia sendiri sudah berumur sekitar seratus tiga puluhan tahun lebih.
Setelah keinginannya untuk mempersunting Luh Nicita gagal, dari situlah awal rencana dia mencari cara untuk terus berusaha menembus tingkat kekuatan yang melampaui La Tongeq sakti.
Salah satu caranya adalah dengan menggunakan ilmu yang dia salin dari perpustakaan milik La Tongeq sakti. Ilmu itu mampu memperkuat diri dengan menyerap hawa kegelapan. Selain ilmu itu beberapa ilmu dia berhasil curi. Seperti ilmu yang dapat menyembunyikan praktik kekuatan untuk mengecoh lawan.
Dia mencuri ilmu itu sudah cukup lama, tanpa seorangpun yang mengetahuinya. Begitu juga dia sudah cukup lama melatih tehnik menyerap hawa kegelapan.
Jauh sebelum Suro datang ketempat itu. Walaupun La Temmalureng telah mempraktikkan ilmu menyerap hawa kegelapan cukup lama. Namun perkembangannya tetap tidak mampu secara cepat.
Selain karena dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi, dia juga menyerap hawa kegelapan tidak berani dalam jumlah besar. Dia menyerap dalam jumlah yang sedikit demi sedikit. Sebab dia tidak ingin dirasuki dan dikuasai oleh kekuatan itu sendiri.
Namun tanpa sadar semakin lama dia menyerap hawa kegelapan, maka ada hal buruk yang merasukinya, yaitu kondisi hatinya yang diracuni oleh hawa kegelapan. Sehingga hatinya terus menjadi berubah serakah dan hendak menguasai seluruh negeri.
Keberadaan racun hawa kegelapan yang tidak disadari La Temmalureng terus menumpuk dalam hatinya, sejalan dengan tehnik penyerapan yang dilakukan secara diam-diam itu. Selama itu dia juga menyembunyikan peningkatan kekuatannya, agar tidak diketahui atau dicurigai oleh La Tongeq sakti.
Setelah kepergian Suro, kabar tentang perjodohan antara Suro dan Luh Niscita menyebar. Kabar tersebut telah memicu kembali kemarahan La Temmalureng yang sejak dulu telah coba dipendam.
Tetapi dia bisa mengukur, jika kekuatannya belum sebanding dengan La Tongeq sakti sekalipun yang sudah mencapai tingkat langit. Sebab kekuatan aslinya hanya baru mencapai tingkat sakti.
Namun suatu peristiwa membuat tekadnya untuk menguasai negeri bawah tanah dibawah kekuasaannya dan Luh Niscita menjadi istrinya kembali menggelora. Kejadian itu tidak berselang lama setelah kabar perjodohan Luh Niscita terdengar.
Karena sesosok manusia mendadak mendatanginya saat dia sedang menyerap hawa kegelapan. Tempat yang digunakan La Temmalureng untuk menyerap hawa kegelapan berada di sebuah goa tersembunyi.
Selain tersembunyi, tempat tersebut juga diluar jangkauan sihir perlindungan. Karena itulah mengapa sosok tersebut dapat menemuinya, sebab sosok itu tidak lain adalah Batara Karang.
Dia menawarkan sebuah cara yang sangat ampuh untuk meningkatkan kekuatan miliknya. Bahkan cara yang dia tawarkan lebih cepat dan aman dari pada menyerap langsung hawa kegelapan yang mengandung racun sesat.
Tetapi penawaran itu tentu tidaklah gratis. Batara Karang berani memberikan energi murni yang banyak, selama La Temmalureng mampu menyediakan air Nirvilkalpa.
Agaknya Batara Karang sudah putus asa, karena setelah Geho sama memperkuat sihir perlindungan, tidak ada satupun yang mampu mengambil air Nirvilkalpa yang murni.
Tetapi Batara Karang meminta air Nirvilkalpa yang masih murni, yaitu yang diambil dari kolamnya langsung. Permintaan itu, tentu saja sangat mudah bagi La Temmalureng.
La Temmalureng menerima tawaran dari Batara Karang untuk memberikan air Nirvilkalpa kepadanya, dengan iming-iming energi murni yang dia sebut Laghima.
Apa yang dikatakan Batara Karang bukanlah isapan jempol belaka. Sebab saat energi itu diberikan kepada salah satu anak buahnya sebagai percobaan, yaitu La Jambu wangi, maka Laghima itu membantu meningkatkan kekuatannya dengan pesat.
Batara Karang melakukan hal tersebut, sebab dia membutuhkan air Nirvilkalpa untuk membantunya menghancurkan segel dewa yang mengunci kekuatannya. Khasiat dari air Nirvilkalpa yang ampuh memperkuat jiwa dan tekad, salah satu cara mengakali segel dalam tubuhnya.
"Jadi seperti itu alasan paman La Temalureng."
"Sepertinya Batara Karang telah mampu membuka segel yang telah mengekang kekuatannya yang sebenarnya," Suro menghela nafas panjang.
Suro segera menduga jika kekuatan Batar Karang telah pulih. Sebab dia telah mendapatkan air Nirvilkalpa yang mampu membuka segel dalan dirinya.
"Lalu kemana satu lusin dari kalian?"
Mereka kemudian bercerita jika satu lusin ditugaskan untuk membunuh La Tungeq sakti yang sedang berdiskusi dengan seluruh rakyat negeri itu.
"Kalian memang tidak punya rasa terima kasih. Apa kalian sudah melupakan apa yang telah ramanda lakukan kepada kalian?"
Luh Niscita berteriak penuh kemarahan mengetahui rencana pembunuhan ayahnya yang akan dilakukan mereka. Dia meluapkan kemarahannya setelah dibuka totokan yang ada ditenggorokannya.
"Mereka sepertinya sudah merencanakan hal ini sejak lama. Pantas saja begitu banyak air Nirvilkalpa menghilang tanpa diketahui siapa pelakunya sebenarnya. Ternyata justru kalian pelakunya!"
"Aku rasa tidak, sesuai apa yang dikatakan lelaki itu kejadian ini belum berlangsung lama."
"Ampun pendekar, racun pelumpuh tulang juga berasal dari lelaki yang bernama Batara Karang itu. Jadi apakah kami dapat penawarnya?"
Setelah membuka totok yang mengunci Luh Niscita, dia segera mengajak dara itu untuk pergi.
"Tuan pendekar jangan tinggalkan kami dalam keadaan lumpuh tidak berdaya seperti ini!"
"Apa jadinya kami, jika nanti binatang buas menyerang kami!"
"Selain itu katanya tuan pendekar akan mengampuni nyawa kami, jika seperti ini sama saja menghabisi nyawa kami!"
"Bukankah kawan kalian ada yang sudah aku berikan penawarnya? Aku rasa dia sanggup melindungi kalian!"
"Mengenai janjiku, bukankah kalian sudah kuampuni dan tidak aku bunuh? Tetapi binatang buas yang hendak menyerang kalian, tanyakan saja pada mereka langsung. Nanti saat mereka berkumpul ke sini sebentar lagi. Hehehehe...!"
"Ampuni kami tuan pendekar...ampuni kami!"
Brak! Brak!
Dinding tanah segera mengelilingi mereka semua.
"Urusan kalian, biarkan paman sakti yang memutuskan...aku sudah sangat berbaik hati kepada kalian."
Suro dan Luh Niscita segera menghilang dari pandangan mata mereka semua.