
"Apa yang sedang pekulun tunggu?" tanya Suro sambil ikut menatap langit di atas Gunung Candramuka.
"Para dewa akan turun semua di puncak gunung ini untuk memberkati Pengruwatan yang hendak kita lakukan," ucap Sang Hyang Batara Antaboga.
Suro terkejut dengan penjelasan Barusan dia tidak menyangka sebegitu pentingnya kejadian dirinya, sehingga aka melibatkan begitu banyak dewa.
Seperti mengerti apa yang sedang dipikirkan Suro, Sang Hyang Antaboga tersenyum kepada pemuda yang terus menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ini bukan tentang dirimu anakku. Ini adalah berkaitan tentang tiga dunia yang hendak di kuasai Dewa Kegelapan," ujarnya tetap dengan wajah tersenyum.
"Tiga dunia?" tanya balik Suro sambil mengerutkan dahinya.
"Benar tiga dunia, Mayapada (dunia para dewa atau surga), Madyapada (dunia manusia atau bumi), dan Arcapada (dunia bawah atau neraka). Saat ini tiga dunia dikuasai oleh Batara Guru."
Sang Hyang Anantaboga menghentikan ucapannya saat sebuah aura yang terasa begitu megah seakan bulan sedang turun menghimpit Gunung Candramuka.
Mata Suro segera menangkap serombongan sosok yang berjumlah tidak terhitung.
Sosok yang berada paling depan tidak dia kenal. Penampakan sangat janggal karena memiliki tiga pasang lengan.
Namun dibelakangnya ada beberapa sosok yang cukup dikenalinya, yaitu Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Narada. Selebihnya dia tidak ada yang mengenalinya.
"Apakah mereka semua dewa pekulun?" tanya Suro sambil mengernyitkan dahinya.
"Benar, dan yang paling depan itu adalah Batara Guru Maharaja para dewa di Khayangan Jongringsalaka."
Beberapa saat kemudian semua dewa itu turun di puncak Gunung Candramuka.
"Sebentar lagi ritual Pangruwatan akan dimulai, silahkan anakku mulai bersamadhi. Gunakan mudra Dhyana sebagai pertanda kepasrahan total," ucap Sang Hyang Anantaboga.
Suro lalu duduk bersamdhi dengan tangannya membentuk Dhyana Mudra. Dia terus bersamadhi hingga mencapai tahap Nirvikalpa Samadhi.
Samadhi ini adalah tahap ketiga dari lima tahap yang ada, yaitu laya samadhi, savikalpa samadhi, nirvikalpa samadhi, sahaja samadhi, dan mahasamadhi
Itu adalah tahap dimana ketenangan tertinggi dan juga kebahagian sempurna akan hadir dalam samadhi.
"Ini saatnya bagimu untuk memimpin Pangruwatan Dewa, Manikmaya," ucap Sang Hyang Ismaya kepada Batara Guru.
"Baiklah kakang Ismaya, aku akan memulai ritual pangruwatan dewa ini."
Setelah itu tubuh Suro yang duduk dalam samadhinya terangkat naik ke atas dan mulai melayang di atas kawah Gunung Candramuka.
Setelah mantra Sastra Jendra Pangruwating Diyu mulai dirapalkan oleh Sang Hyang Batara Guru. Suara itu menggema membentuk pusaran aksara yang menyala.
Suara itu terus di deraskan oleh Sang Hyang Batara Guru.
Pada saat bersamaan tubuh Suro yang telah dipenuhi aksara yang menyala dan kini cahaya itu masuk ke dalam tubuhnya.
Lalu dari setiap inchi dalam tubuh Suro memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata.
"Brahmastra!" ucap Batara Brahma mulai mengerahkan senjatanya dan melesat ke arah Suro.
Senjata dewa itu dikerahkan tidak untuk membunuh pemuda itu, justru senjata dewa itu hendak menyatu dan memperkuat tubuh pemuda itu.
"Astra Sudarshana Chakra!"
Sudarshana Chakra milik Batara Wisnu yang berupa senjata berbentuk Chakra bergerigi luarnya. Melesat masuk ke dalam tubuh Suro.
"Indrastra!" Batara Indra juga mulai mengerahkan senjata miliknya dan melesat ke arah tubuh Suro.
Setelah itu para dewa yang lain segera mengerahkan senjatanya ke arah tubuh Suro yang kini telah tenggelam dalam kawah Candramuka.
Astra Vasavi Shakti milik Batara Indra, Astra Agneyastra milik Dewa Api. Astra Barunastra milik Batara Baruna atau Dewa Air yang mampu menciptakan banjir bandang yang mengerikan pun ikut melesat masuk ke dalam kawah.
Tidak terhitung seberapa banyak Astra senjata para dewa masuk ke dalam kawah Candramuka.
Kawah itu bergejolak seakan hendak meledak bersama seluruh tubuh gunung yang menjulang tinggi itu. Gunung yang begitu besar tidak mampu menahan kekuatan para dewa.
Sang Hyang Antaboga lalu menjelma menjadi naga yang besarnya begitu mengerikan dan melingkari gunung hingga beberapa lapis.
Seakan dewa bumi itu hendak membantu Gunung Candramuka menahan kekuatan senjata para dewa.
Gempa bumi yang melanda ke seluruh tanah di Jawadwipa pun berusaha dia redakan dengan kekuatan yang dia miliki.
Jika tidak, maka tanah akan terbelah dan mulai menghancurkan seluruh isi bumi.
Namun semburat cahaya terang keluar dari dalam kawah. Cahaya yang sangat menyilaukan mata itu melesat naik menembus langit lalu meredup masuk ke dalam kawah.
"Tugas kami sudah selesai Batara Antaboga. Kini sisanya kami serahkan kepada kalian berempat," titah Maharaja para dewa Sang Hyang Manikmaya.
Sang Hyang Antaboga, Sang Hyang Batara Brahma, Sang Hyang Batara Bayu, Sang Hyang Batara Baruna secara bersamaan menganggukkan kepala.
Mereka berempat mewakili Catur Mahabhuta atau keempat Anasir alam yang utama, tanah, api, angin dan air.
Setelah itu semua dewa, kecuali mereka berempat menghilang dari pandangan mata.
Tubuh Suro yang sebelumnya tenggelam ke dalam kawah kini mulai muncul ke permukaan dan terus naik dan kembali ke tempat dimana dia memulai samadhinya.
"Proses ruwatan dewa telah selesai, silahkan selesaikan samadhimu," ucap Sang Hyang Batara Antaboga.
Saat Suro membuka matanya, dia memincingkan mata melihat para dewa telah hilang dan kini hanya tersisa empat sosok dewa termasuk Sang Hyang Anantaboga.
"Sekarang kita menuju khayangan Saptapratala anakku, kami berempat akan membimbingmu agar lebih kuat. Sehingga nantinya dengan itu engkau akan mampu memenangkan pertempuran yang sebenarnya."
Khayangan Saptapratala ada istana Sang Hyang Anantaboga yang berda di dalam bumi.
Suro hanya mengerutkan dahinya dan menundukkan badannya dengan hormat.
"Sendiko dawuh pekulun."
Segera setelah itu mereka semua menghilang dari puncak Gunung Candramuka.
Dalam waktu yang relatif singkat, mereka kini telah berada di Khayangan Saptapratala.
"Kami akan menurunkan padamu empat mustika dewa inti dari kekuatan kami yang sebenarnya. Ini kami lakukan, agar dirimu mampu menguasai kekuatan perubahan empat Anasir alam sekuat kami para dewa," jelas Sang Hyang Batara Antaga.
"Benar, kekuatan kami ini adalah masuk dalam inti dari penciptaan alam ini. Karena lawan yang akan kau hadapi adalah Anasir alam pertama yang merupakan asal mula dari seluruh Anasir yang lain," imbuh Batara Brahma.
Suro menganggukkan kepala dan memberi hormat sedalamnya.
Setelah itu keempat dewa mulai menghimpun kekuatannya dan juga pengetahuannya menjadi sebuah bola energi yang meluap-luap di ujung jari telunjuknya.
Suro yang berada di tengah keempat dewa diam dalam samadhinya. bola energi di ujung keempat dewa melesat masuk ke dalam tubuh Suro.
Itu adalah mustika empat dewa yang sebelumnya di jelaskan Sang Hyang Batara Anantaboga.
"Adinda Mahadewi aku akan menyelamatkanmu, tenang saja. Kali ini aku pasti mampu mengalahkan raja para raksasa itu."
Suro tersenyum puas setelah mendapatkan empat mustika dewa yang kini menyatu dalam tubuhnya.
Dengan semua itu dia akan kembali melewati pertempuran pamungkas dengan bermodalkan kekuatan yang jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Ctak!
Dia menjentikkan jarinya seakan memanggil burung.
"Siluman burung emprit, ini waktunya kita bertempur jangan bermalas-malasan."
Seketika muncul sesosok makhluk raksasa setinggi dua kali lelaki dewasa dengan sepasang sayapnya muncul.
Sosok itu terlihat kebingungan dan sempat tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dia sibuk memandang kedua tangannya dan memandang ke sekeliling.
"Benarkah aku hidup kembali?"
"Tentu saja, selama aku masih hidup, maka kau pun akan tetap hidup terus," balasnya.
"Bersiaplah Geho Sama, kita akan melewati pertempuran terakhir yang harus kita selesaikan sampai tuntas."
***
Jika ada yang berkenan silahkan mampir di karyaku yang selanjutnya
berjudul Maha Manusia dan sequelnya JAGAT BIROWO di aplikasi sebelah berwarna kuning nove*me
Di dua novel itu menggunakan narasi yang lebih baik dibandingkan dalam novel suro bledek
terima kasih kepada semua yang telah mendukung