SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 51 PERMINTAAN TERAKHIR SANG GURU



"Didalam tubuh manusia ada lapisan prana atau energi kehidupan. Yang disebut pranamaya kosha."


"Energi kehidupan atau energi prana berputar dan berpusat pada perputaran chakra pada nadi utama."


Suro yang duduk bersimpuh terlihat menganguk-angukkan kepala mendengar wedar kaweruh tentang ilmu pedang dari Dewa pedang. Sejak pagi Suro datang ke kediaman Dewa Pedang untuk meneruskan wedar kaweruh yang tertunda.


Dia begitu bersemangat untuk mendapatkan pengetahuan tentang pemahaman pedang sepertinya tak membiarkan waktu terbuang percuma. Bahkan meyampingkan rencananya yang ingin melanjutkan latihan. Sepertinya pemahaman tentang ilmu pedang lebih bermanfaat daripada latihan hanya menuruti pemahaman dan pengetahuannya sendiri.


"Didalam tubuh manusia prana berputar pada tujuh chakra yang menjadi pusat perputaran prana itu." Dewa pedang terlihat begitu serius menjelaskan dengan pelan-pelan agar penjelasannya dapat di cerna Suro dengan baik.


"Chakra muladarma pada tulang ekor, chakra svadishthana pada tulang pelanangan, chakra manipura pada titik pusar, chakra anahata terdapat pada titik jantung, chakra visuddha berada pada titik tenggorokan dan yang keenam pada chakra ajna atau chakra mata ketiga"


"Pada cakra ajna ini terletak pada dahi sedikit diatas diantara titik tengah kedua alis. Pada titik ini jika sudah mampu dikuasai maka akan mampu membuat orang tersebut memiliki kecerdasan juga kekuatan spiritual."


"Sebuah kekuatan spiritual yang sebelumnya paman guru pernah jelaskan kepadamu."


"Jika telah menguasai titik chakra itu maka akan meningkatkan kekuatan dan kesadaran spiritual yang berada pada tingkat yang lebih tinggi. Sebuah kesadaran yang biasa disebut dengan guru sejati atau juga disebut anthra guru. Sehingga dengan kemampuan itu akan membangkitkan mata ketiga atau mata batin atau kewaskitaan penglihatan trinetra."


"Pengetahuan ini akan sangat membantu untuk mencapai kemajuan dalam usaha nakmas naik ke tahap berikutnya yang lebih tinggi."


"Karena dengan kemampuan anakmas untuk menguasai tujuh chakra sampai titik chakra terakhir, yaitu chakra sahasrara yang berada diubun-ubun. Maka akan berbanding lurus dengan peningkatkan kekuatan tenaga dalam, niat pedang dan juga kesadaran spiritual nakmas."


"Pada saat diri nakmas sudah mampu menyatukan raga atau wadak kasar, jiwa atau wadak halus, bilah pedang bersama niat pedang semuanya menyatu dalam kesatuan kesadaran. Maka pada tahap itu rasa, karsa, dan rasa akan meleburkan diri nakmas dalam wujud pedang."


"Itulah mengapa dalam tahap-tahap awal pedang dikenalkan dalam wujud bilah pedang yang terbuat dari baja. Kemudian meningkat pedang dalam wujud hawa pedang. Lalu pedang diperkenalkan dalam wujud lain. seperti dalam tahap raga pedang diwakilkan dalam wujud anggota tubuh sendiri."


"Semua tahap itu merupakan tahap-tahap yang mewakili semua kondisi roso pangroso kang sejati atau seluruh daya cipta yang sebenarnya."


"Jika dirimu sudah dalam kondisi seperti itu maka sesungguhnya nakmas sudah berada pada tahap bersatu dengan pedang."


"Pada saat telah sampai di tahap tersebut sesungguhnya segala hal mampu anakmas jadikan pedang atau pedang segala wujud."


"Wujud pedang yang dapat diwakilkan oleh sebuah ranting, daun ataupun wujud lain yang lebih muskil untuk dilakukan. Yaitu pedang angin."


"Pada tahap tersebut semua masih berhubungan dengan wujud kasar sehingga kekuatan yang di perlihatkan juga masih mewakili empat unsur alam apapun itu bentuknya."


"Baik itu berupa pedang yang masih berupa bilah baja, maupun pedang yang terbuat dari unsur lain seperti api, angin ataupun es. Semua itu masih mewakili unsur yang bersifat ranah wadak kasar. Atau masih pada ranah kamandhatu."


"Pada ranah selanjutnya masuk pada rupadhatu dan arupadhatu."


"Pada tahap itu wujud pedang sudah moksa pada wujud lain yaitu cahaya. Karena dengan adanya cahaya telah mewakili sumber semua energi kehidupan atau sumber prana. Di alam kasunyatan wujud sumber cahaya terwakili oleh keberadaan matahari dilangit."


"Itulah mengapa pada tahap berikutnya disebut tahap pedang langit. Karena wujud pedang sudah tak terikat dengan unsur keduniawian sudah moksa menuju langit."


"Apakah nakmas bisa memahami yang barusan paman jelaskan?"


"Tentu saja Suro paham dan ingat setiap ucapan paman."


"Berarti paman tidak perlu mengulang. Paman akan melanjutkan penjelasannya. Apakah nakmas sudah yakin tidak perlu paman ulang kembali?"


"Nuwun inggih paman. Silahkan paman lanjutkan penjelasannya tanpa perlu lagi mengulang. Karena Suro sudah mengingat semua. Bahkan penjelasan paman yang kemarin masih Suro ingat."


"Tetapi maaf paman. Apakah tujuh chakra yang barusan paman jelaskan itu nama lain yang termasuk dari nadi besar dalam pencapaian tahap kundalini paman?"


"Benar sekali dalam tahap kundalini ada empat belas nadi besar yang penting. Dari empat belas nadi besar itu ada tujuh jalur nadi yang menjadi pusat pusaran prana atau energi kehidupan. Pusaran prana itu membentuk chakra yang berputar kearah kanan."


"Itulah mengapa untuk mencapai tahap tertinggi dalam ilmu pedang harus diimbangi dengan tingkat tenaga dalam dan kekuatan spiritual yang tinggi juga. Kemampuan itu dapat diperoleh dengan latihan dan juga membuka segala potensi tubuh. Baik yang berhubungan dengan fisik maupun berhubungan dengan hal yang tak dapat dilihat."


"Hal yang dimaksud adalah pemahaman, tenaga dalam juga kekuatan spiritual."


"Maka jika nakmas ingin mencapai tahap puncak pedang Dewa maka nakmas harus sudah menembus tahap kundalini tertinggi. Selain itu harus sudah mampu menguasai chakra sahasrara. Sehingga pada kondisi tersebut kundalini shakti akan menyatu dengan shiva di chakra sahasrara atau nadi mahkota."


"Pada tahap itu lapisan pranamaya kosha akan berpindah pada lapisan anandamaya kosha."


"Itu salah satu syaratnya agar mampu mencapai tahap puncak pemahaman ilmu pedang nakmas."


"Tetapi untuk sampai pada tahap itu paman akan kembali menambahkan pada tahap peralihan ranah kamadhatu ke ranah rupadhatu. Dimana kondisi tahap pedang sudah melewati keadaan yang disebut moksa atau sudah tidak berpijak pada unsur keduniawian."


"Saat itu akan kembali pada kondisi asal muasal yang sudah keluar dari putaran samsara."


"Pada saat itu berhasilnya peralihan dengan ditandai kemunculan pedang cahaya dari ujung jari."


"Maka mengapa paman sebut kondisi nakmas sebagai kondisi yang istimewa. Karena kemampuan pedang nakmas sebenarnya belum mencapai tahap pedang langit. Tetapi bisa melakukan sebuah kemampuan yang seharusnya hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang telah sampai pada tahap pedang langit. Maka kondisi nakmas ini aku sebut sebagai sebuah kelebihan yang sangat istimewa sekali nakmas."


"Sudah masuk pada ranah rupadathu dan arupadhatu."


"Pada kondisi ini sudah masuk tahap pedang surga dan pedang dewa. Tetapi pada golongan hitam mereka mengistilahkan dengan pedang neraka dan pedang iblis."


"Walaupun dalam golongan hitam mereka menempatkan tahap pedang mereka sejajar pada tahap rupadhatu dan arupadhatu sebenarnya itu sesuatu yang sangat berseberangan."


"Memang benar kemampuan mereka sama-sama telah melewati tahap moksa. Tetapi ada perbedaan dalam tahap ini. Mereka moksa kepada kegelapan dalam dirinya. Sehingga jalan hidup yang mereka pilih semakin tinggi parktik olah kanuragannya, maka akan membuat jalan hidupnya semakin bertambah kelam. Karena sumber dari kekuatan mereka adalah iblis dalam dirinya. Mereka memusnahkan dirinya sendiri dalam iblis yang bersembunyi dibalik hatinya."


"Berbeda sekali dengan aliran putih yang menyucikan dirinya dari segala angkara murka dan hawa nafsu. Bahkan kecintaan kepada hal yang bersifat keduniawian ikut dihilangkan agar mencapai kepada kesempurnaan jiwa yang sejati."


"Pada golongan hitam mereka akan semakin dalam menempatkan segala angkara murka dan hawa nafsu dalam dirinya. Maka tidak sedikit para pengamal kesesatan itu kehilangan kewarasannya karena telah dikuasai kejahatannya sendiri. Mereka biasanya akan menjadi semakin bertambah kejam dan bengis."


Suro begitu serius mendengar penjelasan Dewa pedang sampai selesai. Tak ada yang terlewatkan sedikitpun kecuali semua telah dia ingat. Beberapa kali Dewa Pedang bertanya kepada Suro tentang penjelasannya sudah diingat dengan baik atau belum. Jika tidak maka dengan suka rela dia akan mengulang kembali. Berkali-kali juga Suro meyakinkan Dewa Pedang dia sudah memahami dan mengingat semua itu dengan baik. Jadi tidak perlu lagi diulang dan dipersilahkan melanjutkan kembali penjelasannya.


"Terimakasih paman atas wedar kaweruh yang telah paman jelaskan dengan begitu gamblang."


"Penjelasan paman akan sangat membantu Suro untuk mencapai peningkatan kekuatan yang lebih maksimal lagi."


"Tentu saja nakmas, itu merupakan permintaan Eyang Sindurogo sebelum lenyap ke alam dimensi lain. Nakmas harus mencapai kekuatan minimal mendekati potensi puncak jika ingin menolong Eyang Sindurogo. Itu adalah ucapan yang dikatakan beliau sendiri kepada paman waktu itu. Saat beliau mengatakan anakmas mampu menjadi kartu kemenangan melawan Naga raksasa perwujudan banteng iblis."


"Jadikan itu untuk mendorong nakmas lebih giat berlatih agar secepatnya bisa menolong guru nakmas."


"Mengenai pelatihan sembilan putaran langit yang sempat tertunda agar nakmas selesaikan setelah seleksi tetua muda ini berakhir."


"Nuwun inggih paman guru. Suro akan mengikuti petunjuk paman guru. Setelah selesai seleksi tetua muda Suro akan memulai kembali latihan sembilan putaran langit."


"Bagus aku suka semangat nakmas. Tetapi apakah paman boleh tau?"


"Boleh tau tentang apa paman?"


"Kenapa nakmas saat berlatih sembilan putaran langit justru bersamadhi dibawah terik matahari? Lihatlah kulit nakmas bertambah menjadi coklat kehitaman."


"Hehehe kalau soal itu karena Suro sudah terbiasa berlatih seperti itu sejak bersama Eyang guru. Bahkan Suro justru merasa lebih cepat berkeringat membuat tubuh Suro lebih sehat, kuat dan bertenaga."


Suro tidak berbohong dalam posisi itu sebab memang seperti itu yang dia rasakan. Hanya satu hal yang tidak dia katakan bahwa tubuhnya yang istimewa memiliki kemampuan menyerap kekuatan matahari tidak dia sebutkan. Sebab dari awal Eyang Sindurogo telah berpesan tentang hal itu. Dia berpesan untuk tidak mengatakan kondisinya itu kepada siapapun.


Dewa pedang hanya mangut-mangut mendengar alasan Suro. Dia masih menatap Suro yang masih cengar cengir melihat dirinya.


"Apa tidak sayang kulit nakmas jadi terbakar lihatlah menjadi kusam seperti tidak terurus. Apa Eyang Sindurogo nanti tidak akan marah pada paman karena tidak mampu mengurus nakmas dengan baik?"


"Hahahaha tidak mengapa paman guru. Suro sewaktu bersama dengan Eyang guru biasanya juga sudah biasa mandiri tak menunggu bantuan siapapun. Bahkan untuk mencari makan untuk mengisi perut sendiri. Biasanya Suro lakukan sambil ngangon(mengembala) Maung."


"Tidak sulit, justru sewaktu dihutan banyak kijang, burung, maupun ayam hutan tinggal pilih menunya paman guru. Hehehe...!"


Dewa pedang hanya mangut-mangut sambil mengelus-elus jengotnya.


"Bagaimana dengan murid Dewi tangan seribu apakah keadaannya sudah membaik?"


"Seharusnya dia sudah membaik dan sudah memasuki tahap pemulihan. Bahkan semalam Suro sampai harus pulang cukup larut malam. Karena Suro ingin memastikan cidera pada nadi yang melalui tulang belakang sudah pulih dan tidak terjadi penyempitan lagi."


"Luka lebam sudah Suro baluri obat, saya kira akan cepat sembuh. Mengenai saluran nadi kecil yang terhubung dengan nadi utama yang cidera sudah Suro pastikan aliran darahnya kembali lancar."


"Bahkan selesai dari sini Suro akan langsung menuju ke kediaman tetua Dewi tangan seribu. Karena Suro sudah mempersiapkan peralatan dan ramuan obat yang nanti Suro akan berikan. Untuk perawatan lanjut hanya cukup meminum obat pelancar aliran darah dan luka lebam yang diderita juga tidak parah."


"Tetapi sangat beruntung serangan tapak yang melukai kemungkinan kekuatannya sudah mampu dikurangi saat serangan itu mengenai tubuhnya. Jika tidak luka dijalur nadinya akan sangat parah."


"Memang benar nakmas tapak dari krakatao bukanlah nama yang bisa dianggap enteng. Banyak para perompak yang dibuat bertekuk lutut pada kedahsyatan jurus itu."


"Pantas saja Suro masih merasakan energi api didalam tubuhnya yang cidera. Beruntung tehnik pengobatan yang Suro lakukan berdasarkan kitab air. Sehingga mampu menetralisir energi api yang tersisa."


"Baiklah paman guru terima kasih atas wedar kaweruh yang telah paman guru jelaskan. Mohon maaf jika telah merepotkan paman guru."


"Tidak perlu sungkan nakmas pintu kediaman ini akan selalu terbuka lebar untuk nakmas datang kapan saja."


"Jika nakmas ada kesulitan atau hal yang perlu ditanyakan jangan sungkan untuk mengetuk pintu rumah ini."


"Baik terimakasih paman guru sekali lagi Suro mengucapkan terimakasih karena berkat pertolongan paman mau menampung sehingga Suro seakan memiliki rumah baru. Apalagi Suro yang tak memiliki siapapun kecuali Eyang guru." Suro yang duduk bersimpuh didepan Dewa Pedang menundukan kepala hampir mendekati lantai sebagai bentuk penghormatan kepadanya.


"Jangan dipikirkan itu nakmas.Justru perguruan ini yang harus berterimakasih kepada nakmas. Berkat keberhasilan menghentikan teror Naga raksasa membuat perguruan ini mendapatkan bantuan dari ketiga kerajaan. Sehingga membuat perguruan ini berdiri kembali dengan bangunan yang lebih megah. Dan satu lagi berkat nakmas juga perguruan ini memiliki jurus andalan yang baru. Tebasan sejuta pedang adalah jurus yang sangat kuat. Sehingga menurut paman yang seharusnya berterima kasih, justru paman beserta seluruh perguruan."


"Satu lagi nakmas jika nakmas sudah mencapai kekuatan mendekati puncak. Kita akan langsung menuju pantai Karang Ampel. Untuk mencoba sekali lagi memasuki alam dunia lain yang membuat guru nakmas terjebak."