SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 282 Formasi Sihir Jala iblis



"Naga Taksaka, jangan biarkan mereka mendekati kita!" Teriakan Suro mengawali serangan untuk menahan ribuan ular dan binatang beracun lainnya yang datang menghampiri mereka.


Selang tidak beberapa lama setelah teriakan Suro, eyang Sindurogo dan lainnya segera menyaksikan apa yang dikatakan Suro sebelumnya. Ribuan ular kobra, ular weling, ular bandotan dan ular beracun jenis lainnya, begitu juga segala jenis serangga beracun yang dikembangkan dengan cara khusus menyerbu seperti badai padang pasir.


Setelah Naga Taksaka muncul, maka para serangga terbang itu tidak sempat jatuh kebawah. Karena setelah ditelan kobaran api itu, para hewan terbang itu musnah menjadi abu dalam sekejap.


Bukan hanya para serangga, namun dengan panasnya yang begitu tinggi para hewan melata itu juga dapat tersapu bersih. Serangan api hitam milik Suro telah berhasil menghalangi para binatang itu mencoba mendekati mereka berempat. Berputar seperti badai tornado melindungi Suro dan yang lainnya.


Serangan yang dikerahkan Suro juga mampu memberikan waktu bagi eyang Sindurogo untuk menghabisi siluman Kalajengking secara tuntas. Setelah siluman itu berhasil dihabisi, eyang Sindurogo kemudian mengambil beberapa bagian dari tubuh siluman itu untuk nantinya digunakan sebagai bahan obat.


"Sudah selesai, kita lanjutkan kembali rencana menuju Perguruan Sembilan Selaksa Racun!" Eyang Sindurogo meminta mereka bersiap untuk kembali meneruskan perjalanan.


Sebelum mereka mulai bergerak melanjutkan perjalanan menuju ke arah perguruan sembilan selaksa racun, kembali mereka menyadari bahaya lain yang datang. Sebab selain binatang beracun yang berhasil ditahan oleh api hitam milik Suro, kini muncul masalah baru berupa kabut beracun yang mampu menembus pertahanan Naga Taksaka.


"Semua segera telan pill penawar racun." Untuk mengantisipasi jika ada racun yang telah terhirup tanpa sengaja, Eyang Sindurogo segera mengingatkan mereka untuk menelan pill penawar racun dalam bekal mereka masing-masing.


Kabut beracun yang awalnya hanya tipis, segera berubah menjadi bergulung-gulung dan berubah menjadi begitu pekat. Kabut beracun yang datang susul menyusul memang dikerahkan pasukan musuh untuk mengurung mereka.


"Tinggalkan tempat ini segera!" Mereka segera melesat terbang ke atas mengikuti perintah eyang Sindurogo.


Suro bergegas menarik kembali jurus Naga Taksaka miliknya, dia kemudian ikut menyusul melesat ke langit.


Sesaat setelah mereka baru saja melesat keatas untuk menghindari kabut tebal yang datang bergulung-gulung dibawah, serangan susulan telah menunggu mereka dari balik atas awan.


Tanpa mereka ketahui sebelumnya, sebenarnya awan yang terlihat terbang cukup rendah tidak seperti biasanya, adalah salah satu siasat yang dilakukan pasukan musuh.


Dibalik awan itu para tetua, ketua dan guru besar Perguruan Sembilan Selaksa Racun memang sudah bersiap hendak menyergap mereka. Serangan kali ini diawali dengan sebuah teriakan wanita yang dilambari kekuatannya yang sudah mencapai tingkat langit.


"Serang sekarang juga!"


"Formasi Benteng Delapan Jalur Beracun!"


Teriakan Dewi kematian memulai serangan serentak oleh mereka yang bersembunyi diatas awan. Serangan yang digunakan kali ini mirip sekali dengan jurus siluman kalajengking, namun dalam skala yang besar, karena yang mengerahkan bukan hanya satu orang saja.


Awan itu segera bergerak membentuk pusaran yang tidak terhitung jumlahnya. hendak mengulung tubuh mereka berempat.


"Gunakan Langkah Maya!" Eyang Sindurogo menyuruh semua untuk menghindari serangan awan beracun diatas mereka.


Namun lima siluman pelindung perguruan telah mengantisipasi, agar mereka tidak dapat meloloskan diri dari formasi serangan yang sedang mereka kerahkan. Karena itulah mereka segera membuat serangan susulan.


"Jangan biarkan mereka lolos!"


"Gunakan Formasi Sihir Jala iblis!" Teriakan Hantu Laut barusan menyadarkan para tetua dan yang lain untuk mencegah musuh dapat meloloskan diri.


Dengan aba-aba dari Hantu Laut, mereka semua segera membentuk formasi sihir. Serangan kali ini bertujuan untuk mengurung musuh, sehingga lawan tidak lagi dapat meloloskan diri dan dapat dihabisi semua tanpa sisa.


Dengan kekuatan para tetua juga ketua perguruan ditambah kelima siluman yang berada pada tingkat surga, akhirnya terbentuklah Formasi Sihir Jala iblis. Dengan serangan kali ini, bahkan tehnik Langkah Maya milik Geho sama sekalipun tidak mampu membantu mereka lolos dari formasi sihir ini.


Beruntung formasi sihir itu bertujuan untuk mengurung mereka, agar tidak dapat kabur dari gelangang pertempuran. Sehingga mereka berempat tidak ubahnya sedang dikurung bersama seluruh pasukan musuh.


Formasi sihir itu hanya membentuk semacam sangkar raksasa dan tidak mengekang gerakan tubuh lawan, sehingga mereka berempat masih dapat bergerak dengan leluasa selama didalam kurungan formasi sihir itu.


Bahkan mereka masih dapat mengerahkan jurus Langkah Maya. Namun jurus itu tidak berguna, jika hendak digunakan untuk tujuan meloloskan diri dari formasi sihir yang baru saja dibentuk.


"Akhirnya formasi sihir yang aku ciptakan berhasil mengurung Geho sama! Segel ini tidak akan dapat ditembus meski dengan ilmu Langkah Maya miliknya" Hantu Laut terlihat begitu gembira, setelah mereka berhasil membentuk formasi sihir ciptaannya.


"Tidak percuma usahaku untuk menciptakan formasi sihir ini." Hantu laut menatap puas saat Geho sama dan lainnya tidak dapat keluar dari penjara yang mereka ciptakan.


Sebab saat mereka mengerahkan jurus Langkah Maya untuk menghindari formasi serangan, tubuh mereka terpental kebelakang setelah menabrak formasi sihir yang baru saja terbentuk. Walaupun pada saat tubuh mereka terpental karena menabrak formasi sihir dalam kondisi menghilang tak kasat mata.


"Jika kita sedari awal mengetahui Geho sama bersama mereka, kemungkinan laba-laba iblis dan lainya tidak harus mati ditangan mereka."


" Andai saja waktu itu kita bersembilan menyerang secara bersama-sama, aku rasa kita bukan hanya mampu menggurung seperti sekarang ini. Namun dapat menjerat seluruh tubuh mereka, sehingga tidak dapat berkutik lagi." Siluman ular ikut berbicara menanggapi ucapan Hantu laut.


"Benar sekali, karena untuk membuat formasi sihir ini ke tahap berikutnya minimal kita memerlukan sembilan kekuatan tingkat surga. Tetapi itu sudah terlanjur, mari selagi mereka tidak dapat meloloskan diri kita harus menghabisi mereka semua sekarang juga!"


"Kita juga gunakan kesempatan ini untuk membalaskan dendam kita kepada Geho sama!" Siluman Katak ikut berbicara penuh nafsu membunuh yang tidak pernah dia perlihatkan sebelumnya. Entah ada cerita apa yang terjadi, tetapi dengan nafsu membunuh yang dia perlihatkan sudah memberi gambaran seberapa dalam dendam antara mereka.


**


"Gawat kita tidak dapat pergi dari sini! Kembali turun ke hutan!"


Setelah gagal meloloskan diri eyang Sindurogo bersama yang lain memilih kembali ke dalam hutan dibawah mereka. Namun saat mereka melesat turun, pasukan musuh yang lain juga sudah bersiap menunggu kedatangan mereka dan menyambutnya dengan serangan yang tak kalah dahsyatnya.


Trang! Trang! Trang!


Para anggota perguruan langsung menyambut mereka dengan serangan menggunakan segala bentuk senjata rahasia yang sangat beracun. Suro segera mengerahkan puluhan pedang terbang miliknya untuk melindungi lesatan tubuh mereka berempat. Mereka terus melesat menuju ke bawah meski serangan musuh semakin gencar.


Setelah eyang Sindurogo dan yang lainnya memutuskan kembali turun, maka para tetua dan yang lainnya sebagian ikut menyusul ke bawah. Mereka segera bergabung bersama pasukan lainnya mengerahkan serangan dan juga mengepung mereka berempat.


"Tujuh gerbang neraka!" Setelah mendekati permukaan tanah, Suro segera mengerahkan tehnik perubahan tanah agar dapat melindungi mereka semua dari serangan musuh.


Pasukan Perguruan Sembilan Selaksa Racun langsung bergerak serentak mencoba menghancurkan benteng itu. Terdengar berturut-turut ledakan besar yang berhasil menghancurkan lapisan dinding terluar.


Setiap kali dinding terluar berhasil dihancurkan, maka segera muncul kembali dinding tanah yang baru untuk menggantikan dinding yang telah hancur. Itu semua berlangsung secara terus menerus. Sehingga pasukkan musuh dibuat cukup frustasi dengan apa yang mereka saksikan.


Di satu sisi sebenarnya pasukan musuh dibuat terkagum-kagum dengan pengerahan kekuatan yang dilakukan Suro. Sebab dihadapan mereka kini telah berdiri benteng megah ditengah hutan dengan menjulang sangat tinggi hampir mencapai tujuh tombak. Bahkan lebih tinggi dibandingkan benteng perguruan yang mereka miliki.


Saat pasukan dari Perguruan Sembilan Selaksa Racun telah berkumpul di dekat benteng tanah, mendadak muncul naga bumi yang besarnya lebih dari empat pohon kelapa. Mereka kelabakan melihat serangan yang mendadak muncul ditengah pasukan.


Meskipun itu adalah tehnik perubahan tanah, namun wujud dari ular raksasa itu terlihat begitu hidup. Sekuat apapun jurus yang dikerahkan para tetua tidak berhasil menghancurkan naga bumi itu.


Seperti benteng tanah yang selalu memulihkan dirinya, begitu juga naga bumi itu selalu dapat pulih kembali setiap serangan musuh berhasil menghancurkan tubuhnya.


"Ilmu apa ini? Aku baru melihat ada tehnik yang mengerikan seperti ini?" Dewi kematian terkejut melihat kekuatan naga bumi yang dikerahkan Suro.


"Bagaimana mungkin ada manusia yang memiliki tehnik perubahan tanah sekuat ini, apakah kalian pernah mendengar dewa bumi yang berupa naga raksasa?" Siluman ular yang berdiri didekat Dewi Kematian juga terkejut dengan jurus yang dikerahkan Suro. Dia seperti merasa mengenal jurus naga bumi yang telah memporak porandakan pasukan mereka.


"Apa hubungan manusia ini dengan dewa bumi, sang Naga raksasa itu?" siluman ular menggumam pelan penuh tanda tanya. Sosok yang sedang dibicarakan siluman ular itu tidak lain adalah Sang Hyang Anantaboga.


"Dewa bumi?" Dewi Kematian terkejut mendengar ucapan siluman ular.


"Ya, benar. Dewa bumi, dia adalah naga terkuat yang memiliki istana di dasar bumi." Siluman ular lalu menceritakan sedikit yang dia ketahui tentang Sang Hyang Anantaboga.


"Mungkin saja itu gurunya, sebab baru kali ini aku menyaksikan ada manusia yang mampu melakukan pengerahan jurus perubahan tanah sekuat ini." Dewi Kematian menanggapi ucapan siluman ular yang berada disampingnya, tanpa melepaskan pandangannya pada wujud ular raksasa yang sedang mengamuk ditengah pasukan perguruan miliknya.


Saat pasukan perguruan beramai-ramai mencoba menghancurkan benteng dan juga naga bumi yang dikerahkan Suro, mendadak terjadi kehebohan dan kepanikan dibarisan belakang pasukan Perguruan Sembilan Selaksa Racun. Sebab disana telah terjadi serangan yang juga telah menghancurkan barisan pasukan mereka tak kalah mengerikannya.


"Musuh ada dibelakang! Musuh menyerang dari arah belakang!"


Teriakan pasukan yang panik bercampur dengan teriakan orang yang meregang nyawa terdengar begitu riuh. Kericuhan yang terjadi itu, sebenarnya hanya dilakukan tiga sosok pendekar, yaitu Eyang Sindurogo, Dewa Rencong dan Geho sama.


Pasukan didepan yang mendengar terkejut sebab dengan kepala mata mereka sendiri penyusup masih berada didepan mereka.


"Apalagi ini, aku tidak melihat satupun mereka yang keluar dari dinding itu. Bagaimana mungkin mereka sudah ada dibelakang kita?" Dewi Kematian terkejut mendengar teriakan kepanikan pasukan perguruan di barisan belakang.


"Jangan terkejut, aku yakin mereka berpindah tempat dengan menggunakan jurus Langkah Maya milik Geho sama."


"Biarkan kami yang akan memeriksa serangan di barisan belakang." Siluman kelabang dan siluman katak segera melesat menghilang ke arah belakang.


**


Eyang Sindurogo yang bertempur bersama Geho sama dan Dewa Rencong telah dikurung dari berbagai sisi. Meskipun mereka dihujani serangan dari berbagai sisi, namun mereka bertiga justru dapat menggunakan kesempatan itu untuk membantai pasukan lawan. Bahkan serangan dari pasukan lawan tidak ada satupun yang mampu menembus pertahanan mereka bertiga.


Serangan balik dari mereka bertiga justru selalu dapat memukul mundur dan berhasil menghabisi pasukan musuh dalam jumlah yang banyak. Dalam waktu yang sesaat itu mereka telah membunuh lebih dari lima ratus anggota perguruan.


Walaupun begitu, sebenarnya mereka bertiga, cukup mewaspadai terhadap segala serangan yang dilancarkan ke arah mereka. Sebab seluruh serangan itu sangatlah beracun. Apalagi yang mengerahkan, adalah para pendekar tingkat tinggi yang semuanya adalah ahli racun.


Para tetua yang sudah berada ditingkat shakti dan langit berusaha menghentikan serangan mereka bertiga, namun amukan tiga sosok itu tidak mampu dihentikan.


Kekuatan tingkat surga milik eyang Sindurogo digabungkan tehnik Langkah Maya membuat pasukan perguruan kesulitan menghentikan gerakan pendekar itu. Meskipun mereka tidak mampu meninggalkan medan pertempuran, karena adanya Formasi Sihir Jala iblis.


Namun eyang Sindurogo, Dewa Rencong maupun Geho sama, justru menggunakan kesempatan itu untuk membantai pasukan musuh sebanyak-banyaknya. Kini entah siapa yang sebenarnya sedang sial, karena berada dalam kurungan formasi sihir tersebut.


Jadi entah siapa yang diuntungkan oleh siapa. Sebab eyang Sindurogo maupun Geho sama masih mampu menggunakan tehnik berpindah tempat dengan cepat ditengah pasukan musuh. Gerakan mereka berdua yang muncul mendadak ditempat berbeda-beda dalam sekejap sambil mengerahkan jurus tarian kematian berhasil membantai barisan pasukan musuh.


Sebab untuk menghadapi pasukan begitu banyaknya eyang Sindurogo, Geho sama dan juga Dewa Rencong memilih menyerang dengan menggunakan jurus pertama dari tapak Dewa Matahari. Geho sama maupun Dewa Rencong seperti mendapatkan pencerahan. Sebab mereka menggunakan kesempatan itu justru untuk berlatih menguasai jurus itu lebih baik, dibawah bimbingan langsung sang Pendekar Tapak Dewa Matahari.


Setelah Geho sama dan eyang Sindurogo mulai berpindah-pindah tempat, Dewa Rencong kemudian beralih menggunakan jurus miliknya sendiri.


"Jurus Amukan Rencong Nirwana!"


"Ajian Guntur Geni!"


Tehnik serangan yang dikerahkan Dewa Rencong meledakkan tebasan angin dengan kecepatan tinggi diiringi lesatan petir yang bergemuruh dan menyambar puluhan orang dalam sekali tebasannya. Tehnik serangan itu berhasil menghancurkan barisan musuh yang sempat mengepungnya.


"Pantas saja perguruan ini begitu menakutkan bagi aliran putih, bahkan sejak dahulu tidak ada yang berani menyentuh mereka." Dewa Rencong berdecak kesal melihat banyaknya pasukan yang terus menyerangnya dengan segala ilmu racun.


Dewa Rencong cukup berhati-hati agar tidak ada dari mereka yang berhasil mendekati dirinya. Sebab jika itu terjadi, maka akan sangat membahayakan jiwanya. Salah satu kekhawatirannya tentulah sangat beralasan, karena ilmu racun milik perguruan itu sangat mematikan.


"Sepertinya kita telah mengganggu sarang ular, mending aku tadi tetap berada didalam kubah yang dibuat bocah sinting." Dewa Rencong bergerak cepat menangkis ribuan senjata beracun yang melesat ke arahnya.


Setelah pengerahan tehnik barusan, Dewa Rencong segera menelan pill tujuh bidadari untuk memulihkan kekuatannya dengan cepat, meski itu dilakukan sambil bertempur.


"Dewa Rencong awas ada musuh kuat di arah timur!" Teriakan Eyang Sindurogo menyadarkan dirinya akan kedatangan dua sosok yang melesat cepat.


Eyang Sindurogo segera menghadang dua siluman yang baru saja hendak menyerang Dewa Rencong.


Duuuum!


Pukulan tangan kosong eyang Sindurogo menghantam kepala katak raksasa yang melesatkan tubuhnya ke arah Dewa Rencong.