
Selama menunggu Geho sama selesai membuat segel sihir, banyak hal yang di lakukan oleh Suro. Salah satunya adalah melatih La Temmalureng dalam mengenali tanaman yang dapat dijadikan bahan obat.
Namun sebagian besar La Temmalureng telah mengenali tanaman yang diperlihatkan oleh Suro.
"Wawasan tuan pendekar dalam ilmu pengobatan ternyata sangat luar biasa. Aku tidak menyangka, seorang pendekar muda seperti tuan telah memiliki ilmu pengobatan tingkat tinggi. Apalagi ilmu kanuragan yang tuan Suro miliki sesuatu yang dapat kami anggab mirip kemampuan para dewa."
"Hahaha..." Suro tertawa kecil mendengar punjian La Temmalureng.
"Paman terlalu tinggi menilai diriku. Jika paman rajin, aku yakin akan dapat mencapai tingkat yang aku dapatkan sekarang,," ujar Suro.
"Sekarang umurku sudah berumur tujuh puluh tahun, kurang rajin bagaimana.? Tetapi kemampuanku yang aku dapatkan hanya seperti ini saja."
Mendengar ucapan La Temmalureng membuat Suro memincingkan mata. Dia melakukan hal seperti itu bukan karena mendengar umurnya.
Tetapi dia merasa ada yang salah mengenai kemampuan pendekar yang ada didalam negeri itu, sebab dengan adanya air Nirvilkalpa, seharusnya mereka semakin mudah memahami ilmu olah kanuragan.
Karena seperti diketahui makhluk kegelapan saja setelah mendapatkan khasiat air Nirvilkalpa akan membuatnya memiliki kecerdasan. Bagaimana mungkin mereka yang mengkonsumsi air itu, justru tidak mendapatkan seperti para makhluk kegelapan.
"Sepertinya ada yang salah, memang seperti apa cara yang dilatih oleh paman sakti? Karena aku merasa ada yang aneh, sebab kemmpun kalian seharusnya cukup pesat setelah meminum Nirvilkalpa."
Suro kemudian menjabarkam alasan yang dia ketahui.
"Mungkin saja air itu bagi kami hanya membuat awet muda saja." La Temmalureng menggaruk-garuk kepalanya dia juga tidak mengetahui mengapa praktik tenaga dalamnya tidak mampu maju dengan pesat.
"Mungkin saja..." Suro menggaruk-garuk kepalanya. Dia juga bingung karena tidak mengetahui alasannya.
"Entah alasan apa, nanti kita pikirkan, sepertinya aku akan menyelidiki hal itu. Tetapi terus terang saat meminum air itu aku hanya merasakan asin. Mungkin perlu pengolahan tertentu, agar dapat manfaat dari air tersebut.
Sebab sepertinya bukan paman saja yang mengalami kebuntuan atas perkembangan praktik tenaga dalam.
Sebaiknya kita menuju ke hutan disebelah sana dibalik bukit itu. Tempat yang kemaren lusa kita datangi. Aku melihat tumbuhan yang bernama rumput surga. Tanaman itu ampuh untuk mengurangi rasa sakit."
"Terlalu lambat sini paman, aku pegang tanganmu."
Karena La Temmalureng kekuatannya jauh dari Suro, membuat kecepatan larinya terasa begitu lambat. Setelah memegang tangan La Temmalureng, dia segera mengerahkan jurus Langkah Maya.
Jurus itu dalam pertempuran menghadapi makhluk kegelapan telah dilihat oleh La Temmalureng, tetapi baru kali ini merasakan sendiri seperti apa rasanya menghilang dan muncul kembali ditempat yang cukup jauh.
Dia merasa setelah ditarik tangannya oleh Suro, lalu dalam sekejapan mata telah muncul di hutan yang berada balik bukit.
"Mengagumkan jurus ini, seperti kemampuan sihir yang dimiliki oleh para siluman." La Temmalureng masih merasakan sensasi yang tidak biasa.
"Memang jurus ini adalah salah satu ilmu sihir ruang waktu milik siluman paman..."
"Jangan-jangan...?" ujar La Temmalureng dengan nada bicara penuh tanda tanya
"Jangan-jangan apa? Paman kira saya jenis siluman?" sahut Suro sambil tertawa kecil.
"Eeee...." La Temmalureng sepertinya tidak menemukan jawaban yang tepat.
"Hahaha..." Suro kembali tertawa kecil melihat reaksi lawan bicaranya itu.
"Jangan khawatir paman, saya tidak akan mengigit..."
"Maksudnya...?" La Temmalureng menatap suro dengan sedikit khawatir.
"Hahaha...!" Suro justru tertawa tidak menjawab pertanyaan lawan bicaranya itu.
Hal itu membuat La Temmalureng menjadi tertegun tidak segera bergerak ketika Suro meminta dia membantu memanen tanaman obat yang berupa rumput-rumput berwarna biru langit.
Mereka berdua terus mengumpulkan beberapa jenis tumbuhan untuk bahan obat hingga dirasa cukup. Hal itu terlihat dari keranjang yang digendong dibelakang pundak mereka sudah penuh dengan berbagai macam tanaman obat.
"Sebaiknya kita menyudahi kegiatan kita mengumpulkan tanaman obat, sekarang waktunya kita pulang paman. Hal terpenting yang Suro lakukan ini, adalah untuk membantu paman mampu menghafal bentuk dan kegunaan tanaman-tanaman obat yang kita kumpulkan," ujar Suro sambil terus berjalan.
"Sehingga jika lain waktu paman hendak membuat obat sudah mampu menentukan tanaman apa yang tepat," tambah Suro.
Demi menghemat waktu kembali Suro mengerahkan Langkah Maya, walaupun sebenarnya La Temmalureng sedikit ketakutan.
Setelah sampai dirumah La Temmalureng, Suro meminta agar seluruh bahan tanaman itu dipisahkan sesuai dengan jenisnya masing-masing.
"Setelah paman selesai memilah, semua bahan diangin-anginkan hingga mengering secara sempurna. Setelah itu baru kita jadikan ramuan obat."
"Aku akan ke tempat paman sakti terlebih dahulu. Dia sedang berlatih sepuluh pedang terbang. Tetapi karena waktuku tidak banyak. Jika dia tidak mampu menguasai dengan cepat, aku akan melatihnya dengan tehnik satu pedang terbang saja," ucap Suro.
"Seharusnya gurumu itu dapat melakukan dengan mudah. Kau juga bisa melakukan itu paman La Temmalureng, namun paman harus membuka chakra kecil di ujung jari."
"Tetapi masalah itu biar nanti paman Sakti saja yang akan melatihnya,'' imbuh Suro.
La Temmalureng yang mendengar perkataan Suro tersenyum lebar. Dia yang telah melihat kehebatan jurus pedang dengan begitu dahsyat membuat dia sangat tertarik untuk ikut bisa mempelajari. Meski itu harus menunggu gurunya La Tongeq sakti.
Dia kemudian berpamitan kepada La Temmalureng hendak menunju ke kediaman pemimpin negeri itu, yaitu La Tongeq sakti.
**
Sudah dua hari La Tongeq sakti berlatih jurus pedang terbang. Ilmu pedang yang diberikan kepada lelaki itu menggunakan tehnik yang dimiliki siluman laba-laba iblis.
Kondisi La Tongeq sakti yang telah mencapai kekuatan tingkat shakti membuat dia tidak perlu lagi membuka chakra kecil ditangannya, karena kondisinya sudah terbuka. Namun cara pengerahan benang chakra yang akan digunakan untuk menggerakkan bilah pedang sesuatu yang tentunya belum dia kuasai.
Setelah muncul didepan rumah La Tongeq sakti, Suro lalu berjalan mendekat ke arah lelaki yang sedang berlatih pedang terbang di tengah halaman.
La Tongeq sakti terus mencoba membuat benang chakra yang akan berguna sebagai alat pengendali bilah pedang.
La Tongeq sakti segera menghentikan latihannya, setelah menyadari kehadiran Suro. Di wajahnya terlihat begitu sumingrah seperti sudah menunggu kedatangan Suro.
"Nakmas Suro ternyata telah sampai. Luh Niscita buatkan nakmas minuman." La Tongeq sakti segera memangil putrinya untuk membuatkan minuman kepada Suro.
Dia lalu mengajak Suro duduk di teras rumahnya. Meskipun tidak semewah seperti yang biasa dimiliki seorang demang ataupun seorang Akuwu tetapi rumah La Tongeq sakti tergolong paling besar dibanding yang lain.
Setelah tidak beberapa lama dari dalam rumah besar La Tongeq sakti muncul seorang dara yang berkulit begitu putih. Kulitnya yang begitu putih seakan kulitnya itu seperti mutiara.
"Perkenalkan ini anakku namanya Luh Niscita," ujar La Tongeq sakti.
"Jangan khawatir nakmas, anakku ini kondisinya tidaklah sama sepertiku. Dia belum berumur puluhan. Aku yakin dia masih seumuran dengan nakmas, bahkan lebih muda justru."
"Eh, iya..." Suro tersenyum dengan sedikit canggung ke arah dara yang mengantarkan minuman kepadanya.
Suro kemudian menganggukan kepala sambil kembali tersenyum mencoba bersikap ramah ke arah Luh Niscita. Dara itu membalas senyuman Suro sambil tersipu malu, kepalanya lalu menunduk semakin dalam. Dara itu lalu duduk bersebelahan dengan ayahnya, berhadapan langsung dengan Suro.
"Ini anakku satu-satunya yang aku miliki. Setelah memiliki istri yang ketiga, akhirnya aku punya anak. Cantik bukan, anakku?"
"E..ee...iya paman, rupawan."
"Kalaupun nakmas sudah punya istri, anakku dapat nakmas jadikan yang kedua. Masalah dijadikan yang pertama atau kedua bukan hal besar. Itu tidak masalah yang penting anakku bahagia. Hahaha...!"
Suro hanya menyengir mendengar ucapan La Tongeq sakti.
"Menjadi istri seorang Maharaja tidak akan membuat anakku bahagia, aku pernah membaca seorang raja kecil saja sudah memiliki seribu istri. Bagaimana banyaknya kalau Maharaja? Tentu lebih menderita lagi anakku nanti."
"Dia memang pemalu, tetapi jangan salah dia tidak akan merepotkan nakmas. Praktik tenaga dalamnya sudah ditingkat tinggi."
Roman muka Luh Niscita yang putih berubah menjadi merah menahan malu. Suro mulai sibuk menggaruk-garuk kepalanya.
"Apakah putriku ini kurang cantik menurut nakmas?"
"Jangan...jangan salah paham. Adinda Luh Niscita sangat menawan seperti bidadari jus..tru..."
Seperti kulit para penduduk negeri bawah tanah rata-rata putih sedikit pucat, karena tidak pernah terkena sinar matahari. Namun putri dari La Tongeq sakti memiliki warna kulit yang begitu putih lebih putih dibandingkan rata-rata kulit penduduk itu. Karena wajahnya yang begitu cantik oleh para penduduk, dara itu memiliki panggilan tersendiri, yaitu Mutiara Nirwana.
"Berkenalan saja dulu mungkin akan cocok. Ada pepatah yang aku baca witing tresno jalaran soko kulino, jadi nakmas boleh berkenlan dulu dengan putriku, aku yakin puteriku akan cocok dengan nakmas. Apalagi menurut nakmas putriku rupawan cantik jelita seperti bidadari. Sudah ambil saja sebagai istri."
'Perasaanku saja atau lelaki ini rada sinting anaknya ditawar-tawarkan seperti kacang goreng. Tapi kalau kacang gorengnya seperti ini sebenarnya...' Suro melirik ke arah Luh Niscita yabg semakin tertunduk malu.
Suro kembali menggaruk-garuk kepalanya. Dia lalu mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana kemajuan dari latihan yang paman lakukan? Apakah paman sudah mampu mengerahkan benang chakra?" Suro bertanya dengan sedikit canggung karena permintaan La Tongeq sakti sebelumnya.
"Aku sudah mampu membuat benang cakra, hanya saja belum begitu kuat. Tetapi dalam dua hari kedepan aku yakin sudah dapat melakukan latihan pedang terbang."
"Kembali lagi mengenai masalah anakku. Mungkin nakmas berpikir aku sedikit gila dengan ucapanku sebelumnya. Paman akui ini memang terdengar cukup gila. Tetapi hanya itu harapanku agar dia bisa hidup ditempat nakmas yang lebih layak."
"Meskipun permintaanku ini terdengar gila, tetapi hanya ini harapanku untuk memberikan masa depan bagi anakku.
Salah satu sebab, adalah aku sudah melihat apa yang terjadi diluar dari tempat ini. Seperti yang sebelumnya pernah nakmas ceritakan, mengenai keberadaan makhluk kegelapan yang terus berkeliaran di sekitar negeri ini. Entah nakmas sudah menyadari atau belum, tetapi tempat ini hanya menunggu waktu saja, kapan saja dapat hancur."
"Jadi, tolong tuan pendekar jika nakmas tidak mampu membawa seluruh penduduk ini, minimal bawalah putriku ke dunia dimana nakmas berasal." La Tongeq sakti kemudian menjura hingga dahinya menyentuh tanah.
"Paman...paman jangan melakukan seperti ini. Masalah seperti itu bisa kita bicarakan nanti. Masalah yang sedang kita hadapi sangat gawat paman," ujar Suro mencoba mengalihkan pembicaraan.
Suro merasa sangat tidak nyaman, sebab dara yang sedang dibicarakan oleh La Tongeq sakti berada persis didepannya. Entah mengapa, Suro merasa jika kondisi ini sepertinya sudah diatur oleh La Tongeq sakti.
Sebab setelah selesai memberikan minuman, dara itu lalu ikut duduk. Sekan memang sudah diperintahkan sebelumnya.
"Benar aku juga menyadari hal itu nakmas, karena itu tolong selamatkan nasib anak semata wayangku ini. Apapun yang terjadi selama anakku masih hidup dan nakmas mau membawanya. Maka kebaikan nakmas akan selalu aku ingat."
La Tongeq sakti memohon-mohon kepada Suro, membuat pemuda tanggung itu kebingungan untuk menjawabnya.
"Berjanjilah nakmas mau membawa serta putriku, aku mohon."
"Sebelumnya paman sudah berbicara dengan anakku madalah ini. Dia juga setuju dengan usulku ini," imbuh La Tongeq sakti.
"Baiklah, baiklah paman. Namun aku tidak mau adinda Luh Niscita untuk menjadi istriku..."
"Maksud kakang...?"
Jdaaar!
Mendadak suara merdu dari Luh Niscita terdengar.
Suro tidak menyangka dara yang duduk berhadapan dengannya itu bersuara. Dia juga tidak menyangka ternyata suaranya begitu merdu. Dan yang lebih tidak dia sangka dengan kata yang dia ucapkan. Suro langsung berkeringat dingin, sebab dengan jawaban itu, sepertinya Luh Niscita mengaminin perkataan ayahnya untuk dijadikan istrinya.
"E..e..anu..maksudnya..."
"Apakah artinya kakang tidak mau memiliki istri seperti saya..?" Mata dara itu memerah, begitu juga roman mukanya yang beruba memerah antara hendak menangis atau sedang menahan malu menjadi samar perbedaannya.
"Bukan...bukan itu maksud saya..."
"Saya masih terlalu kecil untuk memikirkan hal ter..se..but..!"
Giliran La Tongek sakti yang memandang keatas kebawah menatap Suro yang terlihat lebih tinggi dari pada mereka berdua.
"Memang berapa umur nakmas?" La Tongek sakti memandang ke arah Suro dengan penuh selidik.
Suro mulai menggaruk-garuk kepalanya.
'Kenapa ini justru jadi ajang perjodohan, apa ada yang salah dalam pikiran mereka berdua..?'
"Jika aku tidak salah menghitung maka sekarang mendekati umur empat belas tahun..."
La Tongeq sakti memandang ke arah putrinya yang seakan tertunduk lesu seperti patah arang.
"Apakah ucapan nakmas hanyalah sebagai sebuah bentuk penolakan terhadap putriku ini?"
"Bukan paman, sumpah itu menurut perhitungan sesuai yang dikatakan guruku."
"Guru?" Bapak dan anak itu kini dibuat saling pandang.
"Ceritanya panjang, mengapa justru guruku yang mengetahui umurku bukan orang tuaku. Tetapi sesuai dengan apa yang diucapkan guruku kira-kira seumuran itulah diriku," ucap Suro untuk menjelaskan lebih lanjut.
"Tidak mengapa putriku juga seumuran itu jadi sangat pas, cocok sekali, yang satu tampan juga putih bersih, lalu satu lagi putriku yang berjuluk mutiara Nirwana ini begitu pas menjadi pendamping nakmas."
Suro rasanya ingin mencakar-cakar papan kayu yang menjadi lantai rumah panggung itu. Dia kesulitan menjawab pertanyaan lelaki tersebut. Dia mulai menepuk-nepuk jidatnya.
"Begini saja paman, jika paman hendak meminta aku membawa Luh Niscita ke tempatku, kusanggupi. Dan aku akan berusaha melindungi keselamatannya. Sudah itu saja jangan meminta yang lain.
Masalah lain, biarkan semua berjalan mengikuti takdir masing-masing."
Suro sedang membayangkan jika Mahadewi melihat dirinya pulang membawa seorang dara yang cantiknya tidak ketulungan itu. Dia pasti akan lansung triwikrama berubah wujud menjadi Batari Durga.
Membayangkan apa yang akan terjadi dia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.
"Terima kasih nakmas...!" Lelaki itu meloncat dan berniat merangkul kaki Suro untuk dicium telapak kakinya. Namun Suro keburu menghindar jauh.
Tiga istri La Tongeq sakti yang berada dibalik dinding mendengar ucapan Suro ikut bergembira mereka segera berlari keluar laku bersujud ke arah Suro. Begitu juga Luh Niscita.
"Tolong kalian jangan melakukan hal seperti ini..." Suro segera bangkit mundur.
'Ada aneh dengan keluarga ini,' Suro kehabisan kata-kata melihat sikap mereka.
Suro segera menyuruh mereka bangun.
Setelah mendengar ucapan Suro barusan, La Tongeq sakti lalu menyuruh Luh Niscita untuk masuk ke dalam rumah.
Suro kemudian berniat menceritakan bahaya yang akan dihadapi dunia tempat mereka hidup.
"Sekuat tenaga Suro akan mencegah terjadinya kehancuran yang mungkin dialami negeri ini."
"Tetapi semua itu tergantung takdir yang berjalan. Lawan yang kita hadapi makhluk yang seorang dewapun kewalahan menghadapinya. Namun kekuatannya masih jauh dari kekuatan sejatinya. Karena itulah aku berusaha sebisa mungkin untuk menghabisinya sebelum dia mendapatkan kekuatannya secara sempurna," jelas Suro menatap wajah LaTongeq sakti yang berubah menjadi tegang.