SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 176 Maung sang juara



Dewa Pedang dan Dewa Rencong berniat belajar Jurus Sepuluh Bilah Pedang Terbang dari Suro bukanlah bercanda, sebab mereka serius akan mempelajari jurus yang sebelumnya telah dijelaskan olehnya. Mereka sangat tertarik dengan tehnik yang berasal dari Kitab Laba-laba setan itu.


Dewa Pedang dan Dewa Rencong kembali mendengarkan penjelasan Suro dengan lebih lengkap, agar mereka berdua benar-benar paham.


"Aku paham dengan penjelasanmu bocah, aku rasa dengan pengetahuan baru ini paman akan membuat Jurus Rencong Nirvana Mengamuk akan lebih dahsyat." Dewa Rencong tersenyum puas mendengar penjelasan Suro.


Setelah mendengar penjelasan Suro mereka segera memahami prinsip dari jurus itu. Setiap jurus memiliki dasar dan kuncinya, seorang ahli bela diri yang mumpuni akan mampu membaca serangan dan gerakan lawan setelah mengetahui kunci atau inti dari jurus tersebut.


Seperti yang telah dilakukan kedua pendekar mumpuni itu, setelah selesai mendengar penjelasan Suro mengenai inti dari jurus itu, mereka segera berniat mempraktekkannya.


Minimal untuk pendekar yang telah mencapai tingkat shakti tahap puncak atau tahap sembilan, tubuh mereka sudah dalam kondisi yang berbeda dengan orang biasa. Karena nadi kecil didalam tubuh mereka telah terbuka semua.


Chakra besar maupun kecil secara tidak langsung juga telah aktif. Dengan keadaan itu, setelah mengikuti tehnik yang dijelaskan Suro mereka berdua langsung dapat mempraktekkannya.


Kondisi itu sangat berbeda dengan Mahadewi, Made Pasek dan Kolo Weling, setelah berlatih lebih dari setengah purnama, mereka hanya berhasil membuka nadi kecil diujung jari telunjuknya saja. Sehingga dengan itu, maka hanya chakra kecil yang diujung jari telunjuk yang mampu memancarkan energi teja surya, nama lain dari benang chakra. Namun sampai sekarang untuk menggerakan bilah pedang mereka saja belum sanggup. Apalagi untuk mencabut bilah pedang yang tertancam ke dalam tanah cukup dalam, hampir setengah bilah pedangnya amblas masuk kedalam tanah.


Setelah merasa cukup menjajal jurus sepuluh bilah pedang terbang, Suro mengajak Dewa Pedang dan Dewa Rencong melanjutkan pembicaraan di dalam kediamannya yang baru itu.


Suro menyuruh Mahadewi, Made Pasek, dan Kolo weling untuk terus berlatih, sampai mereka berhasil mencabut bilah pedang yang menancap di tanah.


Mereka bertiga berjalan diikuti Maung yang berjalan dibelakangnya. Dewa Pedang maupun Dewa Rencong walaupun terlihat begitu tenang, tetapi jantung mereka berdetak semakin bertambah lebih cepat dari pada sebelumnya. Agaknya naluri mereka sebagai manusia tetap merasakan kengerian, ketika mengetahui persis dibelakangnya harimau sebesar sapi ikut melangkah mengikuti mereka.


'Sontoloyo bocah edan, kenapa harimau sebesar sapi ini diajak juga ke dalam rumah. Memangnya dia akan ikut urun rembuk(mengutarakan pendapat/memberi saran)terkait rencana pergi ke pantai Karang ampel?' Dewa Rencong meruntuk dalam hati sambil melirik Maung dibelakangnya.


Tanpa sadar Dewa Rencong terlihat mempercepat langkah kakinya. Dia melakukan itu agaknya agar tidak terlalu dekat dengan Maung. Melihat Dewa Rencong mempercepat langkahnya, maka Dewa Pedang juga tidak mau kalah. Dia juga lebih cepat lagi jalannya mendahului Pendekar dari Swarnabhumi itu.


"Tenang paman, kalian akan mendapatkan kursi untuk duduk. Semalam aku sudah membawa kursi dan meja milik paman Kolo weling. Sengaja aku mempersiapkannya untuk tamu agung seperti kalian berdua." Suro yang tidak memahami jika dua pendekar itu merasakan kengerian pada Maung, mengira mereka hendak berebut kursi untuk duduk.


Karena sejak kedatangan mereka sejak tadi, mereka berdua tetap berada didepan rumah tanpa sempat duduk. Karena mereka langsung ikut belajar jurus sepuluh pedang terbang. Cukup lama mereka terus belajar tanpa sempat duduk, walau hanya barang sebentar.


'Berebut tempat duduk gundulmu.' Dewa Rencong mendengus kesal sambil terus mempercepat langkahnya mendahului Dewa Pedang.


"Sudah Suro katakan, paman berdua tidak usah berebut kursi. Aku memiliki kursi yang cukup untuk tamu lebih dari tujuh orang."


Dua pendekar itu tidak menggubris dengan ucapan Suro barusan, mereka terus mempercepat langkahnya. Karena mereka mempercepat langkahnya terpaksa Suro juga ikut mempercepat langkahnya. Melihat Suro mempercepat langkahnya Maung tidak mau kalah. Dia segera menggerung keras lalu mengejar mereka bertiga. Dan akhirnya, Maung lah yang lebih dahulu sampai dikursi panjang. Harimau itu langsung tidur diatas kursi panjang seakan tuan rumah yang hendak menyambut tamu.


"Ghoooarrr!" Maung berteriak kegirangan karena telah menenangkan lomba barusan.


Tetapi dua manusia yang hampir mencapai deretan kursi itu bereaksi lain. Demi melihat Maung yang menyalip dan mendahului duduk, tentu saja mereka secara sepontan hendak berbalik arah.


"Benar bukan, kalian tidak percaya. Bahkan ditambah Maung kita masih bisa duduk disini." Suro yang menyusul berada dibelakang mereka segera menunjuk pada kursi kosong diujung lain yang berseberangan dengan tempat dimana Maung tiduran di kursi panjang.


Meski dengan mendengus kesal karena dikira berebut kursi, dua pendekar itu akhirnya menurut mengikuti ucapan Suro.


'Baru kali ini aku diperlakukan seperti anak kecil, oleh bocah yang kurang waras.' Dewa Rencong kembali mendengus kesal sambil mengomel dalam hati.


"Sudah paman, sama saja kanan atau kiri tidak ada bedanya." Melihat Dewa Rencong yang mendengus kesal, Suro mengira jika posisi tempat duduknya kurang disukai oleh pendekar itu.


Dewa Pedang mulai terkikik melihat Dewa Rencong diperlakukan Suro dengan sedemikian rupa. Karena dia tau maksud yang tersirat dari Dewa Rencong.


Jika dia tidak ingat rasa malu dan harga dirinya sebagai pendekar terkuat di seluruh Swarnabhumi, tentu dia akan berteriak sekencangnya didekat kuping Suro, jika dia berjalan cepat itu bukan berebut kursi, tetapi karena merasakan kengerian dengan adanya Maung dibelakang mereka.


Untuk mengalihkan kekesalan Dewa Rencong, maka Dewa Pedang segera memulai membuka pembicaraan.


"Paman sudah mendengar tentang kejadian di Dahanapura dan yang terjadi di bumi Mataram. Tetapi jika nakmas Suro tidak keberatan, paman ingin mendengar langsung dari nakmas cerita selengkapnya?"


Suro sedikit tersipu mendengar Dewa Pedang telah mengetahui aksi yang dilakukan lebih dari setengah purnama yang lalu.


Suro menggaruk-garuk kepalanya dahulu sebelum mulai bercerita.


"Sebenarnya Suro tidak berniat melakukan hal itu, paman. Tetapi entahlah, semua terjadi begitu saja. Suro hanya ingin menyelidiki tentang hilangnya sisa pasukan Medusa tidak lebih dan tidak kurang. Tetapi sepertinya Sang Hyang Wenang berkehendak yang lain."


Kemudian Suro menceritakan kisahnya lebih lengkap kepada dua pendekar itu. Mereka berdua terlihat beberapa kali saling berpandangan mata. Bukan karena cinta, tetapi karena mereka terlihat begitu takjub dengan hal yang telah dilakukan Suro. Walaupun beberapa bagian sudah diceritakan eyang Udan Asrep, tetapi mereka tetap saja dibuat takjub.


Setelah mendengar keseluruhan cerita dari Suro, mereka segera menyadari, jika gaya bertarung Suro sangatlah unik dan juga cerdik. Strategi Suro untuk menghindari serangan racun milik Perguruan Racun Neraka sangatlah cerdas. Bahkan mereka tidak menyangka cara itu ternyata ampuh mengalahkan musuh.


Tetapi mereka berdua juga sadar, jika semua itu didukung oleh banyaknya kemampuan dahsyat dan unik yang dimiliki Suro. Mereka berdua juga begitu kagum dengan keberanian yang dimiliki Suro.


"Sebentar paman, sebaiknya paman berdua melihat hasil perjalananku ke gunung Arjuna. Pasti paman berdua akan menyukainya." Suro meraih sesuatu dari balik bajunya.


**Ditunggu kembali sumbangan poinnya.


Tetapi jika tidak mampu cukup sumbangan like dan komentnya.


Berilah koment agar authornya bahagia.


Jika bahagia imun tubuh akan naik, Jika naik imunnya, maka akan terjaga kesehatannya. Semoga kalian semua sehat, aman dan dijauhkan dari pandemik covid 19. aamiin


suwun**