
Sebuah luka sepanjang lebih dari dua puluh tombak, bagian leher dibedel sampai menganga sekaligus terpotong sebagian tulang belakang sampai bahu agak kebawah. Dia membedel tubuh Naga yang keras terasa begitu mudah dengan sebuah pusaka kujang yang sangat tajam.
Pukulannya yang menghantam kepala Naga kembali menenggelamkan kepala rhaksasa itu diantara tumpukan benteng yang sebelumnya telah hancur dibenturkan dengan kepalanya sendiri.
Senyum yang sebelumnya mengembang disudut bibir Eyang Raga Dewa tiba-tiba menghilang bersamaan dengan luka Naga yang mulai menutup kembali.
"Makhluk jenis apa ini? Tidak mungkin..tidak mungkin. Bagaimana bisa langsung kembali pulih secepat ini?"
Rasa terkejutnya membuatnya seakan tidak mempercayai apa yang disaksikan kekuatan makhluk itu. Makhluk yang mampu menyembuhkan tubuhnya dengan cepat semakin membuat Naga raksasa yang ada didepannya benar-benar menyulitkan dirinya. Kepala Naga yang telah belah dan pecah dihantam pukulan Eyang Raga Dewa tak memerlukan waktu yang lama beserta luka yang lain telah pulih kembali tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.
"Mundur! Cepat kalian semua munduuur!"
Sesuatu bahaya segera dia sadari, perintah kearah para jagoan kerajaan yang sedang mengerumuni Naga itu mengema mengejutkan mereka semua.
Segera mereka berloncatan menjauh secepatnya.
"Blaaar."
Naga itu lalu bangkit sambil menghantamkan ekornya ke arah para jagoan yang tak sempat menjauh.
"Mundur semua!"
Eyang Raga Dewa memerintahkan semua jagoan untuk secepatnya menjauh sebelum serangan susulan tiba. Mereka segera berhamburan menjauh mengikuti perintah. Dan benar saja..
"Blaar! Blaaar! Blaar!"
Naga itu mengamuk ekornya menghantam apapun yang ada dalam jangkauannya. Semburan api telah membuat semua jagoan yang berada didekatnya hangus terbakar.
Mahapatih memerintahkan kembali serangan lontaran batu besar yang telah dilumuri semacam minyak yang dibakar, membentur badan Naga seakan hujan api. Sepertinya Mahapatih Singaranu berusaha memberi kesempatan para jagoan untuk menyelamatkan diri.
Kemudian setelah serangan hujan batu berhenti Adipati Lowo Ireng bersama Eyang Raga Dewa menyusun sebuah rencana serangan susulan ke arah monster. Minimal membantu memberi kesempatan yang lain untuk menyelamatkan diri.
Sebuah rencana yang ingin dia coba telah didikusikan dengan Eyang Raga Dewa sebelum dia memulai serangannya. Agar rencananya berhasil dia meminta bantuannya memberikan serangan pembuka terlebih dahulu sebagai pengalihan.
Kemampuan Sang Adipati ini tidaklah bisa dianggab remeh. Sebelum menjabat Adipati dia dikenal sebagai Pendekar tingkat tinggi. Sehingga dengan kemampuannya itulah dia dipercaya Sang Kandiawan atau Rajaresi Dewaraja menjadikannya sebagai pemimpin di sebuah kadipaten.
Segera dia mengerahkan tenaga dalamnya melapisi kakinya untuk berlari secepat mungkin menerjang ke arah monster. Beberapakali melompat tinggi berjumpalitan menghindari sapuan tangan dan semburan api dari monster raksasa tersebut. Dia menaiki tubuh raksasa yang menjulang tinggi tujuannya mendekati lubang kuping Naga, sebuah rencana telah disusun dengan baik.
Dipihak lain dari sisi belakang Eyang Raga Dewa kembali merangsek. Dengan tubuh seakan gunung, monster itu sepertinya tak menyadari kehadiran Eyang Raga yang dengan lincah telah menaiki tubuhnya.
"Sekarang Adipati Lowo Ireng! Seraang!"
Bersamaan dengan itu Sang Pendekar kembali melancarkan Jurus Pukulan Penghancur Gunung dengan kekuatan lebih dahsyat.
"Duuum!"
Sebuah ledakan yang lebih kuat menghantam pangkal ekor. Dentuman itu sangat luar biasa jika dihantamkan kepada seorang manusia pasti hancur lebur tak berbentuk. Bahkan pukulannya telah meledakkan pangkal ekor Naga sampai ketulang hancur. Dalam beberapa saat tubuh monster limbung hampir ambruk sebelum kemudian tegak berdiri lagi.
Sebuah pukulan yang tak seorangpun belum pernah mampu menahannya dengan tubuh utuh. Kekuatan itulah yang mengantarnya sebagai tokoh yang sangat disegani di Kerajaan Kendan. Tetapi bagi Naga raksasa ini tak cukup kuat sekedar untuk merubuhkannya.
Adipati Lowo Ireng yang berada di bahu Naga raksasa setelah mendengar suara Eyang Raga Dewa segera mengerahkan kekuatan nya. Sebuah kekuatan sejenis sihir, dari balik jubahnya yang besar keluar beribu-ribu pasukan kelelawar penghisap darah yang beracun seakan sebuah awan hitam menerjang dengan cepat menuju lubang kuping monster yang menyerupai lubang goa.
"Hoooaaaaarrrrr"
"Bldaaar! Bldaaar!"
Sebuah rasa kesakitan yang teramat sangat membuat Makhluk itu mengamuk menyemburkan api seakan tak ada habisnya. Ekornya menghantam kearah kesegala arah mengakibatkan puluhan bangunan ikut rata dengan tanah.
"Hooooaaarrrrggghhhhhhh!"
Tangannya mendekap kuping mengorek-ngorek secara brutal rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya hilang kendali. Kepalanya kembali dibenturkan ke arah tembok istana menghancurkan sepanjang hampir lima belas tombak. Sebuah kekuatan yang luar biasa menakutkan dihasilkan dari tubuhnya yang sebesar gunung.
Adipati Lowo Ireng dan Eyang Raga Dewa segera mundur secepat mungkin menghindari serangan monster yang mengamuk kesakitan.
"Serangan kali ini apakah akan berhasil berhasil Adipati?"
Tanya Eyang Raga Dewa melihat reaksi Naga yang mengerang kesakitan justru setelah kupingnya dimasuki ribuan kelelawar penghisap darah bukan pada saat dihantam sampai hancur tulang ekornya. Dia sudah tak bisa mengharapkan dari serangan yang barusan dia buat, hantaman pukulan dengan kekuatan penuhnya.
"Susah untuk diketahui Eyang! Walaupun pasukan kelelawarku itu bukanlah kelelawar sembarang mereka adalah siluman kelelawar penghisap darah. Kekuatannya sangat menakutkan mampu menghisap kekuatan seseorang jagoan kelas atas bahkan hanya dalam seperempat seminuman teh."
"Aku mencoba memerintahkan para kelelawar itu memakan otak makhluk ini lewat kuping. Dan mengerogoti bagian dalam tempurung kepalanya sekaligus menyerap kekuatannya."
"Blaar! Blaarr! Blaaar!
kesakitan yang dia rasakan justru menjadi pemicu kemarahannya yang menjadi-jadi. Amukan monster semakin mengila semburan api menghantam kesegala arah menyapu seluruh bangunan seakan semua berubah menjadi lautan api. Kebakaran hebat tak mampu dihentikan mereka sudah tak sempat memikirkan itu. Mereka semua sedang sibuk mencoba menyelamatkan diri mereka masing-masing sejauh mungkin dari jangkauan monster yang mengamuk
Eyang Raga Dewa tak mampu mempercayai luka yang telah dia buat seakan tidak pernah terjadi.
"Bagaimana Yai Adipati Lowo Ireng pasukan kelelawarmu apakah mampu memberikan perlawanan."
Mahapatih yang memegang sebuah tombak kebangaannya yang bernama Tombak Pasopati ingin memastikan keberhasilan rencana Adipati Lowo Ireng. Tangan Mahapatih telah gatal ingin ikut terjun langsung melawan monster Naga.
"Seharusnya kekuatannya telah dihisap para kawanan kelelawar siluman itu, yang terjadi justru kelelawar telah dihisap oleh makhluk ini."
Adipati segera menyadari setelah dia tak mampu lagi berkomunikasi dengan para kawanan kelelawar.
"Kekuatan apalagi yang dimiliki monster ini? Setelah kekuatan menyembuhkan yang menakutkan kini dia punya kekuatan untuk menyerap makhluk hidup lain."
Mahapatih melihat begitu intensnya serangan yang bertubi-tubi tak mampu merobohkan makhluk yang menjulang tinggi itu membuat dia harus mencari rencana lain.
Monster itu kemudian merubah arah serangannya ke kawasan kota raja. Para penduduk yang berlarian mencoba melarikan diri sejauh mungkin berbondong-bondong, sepertinya lebih menarik perhatiannya.
Kepakan sayapnya telah menerbangkan sebagian rumah penduduk seakan serangan badai. Suasana segera berubah secara tiba-tiba telah menjadi seperti medan laga peperangan. Mayat bertebaran, rumah hancur lebur dan hampir kebanyakan luluh lantah terbakar.
Rakyat berhamburan berusaha melarikan diri banyak dari mereka yang kemudian berakhir dalam perut raksasa.
"Buum! Buum!"
Setiap langkahnya seakan gempa bumi bergetar seluruh daratan hampir sejauh tiga ratus tombak. Semburan nafasnya hampir meratakan setengah kota raja. Sudah tak terhitung berapa banyak nyawa yang melayang. Sebuah kekuatan penghancur yang hampir tak terhentikan.
Semua penduduk seakan tak ada lagi harapan sebab gempuran serangan yang menghantamnya seakan tak dirasakannya.
Tiba-tiba sesosok manusia terlihat dengan santainya duduk dipundak monster tersebut. Tak ada yang menyadari keberadaan sesosok manusia itu. Bahkan Naga raksasa tersebut sepertinya juga tak melihat keberadaan sesosok lelaki itu. Sebuah seruling yang terbuat dari kristal berada dalam gengamannya berkilau dengan begitu indahnya.
Eyang Raga Dewa yang pertama kali menyadari keberadaannya. Dia memperhatikan gerak-gerik sesosok misterius itu. Terlihat sosok itu dengan asiknya duduk tak peduli dengan ancaman maut yang bisa terjadi kapanpun. Tidak ada rasa khawatir tertangkap di raut wajahnya yang rupawan bersinar seakan purnama kembar.
Sejurus kemudian lelaki itu mulai menempelkan ujung seruling dibibirnya, ujung jari-jarinya juga seperti menekan-nekan lubang seruling. Seakan sedang memainkan sebuah senandung. Tetapi Eyang Raga Dewa tidak mendengar suara apapun dari seruling itu.
Kebalikannya yang terjadi adalah seakan gempa melanda. Naga rhaksasa itu menghentak-hentakan tubuhnya melampiaskan sebuah rasa sakit yang teramat sangat. Entah apa yang dilakukan sesosok lelaki misterius itu sehingga mampu membuat rasa kesakitan yang begitu hebat.
"ROOOOAAAARRRRRRRR!"
Naga itu seakan mengerang menahan sakit yang teramat sangat. Semburan apinya segera mengejar sesosok lelaki yang sebelumnya berada dibahunya.
"Blaaar! Blaarr! Blaar!
Semburan api yang begitu dahsyat tak sedikitpun mengenainya kemampuan terbang dan berpindah tempat bukanlah kemampuan yang bisa dimiliki seorangpun. Sesosok misterius itu melakukan gerakan yang tak mampu ditangkap dengan mata dalam sekejap berpindah tempat seperti kilat. Dari bahu, kepala, tangan seakan berpindah sesuka dia tanpa memperdulikan akibat yang akan terjadi padanya.
"Buuuk! Buuuk! Buuuk!"
Tangan raksasa itu berkali-kali hendak menangkap sosok itu, tetapi justru menghantam anggota tubuhnya sendiri. Sesosok pendekar entah manusia atau bukan itu, memiliki tingkat kekuatan yang luar biasa.
Kemampuannya dalam memainkan seruling terasa aneh, sebab tidak ada seorangpun yang mendengar suara dari seruling itu. Tetapi akibat permainan seruling itu, naga raksasa merasakan sakit teramat sangat.
Kecepatannya dalam berpindah tempat sangat tidak dimasuk akal, bahkan mata pun tidak sanggup mengikutinya. Kecepatan itu juga yang membuat naga sibuk sendiri. Saat naga sibuk menangkap dirinya sosok pendekar itu mengirimkan gelombang suara yang maha dahsyat.
Tetapi gelombang suara itu tidak dapat ditangkap manusia. Sehingga mereka tidak terluka dengan kekuatan yang baru saja dikerahkan lelaki itu.
"Braak!"
Sesuatu terjadi diluar nalar kuping Naga itu meledak mengucurkan darah dari dua arah.
"Buuuum!"
Membuat tubuh monster itu limbung dan kehilangan kesadarannya seakan sebuah gunung ambruk menimpa rumah-rumah penduduk.