
"Kurang ajar bagaimana mereka ada disini?" Eyang Sindurogo hitam yang sebelumnya ikut terlempar telah menguasai tubuhnya. Dia menatap ke arah datangnya serangan berasal. Terlihat dikejauhan Suro tengah berdiri diatas bilah pedang miliknya.
"Setan alas wilmana kita hancur oleh bocah setan itu!" Batara Antaga juga sudah melesat mendekati Eyang Sindurogo hitam.
Wilmana yang sebelumnya dihancurkan Suro telah hilang dari pandangan, setelah meluncur cepat jatuh ke bawah. Dengan kerusakan yang dibuat Suro seharusnya tidak akan bisa diperbaiki lagi.
"Kalian benar-benar membuatku murka!" Tanpa basa-basi Batara Karang menyerang ke arah Suro. Dia yang sebelumnya seluruh tubuhnya diselimuti api telah pulih kembali. Hanya saja jubah yang dia kenakan telah habis dibakar api.
Sebelum serangannya mengenai Suro mendadak sesosok muncul secara mendadak dan menghadang serangan milik Batara Karang.
Bldaaaar!
Pertemuan dua kekuatan besar beradu, sehingga menghempaskan energi kuat ke segala arah. Sosok yang menghadang serangan Batara Karang memiliki sayap layaknya burung. Tetapi tubuhnya seperti seorang lelaki hanya saja tubuhnya setinggi hampir satu tombak. Cukup tinggi jika disebut sebagai manusia. Apalagi wajahnya bukanlah seperti manusia lumrah. Karena mulutnya berbentuk seperti paruh seekor burung.
Seluruh anggota tubuhnya menggunakan pakaian zirah yang terbuat dari kulit naga.
"Geho sama?" Batara Karang terkejut setelah menyadari sosok yang baru saja menahan serangannya.
"Seperti dugaanku sebelumnya, kekuatan kalian yang setara kekuatan dewa ternyata belum pulih. Ini berarti kekuatan kalian pasti masih disegel. Akhirnya niatku untuk menghabisi kalian sepertinya direstui para Dewata, karena ini pasti akan aku selesaikan dengan mudah!"
"Bagaimana kekuatanmu telah kembali dan tubuhmu juga telah terbentuk? Bukankah saat tersegel tubuhmu telah hancur?" Batara Karang terkejut dengan penampilan Geho sama yang baru.
"Semua tentu berkat tuan Suro, dia yang membuat semua ini terjadi!"
"Tuan Suro?" Batara Karang kebingungan saat Geho sama menyebut nama itu, sebab dia tidak mengenalnya. Tetapi segera dia menyadari jika yang dimaksud Geho sama adalah pemuda belia yang sedang dia lindungi.
"Hahahaha...! Sekarang kau menjadi budak manusia ini? Sungguh menggelikan akhir riwayat dari Geho sama sang siluman terkuat yang mengabdi kepada Dewa Kegelapan, kini justru menjadi budak seorang bocah!"
"Memang ada masalah apa jika aku mengabdi kepada seorang manusia? Tubuhku sekarangpun sebagian dibentuk dari bagian manusia. Sebab tubuh para naga yang aku serap dan aku gunakan untuk membentuk ragaku terbentuk dari campuran ras manusia juga!"
"Bagaimana kau melakukannya?" Mendengar ucapan Geho sama dia terkejut, sebab baru kali ini dia mendengar ilmu yang mampu melakukan hal tersebut.
"Kau lupa jika aku yang telah kalian tipu, memiliki sebutan tuan Penyihir? Tentu saja bagiku itu hal yang sangat mungkin!"
"Binasalah kalian dalam semesta hitamku!"
Sesosok melesat menyerang ke arah Geho sama dan juga Suro yang berada di belakangnya. Dia adalah eyang Sindurogo hitam.
Tetapi sebelum serangan itu mencapai mereka, Geho sama langsung mundur dan menggapai Suro. Kemudian dia mengerahkan Langkah semu miliknya. Mereka langsung lenyap dari hadapan Batara Karang dan juga Eyang Sindurogo hitam.
Sekejap kemudian mereka muncul di atas Dewa Rencong yang bertarung ditemani empat sosok lain yang sekilas mirip dengannya. Mereka adalah sedulur papat miliknya yang telah dia panggil. Sehingga kini terlihat ada lima sosok Dewa Rencong.
"Kenapa kita harus menghindar, Geho sama?"
"Percayalah tuan Suro jurus semesta hitam yang dia kerahkan adalah semesta hitam tingkat ketiga. Itu adalah sesuatu yang sebaiknya kita hindari. Selain itu kekuatan yang dikerahkan jauh diatas tingkat langit. Karena kekuatannya sudah setara dengan tingkat surga."
Geho sama dan Suro tidak melanjutkan perkataannya, sebab mereka harus membantu Dewa Rencong. Setelah wilmana berhasil dihancurkan Suro, para makhluk kegelapan dan juga tiga tetua sebelumnya yang menyerang mereka, langsung berhamburan keluar dari wilmana.
Mereka kemudian melampiaskan kemarahan kepada Dewa Rencong. Meskipun cukup kewalahan dengan serangan yang menerjang ke arahnya, dia sampai saat itu masih dapat bertahan, hal itu berkat kekuatan jiwanya yang mampu memanggil sedulur papat miliknya.
"Akhirnya kalian datang!" Setelah menyadari kedatangan Suro, maka keempat wujud Dewa Rencong yang memiliki warna kulit berbeda-beda itu menghilang. Bersama dengan hilangnya empat sosok yang mirip dirinya, maka tubuhnya seakan telah terkuras tenaganya.
Sebab pengerahan sedulur papat membutuhkan chakra yang sangat besar. Itulah mengapa dia jarang menggunakannya, kecuali terpaksa. Dia sebenarnya cukup kagum saat melihat Suro mengerahkan sedulur papat tanpa beban, seakan dia menanggung beban keempat pecahan tubuhnya tidak membuat dia kehilangan energi yang banyak.
Itu kemungkinan berhubungan dengan kanda miliknya yang memang memiliki sembilan unsur alam. Sehingga kekuatan yang dia miliki seakan tidak ada habisnya. Apalagi dalam satu waktu dia mampu mengerahkan tiga tehnik tenaga dalam yang berbeda.
Api hitam milik Suro segera menyerang para naga dan juga ribuan manusia kelelawar. Naga Taksaka berhasil menghabisi para naga dan juga manusia kelelawar dalam jumlah besar.
Terlihat Dewa Rencong benar-benar terkuras tenaga dalamnya. Sebab sedari tadi dia harus mengerahkan ribuan petir untuk mengusir lawannya agar dapat menjauh darinya. Lawannya memang terhantam dengan telak dan sebagian tubuhnya meledak atau gosong terbakar, hanya saja mereka tidak akan mati jika hanya terkena serangan seperti itu.
Selain itu pengerahan kekuatan jiwa yang memanggil keempat sosok lain dari pecahan tubuhnya. Sebab dia harus membagi kekuatannya kepada keempat sosok yang dia panggil, sedangkan mereka mengerahkan kekuatan hanya satu tingkat dibawah dia. Itu artinya dia harus menguras seluruh kekuatannya untuk dapat mengendalikan seluruh sedulur papat miliknya.
Dengan adanya Suro dan Gagak setan dia memilih menyerap laghima untuk memulihkan kekuatannya dengan cepat. Penyerapan yang dia lakukan menggunakan tehnik pranayama atau pernafasan. Sehingga tidak mampu secepat seperti pengerahan dengan menggunakan tehnik empat Sage.
Kesulitan mereka semakin bertambah sebab tiga sosok yang sebelumnya mereka hindari, kini telah melesat mendekati mereka. Tiga sosok itu adalah Batara karang, Batara Antaga dan juga sosok Eyang Sindurogo hitam.
"Tubuh ilusi!" Melihat kondisi itu Gagak setan segera merapal sebuah mantra, kemudian bersama teriakannya sembilan wujud pecahan dirinya muncul. Sembilan wujudnya itu menguasai sembilan perubahan unsur alam, yaitu air, es, racun, api, petir, tanah, kayu, logam, angin dan yang terakhir adalah angin.
Suro juga melakukan hal yang sama, dia segera memanggil sedulur papar miliknya.
Naga Taksaka yang mencoba menahan musuh yang datang, telah lenyap ditelan jurus Cungkup Jagat milik Batara Antaga.
"Kalian minggir!" Suara Eyang Sindurogo hitam menghentak membuat semua makhluk yang sedang mengepung mereka, memilih memundur cukup jauh.
"Bocah ini aku merasa ada yang istimewa sejak pertama kali melihatnya. Sangat sayang jika dihabisi!"
"Tetapi Sang Hyang Junjungan dia sangat berba.!" Batara Karang mendengar ucapan Eyang Sindurogo menyinggung Suro dan menyuruh semua makhluk yang mengepungnya, membuat dia curiga.
Dia merasa Eyang Sindurogo seperti hendak melindungi Suro. Apalagi saat pertarungan di atas langit Perguruan Pedang Bayangan dia tidak menyerang Suro dengan sepenuh hati. Karena itulah dia menyela ucapan Eyang Sindurogo hitam. Tetapi sebelum dia menyelesaikan ucapannya dia telah dibentak, membuat dia tidak jadi melanjutkan perkataannya.
"Tutup Mulutmu Batara Karang! Aku tau apa yang harus aku lakukan!"