SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 148 Pertempuran di Daha part 2



Suro masih terbang diatas Perguruan Racun Neraka di ketinggian yang mungkin hanya bisa dijangkau oleh pemanah minimal sekelas pendekar tingkat atas.


"Dimana ketua perguruan kalian? Aku ingin berbicara kepadanya, jika tidak akan aku bumi hanguskan seluruh perguruan ini!" Suro sengaja mengertak agar para petinggi perguruan itu keluar.


Setelah suara Suro yang menggelegar membuat semua orang yang ada didalam perguruan itu, segera keluar mencari asal suara barusan. Mereka semua terkejut mendengar ada yang berani membuat kekacauan di perguruan mereka.


Entah itu keputusan yang tepat atau tidak, sebab kini dia harus berhadapan dengan seluruh perguruan yang sebagian besar ahli racun yang menakutkan.


Para tetua perguruan itu mulai bermunculan, setelah mendengar ancaman dari Suro. Setelah menyadari lawannya berada diketinggian, mereka segera berloncatan naik keatas atap agar bisa melihat ke arah Suro dengan lebih jelas.


Mereka terkejut setelah menyadari jika lawan yang barusan berbicara dengan lantang ternyata hanya seorang diri. Para tetua itu juga terkejut ternyata lawan yang mereka hadapi terlihat begitu muda.


Walaupun begitu mereka cukup waspada dengan kemampuan yang diperlihatkan itu. Sebab kemampuan terbang diatas sebuah pedang bukanlah perkara yang mudah. Bahkan tidak banyak yang bisa melakukan seperti itu.


"Setan apa yang telah merasuki bocah ini? Nyawanya sepertinya berangkap-rangkap membuatnya begitu berani melakukan kekacauan di perguruan ini. Bahkan dia datang hanya seorang diri!" Lelaki tua yang berada diatas atap yang terbuat dari ijuk itu, mulai berbicara pelan kearah tetua yang ada disebelahnya.


"Menurut penjaga gerbang sewaktu baru datang, pemuda itu ditemani seekor harimau besar. Tetapi entah mengapa justru harimau itu disuruh lari menjauh." Tetua yang diajak berbicara menimpali perkataan lelaki tua barusan.


Mereka berdiri diatas atap perguruan karena tempat tertinggi yang dapat mereka jangkau hanya dari tempat itu. Suro yang melayang diatas bilah pedang miliknya berada pada posisi yang cukup jauh dari pandangan mereka.


Suro sengaja melakukan hal itu untuk menghindar serangan kabut beracun yang sebelumnya telah digunakan untuk melawan dirinya. Setelah kejadian tersebut Suro segera menyadari betapa kuatnya racun yang mereka gunakan. Oleh sebab itu dia sengaja membuat jarak aman sejauh mungkin.


Meskipun dari Kolo Weling dia belajar banyak tentang ilmu racun, tetapi racun yang ada di perguruan ini jenisnya lebih mengerikan. Beberapa obat anti racun telah dia telan untuk menetralisir racun yang sebagian sempat terkena dibadannya.


'Kini aku bisa memahami bagaimana seorang tetua Tunggak semi mampu dibunuh oleh jarum beracun milik tetua perguruan ini. Karena muridnya saja sudah begitu menakutkan ilmu racunnya.' Pandangan Suro tetap penuh kewaspadaan memperhatikan pergerakan lawan dibawahnya.


"Kesalahan apa hingga kisanak hendak membumi hanguskan perguruan ini?" Lelaki tua yang berbisik kepada tetua disebelahnya mulai menanggapi ucapan Suro sebelumnya.


Lelaki tua itu berkata dengan melambarkan kekuatan tenaga dalam yang cukup kuat sehingga Suro mendengarnya dengan begitu jelas. Dari kejauhan dia berdiri diatas atap sambil mendongakan kepala untuk bisa mengenali wajah Suro.


Dia mencoba mengenali siapa yang berani membuat keonaran diperguruan yang ditakuti oleh pihak manapun. Tetapi sampai matanya sakit dia tidak berhasil mengenali wajah pemuda yang berdiri diatas sebilah pedang dengan gagahnya.


"Kesalahan? Kalian bertanya tentang kesalahan apa? Apakah ketua kalian yang bersatu bersama Medusa menyerang perguruan cabang kami yang berada di Banyu Kuning tidak kalian anggap sebagai suatu kesalahan?"


"Selain itu kalian juga menjadi dalang perampokan di seluruh daerah yang ada di pelosok-pelosok yang tidak terjangkau oleh prajurit kademangan apalagi para prajurit kadipaten yang lebih jauh. Kalian memeras para penduduk dengan dalih memberikan perlindungan!" Suro membalas dengan suara yang tak kalah lantangnya.


"Jika mengenai keberpihakan ketua yang membantu pasukan Medusa itu, kami akui. Tetapi mengenai dalang perampokan yang kisanak tuduhkan itu kami sangkal." Lelaki itu mencoba mengulur waktu dengan mengajak Suro berbicara terus. Entah rencana apa yang sebenarnya dia sembunyikan.


"Kalian pasti tidak akan mengakui kebusukan perguruan ini. Seperti juga maling tidak akan bakal mengakui kalau dirinya maling. Percuma aku berbicara kepada kalian. Intinya aku ingin meminta ganti rugi kepada kalian atas pemerasan yang telah kalian lakukan kepada para penduduk! Dimana ketua perguruan? Aku hanya ingin berbicara dengannya?" Suro mencoba membaca situasi yang terjadi. Dia mengetahui jika lawan bicaranya sedang mengulur waktu tetapi entah untuk rencana apa dia belum mengetahuinya.


"Ketua perguruan Dukun sesat dari Daha tidak sedang berada didalam perguruan. Ketua juga belum kembali dari Banyu Kuning hingga hari ini. Kami justru belum mengetahui keberadaannya sedang ada dimana?" Lelaki tua yang sebelumnya menjawab Suro, kini dia kembali menyahut ucapan Suro. Dia tetap berdiri diatas atap bersama para tetua lainnya.


"Omong kosong! Aku melihatnya mundur bersama para pasukan Medusa yang tersisa!"


Teriakan Suro kali ini membuat para tetua saling berpandangan. Mereka segera menyadari jika lawan yang sedang melayang ditempat yang tinggi itu, sedikit banyak mengetahui peristiwa yang melibatkan ketua mereka yang telah menghilang tidak tentu rimbanya.


'Wukir, agaknya pemuda ini mengetahui tentang nasib ketua perguruan ini. Usahakan kita bisa mendapatkan sedikit informasi yang terjadi di Banyu Kuning. Ketua beserta seluruh pasukan perguruan yang bersamanya belum kembali hingga saat ini. Sebaiknya tangkap dia hidup-hidup.' Lelaki tua yang menjawab Suro barusan berbisik kepada lelaki disebelahnya. Lelaki yang dibisiki terlihat mengangguk-anggukkan kepala, kemudian dia melesat menghilang diantara para anggota yang lain.


Mereka telah mendengar tentang kekalahan yang dialami pasukan Medusa. Tetapi yang membuat mereka tidak habis pikir adalah hilangnya seluruh sisa pasukan Medusa. Termasuk diantaranya adalah tetua perguruan mereka.


Mereka sudah mencari tau tentang kabar tersebut dengan mengutus pasukan khusus. Tugas mereka hanya mengumpulkan seluruh informasi yang terkait dengan hilangnya seluruh sisa pasukan Medusa. Tetapi pasukan yang diutus tidak berhasil mengumpulkan informasi apapun. Sebab kejadian itu tidak ada satu saksipun yang melihatnya.


Mendengar jawaban tetua barusan Suro juga dibuat terkejut mengetahui orang yang dia cari tidak ada didalam perguruan. Tetapi dia tidak percaya begitu saja dengan ucapan tetua barusan.


"Apakah kisanak mewakili Perguruan Pedang Surga?" Lelaki tua itu kembali berbicara.


"Aku mewakili para penduduk tak bersalah yang telah kalian rampok! Jika ketua kalian tidak ada, dimana wakil ketua perguruan ini? Apakah kalian juga akan mengatakan dirinya sedang tidak ada didalam perguruan ini?"


"Aku adalah wakil ketua perguruan ini! Namaku Tohlangkir, siapa sebenarnya kisanak ini? Orang tua ini tidak pernah melihat ataupun mengenali wajah kisanak? Seingatku tidak ada tetua Perguruan Pedang Surga semuda kisanak!" Lelaki tua itu kembali menjawab pertanyaan Suro.


"Namaku Suro Bledek! Kalian pasti tidak mengenali diriku! Aku juga tidak peduli mengenai hal itu. Karena urusanku datang ke perguruan ini adalah menagih keadilan atas perbuatan kalian memeras para penduduk. Berhubung ketua tidak ada maka aku akan menagih kepada wakil ketua!"


"Lancang kau anakmuda! Kau tidak memiliki sopan santun datang seperti ini!" Sahutan tetua lain yang sudah tidak mampu menahan marah mulai terdengar.


"Jika caraku mendatangi perguruan kalian dianggab lancang! Lalu apa kabarnya dengan perlakuan kalian merampas harta dan juga anak gadis dari penduduk yang kalian perlakukan dengan begitu keji? Selain itu aku melakukan dengan cara seperti ini, karena anak buahmu yang memaksaku untuk melakukannya!"


"Sekarang!" Teriakan dari seseorang yang mengaku wakil ketua itu mengawali sebuah serangan ke arah Suro.


Terjangan jala yang terbuat dari benang khusus langsung meluncur dari berbagai arah menjala tubuh Suro.


Saat jala itu telah ditebar satu teriakan dari Suro mengawali sebuah jurus yang mengejutkan. Terutama para tetua meskipun dikombinasikan dengan jurus lain, tetapi mereka masih mengenali dasar dari jurus itu.


"Sejuta Tebasan Pedang!"


Jurus pedang yang dikerahkan Suro kali ini lebih unik. Karena pedang itu digantikan oleh pancaran chakra yang keluar dari sepuluh jarinya.


"Tapak Dewa Matahari!"


Tohlangkir yang mengaku wakil ketua terkejut dengan jurus yang digunakan Suro. Sebab tidak seorangpun yang memiliki jurus tersebut kecuali Eyang Sindurogo.


"Siapa sebenarnya kau kisanak? Apa hubunganmu dengan Eyang Sindurogo?" Tohlangkir menatap Suro yang masih berdiri diatas bilah pedangnya.


Seluruh serangan yang menyergap Suro barusan telah berhasil dipatahkan. Jaring yang kekuatannya melebihi kerasnya baja telah hancur terpotong-potong menjadi tak terhitung jumlahnya. Jaring yang hancur itu mulai jatuh berterbangan ke segala arah.


Suro sudah memperkirakan akan adanya serangan yang datang padanya dengan mendadak. Tetapi selama asap beracun tidak melingkupi dirinya seperti sebelumnya, dia merasa itu bukan sebuah ancaman.


"Kalian sudah melihat jurusku! Kalian pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya diriku! Anggab saja aku penerus legenda Pendekar Tapak Dewa Matahari! Sekali lagi aku katakan kepada kalian, kembalikan apa yang telah kalian peras dari para penduduk. Jika tidak, maka jangan salahkan diriku. Aku sejak awal sudah cukup berbelas kasihan. Jadi jika api hitam milikku sudah bertindak, berarti waktu kalian sudah habis! Maka kalian hanya bisa mulai meminta ampun kepada Sang Hyang Yamadipati!"