
Pertempuran pasukan kekaisaran dan pasukan gabungan musuh berlangsung semakin mengerikan. Pasukan mayat hidup yang dikendalikan para hantu milik Ketua Yin Hua berlesatan naik ke atas benteng dan sebagian justru telah masuk ke dalam benteng.
Disana para mayat hidup itu mengamuk menyerang siapapun yang ada dalam jangkauannya. Serangan para mayat hidup itu setara dengan pendekar tingkat shakti.
Kekuatan itu sepenuhnya berasal dari para hantu yang telah merasuki para mayat. Karena itulah mengapa dengan kekuatannya yang masih ditingkat shakti mampu terbang selayaknya pendekar tingkat langit.
Mungkin kekuatannya tidak begitu menakutkan, tetapi pasukan mayat hidup itu tidak memiliki rasa sakit dan juga rasa takut sedikitpun. Sehingga mereka terus menerjang tanpa pikir panjang. Serangan itu telah mengakibatkan tewasnya ribuan pasukan kekaisaran.
Serangan para mayat hidup itu bukan ancaman yang menakutkan, justru ancaman paling mengerikan adalah dari amukan Jendral Batjargal.
Kekuatan zirah iblis miliknya telah mencapai tahap yang lebih kuat dibandingkan Jendral Ulagan. Begitu juga kekuatannya berpuluh kali lipat darinya. Tekanan kekuatan miliknya menjadi begitu mengerikan, sehingga para pendekar lain memilih menyingkir dan menjauh.
Dalam satu serangannya mampu menjangkau puluhan tombak, sehingga mampu membunuh musuh dalam jumlah yang luar biasa banyak. Serangan jendral ini seakan tidak terhentikan.
Tetapi beruntung di pihak pasukan jendral Yuwen Shiji ada Pendekar Dewa Obat. Dialah yang akhirnya turun tangan mencoba menahan amukan lelaki itu.
Selain amukan Jendral Barjagal, pasukan kekaisaran harus menahan serangan dari dua jendral pasukan kerajaan Goguryeo, yaitu Jendral Sejong dan Jendral Joseon. Sebelum akhirnya dihadapi oleh Jendral Yuwen Shiji bersama Kolonel Xian Hua.
Pendekar Feng Lei bersama seluruh pendekar yang bersamanya semakin banyak yang tewas dalam pertempuran itu. Pasukan perguruan aliran hitam yang sebelumnya tersapu oleh serangan Suro, nyatanya masih menyisahkan para pendekar yang berkekuatan mengerikan.
Pertempuran kali ini telah membunuh hampir setengah pasukan kekaisaran. Walaupun dari pihak lawan juga tidak sedikit yang telah mati. Kekuatan mereka berdua dari segi jumlah, kini justru lebih banyak pasukan gabungan.
Jika benteng tengah itu jatuh ditangan musuh, maka dapat dipastikan seluruh pasukan kekaisaran yang bertahan akan dapat ditumpas habis.
Tetapi sepertinya keberuntungan masih mengikuti pasukan yang dipimpin Jendral Yuwen Shiji, sebab berkat kedatangan para pendekar dan juga pasukan yang dipimpin Jendral Xuan Wu membuat pasukan musuh terbagi menjadi dua.
Setelah pasukan yang dipimpin Jendral Xuan Wu menyerbu dan kemudian didukung para pendekar, maka kondisi itu telah memaksa pasukan musuh untuk menunda langkah mereka untuk ikut menyerbu ke arah benteng kota He Bei.
Keadaan itu akhirnya memancing kemarahan penguasa suku utara yang tak lain adalah Khan Langit. Dia langsung turun tangan sendiri menyerbu musuh yang membokong barisan pasukannya.
Dia begitu geram sebab dengan kedatangan mereka telah menghalangi langkahnya untuk menguasai benteng kota He Bei. Dia bertekad hendak menumpas habis pasukan yang membokongnya. Karena memang seluruh pasukan Jendral Xuan Wu yang didukung para pendekar jumlahnya tidak sampai dua ribu orang.
Jumlah itu tentu sangat sedikit sekali dibandingkan pasukan gabungan yang berjumlah puluhan ribu. Tetapi setengah pasukan itu sebagian besar adalah pendekar berkekuatan minimal tingkat shakti. Bahkan kebanyakan justru sudah mencapai tingkat langit ke atas.
Karena itulah mengapa Khan Langit memutuskan turun tangan langsung, dia mengetahui potensi kekacauan yang akan ditimbulkan jika tidak segera membasminya. Khan Langit tidak membiarkan kesempatan untuk menaklukkan benteng kota He Bei terlepas begitu saja.
Namun Khan Langit tidak mengetahui, jika diantara para pendekar yang menyerang itu ada para pendekar yang telah memiliki tingkat kekuatan surga. Diantaranya adalah Dewa Rencong, Dewi Anggini, Pendekar Zhang Yuan dan muridnya yang saat ini menjadi Pemimpin Perguruan Wu Dang Pendekar Xiao Lam.
Selain mereka berdua para pendekar lain ikut serta antara lain, Ketua Bao Chong dari Perguruan Kun Lun, pendekar Wu Lang dari Perguruan Cakar Elang dan seluruh pendekar yang pernah diselamatkan Suro dari cengkraman tetua Yin Wuya yang menjadikannya sebagai boneka.
Bantuan yang tidak diduga juga datang dari Perguruan Kuil Suci dan Perguruan Lembah Beracun yang telah berganti nama menjadi Perguruan Lembah Suci. Pasukan itu dipimpin langsung Ketua Perguruan Kuil Suci, yaitu Pendekar Tapak Suci.
Sedangkan Perguruan Lembah Suci dipimpin oleh Ketua Xie Tie. Kekuatan pasukan bantuan itu membuat Khan Langit semakin meradang.
Khan Langit sendiri dihadapi oleh Dewa Rencong dan Dewi Anggini. Pendekar Zhang Yuan, Pendekar Xiao Lam dan Pendekar Bao Chong menghadapi tiga jendral pengawal Raja Kerajaaan Goguryeo yang berjuluk Topeng besi, perak dan tembaga.
Pendekar Tapak Suci, Pendekar Pedang Giok dan juga Ketua Xie Tie, beserta seluruh anggota perguruan yang ikut serta dengan mereka memilih membantu Jendral Xuan Wu. Dengan bantuan itu membuat barisan pasukannya menjadi bertambah kuat.
Walaupun serangan mereka tidak mampu mendesak pasukan gabungan musuh, namun itu sudah cukup mambantu pasukan kekaisaran yang bertahan di benteng tengah. Sebab dengan itu pasukan dari garis belakang tidak lagi memberikan dukungan serangan mereka.
Keberuntungan pasukan.kekaisaran bertambah, sebab kini Suro dan Geho Sama telah muncul diatas gerbang benteng tengah hampir secara bersamaan. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri pertarungan Dewa Obat melawan Jendral Batjargal sedang berlangsung.
"Geho Sama kau bantu pasukan dibelakang sana dimana paman Maung dan lainnya sedang bertarung. Dan pastikan Mahadewi tidak terluka." Suro berbicara sambil menatap kesegala penjuru.
Geho Sama menganggukan kepala sebelum menghilang dari pandangan dan muncul didekat Mahadewi. Setelah Geho Sama pergi, kembali Suro mencoba membaca situasi pertempuran. Sasaran pertama yang hendak dia habisi adalah pasukan mayat hidup.
"Janus Agni Sahasra!"
Ribuan panah yang diciptakan Suro menghujani pasukan mayat hidup. Serangan itu membuat mayat hidup itu tenggelam dalam lautan api yang berkobar begitu tinggi.
Ketua Yin Hua meradang melihat pasukannya kali ini telah terjebak dalam kobaran api hitam. Serangan panah Suro terus menyasar para mayat-mayat hidup itu.
Suro hendak membersihkan pasukan mengerikan itu dari benteng tengah. Begitu banyaknya pasukan mayat hidup yang menyerbu, membuat sebagian benteng kini dipenuhi api hitam milik Suro. Serangan yang dikerahkan itu paling banyak menghancurkan pasukan musuh yang berada di bagian luar benteng.
Hujan panah api yang dikerahkan Suro berhasil menghentikan pasukan musuh untuk mendekat lebih jauh ke arah benteng. Serangan Suro terus berlanjut sebelum sebuah ledakan kekuatan terasa begitu kuat.
Suro segera menghentikan serangan panah api miliknya, pandangannya ke arah ledakan kekuatan barusan. Matanya nanar melihat Jendral Batjargal telah menembus kekuatan gerbang terakhir dari puncak kekuatan benih iblis.