
"Gawat Dewa Obat lenyap masuk ke dalam tubuh makhluk itu!" Suro berteriak kalut.
Setelah cahaya terang dari jurus Cermin Pembalik Sukma milik Shi Suzaku dikerahkan, maka Dewa Obat langsung lenyap dari pandangan.
Dia yang pernah merasakan jurus tersebut tentu saja cukup khawatir, mengingat jurus itu akan berusaha mencerna tubuh dalam waktu cepat jika tidak segera keluar.
Geho Sama juga mengenali jurus tersebut, tetapi dia dan juga Suro tidak mampu mencegahnya. Sebab saat itu mereka sendiri sedang bertarung melawan musuh.
Sekejap kemudian dua Suzaku yang menjadi lawan mereka juga secara bersamaan mengerahkan jurus Cermin Pembalik Sukma. Rencana para Suzaku itu adalah secepatnya melenyapkan lawan mereka.
Tetapi sayang dua lawan yang tersisa tidaklah sama seperti Dewa Obat. Sebab Geho Sama dan Suro sudah mengetahui serangan yang akan mereka kerahkan.
Tentu saja Suro tidak sudi terperangkap seperti saat bertarung melawan Kurama Tengu. Sedangkan Geho Sama dia sudah mengetahui tentang ilmu itu sejak dulu.
Di saat ketiga Suzaku itu mulai mengerahkan jurusnya secara bersamaan, maka sebelum nasibnya seperti Dewa Obat, Suro dan Geho Sama segera mengindar dengan menggunakan jurus Langkah Maya.
"Itu adalah cermin pembalik Sukma milik Kurama Tengu!" Geho Sama berseru ke arah Suro yang menyusul dirinya menghindar dari jurus musuh.
"Benar, aku pernah menghadapinya, saat bertarung dengan Kurama."
Tentu saja para Suzaku itu cukup terkejut perangkap mereka dapat dihindari.
"Jadi kalian sudah mengerti tentang jurus ini!" Shi Suzaku menjilat tangannya menatap mereka berdua dengan senyum lebar.
"Temanmu telah berhasil aku tangkap, sebentar lagi tubuhnya akan aku cerna dan aku serap kekuatannya!"
Suro justru tertawa mendengar ucapan Shi Suzaku," kau tidak mengetahui saja bahwasanya jurusmu itu memiliki banyak kelemahan. Kau tau Jika Kurama Tengu pemilik jurus itu saja tidak sanggup mengurungku!
Apalagi kau hendak mengurung seorang Ciranjiwin yang merupakan murid dari seorang Awatara Batara Wisnu, Ramaparashu!"
Para Suzaku itu tertawa mendengar ucapan Suro. Mereka tentu saja tidak akan percaya begitu saja, jika Kurama Tengu telah berhasil dihabisi. Mereka juga tidak mengerti apa yang dimaksud Suro dengan Ciranjiwin atau apapun.
Mereka sudah merasa ucapan Suro cukup konyol menyebut dirinya telah mengalahkan Kurama Tengu.
Apalagi dirinya telah menyebut jika dia lepas dari jurus Cermin Pembalik Sukma milik Kurama Tengku, semua itu bagi mereka seperti sebuah lelucon. Tentu saja itu membuat mereka semakin terbahak-bahak.
"Kalian boleh saja tertawa, tetapi ucapanku ini dapat kalian buktikan sebentar lagi. Kita lihat, seberapa lama tubuh rekan kalian itu akan tetap dapat bertahan dari serangan Astra para dewa.
Aku tau jurus kalian itu hanya mengurung tubuh lawanmu dalam alam yang ada dalam perutmu. Memang didalam perutmu itu memiliki ilusi yang sangat sulit dinalar. Bahkan sanggup membuat pikiran waras sekalipun berubah menjadi gila."
Suro sebenarnya ikut penasaran dengan apa yang akan terjadi. Karena itu dia memilih menunggu. Walaupun apa yang dia katakan justru membuat para Suzaku terus tertawa geli.
"Ilusi ciptaan kalian memang sangat kuat tidak mudah untuk dipatahkan. Aku dapat berbicara seperti ini karena aku sendiri pernah mengalami saat bertarung dengan Kurama Tengu.
Meskipun begitu, seperti ucapanku sebelumnya, jurus kalian memiliki celah kelemahan yang banyak. Terutama jika menghadapi musuh yang kuat.
Seperti sekarang, bagaimana jika perut kalian tidak cukup kuat untuk menahan jurus yang mampu menghancurkan gunung sekalipun?" Suro tetap berdiri berdampingan dengan Geho Sama.
Mereka berdua saling menjaga dari dua arah berbeda. Sebab musuh yang mereka hadapi memiliki jurus ruang waktu. Sehingga sewaktu-waktu dapat menyerang secara mendadak.
Pada awalnya ucapan Suro tetap mereka tertawakan, tetapi tidak beberapa lama kemudian mendadak sesuatu hal terjadi pada Shi Suzaku. Ketiga Suzaku yang lain juga terkejut melihat perilaku rekannya.
"Aaaaaaarrggghhhkkk...! Apa yang terjadi dengan tubuhku? " Teriakan keras keluar dari mulut Shi Suzaku. Dia kemudian mutah darah.
"Apa yang terjadi padamu!" Ichi Suzaku bertanya kepada Shi Suzaku dengan raut muka terkejut.
Belum sempat bangkit atau menjawab pertanyaan Suzaku lain, kembali sebuah tenaga sangat kuat mementalkan tubuhnya dan membuatnya terlempar ke atas cukup tinggi. Kondisi itu berulang-ulang dan tidak juga segera berhenti.
Menyadari ada hal yang salah dia kemudian berusaha menghentikan. Dia segera membentuk tanda simbol tangan atau semacam mudra beberapa kali untuk memperkuat segel miliknya yang telah mengurung Dewa Obat. Tetapi dia merasa usahanya untuk menghentikan kondisi itu belum berhasil.
Beberapa saat kemudian kembali terjadi hentakan keras yang membuat dia harus mutah darah lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Teriakan kesakitan yang keluar dari mulutnya belum mewakili betapa hebatnya rasa sakit yang dia derita.
Tiga Suzaku yang lain tidak tinggal diam mereka segera membantu. Mereka juga mulai membentuk segel tangan dan secara bersamaan menyalurkan tenaga dalam untuk memperkuat segel yang telah mengurung Dewa Obat.
Tubuhnya terasa remuk redam, seakan setiap sendi dalam tubuhnya hancur dihantam Godam raksasa.
Para Suzaku yang lain tentu tidak mampu memahami, bagaimana rasa sakit yang diderita olehnya. Tidak ada kata-kata yang keluar, saat Ichi Suzaku berkali-kali bertanya apa yang terjadi padanya.
Para Suzaku yang lain akhirnya berhasil menyalurkan kekuatannya untuk memperkuat segel yang menggurung Dewa Obat. Mereka mengira itu berhasil menghentikan perlawanan Dewa Obat.
Setelah sekian waktu yang dilalui Dewa Obat dalam alam yang mengurungnya, mereka mengira telah berhasil menguras chakra pertapa tua itu.
Tetapi mereka tidak mengetahui, selama pill tujuh nirwana miliknya belum habis, maka tidak akan ada yang membuat Dewa Obat kehabisan tenaga dalam.
Perkiraan mereka telah meleset jauh. Kekuatan Dewa Obat justru semakin meluap-luap setelah kembali menelan pill tujuh nirwana.
**
Kemarahan Ciranjiwin itu sudah tersulut sedemikian rupa. Sebab dihadapannya kini muncul dinding-dinding baja yang bergerak hendak menggencet tubuhnya.
Seluruh binatang, pepohonan dan segala macam hal yang hendak memangsanya telah hancur oleh serangan Brahmastra miliknya. Meskipun serangan itu sangat menguras tenaga dalam miliknya, tetapi itu bukan masalah baginya.
"Kurang ajar kalian telah menguji kesabaranku!"
"Pukulan Genta Kumala!"
Dewa Obat hendak memukul mundur Dinding besi yang muncul dari empat penjuru arah mata angin. Tetapi pukulan yang dentumannya mampu menggetarkan seluruh penjuru alam itu ternyata tidak berhasil merobohkannya.
"Sebelum aku masuk ditempat ini, tadi aku sempat mendengar, jika tidak salah calon muridku menyebut aku dikurung didalam perut.
Tetapi sejak kapan ada perut selebar dan seluas ini. Selain itu mana ada perut isinya tembok menjulang sebesar ini?" Dewa Obat menggaruk-garuk kepalanya kebingungan tidak juga menemukan jalan keluar.
Padahal sudah tidak terhitung Brahmasta miliknya menghancurkan segala hal. Baik itu yang berada didekatnya, maupun yang berada dikejauhan.
"Jika pukulan Genta Kumala yang mampu menghancurkan gunung tidak mempan menghancurkan dinding ini, maka aku akan memanggil astra yang mampu mengguncang langit."
"Jika memang aku dikurung dalam perut siluman elang itu, maka serangan kali ini seharusnya akan mebuat perut siluman itu hancur! Kalian terlalu meremehkan diriku!"
Dia kemudian mulai membentuk mudra sambil membaca mantra pemanggil senjata gaib.
"Narayanastra!"