
Setelah Geho sama berhasil menghabisi salah satu musuh, dan membuat mereka kabur, maka Suro segera bergerak menuju ke arah Dewa Rencong yang sedang bersama Mahadewi. Dia membiarkan Geho sama mengejar musuh sendirian.
Dia memilih melesat dengan cepat ke bawah, karena dari kejauhan pemuda itu melihat tetua tetua Dewi Anggini masih saja mengamuk tak terkendali. Suro merasa ada sesuatu yang salah dengan kondisinya.
Amukan itu sangat lah tidak wajar, sebab saat itu seluruh pasukan musuh telah menghilang dari pandangan. Namun pendekar wanita itu masih saja mengamuk tanpa sebab.
Dia justru berusaha menyerang penduduk yang berlarian penuh ketakutan. Para penjaga kota yang ada tidak luput dari serangannya.
Beruntung saat itu eyang Sindurogo sedang berusaha menahan amukan Dewi Anggini. Sehingga tidak perlu ada korban jiwa yang tidak perlu.
Dengan adanya eyang Sindurogo yang berusaha menahan amukan Dewi Anggini, telah mencegah kehancuran kota Shanxi yang lebih luas.
Penduduk yang berada didekat pertempuran terus dijauhkan agar tidak ikut terkena imbas amukan Dewi Anggini.
Mahadewi dan Dewa Rencong ikut membantu penduduk menyelamatkan mereka. Selagi Eyang Sindurogo berusaha menghentikan amukannya.
Pendekar itu berniat menotok aliran darah Dewi Anggini, agar dapat menghentikan amukannya. Tetapi karena amukannya yang tidak terkendali, sehingga dia kesulitan untuk melakukannya.
Eyang Sindurogo justru terlihat kewalahan dalam menghadapi Dewi Anggini. Meskipun begitu, eyang Sindurogo tetap berusaha menotoknya.
Sebab dia tidak memiliki cara lain untuk dapat menghentikan amukannya yang sudah membabi-buta semakin tidak terkendali.
Dia melayani amukan Dewi Anggini dengan sangat hati-hati, agar tidak melukai pendekar perempuan itu.
Walaupun itu sebenarnya memiliki resiko besar. Sebab kekuatan yang melambari setiap serangan yang dikerahkan Dewi Anggini sangatlah mengerikan.
Kecepatan serangan yang dilakukan tetua Dewi Anggini, bahkan sebelumnya berhasil mematahkan jurus lipat bumi milik pasukan Elang Langit.
"Paman Maung, apa yang sebenarnya terjadi pada tetua Dewi Anggini? Bagaimana dia bisa kehilangan kesadarannya dan mengamuk seperti itu?"
Suro sebelum ikut membantu menyadarkan pendekar wanita itu, terlebih dahulu dia bertanya kepada Dewa Rencong untuk mencari tau penyebabnya. Dewa Rencong dan Mahadewi sendiri berada cukup jauh sehingga aman dari amukan tetua Dewi Anggini.
Berkat bantuan mereka berdua yang bergerak cepat, akhirnya tidak ada satupun baik dari penduduk maupun para pasukan penjaga kota yang jadi korban amukan Dewi Anggini.
Tetapi bangunan yang menjadi tempat tinggal para penduduk tidak dapat diselamatkan dari amukannya. Rumah penduduk yang berada didekatnya sudah hancur luluh lantah.
Energi pedang yang melambari serangan tetua Dewi Anggini begitu kuat, bahkan mampu meratakan rumah dalam sekali tebas.
"Tetua Dewi Anggini menggunakan tehnik terlarang dari ilmu tangan seribu. Tehnik itu bernama Pedang Mahisasura Mardini. Menurut cerita ilmu itu berasal dari Batari Durga."
"Oooo...pantas ternyata itu," Suro menganggukan kepala mendengar ucapan Dewa Rencong sambil melirik ke arah Mahadewi yang terlihat cemas menatap gurunya.
Suro akhirnya menemukan sesuatu alasan yang sejak dulu ingin dia ketahui.
'Jadi ini alasannya, pantas saja muridnya juga sering mengamuk tanpa alasan yang tidak jelas. Ternyata guru dan murid suka mengamuk. Tidak salah berarti aku menyebutnya titisan Batari Durga,' Suro membatin sambil mengangguk-anggukan kepala.
Mahadewi terlihat begitu cemas menatap kondisi gurunya. Setelah selesai menolong para penduduk dan yang lain, dia bersama Dewa Rencong memilih tempat yang cukup tinggi untuk mengawasi amukan Dewi Anggini.
Wajah dara itu terlihat begitu khawatir menatap kondisi gurunya. Dia merasa tidak berguna, sebab tidak dapat berbuat apapun untuk menolong gurunya. Melihat seorang eyang Sindurogo saja dibuat kewalahan, tentu dia justru akan menjadi korban jika ikut menghadapi gurunya.
"Apakah kau mengetahui cara untuk mengembalikan kesadaran tetua Dewi Anggini, bocah?" Dewa Rencong mengerutkan dahinya saat melihat kepala pemuda didepannya bergerak-gerak menganggukan kepala.
"Aku tidak yakin paman, tetapi bisakah paman Maung menceritakan mengenai tehnik terlarang tersebut. Mungkin saja aku mengetahui cara untuk memulihkannya."
"Sejatinya aku juga kurang mengetahui secara pasti, tetapi aku akan menjelaskan sejauh pengetahuanku. Jadi tehnik itu sebenarnya..." Dewa Rencong mulai menceritakan tehnik rahasia yang membuat Dewi Anggini menjadi kehilangan kesadarannya.
"Sebenarnya dengan jurusnya itu memang telah membuat pasukan Elang Langit berhasil dibuat kewalahan. Sebagian berhasil dia habisi. Tetapi dengan itu, dia kehilangan kesadarannya." Dewa Rencong mengakhiri penjelasan singkatnya kepada Suro.
"Jadi seperti itu, baiklah aku akan mencoba membantu eyang guru menyadarkan tetua Dewi Anggini." Suro kemudian melesat ke arah Eyang Sindurogo yang sedang menghadapi amukan Dewi Anggini.
Dia lalu mengambil sebuah seruling yang selalu disimpan dibalik bajunya. Setelah bibirnya mulai meniup seruling itu, maka terjadi perubahan sikap pada Dewi Anggini.
Sesaat kemudian pandangan mata wanita itu berpindah mencari asal suara. Kejadian berikutnya Suro harus berkali-kali mengunakan jurus Langkah Maya untuk menghindari kejaran Dewi Anggini.
Suro berusaha menenangkan kondisi jiwa Dewi Anggini. Tetapi tiupan seruling yang dia mainkan justru membuat pendekar itu semakin kesetanan.
Akhirnya Suro merubah nada seruling yang dia mainkan. Mendadak tubuh Dewi Anggini seperti dikengkang, menegang dan kaku.
Perempuan itu hanya berteriak meronta-ronta, seperti ingin lepas dari belenggu yang menahan tubuhnya tetap berada diatas udara. Dalam beberapa saat dia terus berteriak keras dan menggerung seperti seekor harimau.
Saat itu Suro mencoba menyadarkan tetua Dewi Anggini dengan menggunakan ilmu sastra Jendra dalam Nyanyian Sri Krisna. Dengan tehnik tertentu ilmu itu mampu mengekang iblis dalam jiwa Dewi Anggini.
Hasilnya setelah dapat memusatkan kekuatan alunan suara serulingnya yang dilambari kekuatannya. Serangan yang tak kasat mata itu tidak berpengaruh kepada yang lain.
Mereka seperti mendengar aluman suara seruling yang bertempo cepat, tetapi tidak seperti yang dirasakan Dewi Anggini. Pendekar perempuan itu merasa sebuah belengu raksasa sedang mengikat erat tubuhnya.
Serangan yang dilakukan Suro tidak melukai tubuh dari Dewi Qnggini. Karena memang tujuan serangan yang dilakukan Suro hanya menyasar pada jiwanya.
Matanya yang melotot dan berwarna merah seakan menyala, secara perlahan mulai memudar dan kembali normal. Kesadarannya yang telah menghilang juga mulai kembali lagi.
Namun saat kesadarannya telah kembali itu, maka dia merasakan seluruh tubuhnya lunglai dan kemudian jatuh meluncur dari ketinggian. Eyang Sindurogo yang mengamati dan juga terus mengikuti segera melesat untuk menangkap tubuh Dewi Anggini.
"Kakang Sindu...kakang dapat selamat dari serangan siluman Elang itu, ternyata." Dewi Anggini menatap wajah eyang Sindurogo dengan pucat pasi.
Dia sedikit terkejut setelah mengetahui kekasihnya masih selamat tidak kurang apapun.
"Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh adinda, sehingga mengerahkan tehnik terlarang itu. Tingkat kekuatan jiwa yang adinda capai masih belum cukup kuat untuk menggendalikannya." Eyang Sindurogo berbicara sambil menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh kekasihnya yang lemah lunglai.
"Aku mengira kekuatanku telah mampu mengendalikan jurus itu kakang," suara Dewi Anggini terdengar masih lemah.
"Beruntung angger Suro memiliki ilmu dari kitab tanpa aksara. Ilmu pangruwat para dewa itu telah berhasilmenyadarkan dirimu." Eyang Sindurogo terus menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Dewi Anggini.
Dewa Rencong dan Mahadewi segera mendekat, setelah menyaksikan Suro berhasil membuat pendekar itu sadar. Mahadewi tidak dapat menahan tangisnya mengetahui gurunya dapat diselamatkan.
Pikirannya sudah begitu kalut, saat melihat gurunya mengamuk dengan kekuatan penuh. Dia mengetahui, jika amukan itu tidak akan berhenti hingga pengguna jurus itu mati.
Beberapa saat kemudian Dewi Anggini mulai sedikit bertenaga. Dia lalu mencoba duduk bersila saling berhadapan dengan Eyang Sindurogo.
Kedua telapak mereka saling bertemu. Eyang Sindurogo meneruskan tahap berikutnya membantu memulihkan kondisi tubuh Dewi Anggini.
Pengerahan jurus terlarang yang dilakukan Dewi Anggini membuat seluruh tenaga dalamnya tersedot habis. Sebab dalam tehnik itu telah membuka seluruh chakra dalam tubuhnya membuka dan meledakkan kekuatan besar.
"Bagaimana eyang guru, apakah tetua baik-baik saja."
Dewi Anggini membuka mata mendengar suara Suro," terima kasih nakmas, aku tidak mengira dapat kembali sadar setelah mengerahkan jurus Mahesasura."
Suro menganggukan kepala menjawab ucapan Dewi Anggini.
"Jangan khawatir, aku sudah memeriksanya. Dia baik-baik saja." Eyang Sindurogo juga menjawab dengan senyuman kecil.
"Jika seperti itu, Suro akan pamit menyusul Geho sama, sebab dia menyebut bertemu lawan yang lebih kuat dibandingkan siluman elang yang berhasil melarikan diri bersama pasukannya."
Eyang Sindurogo tersenyum dan menganggukan kepala menjawab perkataan muridnya. Dia benar-benar bersyukur kekasihnya berhasil disadarkan oleh murid satu-satunya itu.
Setelah mendapatkan jawaban dari gurunya Suro lalu menghilang. Dia terlihat buru-buru karena Geho sama memintanya untuk segera menyusul dirinya.
Visualisasi Geho sama seperti ini