
Ledakan petir berbentuk naga dari jurus Basu Bajra menghantam berturut-turut tubuh Kurama. Tetapi setiap kali tubuh itu terkena serangan milik Suro, maka semua tubuh itu berubah menjadi asap.
"Sihir yang merepotkan, setiap kali tubuh palsu itu berubah menjadi asap maka muncul kembali tubuh yang lain." Suro yang mengerahkan tehnik empat Sage mengetahui, jika serangan yang dia lakukan barusan tidak berhasil menghabisi musuhnya.
Sebab lawan selalu dapat menggandakan kembali tubuhnya, setiap kali satu tubuhnya lenyap, maka tubuh yang lain akan muncul.
"Kau tidak akan mampu melukai tubuhku ini! Hahaha...!"
Salah satunya yang telah muncul kembali, adalah yang kini berada dihadapannya. Makhluk itu mentertawakan serangan Suro yang tidak berhasil menemukan tubuh aslinya.
"Kekuatanmu yang hanya seperti itu sudah berani mengaku teman dari tuan Geho sama. Jangan pernah bermimpi kau setara dengan tuan Geho sama yang Agung. Dialah satu-satunya makhluk yang dapat menyerap kekuatan Dewa Kegelapan, dan kemudian menjadikannya sebagai bagian kekuatannya sendiri!"
"Ya, ya, ya...dan dia sejak ribuan tahun tubuhnya terperangkap oleh sebuah segel dewa, bukan?" Suro segera menyadari beberapa sosok dari Kurama Tengku yang muncul telah mengepung dirinya.
Dengan menggunakan tehnik empat Sage, dia mampu merasakan setiap tubuh itu memancarkan aura kekuatan yang sama persis. Kondisi itu membuat Suro kesulitan menentukan tubuh lawannya yang asli.
"Dan apakah kau tau? Akulah yang telah membebaskan kakek moyangmu dari segel dewa itu. Jadi kalian seharusnya menunjukkan rasa hormat kepadaku.
Karena akulah yang telah menyelamatkannya. Dan berkat diriku juga Geho sama memiliki kesempatan untuk membentuk tubuhnya kembali. Sebab dia telah kehilangan wadak aslinya akibat segel dewa yang memenjarakan tubuhnya selama ribuan tahun."
Mendengar penjelasan Suro Kurama Tengu justru semakin murka, sebab ucapan Suro seperti melecehkan nama leluhurnya.
"Kau tau apa tentang tuan Geho sama leluhur agung kami. Dia bagi kami, telah menjadi salah satu dewa pelindung suku Elang Langit. Sebab setelah berhasil menyerap kekuatan Dewa Kegelapan, maka kekuatannya sudah menyamai para dewa."
Suro mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Kurama Tengu.
"Ternyata kalian suku Elang Langit tidak mengetahui nasib Geho sama yang sesungguhnya. Entah siapa sebenarnya yang telah mengisi kepala kalian dengan cerita ngawur seperti itu?"
Suro merasa dengan mendengar cerita Kurama Tengu mengenai Geho Sama, dia menduga ada bagian yang sengaja dirubah atau ditutup-tutupi. Sehingga cerita secara lengkap tidak diketahui oleh mereka.
Setelah serangan petir milik Suro yang berbentuk seekor naga berhasil menghancurkan beberapa sosok tubuh Kurama Tengku, akhirnya jurus itu menghilang.
"Makhluk rendahan sepertimu hendak melawanku, bermimpilah sampai kau beriinkarnasi menjadi makhluk yang lebih kuat!"
Salah satu sosok Kurama Tengu yang berada didepan Suro segera memberi aba-aba untuk menyerang. Jumlah sosok Kurama Tengu terus bertambah dengan munculnya sosok-sosok lainnya.
Kini tidak kurang dari dua puluh Kurama Tengu telah mengepung Suro dari berbagai sisi. Seluruh sosok dari Kurama Tengu itu lalu melakukan serangan secara serentak.
"Cermin Pembalik Sukma!"
Serangan yang dilakukan makhluk itu sangat berbeda dari sebelumnya. Bahkan Suro tidak memprediksi sama sekali dengan serangan yang tidak terduga itu.
Mereka semua secara serentak menyerang dengan jurus tapak. Tangannya yang merentang lebar itu sebenarnya membentuk sebuah mudra tertentu untuk memulai serangan yang sebenarnya. Setelah itu cahaya berkilauan menghantam Suro dari berbagai sisi.
Karena cahaya itu cukup menyilaukan Suro tanpa sadar harus mengerjapkan mata. Tetapi saat dia kembali membuka mata, maka sesuatu hal yang mengejutkan membuat dia menjadi seperti orang linglung.
Sebab saat matanya membuka kembali, maka alam sekitar tempat dia berada telah berubah. Seakan dia telah dipindahkan, entah dengan ilmu apa, mendadak dia telah berada di antah berantah yang begitu asing.
"Ini dimana?" Suro terlihat kebingungan melihat ke sekeliling. Sebab dia kini justru tenggelam didalam lumpur hitam.
Dia kini tidak ada lagi di atas langit. Justru seperti sedang berada diatas rawa.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Suro masih kebingungan belum mampu membaca apa yang telah terjadi padanya.
Dia tidak mampu memahami bagaimana mendadak berada ditempat asing yang tidak dia kenal. Belum selesai dengan rasa terkejutnya setelah melihat alam sekitar, mendadak muncul sesosok asing yang memancarkan aura pembunuh yang begitu kuat.
Seakan senjata yang dia pegang itu merupakan tongkat untuk menyandarkan tubuhnya yang tinggi menjulang.
"Apakah aku sedang bermimpi? Mengapa tiba-tiba aku ada di tempat ini?"
"Akhirnya ada anak manusia yang tersesat ke dunia ini. Jadilah obat bagi rasa laparku anak manusia! Hahaha...!"
Trang! Trang!
Tanpa basa-basi mendadak makhluk yang ada didepannya menghantamkan sabit besarnya ke leher Suro. Tetapi zirah Kavacha segera melindungi tubuh pemuda itu.
"Kurang ajar! Ternyata kau memiliki ilmu simpanan yang tidak mempan oleh senjataku!"
Sebelum makhluk didepannya kembali menghantam lehernya, Suro segera berusaha keluar dari lumpur hitam yang terus menariknya ke dalam dengan kuat.
'Perasaanku saja atau memang lumpur ini hidup dan hendak menarik tubuhku semakin kedalam?' Suro kebingungan, sebab saat dia hendak melesat terbang, justru sesuatu kekuatan berusaha terus menahan tubuhnya.
"Lodra!" Suro berteriak memanggil penguasa Pedang Kristal Dewa.
Tetapi entah mengapa, dia segera menyadari, jika dia tidak merasakan Lodra dalam kesadarannya. Selain itu dia juga tidak mampu menghubungi Geho sama. Dua jiwa itu kini tidak terhubung dengannya.
Makhluk didepan dirinya kembali hendak menyerang, tetapi kali ini Suro tidak tinggal diam.
Duuuum!
Dia meledakkan kekuatan tingkat surga, sehingga seluruh lumpur yang berusaha menenggelamkan tubuhnya dapat dia singkirkan.
"Jurus Serigala Neraka!"
Sebelum makhluk aneh yang membawa sabit besar itu menyerang dirinya, Suro telah mendahuluinya dengan serangan perubahan api hitam.
Jurus milik Naga Hitam yang digunakan Suro segera mengejar sosok tinggi yang kembali hendak menyerangnya. Sosok itu segera menggunakan sabit besarnya untuk menghalau kobaran api yang menerjang ke arahnya.
Sosok hitam tinggi itu terkejut saat kobaran api itu mampu menghindar dan membelah menjadi tiga bagian. Rasa terkejutnya itu dibayar dengan harga mahal.
Sebab kobaran api itu berhasil menyergap tubuh besarnya. Tidak beberapa lama kemudian makhluk itu berhasil dilahap api dan musnah menjadi abu.
'Sang Hyang Kavacha, kemana Lodra mengapa dia menghilang?' Suro merasakan sesuatu yang janggal menimpa dirinya.
Kondisi yang dia rasakan, seperti saat dia bertemu Sang Hyang Wenang. Dimana dia tidak dapat merasakan kehadiran Lodra dan yang lainnya, tetapi kali ini entah mengapa dia masih dapat merasakan Zirah yang melindungi tubuhnya.
'Apakah aku telah terkena sihir yang telah memanipulasi kesadaranku, sehingga kondisiku seperti orang yang berada dalam alam mimpi?'
'Tetapi mengapa diriku masih dapat tetap terhubung denganmu, Kavacha? Sedangkan Lodra dan Geho sama, tidak dapat terhubung?'
'Entahlah aku juga tidak mengetahuinya tuan Suro. Kemungkinan kita dimasukan ke dalam dunia dibalik cermin. Aku pernah mendengar itu.
Sehingga kita terpisah dari dunia nyata. Pedang Kristal Dewa yang sempat terlepas dari tangan tuan telah memisahkan kesadaran tuan dengan Lodra.'
"Sialan, ini artinya kita dijebak oleh Kurama Tengu!"
"Lalu ini di dunia mana mengapa sesuatu terasa aneh, bahkan lumpur ini benar-benar hidup dengan tangan-tangan yang hendak meraih tubuhku." Suro masih kebingungan dengan kondisi alam yang begitu janggal.
'Sepertinya kita terjebak dalam dunia sihir tuan Suro."