SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 100 SERANGAN SILUMAN DI PERGURUAN PEDANG HALILINTAR part 3



Blaaaar!


Begitu siluman kelelawar yang juga biasa disebut wewe gombel itu dalam jangkauan serangan, maka segera melesat terjangan kekuatan jurus Tebasan Sejuta Pedang yang langsung menghantam segerombolan siluman yang terbang mendekat.


Kekuatan jurus itu sebelumnya juga berhasil menghancurkan barisan pasukan Medusa yang telah menguasai Perguruan Pedang Halilintar. Ketika itu pasukan mereka sudah saling berhadap-hadapan diluar Perguruan Pedang Halilintar.


Pasukan yang dibawa Dewa Pedang hanya yang berasal dari perguruan pusat di tambah para utusan dan tetua cabang yang waktu itu sedang berkumpul disana. Tambahan pasukan dari perguruan cabang belum berdatangan. Dengan kekuatan yang kalah besar, membuat pasukan yang ada dipihak musuh merasa di atas angin.


Tetapi begitu kekuatan Jurus Seribu Pedang Menyatu yang dikerahkan para murid utama ditambah pengerahan Jurus Sejuta Tebasan Pedang oleh para tetua menerjang ke arah mereka, maka yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang sangat mengerikan.


Salah satu sebab dari keenganan pasukan Medusa tidak berani kembali menyerang pasukan dibawah pimpinan Dewa Pedang adalah, karena kedahsyatan kekuatan jurus itu. Sebab dengan kekuatan para tetua yang berjumlah begitu banyak, saat mengayunkan jurus Tebasan Sejuta Pedang menggunakan kekuatan shakti secara penuh. Maka semua pasukan musuh yang berjarak lebih dari lima puluh tombak itu hancur semua bersama dengan daratan yang mereka pijak.


Bagaimana mereka tidak mengigil ketakutan melihat kuatnya energi pedang yang berubah menjadi kilatan cahaya seperti penampakan ribuan pedang raksasa. Kemudian menyapu bersih semua rekan pasukan yang ada dihadapan mereka, seperti sebuah terjangan banjir bandang.


Kekuatan itu bahkan tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka melihat jurus ini lebih dahsyat dari pada kekuatan Jurus Seribu Pedang Menyatu yang dikerahkan para murid utama.


Padahal mereka sudah sangat yakin mampu menahan serangan dari pasukan yang dipimpin oleh Dewa Pedang itu. Sebab didepan mereka telah berjejer pendekar dari negeri Champa yang konon jurus andalan mereka yang bernama Cermin Rembulan mampu menahan serangan yang sangat kuat sekalipun. Suatu jurus yang mampu menyerap sebuah kekuatan serangan dan kemudian mengembalikan semua kekuatan itu menjadi serangan balik.


Tetapi begitu terjangan Jurus Tebasan Sejuta Pedang menerjang, bahkan para pendekar dari Champa itu pun lenyap tak berbekas. Melihat dahsyatnya kekuatan yang tidak terbayangkan itu membuat sisa pasukan yang selamat memilih meninggalkan tempat itu secepatnya.


Seharusnya dengan mundurnya semua pasukan lawan, mereka telah meraih kemenangan gemilang. Tetapi ternyata itu bukan akhir dari suatu kemenangan yang diraih dengan gemilang. Sebab begitu datang serangan siluman yang mampu menyusup ditengah-tengah mereka, tentu jurus dengan daya penghancur yang begitu kuat tidak bisa dikerahkan.


Kini mereka punya kesempatan sekali lagi untuk menggelar jurus yang daya penghancurnya begitu mengagumkan. Terjangan energi pedang itu tidak lah sama dengan kekuatan tebasan angin yang mampu melemparkan para siluman.


Kesempatan ini juga tidak disia-siakan Dewa Pedang energi tebasan yang dia gunakan adalah kekuatan tahap Dewa Pedang. Walaupun chakra yang digunakan untuk mengerahkan jurus ini begitu besar. Tetapi kesempatan ini sangat lah jarang terjadi. Karena biasanya para siluman datang ditengah krumunan manusia.


Serangan para pendekar pedang yang telah mencapai tahap shakti dengan menggunakan jurus pedang terkuat menerjang cepat membentuk beribu-ribu kilatan cahaya besar dilangit. Wujud pedang raksasa tak terhitung banyaknya menghancurkan segerombolan siluman kelelawar itu. Bahkan dengan kekuatan yang dikerahkan secara penuh oleh Dewa Pedang dan para tetua lain, bukan hanya menerjang kepada para siluman tetapi juga awan gelap ikut tersibak. Sehingga rembulan yang sudah mendekati purnama kembali terlihat jelas.


"Berhasil!" Hampir serempak mereka berteriak setelah melihat apa yang telah terjadi.


"Ternyata kekuatan jurus itu mampu menghancurkan barisan siluman!"


Mereka bersorak melihat jurus yang mereka gunakan berhasil menghancurkan tubuh siluman.


"Berkat nakmas Suro kita punya kesempatan menang!" Dewa Pedang segera memikirkan rencana jika mereka benar-benar menyerang Perguruan Ular Hitam.


"Jika untuk serangan pembuka mungkin kita bisa menghancurkan para siluman yang ada dibarisan musuh. Tetapi jika sudah berbaur didalam pertempuran, tentu akan membuat pasukan dari pihak kita juga akan lenyap tidak berbekas." Dewa Pedang menyarungkan kembali pedangnya.


"Perintahkan para anggota perguruan untuk segera membersihkan semua korban akibat serangan siluman! Sekaligus perintahkan untuk segera dikubur!" Dia segera melesat kebagian lain. Dewa Pedang mencoba berkeliling melihat seluruh pasukannya yang rata-rata memang sudah dalam kondisi kelelahan.


Para tetua tidak jauh berbeda, sebab jika para siluman datang menyerang maka meeekalah yang turun tangan. Sebab hanya kekuatan tingkat shakti yang mampu mengusir para siluman itu. Beruntung pada awal-awal kedatangan mereka saat tenaga dalam mereka telah berkurang banyak maka mereka bisa meminum obat milik Suro yang ada dalam perbekalan mereka.


Kini semua perbekalan obat pemulih tenaga dalam, sudah habis. Kedatangan Suro yang membawa perbekalan obat-obatan benar-benar mereka tunggu.


"Kalian jangan lengah kemungkinan para siluman akan datang menyerang lagi. Meskipun siluman Wewe Gombel yang datang barusan telah berhasil kita lenyapkan. Tetapi itu tidak menutup kemungkinan akan datangnya serangan dari pasukan siluman lainnya."


"Seharusnya nakmas Suro bersama Dewa Rencong sudah sampai disini sejak kemarin, tetapi entah mengapa sampai hari ini belum juga sampai." Dewa Pedang menatap Dewi Anggini yang sedang berjaga disisi timur.


"Sesuai masukan Dewi Anggini kita akan mencoba jurus Empat Sage yang dimiliki nakmas Suro."


"Tetapi aku mendapatkan ide itu hanya berdasarkan dalam dongeng Geho sama sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Apakah hal itu nantinya justru tidak membahayakan nakmas Suro, ketua?" Dewi Anggini yang mengusulkan ide tersebut kini menjadi ragu-ragu.


"Heeem...tetua tidak perlu khawatir. Aku tidak akan menyalahkan tetua, jika itu tidak berhasil. Karena kita semua juga belum pernah menghadapi para makhluk yang memiliki wadak dan dunia yang tidak sama dengan kita. Apapun kemungkinan yang ada akan kita coba."


"Tetapi nakmas Suro pernah menjelaskan bahwa kekuatan jurus Empat Sage mampu menghisap empat unsur utama alam, yaitu apah atau unsur cair, teja atau unsur api, bayu atau angin, dan yang terakhir adalah perthiwi atau unsur tanah. Meskipun para siluman itu berasal dari dunia lain dari alam lain, tetapi mereka juga berasal dari salah satu empat unsur utama alam. Mereka tercipta dari teja atau unsur api."


"Dengan melihat dari asal-usul awal terciptannya para bangsa siluman ini, yang tercipta dari teja. Maka dengan jurus Empat Sage seharusnya nakmas Suro memiliki kemampuan untuk menghisap seluruh kekuatan para siluman."


"Selain itu aku menyuruh nakmas Suro datang kesini juga dalam misi lain, yaitu membawa serta obat-obatan yang sangat kita perlukan. Misi lainnya yang dia juga tidak mengetahuinya, adalah mengajak Dewa Rencong agar mau ikut serta ke Banyu Kuning. Kekuatannya tentu akan sangat membantu pasukan kita. Dia sudah pada tingkat shakti dan tahap permainan rencongnya sudah pada tahap Dewa sepertiku."


"Jika tidak dengan alasan yang tetua sebutkan, tentu aku juga tidak punya alasan lain agar bisa mengajaknya ikut serta kesini. Dengan mengatas namakan nakmas Suro yang akan dia latih, walaupun dengan terpaksa pasti dia akan ikut. Selain itu aku sudah mewanti-wanti jika latihan sembilan putaran langit telah sempurna diselesaikan, baru aku memperbolehkannya menyusul kesini."


"Karena untuk menghancurkan pasukan Medusa beserta seluruh pasukan silumannya kita memerlukan sebuah kekuatan besar. Jadi segala hal harus kita kerahkan dan perlu kita coba jika memang ada kemungkinannya untuk berhasil. Apapun itu? Seperti Jurus Sejuta Pedang yang barusan aku coba, ternyata memang berhasil menghancurkan tubuh mereka. Dengan keberhasilan itu kini kita sedikit tau bahwa tubuh siluman itu, ternyata ada kemungkinan untuk bisa dihancurkan. Hanya saja untuk menghancurkan atau melukainya diperlukan sebuah kekuatan yang sangat besar."


"Sudah lama aku tidak melihat kekuatan ketua yang dikerahkan dengan kekuatan penuh. Sesuatu hal yang sangat mengerikan. Aku masih tidak habis pikir bagaimana Medusa masih berani mengganggu kekuatan Dewa Pedang yang begitu mengerikan." Dewi Anggini melihat sendiri penampakan jurus Sejuta Pedang yang dikerahkan para tetua dan Dewa Pedang barusan.


Meskipun dari jarak jauh tetapi arah serangan mereka menghantam ke kelangit yang bahkan karena kekuatan Dewa Pedang yang begitu kuat mampu menyibakkan awan yang sedang berarak.


Sebelum pembicaraan mereka selesai, kembali terdengar di sisi utara muncul serangan dari para siluman. Wujud dari siluman ini berbeda dari yang sebelumnya. Bentuk tubuhnya berasal dari kobaran api yang menjulang tinggi hampir setinggi dua tombak. Terjangan api itu menghancurkan dan menghabisi apapun yang ditemuinya.