SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 220 Himavat



"Jalan arhat yang sebelumnya aku katakan ada delapan tingkatan dan kamu harus melalui seluruh tingkatan itu. Agar bisa kembali ke alam kesadaranmu. Jika kamu gagal maka kamu akan tetap di alam ini selama-lamanya. Semakin cepat menyelesaikan tahap ini, maka akan semakin cepat dapat menyelamatkan gurumu."


"Jalan ini juga disebut jalan mencapai penerangan sempurna."


"Tingkat pertama disebut jalan memasuki arus. Tingkat kedua disebut kemenangan memasuki arus. Tingkat ketiga disebut jalan terlahir sekali lagi. Tingkat keempat disebut kemenangan terlahir sekali lagi. Tingkat kelima disebut jalan tidak kembali lagi. Tingkat keenam kemenangan tidak kembali lagi. Tingkat ketujuh disebut jalan kesucian terakhir. Tingkat kedelapan disebut kemenangan jalan kesucian terakhir."


"Kedelapan tingkatan itu tujuannya adalah menghancurkan belenggu dalam hatimu dan jiwamu. Sehingga akan dapat membersihkan segala keburukanmu sebagai seorang manusia."


"Jika segala keburukanmu telah dibersihkan, maka itu akan menutup kemungkinan Dewa Kegelapan dapat mempengaruhimu. Bahkan meski segala kekuatannya kamu serap, sifat buruk dari kegelapan akan menjadi energi murni saat masuk ke dalam tubuhmu."


"Dengan istilah lain dirimu telah tersucikan dari segala keangkara murkaan dan tidak dapat dipengaruhi oleh keburukan lagi."


Sesosok didepan Suro menjelaskan panjang lebar tentang kedelapan tingkatan menuju kesucian. Menurut perasaan Suro sosok itu telah menjelaskan sebegitu panjangnya, seakan berbicara dari pagi ketemu pagi.


Setelah selesai menjelaskan maka Suro mulai menjalani penggemblengan untuk meraih penerangan sempurna. Dia mulai bersamadhi dan mencapai tingkat samadhi yang telah menenggelamkan seluruh panca inderanya dalam samadhinya.


Setelah menyelesaikan tahap pertama dan kedua maka dirinya menjadi seperti orang yang baru. Sebab dia hanya akan berbuat dharma kebaikan. Tidak akan berubah menjadi orang yang memiliki sifat buruk. Memiliki indera keenam yang lebih hebat dibandingkan kemampuan mata ketiga atau Nadi ajna yang terbuka.


Kemampuan terakhir setelah menyelesaikan tahap pertama dan kedua adalah pencerahan yang membuatnya mampu memahami sepenuhnya tentang fenomena yang dimunculkan oleh sebab akibat. Dalam kondisi ini segera dia mengetahui dan memahami putaran samsara.


Pada tahap ketiga dan tahap keempat dia mampu menumpas belenggu dalam dirinya yang berupa nafsu Indria berupa dendam dan dengki.


Pada tahap kelima dan keenam adalah seseorang yang telah mencapai tahap kesucian tingkat ketiga. Pada tahap ini dia sudah terbebas dari keakuan atas dirinya. Karena telah terbebas dari lima belenggu.


Setiap tahap itu Suro akan menjalani kondisi dimana dia ditempatkan dalam dunia ilusi. Dunia ilusi itu akan membuat segala hal yang terjadi seolah benar-benar nyata.


Seperti pada tahap pertama dia dicoba dengan rasa kedermawanan maka dia menjalani peran seseorang yang kaya raya dan dia di haruskan untuk mendermakan seluruh kekayaannya. Maka tanpa ragu dia mendermakan seluruh kekayaan kepada para masyarakat yang sedang kelaparan.


Pada tahap keempat dia digoda dengan nafsu birahi dan segala yang berhubungan dengan inderawi. Kemudian dia ditempatkan pada situasi sebagai seorang pangeran yang dikelilingi ribuan wanita. Tetapi pikirannya hanya terpaku pada ayam goreng maka hal itu dapat dilalui dengan mudah.


Giliran dia digoda dengan ayam goreng dia tetap bisa melewatinya, karena saat itu seekor harimau kelaparan meminta semua jatah makannya. Dia merelakan itu karena dia teringat kepada Maung sahabatnya sejak kecil.


Pada tahap keenam dia akhirnya melepas semua keburukan dalam dirinya diantaranya kesombongan, iri hati, dengki, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan, kemalasan dan juga dendam.


Setelah melalui perjalanan panjang manusia dalam berbagai kondisi didunia ilusi yang berputar seakan tidak ada habisnya, akhirnya Suro mencapai tingkat kedelapan. Saat dia mencapai tahap kedelapan dia telah genap melewati waktu lebih dari dua belas purnama di alam itu. Dan dia telah melalui sirkulasi perputaran hidup manusia hingga sepuluh kali. Di saat itu lah dia akhirnya mencapai penerangan sempurna.


Pantas saja Sang Hyang Batara Narada menyebut Suro akan terjebak selama-lamanya, jika dia tidak mampu mencapai tahap penerangan sempurna. Sebab dia akan tetap berkutat di dunia ilusi sampai kapanpun. Itu jika dia tidak mampu lolos dari cobaan dalam setiap dunia ilusi yang dialami.


Setelah menyelesaikan seluruh tahapnya dia kemudian membuka kedua matanya. Dia terkejut sebab kini dia mampu menatap sosok yang ada didepannya itu.


Dia menengok kanan dan kiri dan melihat sekitar tempatnya bersemadhi. Dia segera menyadari dan mengingat kembali saat dia memulai latihan di sebuah alam yang putih sempurna. Dia segera menyadari dengan sosok yang sekarang dia mampu lihat adalah orang yang sama dengan sosok sebelumnya yang tidak dapat dia lihat wajahnya.


"Akhirnya kamu telah menyelesaikan latihanmu. Apakah kamu sudah mampu mengenali wajah ulun ini?" Sosok itu tersenyum dengan ramah.


Suro menatap sosok yang penuh wibawa dengan wajahnya yang sangat rupawan. Wajah itu mengingatkan sosok yang telah mengajarkan pada dirinya tehnik perubahan tanah yang sangat dahsyat, yaitu Sang Hyang Anantaboga.


"Mohon maaf Hyang Pekulun saya tetap tidak mampu mengingat tentang pekulun dan juga pada kehidupan yang pernah Hyang Pekulun ceritakan. Tetapi jika melihat wajah Hyang Pekulun Suro seperti melihat kewibawaan Sang Hyang Anantaboga."


"Setelah dirimu mencapai penerangan sempurna, maka tugas Ulun telah selesai membimbingmu. Karena itu ulun akan kembali ke Khayangan Sudukpangudaludal."


**


Di atas ketinggian yang berada agak jauh dari bola bersinar makhluk bersayap terlihat sedang bersemadhi melayang diudara. Dia adalah Gagak setan atau Geho sama.


"Ini sudah hampir setengah purnama sejak dia kehilangan kesadarannya. Tetapi bocah itu tidak juga sadar dari mati Surinya."


Dewa Rencong kemudian melesat naik ke atas mendekati Gagak setan.


"Bagaimana apakah dirimu menemukan dirinya dalam ruang kesadarannya Gagak setan?"


"Sampai saat ini kesadarannya belum kembali, agaknya energi murni ini melindungi tubuh tuan Suro dari apapun yang ingin mendekati ataupun yang ingin melukainya." Geho sama yang melihat Dewa Rencong mendekat segera menghentikan tehnik empat Sage miliknya.


Matanya masih terpejam sebab dia sedang mencoba mendeteksi kesadaran Suro yang belum juga dapat dia rasakan. Walaupun begitu dia cukup bersyukur sebab Suro masih hidup. Jika pemuda belia itu mati maka dia juga ikut mati.


Setelah dia terpejam cukup lama mencoba mendeteksi dia dikejutakan sesuatu yang dirasakannya dan juga yang diteriakan Dewa Rencong.


"Cepat menjauh! Energi murni itu akan meledak!" Dewa Rencong berteriak sambil melesat menjauh dari tempat dia sebelumnya.


Geho sama juga melakukan seperti Dewa Rencong tanpa menunggu lama tubuhnya langsung menukik ke bawah. Sayapnya dia tangkupkan sehingga tubuhnya dengan cepat menjauh dari tempat dimana tubuh Suro yang diselimuti energi murni yang sangat padat meledak.


Duuuum!


Suara dentuman terdengar disekitar tempat itu. Geho sama segera menatap ke atas ke arah benda bulat yang sebelum meledak telah memancarkan sinar sangat terang.


Seseorang terlihat berdiri ditempat itu tanpa berpegangan pada apapun dia terus melayang sambil menatap ke seluruh tempat. Dia seperti baru saja terbangun dari tidurnya yang panjang, sehingga terlihat kebingungan keadaan alam di sekitarnya.


Geho sama dan Dewa Rencong segera melesat dan mendekati sosok itu yang tak lain adalah Suro. Mereka terlihat terkejut dengan penampilan Suro yang baru. Sebab kulitnya sekarang terlihat putih bersih.


Rambutnya memanjang sampai sebahu yang biasa diikat kini terlihat tergerai dan berkibar-kibar diterpa angin. Penampakan lain yang mereka lihat adalah seekor ular sebesar paha orang dewasa dan bersisik warna kuning keemasan berkilau cukup terang melingkar ditubuhnya.


"Dimana kita sekarang Geho sama? Mengapa aku tidak mengenal tempat ini?" Suro menatap dikejauhan pemandangan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


Saat kedatangan Geho sama yang membawa Suro dan juga Dewa Rencong berada pada sebuah Padang rumput luas. Tetapi setelah setengah purnama tempat itu kini dipenuhi dengan sesuatu yang berwarna putih. Selain itu sepanjang mata memandang warna putih juga memenuhi pegunungan yang berada di kejauhan. Kondisi itu membuat Suro mengira masih di alam saat dia bersama guru sejati atau yang tak lain adalah Sang Hyang Narada.


Dia juga menatap ke arah Dewa Rencong yang kini menggunakan pakaian kulit untuk menutupi tubuhnya.


"Dulu disini aku pernah membangun kerajaanku. Entah kenapa sewaktu akan keluar dari alam kegelapan aku ingin melihat tempat inj sekali lagi. Itulah mengapa sekarang kita ada disini. Kita berada di pegunungan tinggi didekat gunung Meru."


"Daerah ini sebenarnya masuk dalam wilayah pegunungan yang memiliki nama Himavat yang artinya memiliki banyak salju. Selain Himavat, tempat ini memiliki nama lain yang lebih terkenal. Nama lain itu memiliki arti yang tidak jauh berbeda, yaitu rumahnya salju atau Himalaya."


**


Ditunggu dukungannya jika merasa novel ini pantas didukung.


suwun