
Suro setelah melesat amblas ke dalam tanah segera menyusul mengejar kadal raksasa sepanjang lebih dari empat tombak. Kadal yang memiliki penguasaan tehnik perubahan api dan es, tentu sesuatu yang sangat aneh.
Bahkan jika dilihat praktik kekuatannya telah mencapai tingkat surga lapis lima, satu tingkat diatas Suro. Kondisi itu tidak membuat Suro ketakutan, dia cukup percaya diri.
Sebab dalam beberapa pertempuran yang telah dia lewati saat menghadapi makhluk kegelapan, kekuatan mereka memang banyak yang sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Namun semua dapat dihabisi dengan mudah.
Meskipun begitu, karena alasan kekuatan besar itu juga Suro kemudian memilih memindahkan tempat pertempuran, agar imbas pertarungannya tidak akan menghancurkan negeri bawah tanah tersebut. Sebab pertempuran yang terjadi untuk membinasahkan makhluk sekuat itu, tentu memiliki daya penghancur besar.
Permukaan tanah yang sebelumnya membelah kini telah tertutup. Tetapi tidak dibagian lebih dalam. Suro yang terjun bebas dan meluncur cepat akhirnya menemukan kadal raksasa itu.
Sebab dari kejauhan kadal itu mengerahkan secara cepat tehnik api dan esnya secara bergantian. Kadal itu hendak menghancurkan naga bumi yang merupakan jurus perubahan tanah.
'Mengagumkan monster itu mampu memahami, jika naga bumi memiliki kelemahan saat tehnik api dan es digabungkan.' Suro terkesima dengan pengerahan perubahan unsur yang dilakukan kadal itu.
Melihat pertempuran naga bumi miliknya dengan kadal raksasa itu, dia sempat merasakan sesuatu hal yang ganjil. Tetapi dia segera menepis pikiran itu, Suro merasa jika pengerahan itu sesuatu yang alami karena dorongan insting saja, bukan karena pikiran cerdas si kadal.
Dengan pengerahan secara bergantian tehnik es dan api, akhirnya tubuh naga bumi yang sedang membelit tubuh lawannya dapat dihancurkan tubuhnya oleh monster kadal itu.
Sebab secara mengagumkan tubuh kadal itu menjadi sebegitu panasnya, sehingga seluruh tubuh naga bumi menjadi merah membara. Dalam waktu yang cepat tubuh kadal kemudian berubah kembali menjadi es, begitu dinginnya tehnik perubahan es itu langsung membuat tubuh naga bumi terselimuti balokan es.
Beberapa kali tehnik itu dikerahkan, maka tak khayal akhirnya tubuh naga bumi pecah retak-retak disekujur tubuhnya. Lalu dengan gerakan yang tidak seberapa, hampir tidak memerlukan tenaga kadal itu akhirnya mampu terbebaskan dari lilitan dua naga bumi.
Melihat dua naga buminya hancur, segera Suro melesatkan sinar dari jari telunjuknya. Sinar itu menghantam perut kadal.
Kadal yang terhantam menabrak dinding tanah dibawahnya. Namun serangan yang telah melubangi perutnya, pulih dengan cepat.
Gooooarggghhh!
Suara keras kemarahan kadal dibarengi semburan api merah dari mulutnya.
"Kurang ajar, kadal ini kekuatannya sulit ditaklukan." Suro segera mengerahkan tehnik perubahan tanah membentengi tubuhnya. Jika tidak, tubuhnya akan berakhir menjadi daging bakar.
Melihat serangannya telah dihalangi oleh dinding tanah. Maka kadal itu melesat naik dan mengantamkan kepalanya ke dinding tanah
Braaak...!
Hantaman keras itu akhirnya berhasil mengancurkan perisai tanah yang dibuat Suro. Dia yang hendak membelah kepala kadal dengan bilah pedangnya tertegun disebabkan udara yang membeku dengan begitu cepat.
"Apalagi ini...! Tangannya yang hendak bergerak mencabut bilah pedang mendadak tidak bisa bergerak.
Suro tidak menyangka sama sekali tehnik pengerahan es musuhnya itu sangat mengerikan. Sebab udara di ruangan sempit tempat mereka bertarung telah sepenuhnya membeku.
Perubahan suhu yang turun secara cepat memang dirasakan oleh Suro. Namun dia tidak menyangka, jika itu telah membuat semuanya membeku. Begitu juga dirinya yang memang menjadi target serangan.
Waktu sekejap yang membuatnya lengah, telah dimanfaatkan musuhnya dengan sangat baik. Kadal itu memperkuat pengerahan perubahan es miliknya difokuskan hanya pada tubuh Suro.
'Apa hanya perasaanku, atau memang kadal ini memiliki kecerdasan yang mengagumkan? Tetapi sejak tadi sepertinya dia bertarung dengan menggunakan strategi yang seharusnya tidak dimiliki makhluk sejenisnya.'
Semua seperti berhenti, hanya mata Suro yang masih mampu melirik melihat kadal itu berjalan ke arahnya sambil mengeluarkan lidahnya.
Ssssshhhh...! Ssssshhhhh....!
Suara desisan keras dari kadal yang mengiringi setiap langkah ke arah Suro, seperti sebuah bentuk sorak kemenangannya.
Meskipun sudah melihat lawannya tidak lagi dapat bergerak, kadal itu secara terus menerus tetap mengarahkan serangan hawa dingin ke arah Suro. Dia sepertinya hendak memastikan musuhnya benar-benar tidak mampu membebaskan dirinya.
Hanya bola mata Suro yang dapat bergerak mengelirik ke kadal yang sedang merayap diatas dinding. Dia menyadari pengerahan tehnik perubahan es kadal itu sesuatu yang baru. Kecepatan pengerahan perubahan es yang dilakukan kadal itu sangatlah mengagumkan.
Sebab tidak lebih dari dua seruputan teh telah berhasil membekukan seluruh udara di lorong dimana mereka bertarung. Selain itu si kadal dapat memusatkan serangannya terfokus hanya pada dirinya. Dengan serangannya yang terpusat pada tubuh Suro, maka tak khayal tubuh itu tidak mampu digerakan, meskipun itu hanya satu ruas jari saja.
'Apa mataku salah melihat? Pengerahan tehnik perubahan alam yang tidak biasa.'
Belum selesai memikirkan keunikan yang dilakukan kadal itu, Suro harus mengatasi serangan yang akan mampu mencabut nyawanya.
Sebab kadal itu kembali bergerak dan mulai membuka mulutnya dengan lebar. Deretan giginya mirip gigi buaya yang berderet tiga baris. Jika sampai dia ditelan, tentu tubuhnya dapat dicabik-cabik dengan mudah.
'Gawat, aku harus mengatasi ini.' Suro lalu memusatkan pikirannya, agar tubuhnya dapat bergerak.
Jika dia menggerakkan sekujur tubuhnya tentu memerlukan waktu lebih lama. Sedangkan waktu yang dia miliki sudah tidak banyak.
Kondisi Suro yang telah melewati pertarungan secara terus menerus dan baru saja mengerahkan ilmu penjaga gaib sedulur papat, tanpa disadari telah menguras tenaga dalamnya secara signifikan. Karena secara tidak langsung, kini di dalam tubuhnya hanya tinggal seperlima dari kondisi awal.
Suro tidak sempat mengantisipasi dengan memulihkan tubuhnya terlebih dahulu dengan menggunakan pill tujuh bidadari. Pedang Kristal Dewa yang mampu memberikan energi tambahan belum sempat dia gengam masih ada di dalam sarungnya.
Satu-satunya harapan dirinya adalah Kavacha. Namun jika dia mengambil kekuatan yang disimpan oleh pusaka itu, justru bukan keputusan bijak.
Sebab pusaka itulah yang akan menjadi kartu as bagi dirinya untuk mampu selamat dari tajamnya deretan gigi kadal itu. Jika dia sampai mengambil kekuatan yang disimpan Kavacha, maka pusaka itu tidak dapat melindunginya.
Tetapi Suro tetap percaya diri seperti biasanya, dia tidak mau patah arang. Dia lalu berkonsentrasi untuk menggerakkan ujung jarinya.
Sesaat setelah kadal itu meloncat dan mulai membuka mulutnya dengan begitu lebar, saat itu akhirnya Suro berhasil menggerakkan ujung jarinya.
Zzzzzzrrraaaaattt...!
Dari ujung jari Suro melesat sinar yang menghantam tubuh kadal. Hantaman itu membelah tubuh kadal terbelah menjadi dua bagian secara sempurna.
"Edan, bagaimana ada makhluk seperti ini?"
Setelah tubuh kadal itu terbelah menjadi dua secara sempurna, kondisi itu tidak juga mampu membuatnya mati. Seandainya tubuhnya tidak terkurung dalam balokan es, mungkin Suro akan menggeleng-gelengkan kepala melihat peristiwa selanjutnya.
Sebab setelah dibelah menjadi dua, maka setiap belahan itu membentuk tubuh baru, sehingga dihadapannya kini muncul dua sosok kadal yang berbeda. Satu yang menguasai tehnik perubahan es dan satu lagi menguasai tehnik perubahan api.
Suro yang masih terkurung dalam balok es belum mampu menggerakan seluruh jarinya. Namun dengan pengerahan jurus yang membelah tubuh kadal, kini ada waktu bagi dirinya untuk membebaskan beberapa jari tangannya agar dapat bergerak.
Jenis es yang berhasil menggurung tubuhnya itu adalah kristal es yang sangat kokoh. Begitu padatnya kristal es yang mengurung Suro, kekerasannya bahkan satu tingkat dibawah kristal safir.
Dengan beberapa jari yang telah dapat dia gerakkan, maka Suro segera mengerahkan tehnik perubahan tanah.
Duuuuum!
Kadal yang dia belah secara sempurna kini justru berubah menjadi dua individu yang berbeda. Namun mereka belum selesai memulihkan tubuhnya, karena itu, mereka berhasil dihantam dan tergencet tehnik perubahan tanah milik Suro. Hantaman dinding tanah itu begitu kuat sehingga tanah bergetar beberapa saat.
Duuuum!
Tidak cukup sekali, kembali lagi Suro melakukan pengerahan tehnik perubahan tanah itu. Begitu kerasnya pengerahan yang dia lakukan, kembali negeri dibawah tanah ikut bergoncang lumayan kuat. Para penduduk cukup panik setelah merasakan gempa bumi akibat pengerahan jurus Suro.
Ternyata Suro bukan hanya bermaksud menggencet tubuh kadal, dia juga hendak menghancurkan kristal es yang mengurung dirinya. Dengan dibantu retakan yang dibuat melalui jurus Tapak Dewa Matahari, akhirnya Suro terbebaskan dari balok es yang menggurung dirinya.
Dia segera menghirup udara sepuas-puasnya. Sebab dalam kungkungan es itu dia sama sekali tidak dapat bernafas.
"Akhirnya aku bisa bernafas lega...!"
"Sekarang giliranku...kita lihat api siapa yang lebih kuat...?"
"Jurus Kemarahan Sang Hyang Garuda!"