
Merasakan datangnya serangan yang dikerahkan Naga Hitam, maka Suro segera mengerahkan jurus andalannya.
“Naga Taksaka!”
Semburan api yang dilakukan Naga Hitam menerjang ke arah Suro. Serangan jurus Nafas Naga Neraka yang dilakukan musuhnya membuat Suro cukup terkejut, sebab api yang menerjang ke arahnya adalah jenis perubahan api hitam.
Segera pemuda itu menghadapi serangan api itu dengan menggunakan jurus api juga. Bersama tebasan pedang yang dia cabut dari pinggangnya, maka meledaklah kekuatan api hitam.
Namun api yang dikerahkan Suro berkali lipat lebih kuat dibandingkan serangan yang dilakukan Liong Heise, Sebab api yang dikerahkan Suro adalah api yang dikendalikan oleh Lodra. Serangan yang dilakukan Suro berhasil menelan habis terjangan api hitam milik Naga Hitam.
“Api hitam? Siapa sebenarnya kau bocah? Apa hubunganmu dengan Pedang iblis dari negeri Jambudwipa? ” Naga Hitam begitu terkejut melihat penampakan jurus yang dikerahkan Suro. Sosok lelaki itu tidak habis pikir bagaimana bocah yang dibebat matanya dengan kain itu mampu mengetahui keberadaan lawan dan dapat menghindar serangan miliknya dengan mudah.
Suro tidak menjawab pertanyaa Liong Heise, dia justru segera menarik kembali Naga Taksaka yang sempat dia kerahkan, setelah seluruh semburan api milik lawannya berhasil dilahap habis.
Rasa terkejut dari Naga Hitam tidak mampu ditutupi. Karena jurus itu sangat dikenalinya. Sebab jurus itu mengingatkan dirinya kepada jagoan golongan hitam di Benua Tengah. Dia cukup dekat dengan Pedang iblis, bahkan
karena kedekatannya itu dia berhasil meniru jurus yang dimiliki tokoh tersebut.
Sebagai seorang penggila ilmu beladiri dan seorang jenius, saat melihat tehnik api hitam milik Pedang iblis dia terus berusaha menirunya. Keberhasilannya itu mengantarkan dirinya dikenal sebagai Naga Hitam. Tentu saja nama itu terinspirasi dari tehnik perubahan api hitam yang telah berhasil dia tiru. Meski sampai sekarang tidak ada yang mengetahui bagaimana caranya dia mampu melakukan tehnik perubahan api tersebut.
“Jadi memang benar kabar mengenai Pedang iblis yang tewas di Benua Timur? Tetapi bagaimana mungkin orang sekuat dia justru dihabisi oleh cecunguk sepertimu? Tidak mungkin cecunguk sepertimu mampu melakukannya. Katakan siapa yang membantumu membunuh Pedang iblis dan merebut pedang miliknya?"
Naga Hitam sangat mengenal dengan apa yang dia lihat. Sebab gagang pedang yang terselip di pinggang Suro sama persis dengan yang dimiliki Pedang iblis yang memiliki kemampuan khusus mampu mengeluarkan api hitam.
Selain terkejut dengan jurus api hitam yang dikerahkan Suro, dia juga terkejut dengan dahsyatnya api hitam dikerahkan pemuda itu. Sebab baru pertama kali ini jurusnya tidak mempan menghabisi musuhnya, bahkan sekarang justru berhasil ditelan habis tanpa sisa.
Suro hanya tertawa kecil mendengar ucapan Naga Hitam. Bukan hanya lawannya yang terkejut, sebenarnya Suro juga merasakan hal sama. Dia juga terkejut saat merasakan jurus yang dikerahkan lawannya. Sebab baru pertama kali ini ada manusia yang mampu mengerahkan tehnik perubahan api hitam seperti yang barusan dilakukan Naga Hitam.
Dengan merasakan kekuatan jurus itu, membuat Suro begitu tertarik. Dia bahkan berniat untuk mempelajarinya. Kemampuan lawan yang kali ini dia hadapi begitu istimewa.
Suro yang memiliki kanda yang istimewa, yaitu memiliki sembilan perubahan unsur alam, tentu mampu mengerahkan setiap tehnik perubahan alam. Kemampuannya dalam mengolah tehnik api sebenarnya sudah dia latih sedemikian rupa agar tidak terlalu bergantung kepada Lodra.
Namun perubahan api yang mampu dia lakukan saat membuat pedang cahaya hanya sampai pada pedang cahaya putih. Tehnik perubahan api yang coba dia kuasai sampai tahap api hitam tidak pernah berhasil.
Karena itulah, setelah merasakan kehadiran api hitam dalam jurus lawannya, maka Suro bersemangat untuk mencari tau. Tetapi dia melakukannya tentu tanpa sepengetahuan musuhnya.
“Dimana kalian membawa tetua kami Dewi Anggini?”
"Nyalimu benar-benar besar bocah, karena berani mengusik kelompok Mawar Merah dan membantai orang-orangku. Terutama kalian telah berani mengganggu meditasiku." Naga Hitam menggerung penuh murka.
“Cakar Naga!”
“Tebasan Naga Murka!”
Naga Hitam kembali menyerang dengan menggabungkan jurus cakar naga miliknya dan jurus pedangnya.
Serangan milik Naga Hitam yang begitu mengerikan dengan aura kekuatan dan aura pedang menghantam Suro seperti kilat berhasil dihindari dengan mudah. Pasukan dari kelompok Mawar Merah terkejut melihat hal tersebut.
Sebab kekuatan Naga Hitam yang sudah mereka ketahui kedahsyatnya saja dapat dihindari pemuda tersebut. Kini mereka segera menyadari seberapa kuat lawan yang sebelumnya mereka hadapi itu.
Apalagi saat itu Naga Hitam sudah menggunakan Pedang Naga Api. Mungkin pedang itu seperti Pedang Kristal Dewa, hanya saja kekuatan pedang itu mampu meningkatkan tehnik perubahan api penggunanya. Dengan tehnik api hitam dan bilah pedang pusaka andalannya itulah namanya dikenal luas dalam dunia persilatan benua tengah.
Mereka segera memahami mengapa serangan mereka sedari awal tidak ada yang sanggup melukai Suro. Sebab kemungkinan kekuatan pemuda itu justru lebih kuat dibandingkan tetua mereka yang mereka takuti itu.
“Kalian tidak memahami, sedari awal aku sudah menahan kekuatanku. Karena satu alasan, yaitu aku harus bertanya kepada kalian tentang keberadaan orang-orang yang harus aku selamatkan itu.” Suro kali ini tidak mencabut pedangnya dan memilih menghindari serangan yang selalu dilambari dengan kekuatan api hitam seperti yang dimiliki Lodra.
Suro sempat bertanya kepada penguasa pedang kristal langit mengenai tehnik yang diperlihatkan lawannya. Namun Lodra justru terlihat kebingungan dengan jurus yang diperlihatkan Naga Hitam. Walaupun sebelumnya dia tetap dapat melahap kekuatan api yang dikerahkan musuhnya itu.
“Sombong sekali, baru mampu menghindari satu dua seranganku sudah merasa di atas angin. Rasakan jurusku ini!”
“Jurus Tebasan Naga Murka!”
Naga Hitam yang awalnya meremehkan Suro mulai mengerahkan kekuatannya. Serangannya kali ini dikerahkan dengan lebih serius. Tetapi setiap kali dia meningkatkan kekuatannya, maka pemuda yang menjadi lawannya itu tetap mampu mengimbangi dirinya. Justru kali ini pedang yang sempat dia gunakan tidak lagi dicabut dari sarungnya.
Sebenarnya selain Naga Hitam beberapa jagoan yang mendekati kekuatan lelaki itu telah bermunculan. Tetapi mereka mengetahui tabiat dari Naga Hitam, jika mereka masuk atau mengganggu pertarungan yang sedang dia lakukan, maka dia akan murka. Karena itulah mereka memilih menjadi penonton dan mengamati jalannya pertarungan.
Mereka juga penasaran dengan peningkatan kekuatan Naga Hitam. Setelah melakukan latihan tertutup yang berlangsung cukup lama itu. Maka ini adalah penampilan perdananya, oleh karena itu para tetua itu dibuat penasaran ingin melihat peningkatan kekuatan yang telah dicapai Naga Hitam sekarang ini.
Mereka menyaksikan jalannya pertarungan dengan tetap menjaga jarak, tidak berani terlalu dekat. Mahadewi yang menjauh dan dilindungi Naga bumi, tidak ada satupun yang berusaha menyerangnya untuk mengganggu konsentrasi Suro.
Serangan beruntun yang dilakukan Naga Hitam tidak juga mampu mengenai pemuda yang matanya masih dibebat kain itu. Entah dengan cara apa pemuda itu berusaha meniru tehnik perubahan api hitam milik musuhnya, sebab matanya saja masih belum dapat dia gunakan.