
Setelah kejadian dalam pertempuran di dalam area istana yang mengakibatkan tewasnya salah satu pentolan Perguruan Seribu Hantu, membuat perguruan itu memutuskan menarik dukungan kepada kekaisaran Yang.
Mereka tidak bisa bergabung lagi, sebab keberadaan para pendekar aliran putih yang bersama kedatangan Jendral Yuwen Huaji telah menjadi bukti, jika kekaisaran telah beralih kiblat. Alias kekaisaran telah meninggalkan aliran hitam dan mendukung aliran putih.
Selain itu mereka memang harus secepatnya meninggalkan istana kekaisaran, jika ingin selamat. Sebab para pendekar yang berhasil diselamatkan Suro Tak akan sanggup mereka hadapi.
Hampir semua pendekar yang diselamatkan itu berasal dari perguruan aliran putih. Selebihnya adalah pendekar yang tidak memiliki perguruan dan ada dalam hitungan jari yang berasal dari aliran hitam.
Meskipun begitu mereka semua setia dan menepati janji membantu Suro untuk menggagalkan rencana besar Batara Karang di Negeri Atap Langit. Mereka melakukan itu karena merasa berutang nyawa.
Namun setelah mendengar penjabaran Suro lebih gamblang seperti yang sebelumnya sempat dijelaskan kepada Kaisar Yang Guang, kini mereka merasa itu adalah sebagai bentuk kewajiban. Sebab sesungguhnya dengan membantu Suro sama saja telah menyelamatkan seluruh negeri kedepannya dari kehancuran.
Artinya mereka berjuang untuk tumpah darah mereka sendiri. Menyelamatkan anak saudara dan perguruan dari ancaman kehancuran yang tak terperikan.
Kini mereka semua bersama pasukan kekaisaran ikut dalam perjalanan mencari jejak pasukan Elang Langit. Setelah perjalanan hampir seharian hingga sampai di dekat sebuah sungai besar, mendadak Suro memberi perintah untuk berhenti.
"Kita sepertinya sudah sampai ditempat yang di tuju. Tetapi tunggu sebentar, sebaiknya aku pastikan terlebih dahulu " ucap Suro singkat. Pandangan Suro berpindah ke arah tebing besar yang berada di kejauhan.
Wajah pemuda itu berkerut, begitu juga Geho Sama yang ada disampingnya. Pandangan keduanya mengarah pada tempat yang sama, yaitu tebing besar yang dari kejauhan terdapat beberapa patung besar terpahat pada dindingnya.
"Apa yang akan kau rencanakan dengan membawa kami semua ke wilayah ini bocah?" Dewa Rencong mulai jengah sebab sedari tadi Suro tidak memberi petunjuk secara jelas tempat yang dituju.
Setelah pasukan milik Jendral Yuwen Huaji bergerak menuju utara, maka pasukan pasukan Suro juga ikut bergerak. Tetapi arah yang dituju berseberangan dengan arah yang dituju Jendral Yuwen Huaji.
Mereka sejak awal sebenarnya bertanya-tanya dengan keputusan pemuda itu. Sebab dari laporan telik sandi serangan yang datang berada di sebelah utara.
Tetapi dengan tanpa ragu justru Suro membawa pasukan yang lumayan besar itu menuju ke arah yang berseberangan, yaitu ke arah selatan dari kota kerajaan Luoyang.
Saat itu sudah menjelang malam dan matahari sudah mulai tenggelam diufuk barat, perjalanan rombongan itu telah sampai di suatu daerah yang bernama Pegunungan Longmen.
Tempat mereka berada di tepi Sungai Yihe, sekitar 12 kilometer di sebelah selatan kota kerajaan Luoyang. Tepatnya mereka sedang berada di antara Pegunungan Longmen dan Pegunungan Xiang, serta menghadap ke arah Sungai Yishui.
"Apakah paman Maung melihat patung raksasa yang berada di tebing itu?"
"Ya, aku melihatnya, lalu apa maksudnya kau mengajak kami semua menuju tempat itu?"
"Sejujurnya aku tidak memiliki petunjuk apapun untuk menelusuri keberadaan pasukan Elang langit. Tetapi sebelum kita berjalan ke arah ini aku sempat berbicara dengan paman Zhang.
Dia adalah ahli Tao. Dengan kemampuannya itu akhirnya aku mendapatkan sebuah petunjuk. Karena itu aku ingin memastikan kebenaran dari apa yang telah dijelaskan paman Zhang kepadaku."
Sambil berbicara pandangannya masih tidak lepas ke arah dinding besar," dan disanalah petunjuk yang aku miliki, seperti yang dijelaskan paman Zhang."
Pendekar Zhang guru besar biara Wu Dang yang berada didekat mereka menganggukkan kepala mengamini ucapan Suro.
Dewa Rencong dan yang lainnya langsung ikut menoleh mengikuti jari telunjuknya yang mengarah ke tebing besar.
"Petunjuk apa yang kau maksud bocah?" Dewa Rencong memincingkan mata setelah memadang ke arah yang ditunjuk Suro.
"Paman Maung memangnya tidak merasakan sebuah aura kekuatan dari tempat dikejauhan itu? Aura itu lah yang membuat diriku yakin jika memang petunjuk yang diceritakan paman Zhang memang benar adanya."
"Aura kekuatan?" Kembali Dewa Rencong mengernyitkan dahi sambil memandang dikejauhan.
Dewa Rencong memincingkan mata mendengar jawaban Suro. Dewa Rencong sebenarnya cukup terkejut mendengar Suro mampu menangkap aura kekuatan yang berada pada tempat sebegitu jauh. Dia lalu mengerahkan kekuatan jiwa miliknya untuk membuktikan ucapan Suro.
Seharusnya dengan kekuatan jiwa miliknya dia merasakan kehadiran makhluk lain. Tetapi dia tidak yakin, karena tempat itu cukup jauh dari tempat dia berdiri.
Beberapa kali dia mengerahkan kekuatan jiwanya untuk membuktikan ucapan Suro, tetapi dia belum berhasil. Suro mampu merasakan, sebab tehnik yang dia gunakan adalah tehnik empat sage yang mampu mendeteksi keberadaan makhluk sampai jarak yang cukup jauh.
Selagi Dewa Rencong masih mengerahkan kekuatan jiwanya, Pendekar Zhang ikut penasaran, "apakah pendekar muda telah cukup yakin dengan petunjuk yang sebelumnya aku jelaskan?"
"Aku rasa memang begitu paman Zhang. Seperti pembicaraan yang sebelumnya saat masih dikota kerajaan Luoyang, jika perjalanan kita tidak sia-sia. Apapun itu aku yakin kita akan mendapatkan petunjuk tentang sesuatu hal yang berhubungan dengan Dewa Kegelapan dan juga antek-anteknya."
Suro kembali menatap tebing yang berada di kejauhan.
"Setelah sampai disini, aku telah merasakan adanya sumber aura kekuatan yang tidak asing. Kekuatan ini bukanlah milik manusia," imbuh Suro sambil menunjuk tebing batu disebelah barat.
Mahadewi yang berada didekat Suro ikut menatap dikejauhan patung-patung besar yang dipahat dari dinding tebing besar.
"Apa yang sebenarnya tersembunyi di tebing yang berada di kejauhan itu kakang?" Mahadewi menatap Suro sambil membenarkan rambutnya yang berkibar terkena angin yang mendadak mulai bertiup kencang.
"Para makhluk yang seharusnya tidak ada di dunia ini," jawab Suro singkat.
"Makhluk itu mengapa bisa ada di tempat ini?" Dewa Rencong akhirnya berhasil merasakan adanya sebuah aura kekuatan yang tidak asing baginya.
Tetapi Dewa Rencong merasakan sesuatu yang berbeda dari aura yang dia tangkap. Hanya saja dia tidak bertanya lebih lanjut kepada Suro. Dia menjadi penasaran dengan apa yang dia temukan itu.
"Kalian hanya ingin mendengar ucapanku, atau ingin membuktikan kebenaran atas ucapanku?" Suro lalu menarik tangan Mahadewi melesat ke arah tebing besar dikejauhan.
Dewa Rencong yang sudah penasaran tidak menunggu lama ikut melesat menyusul. Tetapi Geho Sama lebih dahulu melesat mendahului Dewa Rencong.
Geho Sama yang sejak tadi berdiri didekat Suro terus mengerahkan tehnik empat Sage untuk mengetahui makhluk apa yang berada dikejauhan. Dia juga tidak jauh berbeda dengan Dewa Rencong.
Meskipun mampu melacak aura kekuatan hingga sebegitu jauh, namun dia tidak bisa memastikan makhluk apa yang sebenarnya hendak mereka hadapi. Karena itulah dia juga langsung bergerak menyusul Suro tanpa berbicara.
Para pendekar yang berjumlah ratusan itu sedikit ragu dengan ucapan Suro. Mereka tidak segera mengikuti ucapan nya dan justru saling pandang.
"Apa yang kalian tunggu? Dia meminta kalian mengikutinya?" Dewi Anggini tidak beberapa lama kemudian ikut melesat menyusul Suro.
Duuum! Duuuum!
Belum sempat para pendekar itu menyusul, suara keras mengetarkan seluruh tempat tersebut. Arah suara itu berasal dari tebing yang menjadi tujuan Suro.
Gooooaaaarrrh!
Suara raungan keras suatu makhluk kali ini terdengar begitu keras.
"Apa yang sebenarnya mereka cari?" Pendekar Zhang?" Para pendekar yang berada didekat pendiri Biara Wu Dang itu langsung terkejut dengan suara dentuman dan suara teriakan keras barusan.
Mereka segera bertanya kepada lelaki tua yang gagah itu dengan tatapan penuh rasa penasaran.
"Mereka hendak mencari tau tentang makhluk legenda yang bernama Kirin Neraka."