SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 352 Naga Hitam part 3



Serangan pedang dan cakar yang dilakukan Naga Hitam tidak ada satupun yang mampu mengenai Suro. Padahal dalam setiap tebasan itu dilambari tehnik perubahan api hitam yang cukup untuk membakar tubuh manusia menjadi arang, hanya dalam waktu tidak lebih dari setengah seperminuman teh.


Namun dengan kemampuan Suro semua serangan itu dapat dihindari dengan sempurna. Sambaran jurus cakar naga milik lawannya itu beberapa kali menghancurkan lantai dan dinding ruangan itu.


Serangan cakar itu bergerak selaras dengan ayunan pedang ditangan kanannya. Hampir tidak ada celah yang mampu dihindari. Tetapi berkali-kali Naga Hitam menyerang, Suro selalu saja dapat menghindari semua serangan yang sangat rapat itu.


Tubuh Suro hilang dan muncul dalam amukan serangan lawannya. Dia bergerak dengan begitu cepat dalam badai tebasan pedang dan serangan cakar milik Naga Hitam.


Berpuluh-puluh jurus yang dikerahkan oleh Naga Hitam hanya membuat dia semakin murka, sebab sedari awal tidak satupun serangannya mengenai lawannya. Karena alasan itulah dia semakin mempercepat serangannya setiap kali dapat dihindari.


Bahkan setelah kecepatan serangan miliknya telah dia tingkatkan beberapa kali lipat, selalu saja pemuda yang menjadi lawannya itu tetap dapat menghindarinya.


‘Mataku atau perasaanku yang salah? Sebab saat pemuda itu menghindari seranganku, tubuhnya seperti benar-benar lenyap dari pandangan lalu muncul ditempat lain?’


Naga Hitam sebenarnya sedikit kebingungan dan kagum melihat kecepatan menghindar yang dilakukan Suro. Dalam puluhan tahun dia mengarungi dunia persilatan dia tidak menemukan lawan setangguh seperti yang dia hadapi sekarang.


Karena itulah dia semakin bersemangat menyerang Suro. Sebab mencari lawan yang kuat hingga memaksanya untuk menggunakan kekuatan maksimal miliknya itu sangat jarang dia temukan. Apalagi setelah melewati latihan panjang, Naga Hitam ingin menjajal kekuatan baru yang berhasil dia miliki.


Serangan yang dilakukan Naga hitam sudah mencapai kecepatan yang mata biasa tidak akan mampu melihatnya. Bahkan pendekar yang sudah berada ditingkat shakti saja cukup kesusahan untuk dapat melihat dengan jelas.


Seperti yang dialami Mahadewi, mata dia sampai sakit karena berusaha melihat jalannya pertarungan itu. Dia dapat berkonsentrasi melihat jalannya pertarungan tanpa takut diserang musuh.


Sebab saat itu naga bumi berada didekatnya untuk melindungi dirinya. Meskipun saat itu dia sedang berada di markas musuh, namun dia merasa cukup aman. Apalagi memang sedari tadi tidak ada satupun pasukan musuh yang berusaha menyerang dirinya.


Mereka memang tidak akan mampu mengikuti gerakan menghindar


yang dilakukan Suro, sebab kali ini dia menghindar dengan menggunakan jurus


Langkah Maya.


“Bocah sialan, sebenarnya apa yang kau inginkan? Sedari tadi aku tidak melihat satupun serangan darimu. Kau hanya bergerak menghindar dan menghindar secara terus menerus. Seperti kancil saja!"


Suro tertawa kecil mendengar ucapan Naga Hitam “benar paman, karena aku memang si kancil yang hendak mencuri tehnik perubahan api milikmu. Tehnik perubahan api hingga tahap hitam, seperti milik paman baru pertama kali ini aku lihat. Aku sangat tertarik ingin menguasainya."


“Kurang ajar, Nyalimu besar sekali berani berniat mencuri tehnik rahasia milikku!"


Naga Hitam bertambah murka mengetahui niat tersembunyi yang dilakukan lawan. Tetapi dia menyadari jika serangan yang sejak tadi dia lakukan telah menguras kekuatannya.


Hal itu ditandai dengan nafasnya yang mulai memburu. Keringat bercucuran telah membasahi tubuhnya.


Berbeda dengan yang terlihat pada diri Suro. Pemuda itu masih terlihat segar bugar, meski sedari tadi dia bertarung. Dia tetap dapat menghindari setiap serangan lawannya dengan lihai. Tidak terlihat pada dirinya tanda kelelahan padanya.


“Hahaha...jadi seperti itu cara paman mengerahkan tehnik perubahan api sampai ke tahap api hitam?”


“Apa? Bagaimana mungkin kau mampu mengetahuinya?”


Naga Hitam terkejut seperti disambar petir mendengar ucapan Suro yang telah mengetahui tehnik rahasia yang dia miliki. Dia kali ini tidak bisa habis pikir dengan kemampuan yang dimiliki musuhnya.


Melihat musuhnya selalu dapat menghindari serangannya dengan mata tertutup sudah merupakan sesuatu yang tidak dimasuk akal. Kini pemuda itu mampu mengetahui tehnik rahasia yang dia kembangkan dengan hanya merasakan serangannya. Semua itu semakin terasa tidak bisa dinalar sama sekali.


“Tidak akan aku biarkan kau hidup lebih lama setelah berhasil mencuri tehnik rahasiaku!”


“jurus Raja Neraka gerbang pertama!”


“Gelombang naga Hitam!”


api yang dapat membentuk wujud sebuah naga.


“Menarik sekali, ternyata paman juga mampu mengerahkan tehnik api hitam sampai sejauh ini.”


Suro mencoba mengerahkan tehnik api hitam dengan mengikuti cara yang digunakan Naga Hitam, namun dia belum berhasil dan harus terus mencobanya hingga berkali-kali. Karena itu selama dia belum berhasil, maka dia lebih memilih terus menghindar dari serangan kobaran api hitam yang berupa ular naga itu.


Hal tak terduga itu membuat Suro semakin kagum dengan kemampuan lawannya. Kali ini jurus perubahan api milik Naga Hitam itu tidak seperti jurus yang dikerahkan sebelumnya, sebab api itu dapat mengejar Suro seperti memiliki


nyawa. Bisa dikatakan kemampuan Naga Hitam mendekati kemampuan Lodra.


“Paman sungguh luar biasa aku bisa menyebut paman sebagai seorang jenius dalam ilmu bela diri!”


Suro menggunakan Jurus Langkah Maya untuk menghindari serangan musuh yang hendak membakarnya itu. Dia terus berusaha secepatnya dapat


mengerahkan tehnik perubahan api hingga tahap hitam.


“Anak muda, kau pikir sedari tadi sedang berhadapan dengan siapa? Aku adalah sang Naga Hitam si jenius yang telah mengangkangi dunia persilatan sebelum kau lahir!”


Suro tertawa mendengar ucapan Liong Heise, sambil terus menghindari kejaran api hitam milik lawannya.


“Ya..ya..ya..memang paman sangat luar biasa.”


“Tetapi sayang kekuatan paman belum cukup untuk mengalahkanku, lihat jurusku ini Naga Taksaka!”


Setelah sebelumnya terus mencoba, akhirnya Suro mampu menembus tahap api hitam. Kali ini Suro tidak menggunakan Pedang Kristal Dewa untuk mengerahkan api hitam.


Dia menggunakan tehnik perubahan api hitam dengan menjiplak tehnik yang dimiliki lawannya. Dari kedua tangan Suro terlihat api hitam yang segera melesat menghantam sosok naga yang berusaha melahap dirinya dalam kobaran api.


Buuuuum!


Dua kekuatan tehnik perubahan api hitam itu berbenturan di tengah pertempuran yang membuat ledakan cukup keras. Ledakan itu juga membuat udara di tempat itu naik drastis. Bahkan mampu membuat keringat setiap orang yang berada didekat pertempuran itu harus


bercucuran dengan cukup deras.


“Siapa sebenarnya kau ini bocah?”


“Sebut saja aku kancil yang cerdik suka mencuri tehnik milik musuh. Hahahaha...!”


“Kurang ajar, apanya yang lucu? Kau pikir pertempuran ini sebuah lelucon? Kau akan menyesalinya bocah!”


“Gerbang kedua Amukan Naga Kembar!”


Kali ini Suro semakin terkagum-kagum dengan kemampuan Naga Hitam.


"Waoooow, Lodra sebaiknya kamu banyak belajar tehnik perubahan api seperti sosok lelaki ini. Lihatlah bentuk naga yang dia kerahkan sangat mengagumkan! Jurusmu terlalu kuno tidak mengikuti jaman."


'Kuno matamu! Bocah sinting, apa kau tidak mengetahui, jika lelaki itu hanya meniru jurus milikku? Sehebat apapun jurus yang dia kerahkan, itu hanyalah jurus tiruan.'


'Kau terlalu memandang remeh diriku


Kau tau mengapa aku mampu menyerap api setiap lawan-lawanmu? Karena aku adalah Lodra yang agung, satu-satunya jiwa pedang yang mendapatkan berkah dari Sang Hyang Batara Brahma. Dewa penguasa api diseluruh jagat ini.'


'Bocah sialan gunakan bilah pedangku. Biar aku perlihatkan kepadamu api hitam milik lawanmu ini tidak ada apa-apanya, jika berhadapan dengan Lodra yang Agung!'