
"Bocah sinting, mengapa kau baru datang!" Dewa Rencong yang duduk disamping eyang Sindurogo berbicara dengan nada keras, tetapi sebuah senyuman tersimpul disudut bibirnya.
"Hahaha...paman maung akhirnya kena batunya. Apakah paman baik-baik saja?
"Baik-baik kepalamu! Kau pikir kami duduk ini karena sedang berleha-leha?Dasar bocah gemblung. Lihat apa yang sudah aku katakan. Sejak awal aku merasa isi kepala muridmu ini ada yang salah, alias tidak waras.
Jika tidak, bagaimana mungkin, saat melihat kita sedang kesusahan seperti ini justru tertawa kegirangan!" Dewa Rencong menunjuk-nunjuk Suro sambil menatap eyang Sindurogo.
Tetapi eyang Sindurogo sejak kedatangan Suro yang telah menyelamatkan dirinya dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk menyelamatkan, senyum lebar tidak berhenti terus menghiasi wajahnya.
"Akhirnya kau datang ngger, mengapa begitu lama pergi ke alam kegelapan?"
Suro berhenti tertawa mendengar pertanyaan dari eyang Sindurogo" panjang ceritanya eyang, nanti aku ceritakan. Sebaiknya eyang guru dan paman segera menelan pill penawar racun milikku."
Suro segera mengeluarkan dua pill kepada gurunya dan juga kepada Dewa Rencong.
"Racun yang mengenai eyang guru disebut racun pelumpuh tulang. Sebaiknya guru dan paman menggunakan Sahasra Deva ini juga, agar kekuatannya juga dapat dipulihkan secepat mungkin.
Tetapi jangan lebih dari seteguk, cukup setengahnya saja. Aku yakin dengan ini kekuatan tenaga dalam akan pulih dengan cepat."
"Bagaimana kau memiliki penawar racun ini, angger Suro?"
"Panjang ceritanya eyang, nanti akan aku ceritakan. Sebaiknya eyang guru dan paman Maung segera memulihkan tenaga. Sebab Batara Karang kemungkinan telah berhasil mendapatkan kekuatannya yang sesungguhnya, atau mendekati. Selain itu, kita harus secepatnya menyelamatkan tetua Dewi Anggini."
Setelah memberikan beberap hal kedua pendekar barusan, Suro segera berjaga jika sewaktu-waktu musuh menyerang mereka.
"Huwaaaa....aaarrrrgggh bocah gendeng minuman apa yang telah kau berikan kepadaku?"
Suro menggaruk-garuk kepalanya sambil menahan tawanya, setelah melihat Dewa Rencong terbelalak matanya seakan mau copot, sesaat setelah Sharkara Deva masuk ke dalam kerongkongannya.
Sebab ledakan energi yang terkandung didalamnya, seperti sengatan listrik yang menghentak sekujur tubuhnya. Tubuhnya bahkan sempat mengejang walau hanya sesaat.
Setelahnya pendekar itu segera menyadari betapa menakutkannya kekuatan yang terkandung dalam cairan yang telah dia telan. Setiap inci dari bagian tubuhnya seperti dipenuhi dengan kekuatan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
Reaksi Dewa Rencong terbelalak seakan tidak mempercayai apa yang sedang dia rasakan "benar-benar bocah gendeng, bagaimana kau memiliki sesuatu yang sehebat ini?"
Eyang Sindurogo juga merasakan apa yang dirasakan Dewa Rencong, seluruh sendi ditubuhnya seakan telah terisi penuh dengan kekuatan yang meluap-luap.
"Aku pastikan kau lenyap hari ini Wang Fuhan!" Matanya menyala penuh kemarahan ke arah iblis racun yang tak mampu menutupi rasa terkejutnya menyaksikan Dewa Rencong dan eyang Sindurogo dapat pulih dengan begitu cepat.
Matanya langsung berpindah ke arah Batara Karang, seakan hendak meminta jawaban. Sebab itu artinya racun pelumpuh tulang miliknya dapat ditawarkan oleh pemuda yang muncul secara mendadak itu.
"Jangan meremehkan kekuatan pemuda itu. Dia sejatinya bukan makhluk yang berasal dari bumi ini." Batara Karang berjalan mendekat ke arah Dewi Anggini yang dikurung dalam Kunjara Brajapati.
"Aku tidak berbicara banyak, jika kalian tidak menyerahkan belati milik wanita ini, maka Kunjara Bajrapati milikku akan membakar dan mencabik-cabik tubuhnya menjadi serpihan daging."
"Tunggu aku akan memberikan, asal kau lepaskan tetua Dewi Anggini."
Suro segera menoleh kebelakang seperti menunggu sesuatu. Eyang Sindurogo maupun Dewa Rencong terlihat kebingungan.
Dua pendekar itu tidak memahami maksud ucapan Batara Karang dan mereka juga cukup terkejut mendengar jawaban Suro. Bukan hanya eyang Sindurogo atau Dewa Rencong yang terkejut, Dewi Anggini tak kalah terkejut.
Mereka tidak mampu memahami bagaimana Suro memilikinya. Tetapi jawaban pertanyaan yang menggantung dipikiran mereka bertiga segera terjawab.
"Guru!" Teriakan Mahadewi yang muncul diujung lorong sambil menaiki seekor hewan mulai terlihat dikejauhan.
Mahadewi tidak sabar, dia meloncat dari Lembuswana dan melesat menggunakan langkah kilat.
"Jangan mendekat Mahadewi, lebih baik kamu tetap dibelakang. Mereka semua bukan lawanmu" teriakan Suro menghentikan langkah Mahadewi lebih jauh.
Mahadewi tidak tega melihat gurunya diperlakukan sedemikian rupa. Tubuh Dewi Anggini terpaksa harus sedikit menekuk, sebab kerangkeng yang berupa energi petir itu semakin mengecil.
Terdengar suara tetua Dewi Anggini mengaduh kesakitan, setiap kali letupan bunga-bunga listrik mengenai tubuhnya. Ucapan Batara Karang ternyata bukan gertakan semata, terlihat pakaian tetua itu terbakar setiap kali menyenggol sesuatu yang telah mengurungnya.
"Angger apa yang kamu maksud Batara Karang telah mendapatkan kekuatannya kembali?" Eyang Sindurogo dan Dewa Rencong segera bangun begitu merasa kekuatannya telah pulih.
Kini mereka berdua justru merasa kekuatan mereka melimpah ruah setelah meminum cairan yang diberikan Suro barusan.
"Panjang ceritanya eyang, yang jelas Dewa Kegelapan dan juga Batara Karang telah berhasil mendapatkan kekuatannya. Namun Suro berhasil mencegah Dewa Kegelapan mendapatkan kekuatannya secara penuh."
Mendengar ucapan Suro eyang Sindurogo maupun Dewa Rencong saling berpandangan. Mereka berdua belum memahami maksud ucapan Suro.
Suro lalu meminta belati yang dimiliki Mahadewi.
Batara Karang tidak segera menjawab, dia justru bertanya terlebih dahulu kepada Dewi Anggini mengenai belati yang dipegang Suro. Wanita itu menjawab dengan anggukan lemah.
"Berikan belati itu kepadaku, jika tidak, maka wanita ini akan aku bunuh!"
"Kau pikir aku bodoh, lepaskan tetua Dewi Anggini, setelah itu aku akan memberikan belati ini.
"Setan alas, kau pikir aku juga bodoh? Berikan atau akan aku habisi wanita ini dan akan aku rebut belati itu dari tanganmu!"
"Kau yakin mampu merebut dariku? Apa kau tidak mengetahui jika kekuatan junjunganku sebagian besar telah aku serap?"
Eyang Sindurogo dan juga yang lainnya terkejut mendengar ucapan Suro.
Berbeda dengan Batara Karang, lelaki tidak terlihat terkejut, dia hanya mendengus kesal mendengar jawaban Suro.
Akhirnya mereka setuju bertukar, Suro segera melemparkan belati ke arah kepala Batara Karang, sesaat setelah lelaki itu membuka Kunjara Bajrapati yang mengurung tetua Dewi Anggini.
Di saat Batara Karang berusaha menangkap belati yang meluncur cepat ke arahnya, maka Suro langsung menggunakan kesempatan itu muncul disamping tetua Dewi Anggini.
Eyang Sindurogo tak mau kalah dia juga segera mengerahkan Langkah Maya untuk menyerang Iblis racun yang hendak menyerang Suro. Dia memberi waktu bagi Suro untuk menyelamatkan Dewi Anggini.
Suro kembali lenyap dari pandangan dan muncul didekat Dewa Rencong dan Mahadewi. Dia segera memberikan pill penawar racun pelumpuh tulang kepada tetua itu.
"Gunakan ini juga tetua, aku yakin kekuatan tetua akan cepat pulih. Tetapi jangan lebih dari setengah teguh atau kurang dari itu," ucap Suro sambil menyodorkan Sharkara Deva kepada tetua Dewi Anggini.
Reaksi yang diperlihatkan perempuan itu setelah meminum kurang dari setengah tegukan Sharkara Deva tidak berbeda dengan Dewa Rencong.
"Aaaaarrrgggh..."
"Jangan khawatir itu hanya sesaat," ucap Dewa Rencong mencoba menjelaskan khasiat cairan yang baru saja ditelan itu.
**
Batara Karang setelah mendapatkan belati dari Suro segera menggunakannya untuk membuka peti yang sejak awal berusaha dia buka.
"Benar ini peta yang aku cari. Akhirnya aku mendapatkan petunjuk," ucap Batara Karang saat dia berhasil membuka peti didepannya.
Didalam peti itu yang diambil oleh Batara Karang hanya satu gulungan saja, tanpa membawa berbagai batu permata yang memenuhi peti tersebut.
"Sesuai janjiku kamu ambil semua harta Karun kaisar Gong ini iblis racun, bunuh mereka semua jangan sampai ada yang kau biarkan hidup!"
Batara Karang segera bergegas membentuk gerbang gaib dan meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh.
Iblis racun berdecak kesal mengetahui dirinya ditinggalkan begitu saja, saat lawan telah pulih kembali. Tetapi dia tidak punya pilihan lain sebab dia sedang menghadapi eyang Sindurogo.
Walaupun anak buahnya ikut membantu dirinya melawan pendekar yang memunculkan sepuluh sinar yang dan terus membabat siapapun yang berusaha mendekatinya.
Kemarahan pendekar itu masih dapat dia bendung, sebelum Suro ikut bergabung. Sebab setelah berhasil menyelamatkan Dewi Anggini dan memulihkan kondisinya, dia segera lenyap dan muncul didekat gurunya.
Sejak tadi eyang Sindurogo tidak bertarung dari jarak dekat. Pengalaman sebelumnya menyadari kekuatan racun lawannya sangat kuat.
"Berhati-hatilah ngger mereka memiliki ilmu racun yang cukup kuat."
Dari pertarungan yang dilakukan Eyang Sindurogo dan iblis racun berjalan seimbang. Ilmu pedang yang diperagakan eyang Sindurogo dengan penggabungan ilmu Tapak Dewa Matahari, mampu ditangani oleh lawannya.
"Jangan khawatir eyang, sebelum aku menuju ke sini, aku justru mendatangi markas mereka. Aku telah membumi hanguskan markas mereka tanpa sisa.
Racun mereka tidak akan bekerja kepadaku eyang."
Iblis racun yang mendengar ucapan Suro terkejut "tidak mungkin kau mampu menemukan markasku!"
"Serang mereka berdua!"
Melihat bola-bola yang dilemparkan ke arah dirinya dan juga gurunya, maka Suro segera memanggil Lembuswana.
Sesaat setelah ledakan bola-bola itu, Lembuswana segera menyerap seluruh asap yang muncul.
"Makhluk jenis apa ini?" Iblis racun terkejut dengan kemampuan dan bentuk dari Lembuswana yang tidak biasa.
Melihat serangan sebelumnya, maka iblis racun mengerahkan seluruh pasukan miliknya untuk menghadapi dua lawannya.
Namun sebelum lawan bergerak, Suro telah melesatkan puluhan pedang untuk menghadang gerakan mereka. Begitu banyaknya pedang yang berlesatan dengan begitu lincah, tidak diduga sama sekali oleh mereka semua.